Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


"Dasar munafik, buang tuh jilbab!"
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk di ponselku. Aku hanya bisa mengelus dada dan mengusap butiran air mata yang tiba-tiba jatuh. Perih menusuk jantung saat membaca pesan berupa hujatan tanpa diketahui apa alasannya. Sudah beberapa hari ini aku menerima teror dari nomor yang entah siapa pengirimnya. Dengan wajah sembab, aku melangkah ke kamar mandi untuk wudhu lalu mendirikan salat magrib. Menumpahkan semua beban hati bersama dengan derasnya aliran air mata kepada-Nya. Entah cobaan apalagi kali ini, fitnah apalagi yang akan dilekatkan padaku?
Setahun lalu, aku menguatkan hati untuk menutup aurat dengan busana syar'i. Tak sedikit tantangan yang didapatkan, begitu banyak hujatan, sudah banyak air mata tumpah di atas sajadah.
Tantangan pertama datang dari keluarga. Mereka tidak mendukung aku berhijab. Menurut mereka, aku jadi aneh sendiri dengan busana syar'i menutupi seluruh tubuh.
Pernah sekali, kakak sangat marah padaku. Penyebabnya tidak lain karena Arman, sepupu kami.
Saat dia datang bertamu ke rumah, aku yang sedang menonton di ruang tamu lari ke kamar untuk memakai jilbab. Arman tersinggung dan melapor kepada kakak sambil marah-marah. Kakak jadi berang dan menghampiriku saat baru keluar dari kamar. Dia emosi dan hampir saja menampar. Aku diseret oleh kakak. Jilbab dan semua busana muslimah dibakar olehnya. Aku hanya bisa menangis dan menatap pakaianku sudah jadi arang. Kulihat ada senyum kepuasan di wajah Arman. Aku berlari masuk ke kamar dan mengunci diri dari dalam.Memasrahkan semua lara kepada-Nya.
Kuingat lagi pesan instruktur.
"Akan selalu ada ujian saat kita ingin melakukan kebaikan. Maka bersabar dan tegarlah. Tetap istiqomah! Allah akan selalu menolong orang yang mau menolong agama-Nya,"
Kejadian itu tak menyurutkan keinginan untuk berjilbab. Aku menguras semua uang tabungan untuk beli busana baru.
Pada akhirnya keluarga capek melarang-larang.
Aku dikucilkan dari pergaulan keluarga, namun itu tidak menjadi masalah. Kuputuskan untuk keluar dari rumah dan mengontrak di dekat kampus, membiayai kuliah dari hasil keringat sendiri.
Cobaan demi cobaan datang menyapa. Namun, aku mampu melewatinya dengan dukungan dari teman-teman pengajian.
Kali ini hujatan datang dari dosenku sendiri. Karena telat mengumpul tugas, Bu Sita marah dan berkata kasar.
"Kamu itu, selalu saja telat ngumpul tugas. Nggak disiplin dan pemalas. Jilbabnya aja yang gede. Buka tuh jilbab!" aku hanya menunduk, menahan air mataku agar tidak menetes di depan Bu Sita.
"Maafin saya, Bu, saya selalu berusaha menyelesaikan tugas dengan baik, tapi karena kecapean, kadang tertidur dan lupa menyelesaikannya," kataku menarik nafas sejenak. "Ibu boleh ngasih sanksi apapun, Bu, tapi tolong jangan hujat jilbab saya. Kalo saya salah, itu karena perbuatan, bukan karena jilbab saya," lanjutku dengan nada bergetar menahan tangis.
Aku melihat Bu Sita ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi karena ada dosen yang masuk. Ternyata Pak Aldi, Dosen mata kuliah pragmatik yang juga orang tua dari salah satu murid yang aku kasih privat.
"Eh, ada Aulia. Maaf ya, Aul, kemarin kami menjenguk nenek Mita di Tanjung, jadi Mita bolos privat," kata Pak Aldi ramah padaku.
"Iya, Pak, nggak apa-apa." kataku berusaha memasang senyum manis.
"Bu Sita, Aulia ini hebat lho. Dia punya semangat yang tinggi untuk belajar, walau harus bekerja keras untuk membiyai kuliahnya sendiri. Sepulang kuliah, Aulia mampir di rumah memberikan privat bahasa Indonesia ke Mita. Malamnya, dia menerima ketikan. Saya salut dengan semangatnya," kata pak Aldi panjang lebar.
Bu Sita memerah wajahnya karena malu. Aku menunduk, merasa terselamatkan dengan kehadiran Pak Aldi. Tak hentinya ucapan syukur kulantunkan di hati atas pertolongan Allah lewat bantuan
Pak Aldi. Kali ini Allah menolongku lagi dari hujatan orang-orang terhadap jilbabku. Aku segera pamit pada Bu Sita. Sebelum keluar, aku menoleh pada Pak Aldi dengan pandangan terima kasih. Beliau tersenyum sambil mengedipkan matanya lalu mengangguk. Aku tersenyum manis padanya. Setelah itu berlalu dari ruang dosen.
Saat menuju gedung fakultas, aku berpapasan dengan Renata, mahasiswi Fakultas Ekonomi yang kontrakannya tepat di samping kontrakanku.
"Assalamualaikum ... pagi, Rena!" sapaku ramah. Rena tidak menjawab, dia hanya menatap dengan sikap penuh permusuhan. Aku jadi bingung, bertanya-tanya atas perubahan sikapnya. Aku dan dia selama ini baik-baik saja, kenapa malah jadi memusuhi begini?
Setelah Rena berlalu, aku menuju kelas di lantai dua Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia.
Di tangga, berpapasan dengan Abduh, teman sefakultas tapi beda kelas.
"Hai, Aul ...." Sapa Abduh padaku.
"Assalamualaikum, Abduh." Aku menundukkan pandangan dan berlalu dari hadapan Abduh.
"Aul ... Aulia! tunggu, Aku pengen ngomongin sesuatu," cegat Abduh. Aku berusaha menjauh.
"Kenapa sih? susah banget diajak ngomong," kata Abduh lagi
"Ab, aku mau masuk kelas dulu. Bentar lagi dosen datang." Kataku menghindar. Aku tahu apa yang ingin dia bicarakan. Beberapa hari lalu dia mendatangi di taman kampus saat aku sedang asyik baca buku sastra. Abduh datang dengan membawa seikat mawar dan pada saat itu juga dia langsung mengutarakan isi hatinya. Aku jadi salah tingkah dengan perbuatannya. Beberapa kelompok mahasiswi dan mahasiswa yang ada di taman menyoraki, membuat wajah memerah. Aku sangat malu dan berlari meninggalkan Abduh kebingungan dengan sikapku waktu itu.
"Aul, kamu belum memberikan jawaban," kata Abduh membuatku sadar dari lamunan.
"Jawaban apa, Ab?" tanyaku pura-pura lupa.
"Itu, yang di taman tempo hari," kata Abduh. Aku menundukkan pandangan dengan perasaan was-was atas timbulnya fitnah jika ada yang melihat kami.
"Maaf, Ab, aku nggak bisa. Saat ini aku cuma ingin konsen kuliah aja. Lagian, Aku nggak mau pacaran, Ab." kataku lalu segera berlari meninggalkan Abduh.
*****
Aku baru saja mau keluar dari gerbang kampus saat seseorang memanggil dari belakang. Aku membalikkan badan dan melihat Renata berjalan ke arahku.
"Aku pengen ngomong sama kamu!" kata Renata lalu menarikku ke taman kampus.
"Ada apa sih, Ren?" tanyaku sambil mengelus pergelangan tangan yang ditarik paksa oleh Renata.
"Eh, kamu itu perempuan munafik ya? namanya aja pake jilbab, tapi perbuatan kamu itu gak kayak orang berjilbab tau nggak?" kata Renata keras memancing perhatian mahasiswa lainnya. Dalam sekejap, kami telah dikerubuti oleh mahasiswa di taman. Aku kaget mendengar ucapan Renata.
"Astaghfirullah ... maksud kamu apa, Ren? Aku sungguh nggak ngerti," kataku berusaha menahan emosi.
"Halah ... nggak usah pura-pura deh. Kamu pacaran kan ama Abduh? katanya anak jilbaber itu nggak pacaran, tapi nyatanya ngerebut pacar orang. Muna tau nggak?" kata Renata berapi-api. Aku kaget dengan ucapan Renata. Jadi selama ini, dia memusuhi aku karena Abduh?
"Demi Allah, Ren. Aku ama Abduh nggak ada hubungan apa-apa" kataku membela diri.
"Nggak usah bo'ong, kamu. Dasar perempuan jalang perebut pacar orang. Buka aja tuh jilbab!" kata Rena sambil menarik jilbabku. Aku berusaha mempertahankan kehormatan. Dengan sekuat tenaga, aku mendorong Renata sampai jatuh tersungkur.
" Eh, dengerin ya! Si Abduh emang berusaha deketin, tapi Aku tidak pernah mau menanggapi, apalagi mau rebut Dia dari kamu," kataku terpancing emosi. Aku memungut diktat yang berserakan di atas rumput karena ditarik Renata. Kulihat dia shok dengan kekasaranku.
"Dan satu hal yang perlu kamu ingat, Ren. Jangan pernah menghujat jilbabku! Akhlak dan jilbab dua hal yang berbeda. Jilbab adalah perintah Allah dan jadi kewajiban bagi semua muslimah. Itu ada dalam QS. An-Nur: 31 dan QS. Al-Ahzab:59.
Sedangkan akhlak adalah hal yang mengatur perilaku manusia. Kalau aku melakukan kesalahan, itu karena perbuatan, bukan karena jilbabku. Pakai jilbab saja, masih ada yang berusaha memfitnah, apalagi kalau tidak berjilbab sama sekali?" Aku mulai tenang dan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dadaku terasa lapang.
Setelah istighfar berkali-kali, aku mengulurkan tangan pada Renata, berusaha membantunya bangkit. Tapi dia menepis tanganku. Aku meninggalkan Renata setelah meminta maaf. Kulihat mahasiswa yang tadi mengkerubuti kami telah bubar. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Aku tak peduli lagi. Aku hanya berusaha menjaga kehormatan yang hampir saja dipermalukan oleh Renata di depan banyak orang. Tak hentinya aku berucap syukur dan meminta maaf pada Allah atas kekasaranku terhadap Renata tadi.
*****
Sejak Kejadian dengan Renata, tidak ada lagi yang berani mengusik jilbabku di kampus. Bu Sita yang sebelumnya sentimen, telah meminta maaf dan sikapnya berubah jadi manis. Renata juga tidak pernah muncul lagi. Kudengar dia pindah kampus karena malu dengan perbuatannnya. Dia hanya menitip permintaan maaf pada temannya.
Subhanallah. Benarlah apa kata instrukturku. Allah akan selalu menjaga dan menolong hamba yang mau menjalankan dan menolong agamaNya. Aku semakin yakin dengan jalan yang telah aku pilih, Istiqomah pada jilbab dan berproses menjadi muslimah yang berakhlak baik.
Mks, Juli 2015

(diambil dari laman facebook dengan akun Vhya Eti)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top