Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Misi Pendangkalan Aqidah Di Aceh (Bagian 2)


Aceh Target Misionaris
Banyaknya temuan kasus yang diduga bagian dari misi pendangkalan aqidah di Aceh, diharapkan oleh berbagai kalangan supaya disikapi serius oleh Pemerintah Aceh. Rentetan kasus yang ditemukan selama ini diyakini bagian dari target untuk menyebarkan paham dan keyakinan yang bertentangan dengan aqidah masyarakat Aceh yang mayoritas Islam.
Ketua Pembina Front Pembela Islam (FPI) Aceh, Yusuf al-Qardhawi secara blak-blakan menyebutkan Aceh menjadi target para misionaris untuk menyebarkan ajaran agama tertentu. Yusuf mengaku mendapatkan bocoran yang bisa dipertanggungjawabkan dari berbagai sumber, termasuk pengakuan rekannya yang melanjutkan pendidikan di Inggris.
Menurut Yusuf, ketika temannya berliburan ke Jerman, menemukan fakta adanya tempat ibadah non-muslim yang menerima sumbangan dari pengikutnya untuk misi ke Aceh. “Kalau sebatas mereka mengumpulkan dana, itu urusan merekalah. Tetapi yang mengagetkan, ada yang terang-terangan menulis target penyebaran misi ke Aceh. Memang tertulis nama Aceh, Indonesia,” ungkap Yusuf al-Qardhawi, mengutip pengakuan temannya yang sempat pulang ke Aceh sebulan lalu.
“Bukan hanya saya yang mendengar cerita itu, tapi ada 10 teman saya yang lain,” lanjutnya, dilansir Serambi, (28/01/15).
Misi pendangkalan aqidah ke Aceh, menurut Yusuf, bukan cerita baru, tetapi sudah merebak sejak pasca tsunami. Di Meulaboh, misalnya, sempat juga ditemukan berbagai buku dan VCD berisi kumpulan lagu-lagu keagamaan, dan brosur yang mengacu kepada pendangkalan aqidah.
“Sudah banyak kejadian di Aceh yang merupakan misi pendangkalan aqidah. Ini harus disikapi serius oleh pemerintah dan masyarakat agar tidak masuk pernagkap mereka,” kata Yusuf al-Qardhawi.
Sementara itu, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Yusron Hadi, Lc, sebagaimana dilansir hidayatullah.com (2/2/15) menjelaskan bahwa sejak era 80-an sampai hari ini, Aceh telah menjadi target utama pemurtadan, baik dilakukan oleh para misionaris Kristen, Syi’ah, liberalisme, pluralisme, sekulerisme, gender, Ahmadiyah, Millata Abraham, Gafatar dan lain sebagainya.
“Pemurtadan oleh para misionaris Kristen sudah banyak sekali terjadi di kota Aceh sebagaimana pemurtadan yang dilakukan para misionaris paham sesat,” tegas Yusron.
“Terlebih lagi pasca tsunami yang telah meluluh lantakkan Aceh, dimana negara-negara Barat dan LSM banyak yang masuk ke Aceh dengan dalih membawa ‘bantuan sosial’,” ujarnya.
Yusron menuturkan, baru-baru ini ditangkap para pengikut aliran sesar Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang digerebek kantornya oleh aparat dan warga di Banda Aceh (Serambi, 8/1/15). Aliran Gafatar ini, lanjutnya, merupakan nama baru dari aliran sesat Millata Abraham.
“Sebelumnya pada tahun 2014 muncul aliran sesat Laduni dan Barnawi. Dan pada tahun 2011 Pemerintah Aceh menyebutkan 14 aliran keagamaan di Aceh yang dinyatakan sesat,” pungkas Yusron.
Upaya pemurtadan itu, menurut Yusron, dilakukan oleh para misionaris dengan berbagai cara yang halus dan terselubung seperti memberi bantuan sosial dan keuangan, membagi sembako, memberi pelatihan atau workshop, membagi-bagikan buku dan lain sebagainya.
“Jelas, tindakan upaya pemurtadan telah melanggar hukum yang berlaku di Indonesia khususnya Qanun Syariat di Aceh yang menjamin kebebasan beragama,” tegas Yusron.
“Bahkan, upaya pemurtadan telah membuat keresahan dalam masyarakat muslim sehingga sangat berpotensi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan serta mengganggu kedamaian,” imbuhnya.
Yusron juga berharap supaya pemerintah Aceh mampu bersikap tegas menyikapi kasus pemurtadan yang marak terjadi di Aceh selama ini dengan menindak dan memberi sanksi yang tegas kepada para pelakunya (misionaris), agar tidak terulang dan menjadi pelajaran bagi para misionaris lainnya.
“Diantaranya menindak dan memberi sanksi yang tegas kepada para pelakunya (misionaris, red.), agar tidak terulang dan menjadi pelajaran bagi para misionaris lainnya,” ujar Yusron.
“Tidak cukup dengan melakukan pensyahadatan mereka kembali dan pembinaan, tetapi harus diproses secara hukum dan diberi sanksi seberat-beratnya,” imbuhnya.
Kristenisasi VS Kode Etik Penyiaran Agama
Pakar Kristologi, Abu Deedat Syihab, dalam makalah berjudul Metode Memancing versus Kode Etik Penyiaran Agama yang disampaikan kepada redaksi majalah Tabligh, menjelaskan bagaimana sepak terjang misionaris dengan metode memancing ikan. “Aplikasinya mereka mendatangi rumah-rumah kaum muslim dengan membagikan majalah, brosur, buku dan alkitab, bahkan mereka menyebarkan buku berkedok Islam agar memenangkan orang Islam. Inilah strategi memancing ikan sesuai dengan selera ikan,” jelas Abu Deedat.
Menurutnya, kaum minoritas Kristen sering menuduh Islam intoleran terhadap kaum minoritas. Padahal, menurut kesimpulan Abu Deedat, kaum minoritas kristenlah yang intoleran terhadap kaum mayotitas. Dalam kegiatannya mereka seringkali melangar Kode Etik Penyiaran Agama.
Pemerintah yang mempunyai kewajiban menjaga agar tidak terjadi konflik/gesekan umat beragama telah membuat Peraturan Kode Etik Penyiaran Agama melalui Keputusan Menteri Agama No. 70 Tahun 1978 tentang Penyiaran Agama, dan No. 77 Tahun 1978 tentang Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia. Kemudian diperkuat menjadi Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 1 tahun 1979 tentang Tatacara Penyiaran Agama dan Bantuan Keagamaan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia.
Dalam Kode Etik Penyiaran Agama SKB No. 1 tahun 1979, dalam pasal 3 dinyatakan bahwa Pelaksanaan penyiaran agama dilakukan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, saling menghargai dan saling menghormati antara sesama umat beragama serta dengan dilandaskan pada penghormatan terhadap hak dan kemerdekaan seseorang untuk memeluk/menganut dengan melakukan ibadat menurut agamanya. Adapun dalam pasal 4 dijelaskan bahwa pelaksanaan penyiaran agama tidak dibenarkan untuk ditujukan terhadap orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama lain dengan cara:
  1. Menggunakan bujukan dengan atau pemberian barang, uang, pakaian, makanan dan atau minuman, pengobatan, obat-obatan dan bentuk pemberian apapun lainnya agar orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama yang lain berpindah dan memeluk/menganut agama yang disiarkan tersebut;
  2. Menyebarkan pamflet, majalah, buletin, buku-buku, dan bentuk barang penerbitan cetakan lainnya kepada orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama yang lain.
  3. melakukan kunjungan dari rumah ke rumah umat yang telah memeluk/menganut agama yang lain.
Kesimpulan setelah melihat dan memperhatikan peraturan tersebut di atas: Siapakah yang melanggar Kode Etik penyiaran agama dan siapakah yang tidak toleran, Muslim atau Kristen?

Jawabannya, kaum minoritas kristenlah yang intoleran terhadap kaum mayoritas. [islamaktual/tabligh]

Jamaah Haji Diminta Waspada Cuaca Ekstrem di Makkah


Pelaksanaan ibadah haji sudah mulai dilakukan. Jamaah haji dari Indonesia akan mulai memasuki kota Makkah, Ahad (30/8). Mereka yang telah menyelesaikan prosesi Arbain di Madinah akan segera diberangkatkan ke Makkah untuk melakukan rangkaian haji dan umrah.
Pantauan kondisi cuaca selama sepekan terakhir ini, saat siang hari suhu tertinggi berkisar antara 44-45 derajat celcius. Sedangkan pada malam hari suhu berkisar 32-33 derajat celcius. Oleh karena itu, jamaah haji Indonesia diimbau untuk menjaga kesehatan fisiknya saat berada di Makkah. Seminggu terakhir ini, cuaca di Makkah sukar sekali diprediksi.
Beranjak ke sore, langit di Makkah kerap berawan yang ditingkahi hembusan angin yang cukup kencang. Pada hari Rabu dan Jumat lalu, hujan cukup deras mengguyur Makkah setelah sebelumnya petir menggelegar bersahutan. Hujan yang turun selama 15-20 menit itu cukup membuat suhu di Makkah bersahabat. Tapi pada malamnya angin berhembus cukup kencang.
Perubahan cuaca yang relatif mendadak ini biasa menyebabkan banyak jamaah jatuh sakit. Hal ini karena kondisi jamaah sedang tidak fit atau kelelahan. Kepada jamaah diimbau agar selalu makan dan istirahat yang cukup agar ibadah utama yang merupakan rukun berhaji bisa dilakoni dengan sukses.
“Minum air yang cukup agar tidak dehidrasi, jangan terlalu lama terpapar terik matahari di tempat terbuka agar tidak terkena heat stroke, dan berlindung dari derasnya hujan angin yang bisa membuat badan masuk angin,” imbau Kemenag dalam siaran persnya, Sabtu (29/8) dikutip islampos.com.

Para jamaah juga diharap untuk selalu memperhatikan aspek keselamatan dalam beribadah. Sebelum beribadah ke Masjidil Haram, hendaknya jamaah meminta kartu hotel yang berisi alamat penginapan pada petugas, memperhatikan arah masuk ke Masjidil Haram, dan selalu bertanya kepada siapapun (terutama sesama jamaah atau petugas-red) jika memang butuh pertolongan jika tersesat. [islamaktual]

Ibnu Rusyd, Filosof Berkemajuan dan Mencerahkan


Ibnu Rusyd. Pemikir Muslim yang berkemajuan dalam pemikiran dan mencerahkan dalam berislam. Ia adalah filosof yang berhasil memasukkan pikiran filsafat dalam diskursus syariat. Ia menjembatani perdebatan tentang ijma’ dengan argumentasi filsafati yang memberikan kemudahan dalam istinbath hukum Islam.
Jejak Hidup
Ibnu Rusyd lahir di Cordoba, Spanyol, pada tahun 520 H (1126 M) dengan nama lengkap Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd. Saat itu, Cordoba merupakan kota paling menonjol dan terkenal milieu keilmuannya di Andalusia (Spanyol). Di Barat, ia dikenal dengan nama Averoes. Dia adalah seorang dokter, ahli hukum, dan filosof paling populer pada periode perkembangan filsafat Islam (700-1200). Di samping sebagai yang paling otoritatif sebagai komentator karya-karya Aristoteles, ia juga seorang filosof Muslim paling menonjol dalam usahanya mencari persesuaian antara filsafat dan syariat (al-ittishal bain al-hikmah wa al-syari’ah). Ia wafat di Maraquesh (Maroko) 9 Safar 595 H (10/12/1198 M).
Ibn Rusyd tumbuh di tengah keluarga terhormat dan memiliki tradisi keilmuan yang kuat. Ayah dan kakeknya pernah menjadi kepala pengadilan di Andalusia. Ia sendiri pernah menduduki beberapa jabatan antara lain sebagai qadli (hakim) di Sivilla dan sebagai qadli al-qudlat (hakim agung) di Cordoba.
Sejak kecil, ia mempelajari al-Qur’an, tafsir, Hadits, fikih, dan sastra Arab. Setelah dewasa orientasinya tertuju pada ilmu. Ia mendalami matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat, dan ilmu kedokteran. Wajar jika kemudian ia dikenal sebagai ahli dalam berbagai cabang ilmu. Kebesaran dan kejeniusan Ibnu Rusyd tampak pada karya-karyanya.
Dalam berbagai karyanya, ia selalu membagi pembahasannya dalam tiga bentuk, yaitu komentar, kritik, dan pendapat. Ia adalah seorang komentator sekaligus kritikus ulung. Ulasannya yang terkenal adalah terhadap karya-karya Aristoteles. Ia tidak semata-mata memberi komentar, tetapi juga menambahkan pandangannya sendiri. Suatu hal yang belum pernah dilakukan filosof lain sebelumnya. Kritik dan komentarnya itulah yang menjadikannya terkenal di Eropa. Ulasan-ulasannya terhadap filsafat Aristoteles berpengaruh besar di kalangan ilmuwan Eropa. Selain itu, ia juga banyak mengomentari karya-karya filosof Muslim pendahulunya: al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Bajjah, dan al-Ghazali.
Popularitas Ibnu Rusyd memuncak pada masa Khalifah Abu Ya’qub Yusuf ibn Abdul Mu’min. Kedudukannya begitu agung di sisi khalifah. Kedudukannya semakin meningkat setelah Khalifah al-Mansur Abu Yusuf Ya’qub menggantikan ayahnya. Sayangnya, selang tak begitu lama, timbul kecurigaan terhadap Ibnu Rusyd dan akidahnya. Ini merupakan awal dari rentetan fitnah dan hukuman buang baginya. Ia dipenjara di kota Alisana/Lucana, Spanyol, tempat pembuangan orang-orang yang akidah serta pemikirannya mengganggu ketenteraman negara.
Hal yang tentunya menyakitkan hatinya adalah perintah untuk membakar semua bukunya. Masyarakat dilarang mempelajari selain yang bersifat pengetahuan murni seperti kedokteran, matematika, dan astronomi. Kemudian dia diasingkan ke Maraquesh. Ia meninggal dan dimakamkan di situ. Tiga bulan kemudian jenazahnya dipindahkan ke Cordova. Keranda dan sisa-sisa bukunya diangkut kiri kanan punggung seekor keledai.
Sepeninggal Ibnu Rusyd bagaimanapun tidak ada lagi muncul filosof Muslim di dunia Sunni khususnya di bagian Barat (Andalusia). Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau Spanyol, hilang pula kekuasaan dan kejayaan Islam di Barat.
Mencerahkan dan Berkemajuan
Ibnu Rusyd menulis tak kurang dari 50 judul buku dari berbagai disiplin ilmu. Di antara karya-karyanya, ada yang hasil karyanya sendiri, ada juga yang berupa ulasan terhadap karya Aristoteles. Karyanya yang sampai kepada kita antara lain Bidayatul-Mujtahid, Faslul-Maqal fi ma baina al-Hikmati was-Syari’at min al-ittsal, Manahij al Asillah fi Aqaidi Ahl al-Millah, Tahafut at-Tahafut. Di antara karya-karya tersebut, yang paling mencerahkan adalah Faslul-Maqal fi ma baina al-Hikmati was-Syari’at min al-ittsal. Dalam karya ini, ia memunculkan teori tentang harmoni (perpaduan) agama dan fisafat. Ia menawarkan satu pandangan baru yang sama sekali orisinil dan rasional.
Ia berusaha mengharmoniskan agama dan filsafat. Menurutnya, filsafat tidk bertentangan dengan agama. Fungsi filsafat tidak lain hanyalah untuk memikirkan yang maujud (lahiriah) agar membawa kepada ma’rifatullah.
Dalam konteks itu, Ibnu Rusyd mencetuskan teori tentang Ijma’. Dalam Bidayatul al-Mujtahid, Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa Ijma’ sebagai sumber hukum Islam yang tidak dapat berdiri sendiri. Ijma’ dapat menjadi sumber hukum apabila ada sandaran dari salah satu atau lebih sumber hukum Islam yang lain: al-Qur’an, Hadits, dan Ijtihad.
Menurut Ibnu Rusyd, Ijma’ memiliki dua jenis. Pertama, ijma’ yang terjadi karena kebulatan suara para mujtahid dan masyarakat umum mengenai hal-hal yang fundamental dalam Islam, seperti tentang shalat, zakat, dan sebagainya. Kedua, ijma’ yang terjadi karena konsensus para mujtahid sendiri. Dalam hal ini, masyarakat umum secara otomatis menyetujui konsensus tersebut. Ijma’ jenis kedua ini berkenaan dengan hal-hal yang tidak fundamental dalam Islam, tetapi hanya rincian-rincian dari hal-hal fundamental tersebut.

Atas dasar itu, Ibnu Rusyd menunjukkan adanya nash dalam syara’ di mana terjadi ijma’ kaum Muslimin untuk berpegang kepada arti lahirnya. Ada nash yang lain di mana mereka sepakat (ijma’) untuk menta’wilnya. Ada juga nash di mana mereka memutuskan (ijma’) bahwa nash itu diperselisihkan antara perlu dita’wil atau tidak. Lebih lanjut, menurut Ibnu Rusyd, ijma’ hanya dapat terjadi pada hal-hal praktis. Tidak pada hal-hal teoritis. Gagasan-gagasan Ibnu Rusyd tersebut merupakan titik cerah dalam wacana hukum Islam. Ia memberikan gagasan berkemajuan bagaimana meletakkan nash, akal, dan konteks masyarakat. Ia memberi pencerahan terhadap sulitnya melakukan istinbath hukum pada saat itu. [islamaktual/sm/ba]

Malaysia Bersih 4, Ingin Turunkan PM Najib


Malaysia menjadi lautan warna kuning manusia. Diperkirakan puluhan ribu demonstran berbaju kuning membanjiri Malaysia. Mereka berkumpul Sabtu (29/8) lalu, menuntut Perdana Menteri Malaysia Najib Razak turun dari jabatannya.
“Kita ingin menyelamatkan Malaysia dari krisis ekonomi dan politik, di mana negara bisa gagal dan berakhir tanpa aturan hukum,” terang Lim Kit Siang, dari partai oposisi Democratic Action Party (DAP) di masjid Nasional Malaysia seperti dikutip republika.co.id.
Demo besar-besaran ini terjadi sejak beberapa minggu lalu, dipicu pemberitaan Wall Street Journal edisi Juli yang menyebutkan tuduhan pada Najib Razak tentang aliran dana yang masuk rekening pribadinya sebesar 700 juta dollar AS.
Uang tersebut nampaknya dialihkan dari perusahaan terkait untuk dana negara Malaysia Development (MDB). Akibatnya Perdana Menteri Najib Razak mendapat tekanan dan diminta untuk segera turun dari jabatannya. Najib juga mendapat kritik keras dari mantan Perdana Menteri Mahathir Mohammad.

Akibat kasus ini, Perdana Menteri Najib razak memecat wakil perdana menterinya serta mencopot Jaksa Agung yang mencoba untuk mengusut masalah rekening itu. Najib mengelak ia menggunakan dana tersebut untuk kepentingan pribadinya. Saat ini rekening tersebut telah ditutup dan lokasi uang senilai 700 juta dollar AS tak diketahui. [islamaktual]

IMM : Pelemahan Ekonomi Indonesia Makin Mengkhawatirkan


Beni Parmula, Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menilai pemerintahan Joko Widodo tak punya langkah strategis serta kongkret untuk membenahi kondisi ekonomi yang melemah. Harga-harga kebutuhan pokok yang saat ini melonjak tajam, kemampuan daya beli masyarakat yang menurun drastis, menurut Beni, semestinya menjadi pekerjaan utama pemerintah untuk segera diatasi.
"Sikap pemerintah masih menganggap biasa, padahal tingginya pelemahan tersebut telah mengkhawatirkan berbagai pihak. Bahkan Bank Indonesia (BI) mengungkapkan krisis ekonomi ini terbilang masih baik," jelas Beni usai acara Focus Group Discussion Kelompok Cipayung Plus di Jakarta, Ahad (30/8) dikutip republika.co.id.
Dengan indikator angka inflasi yang bertengger di 0,93 persen dan defisit transaksi berjalan yang menurun ke 2,3 persen, BI menilai depresiasi rupiah masih lebih baik bila dibandingkan negara berkembang lain. Secara tahunan, depresiasi rupiah memang mencapai 8 persen.
"Namun, secara month to date, depresiasi hanya 1 persen, sementara negara-negara ASEAN mencapai lebih dari 1,5 persen," lanjutnya.

Pemerintahan Jokowi, kata Beni, janganlah bersikap santai serta seolah kondisi ekonomi bangsa baik-baik saja. Jika tidak segera ditanggulangi dengan terobosan-terobosan strategi yang kongkret untuk mengantisipasi kondisi yang semakin tidak menentu, ke depan gejala-gejala krisis ekonomi ini bisa berujung pada krisis kepercayaan. [islamaktual]

Rektor ITS : Kuliah Bukan Untuk Gelar dan Pekerjaan, Tapi Karena Ridho Allah


Grand Launching Gerakan Shalat Subuh Berjamaah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya telah sukses digelar. Banjir pujian mengarah pada sang Rektor, Prof. Dr Ir. Joni Hermana MSc. Akan tetapi Prof. Joni tetap mengingatkan para mahasiswa yang masuk ke ITS harus berniat mencari ridho Allah, bukan sekedar mencari gelar ataupun pekerjaan semata. Agar mereka kelak akan selamat dunia dan akhirat.
“Saya ingin Kalian melangkah ke ITS hanya karena Ridho Allah. Kami tak ingin ke ITS untuk mencari kerja atau karena ingin gelar. Ini agar kalian selamat dunia akhirat,” demikian pernyataan Rektor ITS Surabaya, Prof. Joni Hermana saat memberi sambutan di Masjid Manarul Ilmi, Sabtu (29/08/15) seperti dikutip hidayatullah.com.
Dalam acara yang dihadiri tak kurang dari 5000 jamaah ini Prof. Joni juga meminta maaf pada para mahasiswanya.
“Mohon maaf terpaksa di ujung 1/3 malam dan dingin ini kalian (mahasiswa ITS) hadir di sini. Saya juga mengucapkan selamat melawan rasa dingin ini, “ tambahnya.
Dalam sambutanya di depan mahasiswa dan masyarakat yang menghadiri acara ‘Gerakan Shalat Subuh Berjamaah’ ini Joni memberi alas an mengapa mengajak para mahasiswanya ikut menghidupkan shalat Subuh berjamaah di masjid.
“Kenapa harus shalat Subuh? Karena shalat Subuh berjamaah di Masjid seperti shalat qiyamul lail semalam suntuk.”
Menurutnya, amat banyak keistimewaan shalat Subuh seperti yang dijanjikan Allah Subhanahu Wata’ala, yang bisa dilaksanakan para mahasiswanya. Semata-mata, katanya, agar para mahasiswanya bisa menuai berkah dan selamat dunia akhirat.
“Kenapa shalat Subuh? Karena banyak keistimewaan shalat Subuh ini. Kalau kalian tahu manfaat shalat Subuh, kalian akan datang meski merangkak,” ujar Joni mengutip sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
Melalui “Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah” ini, Prof. Joni  ingin mahasiswa mempunyai misi ketika kuliah. Sehingga kehidupan yang dijalani menjadi barakah.
“Ketika mereka kuliah itu sebenarnya ada misi, tidak sekedar mengejar duniawi seperti gelar atau pekerjaan, itu terlalu kecil,” ujarnya.
Menurutnya, ada dimensi lain yang lebih luas, yakni dimensi akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa tujuan manusia diciptakan adalah semata untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
“Jadikanlah masa studi di ITS ini sebagai bagian dari ibadah itu. Jika sudah demikian insya Allah mereka akan selamat dunia dan akhirat,” tukasnya.
Selain itu, lanjut Prof. Joni, ia menginginkan mahasiswa mempunyai rasa persaudaraan dan persatuan yang kuat dan utuh satu dengan yang lainnya. Karena diharapkan itu bisa menjadi kekuatan tersendiri dalam pengembangan karir para mahasiswa ke depan.
“Shalat shubuh itu menjadi acuan dari esensi spritual kita,” pungkasnya.
Acara ini dihadiri tidak kurang dari 5000 mahasiswa dari berbagai jurusan dan masyarakat sekitar. Mereka datang sebelum subuh hingga sempat membuat jalanan masuk ITS sempat macet. [islamaktual]

Kezaliman Menuai Badai


Hakim, polisi, dan pengacara dijerat lembaga antiruswah dan sebagian sudah masuk penjara. Jika para penegak hukum terjerat kasus hukum, bagaimana nasib bangsa dan negara hukum? Ibarat pepatah, pagar makan tanaman. Apapun menjadi tidak aman karena penjaga hukum kehilangan amanah. Hukum dirusak oleh penegaknya sendiri.
Keadaan malah tambah parah. Penegak hukum arogan dan sewenang-wenang. Siapapun seakan mudah dijebloskan ke bui hanya oleh seorang petinggi penegak hukum yang sok kuasa. Orang dijerat hukum karena mengusik kepentingannya. Sementara para penjahat kelas berat yang merusak negara dibiarkan leluasa karena sejalan dengan kepentingannya. Ketika diingatkan oleh para ulama dan penjaga moral bangsa malah mencerca dengan congkak, seolah negara ini miliknya. Kekuasaan dan arogansinya melebihi pemimpin tertinggi negeri. Atas nama hukum malah semaunya sendiri. Sungguh mengerikan, mau dibawa kemana negara hukum ini?
Lihatlah keganjilan dan keanehan yang terjadi di hadapan publik. Seorang penegak hukum pangkat rendahan malah diketahui memiliki rekening gendut 1,2 triliun. Sebelum ini beredar di media tentang rekening-rekening gendut, lalu menguap entah kemana. Mereka yang pangkatnya di bawah bisa leluasa memiliki uang tak jelas melampaui batas, bagaimana dengan yang di atas. Media dan siapapun yang mengusik malah dimasalahkan dan terancam di-tersangkakan. Padahal skandal demi skandal bermunculan di depan mata. Hukum dan penegak hukum menjadi organ superkuasa melebihi kekuasaan negara itu sendiri.
Hakim yang konon kekuasaannya luar biasa juga bermasalah. Sebagian terpidana karena korupsi, lainnya skandal moral. Padahal kalau memutus perkara kekuasaannya mutlak, malah absolut. Sebagian orang bilang, kuasa hakim mirip kuasa Tuhan. Astaghfirullah al-adhim, bagaimana kedigdayaan hukum malah diselewengkan dan disalahgunakan oleh otoritas yang kekuasaannya dinisbahkan dengan otoritas Ilahi. Padahal gajinya sudah melebihi pejabat lain. Moral ternyata tidak sejalan dengan gaji, karena manusia mengidap penyakit rakus.
Para wakil rakyat malah seolah senang komisi anti-ruswah lemah dan dilemahkan. Beragam dalih pembenar dikumandangkan. Katanya, tidak boleh ada lembaga superior di negeri ini, seraya lupa mereka sering memposisikan diri sebagai kekuatan superbodi. Sulit memahami pola pikir para wakil rakyat yang terhormat itu, segala masalah seolah ringan di hadapannya. Mereka kini malah menyiasati agar memperoleh dana aspirasi yang besarnya spektakuler, Rp 20 miliar per orang per dapil. Jika dikalikan lima tahun sepanjang masa jabatan, mereka menyalurkan 100 miliar. Sungguh tak mudah meraba kadar moralitas dan nilai-nilai luhur yang melekat dalam diri para elit politik, semuanya seakan ringan.
Inikah jaman edan seperti telaah budaya Ronggowarsito? Jika tidak ikut edan tak kebagian. Artinya kejahatan, keserakahan, dan kedzaliman menjadi luas. Sementara kebenaran, kebaikan, dan keadaban makin terasing. Mereka yang normal menjadi abnormal, sebaliknya yang rusak dan tidak karuan seolah mnejadi benar dan lazim. Nilai benar dan salah, baik dan buruk, serta pantas dan tidak pantas campur aduk penuh ketidakjelasan. Malah menjadi ironi, serba berbalik. Mereka yang benar bisa menjadi salah, yang salah menjadi benar. Sebagian masyarakat pun cenderung tidak peduli dengan nilai-nilai utama kebajikan.
Allah memberi peringatan keras dalam al-Qur’an, yang artinya : “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat ‘adzab yang pedih” (QS. asy-Syuuraa [42]:42). Perbuatan zalim adalah tindakan yang sewenang-wenang, yang membuat orang lain teraniaya. Perbuatan seperti itu sifatnya gelap alias sesat (dhulumat), yang jauh dari hidayah Allah SwT. Kezaliman itu biasanya datang dari orang atau pihak yang memiliki kekuasaan dan bermoral buruk, yang memberikan dirinya keleluasaan untuk berbuat sekehendaknya.

Orang zalim dengan kekuasaan yang dimilikinya sering lupa kalau perbuatan jahat dan sewenang-wenangnya itu akan membelit dirinya. Kata pepatah, siapa menabur angin menuai badai. Kejahatan atau kezaliman sekecil apapun pada akhirnya akan bermuara pada dirinya, jika tidak kontan maka akan menjadi utang yang melilit hidupnya. Saksikan nasib Fir’aun yang diazab Tuhan di Laut Merah. Sabda Nabi, ad-dhulmu dhulumatu yauma al-qiyamah, bahwa kezaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan at-Tirmidzi dari Abdullah ibn Umar). [islamaktual/sm/a.nuha]

Misi Pendangkalan Aqidah Di Aceh (Bagian 1)


Pada awal 2015, umat Islam di Aceh digegerkan dengan kegiatan kristenisasi yang dilakukan oleh pasangan suami istri, RS (41 tahun) dan WM (40 tahun), pada hari Ahad (25/1/15). Mereka membagikan buku dan selebaran tentang Kristen kepada sejumlah pengunjung objek wisata Taman Rusa, Aceh Besar.
Masyarakat yang menerima buku tersebut menyebutkan, buku dari suami-istri itu berisikan ajaran Kristen. Hal ini tentu saja membuat masyarakat Aceh yang hidup dalam hukum Islam resah, mereka pun melaporkan hal ini ke kantor polisi.
Anggota Reskrim dan Intel Polsek Suka Makmur, Aceh Besar kemudian menangkap pasangan suami-istri tersebut dan diperiksa.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aveh Tengku H. Faisal Ali yang hadir dalam pemeriksaan terhadap pasangan suami-istri yang membagikan buku berbau kristenisasi di objek wisata Taman Rusa mengatakan, keduanya jelas-jelas sedang melakukan upaya pemurtadan di Aceh Besar.
Ia mengaku sudah memeriksa semua buku yang dibawa keduanya serta yang sudah dibagikan kepada warga.
“Kami sudah baca. Semua isi buku itu memang jelas-jelas menyebarkan misi kristenisasi dan ada upaya pemurtadan,” ujar Tgk Faisal. Pihak kepolisian, kata Tgk Faisal, berhasil mengumpulkan puluhan buku yang dibawa keduanya dan sejumlah selebaran yang berisi tentang ajaran-ajaran Kristen. beberapa buku yang ditemukan adalah “Buku Tahunan Saksi-saksi Yehuwa”, “Bernyanyilah Bagi Yehuwa”, “Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari dan Sedarlah”.
“Dari judul bukunya saja sudah jelas. Apalagi keduanya juga mengaku sebagai pembimbing rohani. Ini jelas-jelas upaya pemurtadan di daerah yang umumnya muslim,” ujarnya.
Faisal sangat berterima kasih kepada Polsek Suka Makmur yang merespons begitu cepat laporan warga. Ke depan harapnya, warga diminta berhati-hati dan segera melapor kejadian-kejadian yang janggal seperti itu kepada pihak berwajib.
“Alhamdulillah warga kita masih sangat peka dengan hal-hal begini. Kita harapkan terus berhati-hati karena dalam bulan ini banyak sekali isu-isu seperti ini yang terus bermunculan di Aceh. Semoga tidak ada lagi upaya-upaya pendangkalan aqidah seperti ini,” harap Tgk Faisal.
Penyebaran Melalui Pos
Sebelumnya, sejumlah warga Aceh juga mendapat kiriman paket buku berjudul ‘Christ, Muhammad, and I’ (Yesus, Muhammad dan Saya) beserta sekeping VCD yang dikirim melalui Kantor Pos Indonesia.
Dilaporkan Serambi Indonesia, masyarakat yang menerima paket tersebut, menyebutkan isi buku berisi hal-hal yang mengarah pendangkalan aqidah. Misalnya, disebutkan bahwa al-Qur’an menjiplak Injil dan memutarbalikkannya. Ada juga bab yang menyudutkan figur dan kehidupan Nabi Muhammad saw.
Sedangkan VCD berisi tiga film yang menceritakan pesan-pesan kristenisasi dan kejelekan muslim, yang disajikan dalam bentuk talkshow dan film pendek.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihak Kantor Pos di Banda Aceh kemudian memutuskan menghentikan proses pengantaran paket-paket serupa kepada alamat yang dituju. Hal ini karena beberapa warga yang menerima kiriman tersebut juga telah mengembalikan paket itu ke Kantor Pos.
Anggota DPR Aceh, Tgk Makhyaruddin Yusuf terkait pengiriman paket buku melalui Kantor Pos telah meminta kepada pihak Kantor Pos Besar Banda Aceh untuk tidak meneruskan kiriman paket berisi buku dan satu keping VCD yang menyudutkan Islam ini.
“Buku berjudul Christ, Muhammad and I beserta satu keping VCD jelas-jelas berisi pesan kristenisasi. Pihak Kantor Pos harus menghentikan pengantaran paket ini, karena tindakan ini melanggar aturan yang melarang penyebaran agama kepada orang yang sudah beragama,” kata Makhyaruddin.
Politikus yang duduk di Komisi V DPRA ini pun meminta kepada pihak Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) unutk segera mencari solusi terhadap persoalan ini agar tidak menimbulkan gesekan antar umat beragama di Aceh.
“Seluruh pihak di Aceh, terutama DPRA, ulama, polisi, dan jaksa, harus segera mengambil sikap, karena ini berpotensi mengganggu kerukunan umat beragama di Aceh,” kata Safaruddin, SH Ketua Tim Pengacara Muslim (TPM) Aceh.
Provokasi Kristen
Penemuan buku dan VCD berisikan pesan-pesan kristenisasi dan menyesatkan di Aceh disinyalir terus meluas. Jika sebelumnya buku yang dikemas dalam berbagai judul itu beredar di sejumlah kabupaten/kota seperti Aceh Besar, dan Pidie, sekarang juga ditemukan oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Lhokseumawe.
Buku yang dikirim orang tak dikenal kepada warga di tiga lokasi tersebut mulai ditemukan pada akhir Desember 2014 hingga akhir Januari 2015 lalu.
Ketua MPU Lhokseumawe, Tgk Asnawi Abdullah menjelaskan, pada akhir Desember 2014, satu buku berjudul “Islam Logis” ditemukan siswa di samping pagar SMAN 6 Ljokseumawe yang berlokasi di Desa Baloi, Kecamatan Blang Mangat. Lalu buku itu diserahkan ke Ketua Komisi D DPRK Lhokseumawe, Tgk Syuib, dan kemudian disampaikan ke MPU.
Seterusnya, tulis Serambi, Rabu (28/1/15), pada awal Januari 2015, satu paket kiriman dari Raja asal Bandung melalui Kantor Pos ditujukan kepada Ridwan, warga Batuphat Timur, Muara Satu. Paket itu berisikan satu buku berjudul “Christ, Muhammad and I” dan satu CD. Lalu, warga itu menyerahkan buku dan CD dimaksud kepada Ketua Komisi A MPU Lhokseumawe, Tgk Hamdani Daud.
Terakhir, lanjut Tgk Asnawi, satu paket yang dikirim dari Banten kepada Zulfikar, warga Lancang Garam, Kecamatan Banda Sakti, melalui Kantor Pos sekitar seminggu lalu. Paket itu berisikan dua buku yang berjudul “Yang Haq dan Yang Bathil” dan “Kesaksian Khalid dan Rana”, serta satu CD.
Menurut Tgk. Asnawi, pihaknya sudah mempelajari semua buku itu dan isinya sesat serta ingin melakukan pendangkalan aqidah terhadap umat Islam di Aceh. “Karena itu, warga yang menerima buku serupa kami minta untuk tidak menyimpannya, tapi segera diserahkan ke MPU atau aparat keamanan. Bila disimpan, kita khawatirkan orang itu bisa dituduh yang bukan-bukan oleh warga lain, hingga bisa terjadi aksi anarkis,” jelasnya.
Ia memperkirakan, penyebaran buku kristenisasi itu merupakan bentuk provokasi oleh orang-orang yang ingin memperkeruh suasana toleransi umat beragama di Aceh yang selama ini sudah berjalan dengan baik.

“Meski selama ini di Aceh diberlakukan syariat Islam, tapi umat Islam tetap bisa menghargai penganut agama lain. Jika buku itu terus beredar di masyarakat, bukan tidak mungkin akan menyulut emosi umat Islam hingga terjadi SARA. Karena itu, kita imbau umat Islam di Aceh tak terpengaruh dengan kegiatan yang dilakukan pihak-pihak tak bertanggung jawab tersebut,” harap Tgk Asnawi. [islamaktual/tabligh/bersambung]

Studi Sosiologi : AS Tertinggi Insiden Penembakan Massal Global


Tak salah Amerika Serikat dikenal sebagai negara Koboi. Koboi dikenal dengan tradisi tembak-menembaknya. Peristiwa penembakan 2 jurnalis beberapa waktu lalu menambah daftar hitam warga AS yang tewas akibat penembakan warga sipil. Kini, Amerika Serikat menjadi pemimpin global dalam insiden penembakan massal, dengan hampir sepertiga dari semua pembantaian terkait penembakan bersenjata dalam 50 tahun terakhir, sebuah studi terbaru menemukan.
Antara 1966 hingga 2012, ada 90 penembakan massal di Amerika Serikat dan merupakan 31 persen dari 292 serangan secara global untuk periode itu, menurut analisis dari Adam Lankford, seorang profesor peradilan pidana di University of Alabama.
Filipina, dengan 18 penembakan massal, menduduki urutan kedua, diikuti oleh Rusia dengan 15 penembakan, Yaman 11, dan Prancis 10 insiden, menurut penelitian ini.
“Selama beberapa dekade, masyarakat bertanya-tanya apakah sisi gelap dari eksepsionalisme Amerika adalah kecenderungan budaya kekerasan dan dalam beberapa tahun terakhir bentuk kekerasan dipandang sebagai hal unik penembakan massal di Amerika,” tulis Lankford.
Studi ini dipresentasikan pekan ini pada pertemuan tahunan American Sociological Association di Chicago, Illinois.
Studi ini menunjukkan tingkat kepemilikan senjata yang belum pernah terjadi sebelumnya, obsesi tidak sehat dengan ketenaran dan kegagalan untuk mencapai “American Dream” sebagai alasan utama mengapa AS memimpin dunia dalam penembakan massal.
Kegagalan sistem perawatan kesehatan AS untuk mengobati penyakit mental juga menjadi penyebab untuk insiden penembakan massal di Amerika, kata Lankford.
Analisis yang digunakan berasal dari data yang dikumpulkan FBI dan Departemen Kepolisian Kota New York (NYPD) pada insiden penembakan aktif di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.

Ada sekitar 270 juta senjata api di rumah tangga sipil AS, tingkat kepemilikan senjata 88,8 persen per 100 orang, menurut survei pada tahun 2007. [islamaktual/islampos]

Visit Us


Top