Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


“Dulu pada tahun tujuh puluhan, orang adzan di masjid ini masih naik di pohon. Di pohon mangga depan masjid. Dan dulu masjid ini masih berupa surau atau langgar,” kata sesepuh jamaah masjid itu.
Maklum, dulu belum ada pengeras suara. Agar suara adzan dapat terdengar agak jauh, muadzin pun naik ke atas pohon. Ini menjadi semacam menara yang hidup. Kalau pas musim mangga, tak jarang yang bertugas adzan menyempatkan diri memetik mangga hampir matang, setelah selesai adzan. Sehabis shalat, mangga dikupas dan dimakan ramai-ramai oleh jamaah.
Adzan di atas pohon mengasyikkan. Di tempat lain, ada yang adzannya di atas pohon kelapa. Mungkin bagi yang tidak mengalami sendiri dan bagi yang tidak pernah melihat sendiri orang adzan di atas pohon akan bilang kalau itu tidak mungkin. Kalau sekarang memang tidak mungkin, bahkan tidak pas kalau itu dilakukan. Sekarang kalau adzan mempergunakan pengeras suara. Kebiasaan adzan di pohon kemudian ditinggalkan.
Langgar itu kemudian menjadi masjid. Kebiasaan masjid yang ada di desa, waktu itu kalau orang mau berwudlu mereka berwudlu di kolam atau di kulah besar. Airnya melimpah, warnanya sampai menghijau. Untuk mengambil air dipergunakan gayung. Kalau air persediaan wudlu berbentuk kolam, biasanya di situ ada mata airnya. Kalau persediaan air berbentuk kulah, airnya diambil dari sumur dengan ditimba pakai tangan. Diperlukan ratusan atau bahkan ribuan gerak menimba air agar airnya dapat memenuhi sebuah kulah. Orang dulu pun tidak mengeluh. Mereka bergantian menimba kalau air di kulah sudah berkurang banyak.
Sekarang, kebiasaan berwudlu di kolam atau di kulah banyak ditinggalkan. Sebagai ganti, orang pun berwudlu dengan mempergunakan kran air. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi disediakan banyak sekali kran air untuk jamaah yang mau berwudlu. Jadi mengganti kulah dan kolam dengan kran air tidak apa-apa, tidak memengaruhi sah tidaknya sholat.
“Dulu di surau dan di masjid ini, kalau puasa tidak ada kegiatan buka bersama. Orang berbuka puasa di rumah masing-masing,” kata sesepuh jamaah masjid itu lagi.
Sekarang semua surau, langgar, mushalla, dan masjid, kalau bulan Ramadhan tiba, menyelenggarakan buka bersama. Bahkan kemudian muncul kebiasaan untuk makan sahur bersama pada malam sepuluh hari terakhir. “Sahur bersama ini kami sediakan bagi jamaah masjid yang aktif melakukan iktikaf dan tidak sempat pulang ke rumah untuk makan sahur,” tambahnya.
“Dulu, untuk alas sembahyang, kami mempergunakan tikar dari pandan yang dianyam,” kata sesepuh itu menambah cerita tentang suasana masjid pada zaman dahulu.
Sekarang hampir tidak ada lagi masjid, mushalla, langgar atau surau yang mempergunakan tikar pandan untuk alas sembahyang dan berdoa bagi jamaah. Hampir semua masjid, mushalla, surau atau langgar sekarang mempergunakan tikar plastik atau karpet sebagai pengganti tikar pandan.
“Dulu, waktu listrik belum masuk ke desa ini. Kalau malam hari takmir menyalakan lampu minyak. Kalau pas Subuh kadang lampu minyak yang dinyalakan yang kecil. Suasana di masjid pun remang-remang. Mirip pada zaman awal sejarah Islam di tanah suci,” katanya.
Sekarang hampir semua tempat ibadah umat Islam telah mempergunakan listrik. Terang benderang kalau malam. Yang terpaksa masih menggunakan lampu minyak tinggal sedikit. Bahkan kebiasaan menggunakan lampu minyak pun pelan-pelan menghilang dari rumah-rumah penduduk.

“Ternyata, selama puluhan tahun terakhir ini, kita semua telah berhasil melakukan ijtihad budaya sehari-hari. Kebiasaan lama sebagai pendukung ibadah kita telah kita ganti dengan kebiasaan baru,” demikianlah sesepuh jamaah masjid itu mengakhiri ceramahnya pada peringatan ulang tahun pendirian sebuah masjid di sebuah desa di sebuah pegunungan di pelosok Tanah Air. [islamaktual/sm/mustofahasyim]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top