Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kajian Islam ala barat bertumpu pada alat terka sosial yang sekuler telah menghasilkan kerancuan pada pemahaman umat Islam. Islam yang dilihat dari perilaku umatnya telah menghasilkan pengkotak – kotakan umat Islam termasuk di Indonesia.
Umat Islam dikotak-kotakkan dalam istilah-istilah tertentu yang membuat kesadaran bersama dan perasaan kebersatuan sebagai satu umat di kalangan Muslim memudar. Yang Muhammadiyah dihadap-hadapkan dengan yang NU. Yang pembaharu dipertentangkan dengan yang tradisional; yang fiqih dibenturkan dengan yang tasawuf; yang santri dilawankan dengan yang abangan; Islam Jawa dipermusuhkan dengan Islam Timur Tengah; Muslim di perkotaan diistilahkan “Muslim urban” dan dihadapmukakan dengan orang-orang Islam di kampung-kampung yang dikelompokkan sebagai “Muslim desa”. Dan sebagainya.
Tentu kita tak menampik adanya perbedaan perilaku dan kecenderungan sosial-politik di kalangan Muslim. Akan tetapi, hal itu tak dapat melandasi kesimpulan bahwa Islam ada banyak dan tak ada unsur pemersatu di dalamnya. Dan kita sangat menolak betul saat realitas pengkotak – kotakan itu terus berlanjut hingga kini. Karena itu akan menjauhkan Islam dari umatnya.
Dalam konteks kekinian ada yang disebut Islam Nusantara. Sebagai anti tesis dari Islam transnasional – disana lahir atribut Islam diembelin ‘Nusantara’. Motifnya tetap sama sebagai pemecah belah Umat Islam. Penulis sendiri menilai, wacana Islam Nusantara itu itu bertujuan melahirkan penjajahan gaya baru – mencontoh bagaimana Belanda dahulu mengklasifikasikan umat Islam di Nusantara dengan Istilah Abangan dan Mutihan.
Islam Nusantara dan sekulerisme
Sedalam pemahaman penulis Islam Nusantara intinya dikatakan, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Karena dianggap ada perbedaan antara Islam Indonesia dengan Islam Timur Tengah dalam realisasi sosio-kultural-politik. Historiografi Islam Indonesialah memaksa menambah atribut Nusantara dalam Islam itu sendiri.
Menurut Azyumardi Azra yang bisa disebut dedengkot wacana Islam Nusantara yang juga penulis buku Islam Nusantara (2002) dalam wawancara media menjelaskan, model Islam Nusantara itu bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke wilayah Nusantara yang disebut proses vernakularisasi dan indigenisasi. Sehingga menurutnya, Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya Indonesia. Disinilah sebab penampilan budaya Islam Indonesia yang jauh berbeda dengan Islam Arab. Kemudian, terjadi proses akulturasi, proses adopsi budaya-budaya lokal, sehingga kemudian terjadi Islam embedded di Indonesia.
Jika kita melihat realitas di atas, wacana Islam Nusantara itu substansinya anti persatuan umat Islam kemudian Kelanjutan ide ‘NKRI Harga Mati’ untuk eksistensi demokrasi yang dianggap Islami. Hal itu wajar, mengingat derasnya arus tuntutan umat Islam untuk bersatu. Ditambah lagi semakin semaraknya umat Islam saling perduli dengan kondisi di berbagai negeri negeri lain dimana umat Islam terus di dhalimi.
Wacana Islam Nusantara itu juga lahir dari cara berfikir sekuler dengan tujuan sekulerisasi muslim Indonesia. Nasionalisme jadi dasar pikirnya – dimana sekat geografis menjadi segalanya dalam pengaturan tata kehidupan masyarakat. Sehingga umat Islam Indonesia tidak boleh mencontoh umat Islam Timur tengah.
Islam sebagai pemikiran, dianggap bisa terbias oleh realitas keindonesiaan karena dari negeri asalnya cenderung di anggap buruk dengan sektariannya. Jelas akhirnya Islam Nusantara di anggap berkualitas. Padahal, membandingan kondisi umat Islam Indonesia dengan timur tengah tidaklah fair sebagai rumusan Islam Nusantara (Islam ke Indonesiaan) itu sendiri.
Sehingga jelas kita katakan bahwa, Sebutkan Islam Nusantara itu sendiri adalah bentuk pelecehan Islam. Karena sebutan itu sama saja mengatakan Islam itu mudah di tarik kesana kemari untuk di embeli atribut demi kepentingan manusia di satu tempat untuk eksistensi pemikiran sekulerisme. Kini Islam Nusantara – ke depan bisa berbiak menjadi Islam Jawa, Islam Batak, islam Papua dll
Khatimah
Umat Islam Indonesia jangan latah dengan wacana Islam Nusantara yang seakan cerdas itu sesungguhnya culas dan tidak jelas. Coba kita mengambil pelajaran sedikit dari para ulama Indonesia dahulu. Yang sesungguhnya tidak pernah memandang Islam itu terbatas pada geografis. Seperti Syekh Nawawi Al Bantani yang berguru kepada Abdul Hamid Al Dhagestani (Dagestan) ; kemudian Syekh Yusuf Al Maqassari yang berguru kepada Ibrahim Al Kurani (Kurdi), ada pula ulama besar asal Palembang, Abdushomad Al Palimbani (1704-1789) yang pernah berguru kepada Muhammad Al Jawhari Al Mishri (Mesir), bahkan kepada Muhammad Murad seorang mufti mazhab Hanafi. Sejak lampau pun ulama kita, tiada alergi dan sungkan berguru pada ulama-ulama dari berbagai bangsa. Kalau kemudian ulama kita adalah ulama yang mendukung wacana Islam Nusantara maka sudah bisa dipastikan mereka tidak akan merujuk pada timur tengah untuk belajar Islam.

Akhirnya, penulis menilai bagi mereka yang getol mewacanakan Islam Nusantara sesungguhnya adalah pengusung pemikiran sekuler barat dalam upaya ‘pembaratan’ muslim Indonesia dengan topeng Islam nusantara. Nauzubillah… [islamaktual/daniumbaralubis]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

1 comments:

Visit Us


Top