Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Pengaruh Kebudayaan Persia di Timur Tengah


Timur Tengah pada Zaman Aksial (800-200 SM) merupakan titik persinggungan antara dua kekuatan politik dan kebudayaan global. Disamping kawasan ini memiliki nilai historis yang sakral, Imperium Persia dan Romawi saling berebut pengaruh untuk menguasai tempat-tempat strategis.
Kekuasaan Persia
Pada masa kekuasaan Cyrus The Great (550-530 SM), bangsa Persia berhasil meluaskan wilayah kekuasaan DInasti Achameneids mencapai Babilonia, Palestina, Syiria, dan beberapa wilayah di Asia Kecil hingga Mesir. Babilonia merupakan pusat peradaban yang paling kokoh di antara negara-negara Timur Tengah. Palestina adalah negara yang memiliki nilai historis sakral di antara tiga agama besar: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Syiria merupakan negara pertama yang mampu melahirkan komunitas Nasrani terbesar pada masa pasca Aksial. Sementara Mesir merupakan negara kuat yang menguasai hampir seluruh kawasan Mesopotamia pada waktu itu.
Pada era pemerintahan Darius I (485-522 SM), kekuasaan Dinasti Achameneids membentang dari lembah dan Sungai Indus di timur hingga wilayah perbatasan Yunani di barat. Mulai pemerintahan Darius I, ibukota Dinasti Achameneids dipindah ke kota Susa, bersamaan dengan ditaklukkannya Mesopotamia.
Masa-masa penaklukan inilah yang amat strategis bagi proses penyebaran kebudayaan Persia ke kawasan Timur Tengah. Negara-negara penting yang ditaklukkan Persia meliputi Syiria (Damaskus), Palestina (Jerusalem), dan Yaman (Himyar). Lewat kekuasaan, proses penyebaran kebudayaan memang lebih efektif. Terbukti pada zaman Aksial, peradaban Persia mendominasi kawasan negara-negara Timur Tengah ini.
Kekuasaan memang sangat efektif dan amat menentukan bagi proses transformasi kebudayaan. Tidak jarang pihak yang berkuasa cenderung memaksakan kebudayaannya supaya diterima oleh pihak yang dikuasai. Sebaliknya, pihak yang dikuasai cenderung mengikuti kebudayaan para penguasa. Mereka yang terjajah menganggap kebudayaan pihak penguasa jauh lebih unggul atau lebih baik dibanding kebudayaan milik mereka sebagai kelompok tertindas.
Kepercayaan Zoroastrianisme pada Zaman Aksial merupakan salah satu dari sekian banyak kepercayaan yang mendominasi bangsa-bangsa di Timur Tengah. Di samping kepercayaan orang-orang Mesir kuno. paganisme ala Baduwi, dan agama Yahudi, bangsa-bangsa di Timur Tengah menganut kepercayaan Zoroastrianisme.
Pengaruh-pengaruh kebudayaan Persia, di samping lewat kekuasaan, juga ditopang dengan berkembangnya sistem perdagangan antar negara. Sungai Furat (Euphrate) menjadi jalur perdagangan yang menghubungkan para pedagang dari Persia maupun negara-negara di Timur Tengah. Dalam berkembangnya sistem perdagangan antar negara menjadikan negara-negara yang terlibat dalam jalur perdagangan ini menjadi maju.
Pengaruh di Timur Tengah
Tampak sekali pengaruh kebudayaan Persia di Timur Tengah, terutama dalam bidang perekonomian. Orang-orang Timur Tengah banyak menggunakan produk-produk bangsa Persia, seperti permadani, tembikar, sutra, dan lain-lain. Dalam melakukan transaksi perdagangan, bangsa Persia menggunakan mata uang dirham. Mata uang yang terbuat dari logam perak, sebagai alat tukar yang sah. Orang-orang di Timur Tengah juga menggunakan dirham sebagai alat tukar yang sah.
Pengaruh kebudayaan Persia yang cukup menonjol di kawasan Jazirah Arab ialah kepercayaan Magi (Majusi). Kepercayaan ini dibawa oleh para pedagang Persia dan lambat-laun mempengaruhi pola pikir bangsa Arab.
Sebenarnya, di kalangan suku-suku Arab, khususnya di kawasan Hijaz, sudah berkembang kepercayaan pagan ala Baduwi. Lewat “gerakan baru” yang dipelopori oleh ‘Amr bin Luayy (250 SM), suku-suku Arab mengenal model penyembahan kepada berhala-berhala yang terbuat dari bagian tertentu dari bangunan Kakbah. Tampaknya gerakan baru yang dipelopori oleh ‘Amr bin Luayy turut menentukan bagi corak keberagamaan dan kebudayaan bangsa Arab selain lewat proses akulturasi budaya dengan orang-orang Persia. Justru lewat persinggungan dengan kebudayaan Persia, kepercayaan paganisme di jazirah Arab makin kokoh. Doktrin-doktrin Zoroastrianisme, terutama konsep dalam memahami keberadaan Tuhan, juga amat berpengaruh di jazirah Arab.
Pada saat yang bersamaan, perkembangan agama Abrahamik, yaitu kepercayaan yang dianut oleh bangsa Yahudi, juga banyak terpengaruh oleh unsur-unsur Paganisme dari Persia. Ketika terjadi perdebatan sengit di antara para Rahib Yahudi pasca pembuangan di Babilonia, mereka berselisih pendapat tentang otentisitas ajaran nenek moyang mereka. Di satu sisi sebagian bangsa Yahudi menghendaki kembali kepada ajaran nenek moyang secara murni (monotheism). Tetapi sebagian bangsawan dan para rahib menghendaki perubahan-perubahan secara mendasar dalam konstruksi teologi mereka. Unsur-unsur paganisme dari Persia banyak mewarnai ajaran-ajaran teologi Yahudi pasca pembuangan ini.
Perselisihan pendapat di kalangan Yahudi terus berlanjut. Sebagian kalangan menghendaki pembaruan keagamaan, tetapi sebagian menghendaki kembali kepada khittah ajaran nenek moyang yang murni. Dari perselisihan tersebut kemudian melahirkan sekte baru di tubuh kaum Yahudi. Sekte Al-Farisi lahir sebagai bentuk kompromi antara ajaran murni Yahudi dengan unsur-unsur kepercayaan Paganisme Persia. Dari sekte inilah lahir pandangan-pandangan keagamaan baru yang kemudian melahirkan produk kitab Talmud. Sebuah kitab suci yang berisi interpretasi terhadap ajaran-ajaran Nabi Musa as. dengan perspektif baru. Perkembangan pemahaman teologis bangsa Yahudi makin paganistik ketika mereka menganggap Ezra sebagai “Anak Tuhan” (‘Uzair ibn Allah) (QS. at-Taubah [9]:30).
Sebagian dari kalangan Yahudi pasca pembuangan di Babilonia menghendaki gerakan khittah. Mereka makin puritan dan menempuh hidup asketik. Sekelompok Yahudi mengasingkan diri di tepi Laut Mati untuk mengamalkan ajaran-ajaran nenek moyang mereka secara otentik. Mereka menolak dan mengkritik gerakan para rahib dari kelompok pembaru spiritual (Sekte Al-Farisi) yang telah mencampur-aduk ajaran-ajaran Yahudi dengan paganisme Persia. Kelompok ini disinyalir dipimpin oleh Yahya, putra Zakariya, pada sekitar abad kelima sebelum masehi.
Ekspansi militer bangsa Persia yang berhasil menaklukkan beberapa kawasan di Jazirah Arab telah mempercepat proses akulturasi antara dua kebudayaan. Sekalipun tanah Hijaz sendiri tidak pernah tersentuh oleh kekuatan militer dua imperium global pada waktu itu, tetapi lewat kerajaan-kerajaan satelit di sekitar kawasan ini menjadi agen kebudayaan Persia dan Romawi Timur. Sebuah kerajaan kecil di Makkah yang menjadi “negara boneka” imperium Persia ialah Kerajaan Lakhmid. Kerajaan yang berpusat di kota Hira ini pada pertama kali berdiri menjadi agen kebudayaan Persia. kan tetapi, setelah melewati beberapa generasi, kerajaan Lakhmid menjadi agen kebudayaan Bizantium.
Kerajaan Lakhmid terletak di tepi sungai Furat (Euphrate), di antara Najaf dan Kuffah. Kerajaan ini muncul pertama kali pada Abad Ketiga Masehi. Lahirnya kerajaan ini murni atas dasar kepentingan imperium Persia, terutama untuk mengamankan jalur perdagangan mereka di Jazirah Arab.
Raja pertama Kerajaan Lakhmid ialah ‘Amr bin Adiyy (268 M). Dia adalah putra Rabi’ah bin Amr, raja Yaman dari DInasti Tubba’. ‘Amr bin Adiyy berafiliasi politik ke Persia (Sassanids), tetapi raja generasi terakhir kerajaan ini, al-Mundzir bin an-Nu’man (632 M), berafiliasi politik ke Bizantium. Sebab, al-Mundzir bin an-Nu’man sendiri telah memeluk agama Nasrani (Albert Hourani, 2004:55).
Selain Kerajaan Lakhmid, DInasti Tubba’ di Yaman dan beberapa generasi Dinasti Himyar I juga termasuk dalam pengaruh Imperium Persia (Sassanids). DInasti Tubba’ adalah generasi penerus Kerajaan Saba’ pasca bobolnya Bendungan Ma’rib (Sadd al-Ma’rib) yang amat terkenal itu. Bendungan yang mejadi simbol kejayaan bangsa Arab di Kawasan Arab Felix ini jebol pada tahun 120 SM. Peradaban Ma’rib pernah mecapai puncak kejayaannya pada tahun 1000 SM ketika seorang wanita menjadi rayu di negeri ini (Ratu Balqis).
Beberapa generasi awal kerajaan ini memang berafiliasi politik ke Persia, tetapi setelah bangsa Yaman mengenal ajaran yang dibawa oleh Faimiyun (wafat 521 M), murid Nabi Isa al-Masih yang pertama kali mengajarkan agama Nasrani di negeri ini, mereka berafiliasi politik ke Bizantium, yang secara legal mengakui keberadaan ajaran ini dan melindungi para pengikutnya. Keberadaan kerajaan-kerajaan satelit ini semakin mengokohkan kekuasaan peradaban Persia di kawasan Jazirah Arab. Tidak dapat dipungkiri, peradaban Persia amat mendominasi kebudayaan bangsa Arab pada Zaman Aksial, khususnya pada masa menjelang kedatangan Islam.

Selain itu, terdapat pula Kerajaan Kindah (Suku Kindah) di Yaman yang berdiri pada sekitar Abad Kelima Masehi. Raja pertama kerajaan ini adalah Hujr bin ‘Amr. Secara politik, kerajaan ini di bawah kendali Dinasti Himyar II di Yaman. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kerajaan ini menjadi agen kebudayaan Persia di Jazirah Arab. [islamaktual/sm/mu’arif]

14 Ribu Muslim China Tunaikan Haji Tahun Ini


Meski dalam posisi terdiskriminasi, Alhamdulillah tidak menurutkan umat Muslim China untuk pergi haji. Li Chengwen, Duta Besar China untuk Kerajaan Saudi Arabia (KSA) menyatakan tahun ini tak kurang dari 14 ribu Muslim China telah datang ke Arab Saudi untuk beribadah haji. Tak hanya itu, lebih dari 20 juta Muslim China juga merayakan Idul Adha dengan saudara-saudara Muslim mereka.
“Atas nama staf dari Kedutaan Besar China di Saudi dan pribadi, saya ingin menyampaikan salam liburan dan penghormatan yang tulus bagi warga China yang berada di Arab Saudi,” ujar Li Chengwen.
Duta Besar China juga menyampaikan ucapan selamat kepada semua Muslim di seluruh dunia yang telah sukses menyelesaikan haji tahun ini.

“Sebagai seorang Muslim, saya juga menyampaikan terima kasih kepada Raja Salman, kepada pemerintah dan rakyat Arab Saudi, atas upaya pengamanan dan kesediaan mereka untuk melayani seluruh Muslim yang melakukan haji tahun ini,” imbuh Li Chengwei dikutip islampos.com. [islamaktual]

Kivlan Zen: Syarat Dimaafkan, Keluarga PKI Harus Minta Maaf Lebih Dulu


Mantan Pangkostrad Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen akhirnya buka suara soal permintaan maaf negara kepada keluarga PKI. Menurut Kivlan, itu bisa dilakukan dengan syarat jika para keluarga PKI ingin menuntut permintaan maaf dari negara. Syaratnya mereka dahulu yang harus meminta maaf kepada keluarga korban PKI.
Kivlan Zen mengaku sependapat apabila ada ide untuk saling memaafkan, antara para keluarga PKI dan keluarga korban kekejaman PKI pada G-30 S. "Minta maaf dulu kepada kita, baru kita saling memaafkan," kata Zen dalam sebuah acara talkshow di Jakarta, Selasa (29/9) kemarin seperti dikutip republika.co.id.
Akan tetapi, ia mempertanyakan tindakan Komnas HAM yang sebelumnya melakukan penyelidikan kepada keluarga PKI. Menurutnya, Komnas HAM seharusnya juga melakukan penyelidikan terhadap apa yang dialami oleh para keluarga korban kekejaman PKI.

Zen pun setuju dengan pendapat salah satu anak dari PKI, Ilham Aidit, yang membutuhkan pengakuan dari negara. Dengan begitu diharapkan bisa membaut mereka menjalani hidup tenang dan saling memaafkan. [islamaktual]

Industri Kreatif Berharap Peran Lembaga Keuangan Syariah


Industri kreatif yang jadi salah satu sektor ekonomi unggulan nasional berharap agar Industri keuangan syariah bisa berperan di dalamnya. Lembaga keuangan syariah bisa memulainya melalui sinergi dengan induk.
Edi Setiadi, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 1 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau agar lembaga keuangan yang punyai anak usaha syariah ikut membantu pengembangan anak usaha syariahnya. Dengan segmentasi tertentu, hal itu bisa dilakukan, termasuk salah satunya sektor ekonomi kreatif.
''Baru saja diluncurkan kerjasama LPEI, asosiasi pembiayaan dan penjaminan dengan industri kreatif. Ini jadi pasar menarik. Sebab tidak sedikit masyarakat yang punya keinginan dibiayai skim syariah,'' ungkap Edi, Selasa (29/9) dikutip republika.co.id.
Edi menekankan harus dibangun sinergi antara induk dengan anak syariah. Induk memberi peluang bisnis bagi anak usahanya.
Ketua Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Assipindo) Diding S Anwar mengatakan, 16 sub-sektor industri kreatif ada juga yang sifatnya selaras dengan syariah. Penjaminan dan pembiayaan syariah, bisa masuk ke sana. Apalagi, mayoritas mereka adalah UMKM yang teruji ketahanannya.
Sementara, Ketua Bidang Kerja sama Antar Lembaga Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) Benny Witjaksono mengatakan, Asbisindo belum membahas soal pembiayaan industri kreatif karena itu masuk initial company (usaha yang baru berdiri) dan perbankan syariah terbentur ketentuan.
Usaha yang dibiayai bank syariah harus minimal dua tahun beroperasi. Sementara industri kreatif cenderung mengikuti tren, kecuali UMKM kuliner.
Industri kreatif menurut Benny butuh terobosan, walaupun menjanjikan tapi belum bisa masuk pembiayaan bank, karena bentuknya yang masih berupa ide dan belum teruji. Untuk hal itu bank tidak boleh membiayai karena menurut Benny terlalu spekulatif.

Jika sudah dijamin perusahaan penjaminan, bank baru bisa masuk. Perbankan memilih berhati-hati karena mereka mengelola uang masyarakat. [islamaktual]

Bermusyawarah


Dalam islam terdapat institusi atau instrumen yang sangat khas dalam mengambil keputusan yaitu musyawarah. Kata musyawarah berasal dari kata syura (syara-yasyuru-syawra-syiyara); artinya mengambil madu dari sarangnya (istakhraja al-asala min al-nahl). Artinya, dari segi akar katanya saja, musyawarah itu pekerjaan berat tetapi mulia. Berat karena harus mengambil madu dari sarang lebah yang tidak mudah, bahkan jika tidak hati-hati akan tersengat gigitan lebahnya. Dikatakan mulia karena jika berhasil maka yang keluar adalah madu, yang tentu saja manis dan sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Karena itu madu termasuk minuman yang mahal sebab diperoleh dari cara yang sulit dan nilainya tinggi.
Musyawarah merupakan perintah Allah dan juga sunnah Rasul dalam menyelesaikan dan memutuskan urusan. Wa-ama-rahum syura bainahum (QS. asy-Syura : 38) dan wa syawirhum fi al-amr (QS. Ali Imran : 159) demikian firman Allah SwT tentang keharusan bermusyawarah. Nabi ketika hendak perang Uhud dan Khandaq juga bermusyawarah, sehingga pendapat Nabi mengikuti kehendak umat. Karena itu musyawarah menjadi bentuk pengambilan keputusan yang kuat dalam khazanah dan tradisi Islam.
Ketika di belakang hari muncul demokrasi sebagai institusi modern, kalangan Muslim pun coba mensinergikan antara Islam dan demokrasi serta antara musyawarah dan demokrasi, kendati dalam sejumlah hal terdapat beberapa perbedaan asas, bahkan ada sebagian kecil kaum Muslimin yang menolak demokrasi. Bahwa dalam Islam hal-hal yang menyangkut masalah akidah, ibadah, dan akhlak atau mu’amalah yang sudah ditentukan memang harus diikuti demikian adanya, tidak ada musyawarah, kecuali dalam hal tertentu yang dibolehkan menyangkut caranya. Tidak semua pendapat orang banyak harus diikuti dan menentukan benar atau baiknya sesuatu (QS. al-An’am:6; al-Maidah:100). Tetapi secara mayoritas umat Muslim di dunia saat ini menerima prinsip demokrasi dan dipersandingkan atau diintegrasikan dengan sistem musyawarah dalam Islam.
Dalam musyawarah terdapat pesan luhur karena terkait dengan perintah Allah dan Sunnah Nabi. Karena siapa pun yang bermusyawarah dengan sebaik-baiknya tentu menjadi berharga dan berpahala karena melaksanakan ajaran Islam, sekaligus wujud dari ibadah. Namun dalam praktiknya musyawarah itu tidaklah mudah. Selain banyak orang yang terlibat dengan berbagai pikiran dan watak serta kepentingan yang majemuk, juga seringkali materi yang dimusyawarahkan termasuk musykil atau banyak mengandung bahan perdebatan. Justru karena itu diperlukan musyawarah, sebagai ikhtiar laksana mengeluarkan madu dari sarang lebah, yang tidak mudah tetapi utama.
Karena itu bermusyawarah tidak sekadar pekerjaan otak dan keterampilan, tetapi juga hati yang jernih. Bahkan harus ada akhlak dalam bermusyawarah dalam gerakan Islam seperti Muhammadiyah, harus dilandasi keikhlasan, kearifan, kedewasaan, saling memberi dan menerima, serta mengutamakan kebaikan dan kemaslahatan. Jangan memaksakan kehendak, mau menang sendiri, mutlak-mutlakan, dan menempuh segala cara yang tidak baik, tidak benar, dan tidak pantas. Dalam berdebat pun harus mengedepankan akhlak al-karimah, termasuk menjaga lisan atau hidh al-lisan, sehingga tidak mengeluarkan kata-kata yang buruk dan memancing kemarahan.
Karena itu hindari akhlak al-madhmumah atau perangai tercela dalam bermusyawarah. Menyebarkan isu bohong tentang sesuatu atau orang lain, bahkan menyebarluaskan fitnah. Menghasut massa untuk melakukan hal-hal yang tidak baik, tidak benar, dan tidak pantas seperti memfitnah orang, menjatuhkan orang, dan mendzalimi orang. Demi mengamankan diri atau kelompok sendiri kemudian melakukan hal-hal yang curang dan menghalalkan segala cara. Jika benar-benar ingin bermusyawarah dan berdemokrasi dengan sehat dan Islami, maka jauhi cara-cara Machiavelli: the end justifies the means. Tujuan menghalalkan cara. Demi kemenangan kemudian menghalalkan cara-cara curang dan kotor, yang mencederai jiwa musyawarah sekaligus jauh dari akhlak Islam.

Jika umat Islam, termasuk gerakan Islam seperti Muhammadiyah, mampu memberi teladan yang baik atau uswah hasanah dalam permusyawaratan apapun, maka umat yang lain dan masyarakat luas akan mencontoh, sekaligus memberikan penghormatan yang tinggi. Namun manakala sebaliknya, pihak lain akan mencibir, untuk apa membawa-bawa nama Islam apabila dalam permusyawaratan gerakan-gerakan Islam juga dipraktikkan segala cara demi mencapai kemenangan dan meraih tujuan. Gerakan-gerakan Islam bahkan akan kehilangan kepercayaan moral dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan, karena tidak ada bedanya dalam bermusyawarah dan berdemokrasi. Manakala hal itu terjadi tentu suatu saat jika terdapat Pemilu dan Pilkada serta berbagai perhelatan politik yang curang, maka gerakan-gerakan dan tokoh-tokoh Islam akan kehilangan wibawa kalau melakukan kritik dan tausyiyah terhadap bangsa ini. Publik akan mengatakan, gajah di seberang lautan tampak, kotoran di pelupuk mata tak tampak. Akhirnya Islam dan kaum Muslim kehilangan martabat yang utama, karena kata dan ajaran tidak sejalan dengan tindakan dan kenyataan. [islamaktual/sm/a.nuha]

Cara Rasulullah Mengentas Kemiskinan


oleh : KH. Mu’ammal Hamidy, Lc

Kemiskinan Adalah Bencana
Kemiskinan, sekalipun telah menjadi Sunnatullah, di samping kekayaan, sebagai penyeimbang, namun pada hakekatnya adalah bencana (musibah). Tak ubahnya penyakit, yang sangat membahayakan ketahanan hidup. Dan sekalipun penyakit itu dibuat oleh Allah, namun Allah SwT pula yang menyuruh manusia untuk berobat. Rasulullah saw bersabda:
Abu Darda’ meriwayatkan, katanya: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan setiap penyakit ada obatnya. Karena itu berobatlah kalian, tetapi jangan berobat dengan haram.” (HR. Abu Daud)
Seperti itulah kemiskinan. Sekalipun Allah sendiri yang membuat seseorang miskin, tetapi Dia pun yang menyuruh manusia mengatasinya. Kalau mungkin mengeliminirnya. Karena, kalau tidak, akan membahayakan kehidupan manusia itu sendiri, dalam arti luas, baik terhadap diri sendiri, masyarakat maupun negara. Sehingga banyak sekali ayat al-Qur’an yang menyerukan bekerja, dan bumi sebagai tempat serta lahan pekerjaan ini sangat berpotensi, misalnya di Surat al-Baqarah ayat 29 dikatakan:
baqarah_29.png
Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan apa yang ada dalam bumi ini semuanya untuk kamu (manfaatkan) Kemudian Dia menuju langit dan menyempurnakannya menjadi tujuh langit, sedang Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah [2]:29).
Dan di surat Hud justru lebih tegas:
hud_61.png
Artinya: “... Dia (Allah) yang menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menyuruh kalian untuk memakmurkannya. Maka minta ampunlah kamu kepada-Nya dan bertobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi mengabulkan do’a” (QS. Hud [11]:61).
Memakmurkan bumi artinya mengeksplorasi potensi bumi dan akhirnya mengeksploitasinya. Dengan demikian, berarti bekerja mencari rezeki itu hukumnya wajib. Artinya, siapa yang berdiam diri, hanya menggantungkan takdir dan belas kasih orang lain, hukumnya haram. Atau dengan kata lain “rela hidup dengan kemiskinan itu haram”. Karena bahaya yang diakibatkan oleh kemiskinan itu kompleks, meliputi berbagai aspek dan sektor:
  1. Di sektor agama; bahwa kemiskinan bisa membawa pada kekufuran, bahkan bisa menghambat jihad fii sabilillah dan Dakwah Islamiyyah, yang notabene memerlukan dana besar.
  2. Di sektor harga diri; bahwa kemiskinan bisa membuat seseorang kehilangan harga diri. Karena kemiskinan, membuat orang tidak malu meminta-minta. Dan itu jelas menghancurkan harga diri.
  3. Di sektor keilmuan; bahwa kemiskinan bisa membuat otak tidak berfungsi. Karena kalau perut lapar sangat mempengaruhi pikiran.
  4. Di sektor rumah tangga; bahwa kemiskinan bisa membuat rumah tangga berantakan dan broken. Al-Qur’an menceritakan, bahwa di jaman jahiliyah banyak orangtua yang tega membunuh anak-anaknya lantaran tidak bisa menghidupinya dengan layak.
  5. Dalam negara; bahwa kemiskinan bisa membuat negara kacau, di sana sini banyak gejolak, timbul berbagai penyakit karena pemukiman yang kumuh, obat-obatan tidak tersedia dsb.
Mengentas Kemiskinan
Nabi Muhammad saw yang diutus Allah SwT ke tengah-tengah umat manusia ini, salah satu tugasnya adalah mengentas kemiskinan. Selanjutnya dilakukanlah kebijakan-kebijakan yang antara lain sebagai berikut:
  1. Seruan bekerja bagi yang ada kemampuan dan diharamkan memakan barang sedekah. Dalam hal ini beliau bersabda:
Abu Hurairah meriwayatkan, katanya: Rasulullah saw bersabda: Barang sedekah tidak halal bagi orang kaya dan bagi orang yng masih kuat bekerja. (HR. Lima Imam)
Abdullah bin Adi bin Khiyar menceritakan, bahwa ada dua orang menghadap Nabi saw dalam haji wada’ yang ketika itu beliau sedang membagi-bagi sedekah, lalu dua orang tersebut memintanya. Kata mereka: Lalu Nabi saw melihat-lihat badan kami dari atas sampai bawah, maka beliau mengetahui kami masih tampan dan tegap. Maka sabdanya: Jika kalian mau akan kami beri, tetapi (perlu diketahui) bahwa tidak ada bagian barang sedikit pun dari sedekah itu untuk orang kaya dan orang yang masih kuat lagi bisa bekerja” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i).
  1. Seruan kerja ini tidak harus di tempat sendiri, bahkan bila perlu merantau ke daerah lain, misalnya ke luar negeri. Katanya: “Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda: Merantaulah kalian (mencari rizki) maka, kamu akan sehat, dan berperanglah kamu, maka kamu akan diberi kecukupan” (HR. Ahmad)
  2. Pemberian modal oleh orang kaya, dengan sistem bagi hasil (mudharabah), atau mengerjakan tanah milik orang lain dengan sistem bagi hasil, sekaligus melarang para tuan tanah membiarkan tanahnya tidak berproduksi. Diriwayatkan yang artinya : “Dari Jabir bin Abdullah menyatakan: Banyak orang di kalangan kami yang mempunyai kelebihan tanah, yang mereka sewakan kepada orang lain dengan bagi hasil per sepertiga dan per seperempat. Lalu Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang mempunyai kelebihan tanah maka hendaklah ditanami, atau menyerhkan kepada saudaranya untuk menanaminya. Jika dia menolak maka tahanlah dia.” (HR. Ibn Majah).
Dalam riwayat lain dikatakan yang artinya : “Rafi’ bin Usaid bin Zhuhair, meriwayatkan dari ayahnya Usaid bin Zhuhair, bahwa satu saat dia menemui kaumnya Bani Harisah, serayamengatakan: Wahai Bani Harisah kalian menghadapi bahaya. Mereka bertanya: Bahaya apa? Jawab Usaid: rasulullah saw melarang kita menyewakan tanah. Lalu kami bertanya: Bagaimana kalau kami sewakan dengan sedikit biji-bijian (hasil bumi)? Beliau menjawab : Tidak boleh. Kami bertanya lagi: Bagaimana kalau kami sewakan dengan buah tin? Beliau menjawab: Tidak boleh. Kami bertanya lagi: Bagaimana kalau kami sewakan dalam bentuk penyiraman di musim semi? Beliau tetap menjawab: Tidak boleh, seraya bersabda: Tanamilah sendiri atau berikanlah kepada saudaramu.” (HR. Nasa’i)
  1. Menjadikan para pekerja/buruh sebagai mitra, sebagaimana diisyaratkan oleh al-Qur’an Surat Zuhruf ayat 32, yang selanjutnya dijabarkan oleh Nabi saw dengan memberi bantuan pekerja yang kurang mampu. Rasulullah bersabda yang artinya: “Abu Dzar meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda kepadaku: Barangsiapa yang oleh Allah diberi seorang pembantu di bawah kekuasaannya, maka berilah dia makan seperti apa yang dia makan, dan berilah pakaian seperti apa yang dia pakai dan janganlah dia diberi pekerjaan di luar kemampuannya, dan jika (terpaksa) memberi pekerjaan yang berat, maka bantulah dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Menjadikan hasil kerja sendiri itu sebagai hasil yang terbaik. Katanya yang artinya: “Miqdam meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: Tidaklah seorangpun makan makanan yang terbaik, selain makan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya nabiyullah Daud makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)
  3. Membantu orang-orang yang memang sudah tidak mampu usaha (QS. al-Ma’un dll).
  4. Berdoa agar tidak menjadi miskin:
Sesungguhnya Nabi saw biasa berdoa: Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri wa ‘adzabil qubri (Ya Allah, sungguh aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kufur dan menjadi miskin serta azab kubur).

Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad (19487) dari Abi Bakrah ra. Doa ini, sebagaimana dituturkan rawi dalam riwayat Abu Daud, sering beliau baca di akhir shalat. [islamaktual/sm]

Pernahkah Anda Merenungkan Rahasia Di Balik Proses Kelahiran Anda?


Sangat mungkin di antara kita baru merasa terhenyak setelah mendengar pertanyaan seperti dalam judul tulisan di atas. Orang baru berpikir ulang setelah mendengar pertanyaan tersebut. Mengapa hal semacam itu terjadi? Sebab, rata-rata kita ini mungkin kurang peka mendalami pertanyaan-pertanyaan tentang realitas hidup ini, terutama hal-hal yang tergolong pertanyaan yang bersifat “dalam”. Tekanan hidup yang cenderung menuntut sikap pragmatis ini yang menyebabkan menurunnya hal-hal yang bersifat “dalam” (mendasar, hakiki) tersebut.
Sesungguhnya kalau kita mau menyempatkan sedikit, apalagi banyak-banyak, melakukan renungan dibalik proses kelahiran kita di alam dunia yang fana ini, tentu kita akan menemukan betapa besar tanda-tanda kekuasaan Allah SwT, Tuhan kita. Tanda-tanda kekuasaann-Nya yang begitu besar akan mengingatkan betapa kecil dan betapa lemah posisi dan keadaan kita. Anda masih merasa kurang percaya terhadap pernyataan tersebut? Cobalah ikuti dengan seksama uraian berikut ini.
Allah SwT dalam al-Qur’an berfirman dan firman ini turun pada masa awal kenabian Nabi Muhammad saw, yaitu bahwa manusia (al-insaan) diciptakan Allah SwT dari “alaq” Allah SwT berfirman (QS. al-’Alaq [96]:1-2): iqra’ bi-’smi rabbika-’lladzii khalaqa khalaqa-’l- insaana min ‘alaqin = Bacalah (wahai Muhammad) dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang (Dia) telah menciptakan, yaitu (Dia) telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Cobalah kita renungkan! Apa yang disebut ‘alaq disini? Kitab Al-Qur’an dan Terjemahnya terbitan Departemen (sekarang diubah menjadi Kementerian) Agama Republik Indonesia menerjemahkan kata “alaq” ini dengan: segumpal darah. Sementara itu, menurut Dr. Muhammad Ali Akbar dalam bukunya yang berjudul Human Development as Revealed in The Holy Quran and Hadith (The Creation of Man Between Medicine and The Quran) yang kemudian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Penciptaan Manusia Kaitan Ayat-Ayat Al-Qur’an dan Hadits dengan Ilmu Kedokteran (2001), dikatakan bahwa kata “alaq” terjemahan harfiahnya adalah “sesuatu yang menempel dan melekat”, yaitu zigot (embrio manusia paling awal) yang menempel dan melekat di dinding rahim seorang wanita calon ibu. Kata “alaq” yang diterjemahkan secara harfiah inilah yang lebih mudah dipahami dalam ilmu keturunan dan ilmu kedokteran modern.
Marilah kita sekarang menelusuri lebih mendalam tentang ‘alaq ini. Untuk menjelaskan hal tersebut kita pakai buku karangan Dr. Muhammad Ali Akbar di atas. Seperti telah dimaklumi bersama, bahwa secara alamiah adanya manusia dapat lahir ke dunia ini disebabkan adanya pertemuan antara sel benih dari pihak laki-laki (ayah) yang disebut spermatozoa atau mani dan sel benih dari pihak perempuan (ibu) yang disebut ovum atau sel telur. Bentuk spermatozoa meliputi bagian kepala (mengandung benih genetis atau sifat keturunan dari pihak ayah) yang berbentuk bulat agak lonjong, bagian tengah (mengandung persediaan energi yang disebut mitokondria sebagai sumber kekuatan untuk berenang dengan cepat), dan bagian ekor (yang memungkinkan spermatozoa mampu melakukan perjalanan dengan berenang mulai dari mulut rahim (serviks) sampai ke tuba falopi). Besarnya bagian kepala dari spermatozoa tidak lebih dari 6 (enam) mikron (0,6 mm) atau 6 (enam) kali 1/1.000 (seperseribu) milimeter. Untuk melihat secara jelas seekor spermatozoa ini diperlukan mikroskop berkekuatan tinggi. Selanjutnya, ovum atau sel telur tampak seperti bulatan bagaikan bulan purnama yang dikelilingi oleh mahkota yang bersinar (korona radiata). Mahkota bersifat ini dapat dikatakan sebagai dinding pelindung ovum yang tidak begitu mudah ditembus oleh bagian kepala dari spermatozoa yang membentur-benturkan diri terhadap dinding pelindung ovum tersebut. Besarnya ovum ini kurang lebih120 (seratus dua puluh) mikron (0,120 mm) atau 20 (dua puluh) kali lipat besarnya bagian kepala spermatozoa suatu sel yang terbesar dalam tubuh manusia umumnya.
Apa yang terjadi dalam proses pertemuan antara spermatozoa dan ovum tersebut? Dikatakan dalam buku di atas bahwa setiap pria (suami) yang bersenggama dengan wanita (istri), maka ketika dia ejakulasi (mengeluarkan benih laki-laki/mani) ternyata yang dikeluarkan tersebut mengandung tidak kurang dari 200-300 juta sel/spermatozoa yang kalau dilihat secara mata telanjang banyaknya cairan spermatozoa tersebut tidak lebih dari satu sendok teh. Sungguh luar biasa kenyataan tersebut! Mari kita ikuti terus kejadian luar biasa ini. Seperti telah dibuktikan dalam ilmu keturunan dan ilmu kedokteran, 200-300 juta sel spermatozoa di atas harus menempuh jarak dalam saluran telur (tuba falopi) yang panjangnya + 12 cm. Sebab, pada ujung saluran telur itulah untuk setiap bulan wanita (istri) mematangkan 1 (satu) telur saja yang siap dibuahi. Ketika spermatozoa harus berenang di saluran telur sepanjang 12 cm tersebut, kecepatan berenangnya adalah 2-3 mm/menit. Jadi waktu perjalanan yang ditempuh oleh spermatozoa yang berhasil masuk ke saluran telur adalah - 40 menit (12 cm/120 mm:3 x 1 menit = 40 menit). Namun jarak ini masih harus ditambah dengan jarak antara mulut rahim (serviks) ke mulut saluran telur yang tidak kurang dari 7,6 cm. Itu berarti perjalanan spermatozoa memerlukan waktu tambahan lagi tidak kurang dari 25 menit (7,5 cm/75 mm:3x1 menit=25 menit). Oleh karena itu, secara teoritis seekor spermatozoa harus berenang mulai dari mulut rahim (serviks) sampai dengan ujung tuba falopi tempat sel telur (ovum) tidak kurang memakan waktu 65 menit (1 jam lebih 5 menit). Sungguhpun gambarannya seperti itu, namun untuk berjuang bertemu dengan sel telur tersebut tidaklah mudah. Pertama, ada mulut rahim. Paling tidak 50 juta sel spermatozoa mati sebelum mencapai mulut rahim. Di mulut rahim sendiri terdapat sekresi kelenjar pelumpuh spermatozoa yang kurang sehat dan tidak gesit. Akibatnya lebih dari 50 juta sel yang mati karenanya. Kedua, spermatozoa yang tersisa harus berjuang keras menghadapi sekresi asam yang terdapat dalam ruang rahim si calon ibu. Di situ berjuta-juta spermatozoa tidak berhasil bertahan hidup. Ketiga, ketika kelompok-kelompok spermatozoa yang masih bertahan sedang memasuki saluran telur untuk menuju ujungnya (tuba falopi) dengan berbagai penghambat yang ada. Oleh karena itu perjuangan berat tersebut memberikan akibat, bahwa dari 200-300 juta sel spermatozoa selepas ejakulasi, yang berhasil bertahan hidup dan mengitari sel telur (ovum) untuk berjuang keras menembus dinding sel telur tingal 400 sel spermatozoa saja. Yang lainnya mati dalam perjalanan dan perjuangan.
Selanjutnya, 400 sel spermatozoa yang tertinggal masih harus berjuang pada ronde terakhir. Ketika sel-sel spermatozoa tersebut berhasil mendekati, bahkan mengerubuti sel telur (ovum), terdapat kejadian yang luar biasa pada sel telur ini, yaitu ia berputar pelan-pelan dengan gerak putar yang berlawanan dengan gerak putar jarum jam. Gerak putar ini seperti gerak putar bumi terhadap matahari, gerak putar elektron mengelilingi inti atom, dan gerak putar orang-orang Muslim yang sedang melakukan thawaf (mengelilingi bangunan Kakbah di Mekah). Karena adanya gerak putar ini dan ditambah lagi daya tahan dinding sel telur yang melindungi sel telur tersebut, maka diantara 400 sel spermatozoa yang berhasil menembus dinding sel telur dan bagian kepala spermatozoa tersebut masuk ke dalam sel telur hanyalah 1 (satu) spermatozoa saja. Setelah itu, bekas dinding sel telur yang jebol segera tertutup kembali dan terbentuk dinding tebal yang tidak dapat ditembus lagi. Setelah bagian kepala spermatozoa berhasil masuk ke dalam sel telur, maka sifat dari benih laki0laki mulai aktif dan mulai terjadi apa yang disebut “pembelahan sel” menurut deret ukur (1 menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8, 8 menjadi 16, 16 menjadi 32, dan seterusnya). Sambil terjadi pembelahan sel tersebut, sel yang telah terbuahi tersebut didorong oleh rambut-rambut halus yang ada dalam saluran telur menuju ke rahim. Sel yang telah terbuahi tersebut menjadi semacam bola (blastula). Blastula inilah yang kemudian tiba di ruang rahim dan melekat yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut “alaq” di atas. Allahu Akbar!
Dengan mengikuti secara seksama dari sebagian proses terjadinya ‘alaq di atas, kita akan menyadari bahwa, pertama, ternyata tidak begitu mudah terjadinya ‘alaq dalam rahim seorang calon ibu. Sebanyak ratusan juta sel spermatozoa yang harus mati dalam perjalanan dan perjuangan untuk mendekati dan masuk ke dalam sel telur calon seorang ibu. Hanya satu yang berhasil! Kedua, seluruh proses seleksi terhadap sekian ratus juta sel spermatozoa memungkinkan ditemukannya sel spermatozoa yang terbaik, terkuat, dan teruji, agar nanti kalau menjadi jabang bayi akan menjadi manusia yang baik, kuat, teruji juga sebagai modal untuk menghadapi perjuangan hidup lebih lanjut. Ketiga, konsekuensi dari dua butir tersebut, maka pada hakikatnya kelahiran manusia di alam dunia yang fana ini adalah mulia, sangat berharga, dan dikehendaki oleh Allah SwT yang antara lain, untuk menunjukkan kemahabesaran Allah SwT. Oleh karena itu, sangatlah bertentangan dengan hakikat kelahiran manusia yang sebegitu mulia, berharga, dan penuh keridlaan Allah SwT kalau sampai ada kecenderungan suka kekerasan seperti dewasa ini. Misalnya dengan begitu gampangnya orang membunuh orang lain, cenderung menggugurkan kandungan (aborsi) karena sekadar menutup aib, membunuh bayi yang dilakukan oleh ibunya sendiri dengan cara mencekik, membuang di selokan atau tumpukan sampah atau dibuang ke sungai, memperkosa untuk memuaskan hawa nafsu seksualitas, pelacuran yang dijadikan salah satu unsur komoditas hiburan, perkawinan dari kelamin sejenis (homoseksualisme dan lesbianisme), dan sebagainya. Inilah satu sisi kenyataan bertentangan dengan keharusan luhur dari kelahiran manusia di alam dunia ini.
Hal kedua yang juga bertentangan dengan keharusan luhur dari kelahiran manusia di atas adalah seperti yang disitir al-Qur’an (QS. Yaasin [36]:77) seperti berikut: awalam yara-’l-insaana annaa khalaqnaahu min nuthfatin fa idzaa huwa khashiimun mubiinun = Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami telah menciptakan manusia itu dari nuthfah, maka (lalu) tiba-tiba manusia tersebut menjadi penantang (Tuhan) yang nyata. Kata nuthfah di sini mengandung pengertian nuthfatun amsyaajun (air mani yang telah tercampur), yaitu antara spermatozoa dan ovum (sel telur).
Tidak jarang setelah seseorang lahir ke alam dunia ini, jangankan berterima kasih kepada kedua orangtuanya dan bersyukur kepada Tuhan, malah sebaliknya, yaitu tidak hormat kepada orangtua (suka membangkang, tidak menjaga nama baik orangtua, suka menyia-nyiakan arahan yang baik dari orangtua) dan membangkang serta melawan terhadap Tuhan, seperti suka melanggar larangan Allah SwT, tidak disiplin dalam beribadah, bahkan tidak jarang meremehkan Allah SwT ketika sedang menghadapi segala nikmat yang dianugerahkan-Nya. Manusia-manusia seperti ini jelas tidak dikehendaki Allah SwT dan sama sekali tidak sejalan dengan isi pesan dalam al-Qur’an. Bagi seorang manusia yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah SwT, justru proses kelahiran manusia di alam dunia ini menjadi fokus perenungannya. Dengan cara seperti itu, orang yang beriman tersebut akan senantiasa menghargai kehidupan dan sekaligus makin bertambah-tambah kekagumannya terhadap kemahabesaran kekuasaan Allah SwT.

Bagaimana dengan anda? Wallahu a’lam bishshawaab. [islamaktual/sm/m.damami]

Visit Us


Top