Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pada awal 2015, umat Islam di Aceh digegerkan dengan kegiatan kristenisasi yang dilakukan oleh pasangan suami istri, RS (41 tahun) dan WM (40 tahun), pada hari Ahad (25/1/15). Mereka membagikan buku dan selebaran tentang Kristen kepada sejumlah pengunjung objek wisata Taman Rusa, Aceh Besar.
Masyarakat yang menerima buku tersebut menyebutkan, buku dari suami-istri itu berisikan ajaran Kristen. Hal ini tentu saja membuat masyarakat Aceh yang hidup dalam hukum Islam resah, mereka pun melaporkan hal ini ke kantor polisi.
Anggota Reskrim dan Intel Polsek Suka Makmur, Aceh Besar kemudian menangkap pasangan suami-istri tersebut dan diperiksa.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aveh Tengku H. Faisal Ali yang hadir dalam pemeriksaan terhadap pasangan suami-istri yang membagikan buku berbau kristenisasi di objek wisata Taman Rusa mengatakan, keduanya jelas-jelas sedang melakukan upaya pemurtadan di Aceh Besar.
Ia mengaku sudah memeriksa semua buku yang dibawa keduanya serta yang sudah dibagikan kepada warga.
“Kami sudah baca. Semua isi buku itu memang jelas-jelas menyebarkan misi kristenisasi dan ada upaya pemurtadan,” ujar Tgk Faisal. Pihak kepolisian, kata Tgk Faisal, berhasil mengumpulkan puluhan buku yang dibawa keduanya dan sejumlah selebaran yang berisi tentang ajaran-ajaran Kristen. beberapa buku yang ditemukan adalah “Buku Tahunan Saksi-saksi Yehuwa”, “Bernyanyilah Bagi Yehuwa”, “Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari dan Sedarlah”.
“Dari judul bukunya saja sudah jelas. Apalagi keduanya juga mengaku sebagai pembimbing rohani. Ini jelas-jelas upaya pemurtadan di daerah yang umumnya muslim,” ujarnya.
Faisal sangat berterima kasih kepada Polsek Suka Makmur yang merespons begitu cepat laporan warga. Ke depan harapnya, warga diminta berhati-hati dan segera melapor kejadian-kejadian yang janggal seperti itu kepada pihak berwajib.
“Alhamdulillah warga kita masih sangat peka dengan hal-hal begini. Kita harapkan terus berhati-hati karena dalam bulan ini banyak sekali isu-isu seperti ini yang terus bermunculan di Aceh. Semoga tidak ada lagi upaya-upaya pendangkalan aqidah seperti ini,” harap Tgk Faisal.
Penyebaran Melalui Pos
Sebelumnya, sejumlah warga Aceh juga mendapat kiriman paket buku berjudul ‘Christ, Muhammad, and I’ (Yesus, Muhammad dan Saya) beserta sekeping VCD yang dikirim melalui Kantor Pos Indonesia.
Dilaporkan Serambi Indonesia, masyarakat yang menerima paket tersebut, menyebutkan isi buku berisi hal-hal yang mengarah pendangkalan aqidah. Misalnya, disebutkan bahwa al-Qur’an menjiplak Injil dan memutarbalikkannya. Ada juga bab yang menyudutkan figur dan kehidupan Nabi Muhammad saw.
Sedangkan VCD berisi tiga film yang menceritakan pesan-pesan kristenisasi dan kejelekan muslim, yang disajikan dalam bentuk talkshow dan film pendek.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihak Kantor Pos di Banda Aceh kemudian memutuskan menghentikan proses pengantaran paket-paket serupa kepada alamat yang dituju. Hal ini karena beberapa warga yang menerima kiriman tersebut juga telah mengembalikan paket itu ke Kantor Pos.
Anggota DPR Aceh, Tgk Makhyaruddin Yusuf terkait pengiriman paket buku melalui Kantor Pos telah meminta kepada pihak Kantor Pos Besar Banda Aceh untuk tidak meneruskan kiriman paket berisi buku dan satu keping VCD yang menyudutkan Islam ini.
“Buku berjudul Christ, Muhammad and I beserta satu keping VCD jelas-jelas berisi pesan kristenisasi. Pihak Kantor Pos harus menghentikan pengantaran paket ini, karena tindakan ini melanggar aturan yang melarang penyebaran agama kepada orang yang sudah beragama,” kata Makhyaruddin.
Politikus yang duduk di Komisi V DPRA ini pun meminta kepada pihak Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) unutk segera mencari solusi terhadap persoalan ini agar tidak menimbulkan gesekan antar umat beragama di Aceh.
“Seluruh pihak di Aceh, terutama DPRA, ulama, polisi, dan jaksa, harus segera mengambil sikap, karena ini berpotensi mengganggu kerukunan umat beragama di Aceh,” kata Safaruddin, SH Ketua Tim Pengacara Muslim (TPM) Aceh.
Provokasi Kristen
Penemuan buku dan VCD berisikan pesan-pesan kristenisasi dan menyesatkan di Aceh disinyalir terus meluas. Jika sebelumnya buku yang dikemas dalam berbagai judul itu beredar di sejumlah kabupaten/kota seperti Aceh Besar, dan Pidie, sekarang juga ditemukan oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Lhokseumawe.
Buku yang dikirim orang tak dikenal kepada warga di tiga lokasi tersebut mulai ditemukan pada akhir Desember 2014 hingga akhir Januari 2015 lalu.
Ketua MPU Lhokseumawe, Tgk Asnawi Abdullah menjelaskan, pada akhir Desember 2014, satu buku berjudul “Islam Logis” ditemukan siswa di samping pagar SMAN 6 Ljokseumawe yang berlokasi di Desa Baloi, Kecamatan Blang Mangat. Lalu buku itu diserahkan ke Ketua Komisi D DPRK Lhokseumawe, Tgk Syuib, dan kemudian disampaikan ke MPU.
Seterusnya, tulis Serambi, Rabu (28/1/15), pada awal Januari 2015, satu paket kiriman dari Raja asal Bandung melalui Kantor Pos ditujukan kepada Ridwan, warga Batuphat Timur, Muara Satu. Paket itu berisikan satu buku berjudul “Christ, Muhammad and I” dan satu CD. Lalu, warga itu menyerahkan buku dan CD dimaksud kepada Ketua Komisi A MPU Lhokseumawe, Tgk Hamdani Daud.
Terakhir, lanjut Tgk Asnawi, satu paket yang dikirim dari Banten kepada Zulfikar, warga Lancang Garam, Kecamatan Banda Sakti, melalui Kantor Pos sekitar seminggu lalu. Paket itu berisikan dua buku yang berjudul “Yang Haq dan Yang Bathil” dan “Kesaksian Khalid dan Rana”, serta satu CD.
Menurut Tgk. Asnawi, pihaknya sudah mempelajari semua buku itu dan isinya sesat serta ingin melakukan pendangkalan aqidah terhadap umat Islam di Aceh. “Karena itu, warga yang menerima buku serupa kami minta untuk tidak menyimpannya, tapi segera diserahkan ke MPU atau aparat keamanan. Bila disimpan, kita khawatirkan orang itu bisa dituduh yang bukan-bukan oleh warga lain, hingga bisa terjadi aksi anarkis,” jelasnya.
Ia memperkirakan, penyebaran buku kristenisasi itu merupakan bentuk provokasi oleh orang-orang yang ingin memperkeruh suasana toleransi umat beragama di Aceh yang selama ini sudah berjalan dengan baik.

“Meski selama ini di Aceh diberlakukan syariat Islam, tapi umat Islam tetap bisa menghargai penganut agama lain. Jika buku itu terus beredar di masyarakat, bukan tidak mungkin akan menyulut emosi umat Islam hingga terjadi SARA. Karena itu, kita imbau umat Islam di Aceh tak terpengaruh dengan kegiatan yang dilakukan pihak-pihak tak bertanggung jawab tersebut,” harap Tgk Asnawi. [islamaktual/tabligh/bersambung]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top