Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

MENINGGALKAN SHALAT JUM`AT KETIKA HARI RAYA TEPAT HARI JUM`AT ?


1 Syawwal 1436 H tahun ini berdasarkan perhitungan Hisab akan jatuh pada hari Jumat tanggal 17 Juli 2015 M. Ada fenomena unik, ketika sebagian orang berpendapat bahwa ketika Idul Fitri jatuh pada hari Jumat, maka tak wajib baginya Sholat Jumat dengan menyandarkan pada beberapa dalil. Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan Sholat Jumat ketika bareng dengan 1 Syawwal ataupun dengan 10 Dzulhijjah (Idul Adha)?
Ketika hari raya I`dul Fithri atau I`dul Adha jatuh pada hari Jum`at, memang ada rukhshah (keringanan) dibolehkan untuk tidak jum`atan. Akan tetapi keringanan itu khusus bagi jama`ah yang tempat tinggalnya jauh dari Masjid Jami`
1. Hadits dari Zayd bin Arqam ra.
Iyas Ibnu Abu Ramlah As Syami berkata; aku pernah melihat Mu'awiyah bin Abu Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam, tanyanya; "Apakah kamu pernah melakukan dua hari raya bertepatan dalam satu hari ketika bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?" Jawabnya; "Ya. ' Mu'awiyah bertanya; "Bagaimana beliau mengerjakan shalat tersebut?" Zaid bin Arqam menjawab;
صَلَّى الْعِيدَ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ
beliau shalat Ied pada awal hari, kemudian beliau memberi keringanan terhadap shalat Jum'at seraya bersabda: "Siapa yang ingin shalat jum`ah silahkan shalat jum`ah" [HR. Ahmad]. Dalam periwayatan lain dengan redaksi :
صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ
"Beliau mengerjakan shalat ied dan memberi keringanan pada waktu shalat Jum'at, lalu beliau bersabda: "Barangsiapa ingin mengerjakan (shalat Jum'at), hendaknya mengerjakan shalat (Jum'at)." [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan al-Darimi]
2. Hadits Ibnu Umar
Ibnu Umar berkata:
اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ ثُمَّ قَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَأْتِهَا وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتَخَلَّفَ فَلْيَتَخَلَّفْ
"Dua hari raya terkumpul menjadi satu pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian shalat bersama orang-orang, lalu bersabda: "Barangsiapa ingin mendatangi jum'at hendaklah ia mendatanginya, dan barangsiapa ingin meninggalkannya hendaklah ia tinggalkan." [HR. Ibnu Majah]
3. Hadits dari Abu Ubayd (Sa`ad ibn Ubayd) ra.
Abu 'Ubaid bekas budak Ibnu Azhar, bahwa dia pernah ikut shalat Iedul Adlha bersama Umar bin Khatthab radliallahu 'anhu, maka dia mengerjakan shalat sebelum khutbah, lalu berkhutbah di hadapan manusia, katanya;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَهَاكُمْ عَنْ صِيَامِ هَذَيْنِ الْعِيدَيْنِ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَيَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَأَمَّا الْآخَرُ فَيَوْمٌ تَأْكُلُونَ مِنْ نُسُكِكُمْ
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang kalian untuk berpuasa di dua hari raya ini, salah satu dari hari itu adalah hari raya di mana kalian berbuka setelah kalian berpuasa, sedangkan yang kedua adalah pada hari kalian memakan daging binatang kurban kalian."
Abu 'Ubaid berkata;
ثُمَّ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ
Setelah itu aku juga pernah shalat ied bersama Utsman bin 'Affan, waktu itu bertepatan dengan hari Jum'at, kemudian dia mengerjakan shalat ied sebelum berkhutbah lalu berkhutbah, katanya;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدْ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِي فَلْيَنْتَظِرْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya pada hari ini telah berkumpul dua hari raya kalian, maka siapa di antara kalian dari PENDUDUK LUAR KOTA yang hendak menunggu di sini (hingga tiba waktu Jum'at), silahkan menunggu, namun jika menginginkan pulang sekarang, maka aku telah mengizinkannya pulang."
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُهُ مَعَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ
Abu 'Ubaid mengatakan; "Setelah itu, aku juga pernah ikut shalat ied bersama Ali bin Abu Thalib, dia mengerjakan shalat ied sebelum berkhutbah, kemudian dia berkhutbah di hadapan manusia, katanya;
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَاكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا لُحُومَ نُسُكِكُمْ فَوْقَ ثَلَاثٍ وَعَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ نَحْوَهُ
"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang kalian memakan daging kurban kalian lebih dari tiga hari." [HR. al-Bukhari dan Malik bin Anas]
4. Atsar Ibnu Zubayr
Wahb bin Kaisan berkata;
اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَأَخَّرَ الْخُرُوجَ حَتَّى تَعَالَى النَّهَارُ ثُمَّ خَرَجَ فَخَطَبَ فَأَطَالَ الْخُطْبَةَ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى وَلَمْ يُصَلِّ لِلنَّاسِ يَوْمَئِذٍ الْجُمُعَةَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِابْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ
"Pada masa Ibnu Zubair, pernah terjadi dua hari raya (hari raya & Jum'at) dalam satu hari. Ibnu Zubair mengakhirkan keluar untuk shalat 'Id agak siang, lalu ia keluar dan menyampaikan khutbah dengan khutbah yang lama. Kemudian ia turun dan mengerjakan shalat. Pada hari itu ia tidak mengerjakan shalat Jum'at bersama manusia. Hal tersebut diceritakan kepada Ibnu Abbas, dan dia mengatakan bahwa Ibnu Zubair sudah melakukan sesuai dengan Sunnah."
Catatan: Saat itu Ibnu Zubar berkedudukan sebagai Khalifah Tandingan di Mekah menandingi (memberontak) Khalifah Bani Umayyah di Damaskus. Jadi diduga kuat, Ibnu Zubayr tidak jum`atan lebih karena pertimbangan keamanan,
Rasulullah SAW dan para sahabat yang tinggal di Madinah, tetap melaksanakan Jum`atan
1. Hadits dari Abu Hurayrah ra.:
Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda;
قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ
"Pada hari ini telah berkumpul bagi kalian dua hari raya, barangsiapa ingin melaksanakan, maka hari rayanya ini sudah mencukupi shalat jum'atnya, namun kami akan tetap melaksanakan Jum'at." [HR. Abu Dawud dan Ibn Majah]
2. Hadits dari Nu'man bin Basyir
Nu'man bin Basyir berkata;
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa membaca surat Al A'la dan surat Al Ghasyiah dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum'at. Bila shalat Id bertepatan dengan hari Jum'at, beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua shalat itu." Dan telah menceritakannya kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Ibrahim bin Muhammad bin Al Muntasyir dengan sanad-sanad ini. [HR. Ahmad, Muslim, al-Turmudzi, al-Nasa’i,Al-Darimi]

[islamaktual/dadangsyaripudin]

82 Kader Muhammadiyah Siap Dicalonkan di Muktamar


Muktamar Muhammadiyah di Makassar semakin dekat. Ketua Panitia Pemilihan Ketua PP Muhammadiyah, Dahlan Rais menyatakan sudah ada 82 kader yang bersedia dicalonkan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar 47 di Makassar nanti. Mereka telah melalui seleksi berdasarkan peraturan di PP Muhammadiyah.
Dahlan Rais mengemukakan hal itu kepada wartawan pada Media Gathering di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jl Cik Di Tiro Yogyakarta, Jumat (10/7).
Menurut Dahlan, nama-nama calon ketua tersebut nantinya dibawa ke Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makassar, 3-7 Agustus 2015.
Dijelaskan, pemilihan ketua di Pimpinan Pusat Muhammadiyah unik atau spesifik dan berbeda dengan organisasi lain. Keunikannya, calon ketua harus dicalonkan dan bukan mencalonkan diri. "Seorang bisa menjadi bakal calon harus mendapatkan dukungan minimal tiga orang," kata Dahlan Rais dikutip republika.co.id.
Dalam sidang Tanwir yang diikuti 204 anggota ada 200 nama bakal calon yang diusulkan. Peserta Sidang Tanwir berasal dari PP, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Perwakilan Daerah, dan organisasi otonom.
Setelah diteliti, kata Dablan, dari 200 bakal calon hanya 108 orang yang memenuhi syarat. "Panitia telah mengirim surat kesanggupan terhadap 108 bakal calon. Namun hanya 96 calon yang mengembalikan surat kesanggupan," kata Dahlan.
Setelah diteliti, kata Dahlan, surat kesanggupan ada 82 memenuhi syarat dan sanggup dicalonkan, 13 tidak bersedia, 12 tak mengembalikan surat kesanggupan, dan seorang meninggal dunia. Berdasarkan usia, mereka terbagi 40-50 tahun sebanyak 16 persen, 50-60 tahun ada 45 persen, sedang di atas 60 tahun ada 39 persen.

Dari segi pendidikan, Strata Satu (S1) ada 13 persen, S2 ada 31 persen dan S3 ada 56 persen. Sedang dari sisi pekerjaan pendidik sebanyak 72 persen dan sisanya berprofesi bukan pendidik. "Dari jenis kelamin, 95 laki-laki dan lima persen perempuan," katanya. [islamaktual]

Selama Ramadhan, Pengungsi Rohingya Padat Kegiatan


Meski hidup dalam penampungan sementara, warga Rohingya yang mengungsi dari Myanmar dan saat ini berada di Nangroe Aceh Darussalam tetap semangat menghadapi bulan Ramadhan. Bahkan selama Ramadhan, pengungsi Rohingya di Kuala Langsa terhitung padati kegiatan keagamaan. Kegiatan tersebut berupa pengajaran dasar agama Islam seperti berwudhu, mengaji serta tausyiah agama.
Tak hanya itu, kegiatan buka bersamaserta ibadah tarawih berjamaah pun rutin dilaksanakan selama bulan suci Ramadhan. Lebih dari seratus masyarakat Kuala Langsa yang hadir dalam buka bersama tersebut.
Semua kegiatan keagamaan tersebut kebetulan ditangani lembaga zakat Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Majelis Ta’lim As Suni, yang merupakan salah satu majelis ta’lim di wilayah setempat.
Selain buka bersama, Dompet Dhuafa memberikan santunan berupa kain sarung. Ada sekitar 210 buah kain sarung yang disalurkan pada Kamis (9/7).
“Selama ini bantuan selalu ditujukan untuk pengungsi Rohingya. Agar tidak terjadi rasa iri antara masyarakat Kuala Langsa dengan pengungsi Rohingya,” jelas Fajar dari Divisi Intervensi, Sosial, dan Dakwah Dompet Dhuafa dalam rilis seperti dikutip republika.co.id, Sabtu (11/7).
Sepekan menjelang Hari Raya Idul Fitri, Dompet Dhuafa mempersiapkan Shalat Ied berjamaah. Shalat Ied akan dilakukan di Pengungsian Kuala Langsa. Hingga saat ini tim dari Dompet Dhuafa sedang berkoordinasi dengan pemerintah setempat.
Untuk sementara, pengungsi Rohingya di Kuala Langsa saat ini tinggal di barak. Sebelumnya pengungsi tinggal di atas tanah Pelindo (Pelabuhan Indonesia).
Namun keberadaan mereka diusir. Selanjutnya pengungsi Rohingya direncanakan pindah lagi ke penampungan yang lebih permanen. Di sana beragam fasilitas akan dibangun.

Pembangunan fasilitas akan bersinergi dengan lembaga sosial lain. “Dompet Dhuafa juga diamanahkan untuk membangun mushalla dan fasilitas pendidikan,” ungkap Fajar menambahkan. [islamaktual]

Jangan Seperti Laba-Laba


“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah
adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya
rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba
kalau mereka mengetahui.”
(QS. al-Ankabut [29] : 41)

Laba-laba adalah salah satu hewan yang menjadi pelindung Rasulullah saw di Gua Tsur. Ketika itu orang kafir Quraisy mengejar dan hampir saja mendapat rasulullah saw. Seekor laba-laba membuat sarang di mulut gua sehingga tak ada yang menyangka ada penghuni di dalamnya. Penelitian membuktikan bahwa sarang laba-laba, dengan ketebalan yang sama lebih kuat dari baja. Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa serat pada sarang laba-laba terbukti 10 kali lebih kuat dari serat rompi anti peluru.
Tak ada satu hewanpun yang mampu lolos apabila sudah terjerat atau terjebak dalam sarang laba-laba. Laba-laba adalah hewan soliter. Ia tidak pernah hidup berkomunal. ia adalah hewan individual yang akan bertengkar apabila bersatu. Laba-laba juga termasuk hewan kanibal, ia dapat memangsa jenisnya sendiri. Telur laba-laba yang sudah menetas langsung berpencar mencari kehidupannya masing-masing tak ada yang bergantung pada sang induk. Sarang laba-laba kebanyakan dihuni oleh laba-laba betina. Induk laba-laba sekali bertelur berjumlah ratusan dan menetas pada waktu bersamaan, setelah itu, anak laba-laba yang masih kecil itu akan bersama-sama melakukan aktivitas memakan tubuh induknya sampai habis tidak tersisa sama sekali untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Setelah tubuh si induk habis mereka memakan laba-laba lain yang lebih lemah sebelum akhirnya saling membubarkan diri dari kelompoknya dan membuat sarangnya masing-masing.
Perilaku anak laba-laba memakan induknya ini memang cukup aneh. Akan tetapi, sebelum ini terjadi, induk mereka pun telah memakan pasangannya. Laba-laba jantan dimakan oleh betinanya sesaat setelah melakukan proses reproduksi. Perilaku ini disebut dengan kanibalisme seksual. Pada laba-laba jenis Argiope bruennichi, betinanya akan membungkus jantannya sedemikian rupa agar bisa dimakan sedikit demi sedikit saat perkawinannya terjadi.
Sungguh siklus hidup yang sangat tragis. Tidak ada ketentraman dan ketenangan dalam keluarga laba-laba. Hidup seorang diri dan memakan pasangan bahkan induknya menjadi kehidupan sehari-hari di rumah laba-laba. Sarang yang terbuat dari serat yang kokoh itu ternyata tidak dapat melindungi tuan rumahnya dari ancaman pasangan dan keturunan mereka sendiri.

Kehidupan dalam rumah laba-laba melambangkan pengkhianatan dan kedurhakaan. Kecintaan terhadap diri sendiri dan keretakan sosial. Hidup dalam masyarakat seperti laba-laba adalah kehidupan yang tanpa perlindungan dan pengayoman. Manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk yang memiliki panduan hidup tidak boleh seperti laba-laba yang membangun rumah. Manusia harus bisa menciptakan surga di rumah-rumah mereka. Rumah yang dipenuhi oleh kasih sayang di antara sesama. Termasuk di dalam berbangsa. [islamaktual/tabligh/mrh]

Meluruskan Pendeta Petrus Tentang Dosa Warisan


Pendeta Petrus sangat yakin dan bangga atas doktrin “keselamatan yang pasti” yang diperoleh secara gratis dengan tetesan darah Yesus yang telah mati di tiang salib untuk menebus Dosa Warisan Adam.
Karena dilahirkan dalam keadaan berdosa dan tidak bisa membersihkan dosa tersebut, maka manusia tidak mungkin bisa selamat di dunia dan akhirat. Supaya selamat, maka Dosa Warisan manusia harus ditebus dengan darah Yesus. Karena hanya Yesus saja orang yang tidak punya dosa (I Yohanes 3:5).
Pendeta Petrus berdalih dosa yang dilakukan Adam diwariskan kepada semua anak keturunannya. Dalilnya sebagai berikut:
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12)
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:23-24)
Para nabi Allah, termasuk Yesus (Isa a.s) tidak pernah mengajarkan Dosa Waris dan Penebusan Dosa. Risalah Allah yang dibawa oleh semua nabi-Nya itu pada hakikatnya sama saja, yaitu tauhid dan mengerjakan amal salih. Semua nabi menekankan adanya tanggung jawab individu atas segala perbuatan manusia.
Yesus dan Bibel Menolak Doktrin Dosa Waris dan Penebusan Dosa
Ternyata, Yesus dan Bibel sendiri menolak doktrin Dosa Waris dan Penebusan Dosa sebagaimana dilihat pada ayat Bibel di bawah ini:
Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. (Yehezkiel 18:20, Yeremia 31:29-30, II Tawarikh 25:4)
janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri (Ulangan 24:16)
Pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (Matius 16:27)
Analisa
Sesuai ayat Bibel di atas, ada dua kesimpulan yang dapat diambil. Pertama, Doktrin Dosa Waris dan Penebusan Dosa yang diajarkan oleh Paulus tersebut jauh bertentangan dengan ajaran para nabi, termasuk ajaran Isa (Yesus) a.s .
Kedua, sebelum Yesus sampai pada masa Yesus, tidak ada ajaran Dosa Waris dan Penebusan Dosa. Tetapi, setelah Yesus tidak ada, maka muncul ajaran Dosa Waris dan Penebusan Dosa yang dibawa oleh Paulus.
Akibat Dosa Waris Tidak Masuk Akal (irasional)
Menurut Bibel, kutukan Tuhan Akibat Dosa Waris tidak hanya ditanggung oleh Adam saja, melainkan juga kepada anak keturunan Adam, kepada ular dan kepada bumi:
  • Ular, menjadi terkutuk sehingga berjalan dengan perut menjalar dan memakan debu tanah sepanjang hidupnya (Kejadian 3:14). Padahal sampai sekarangpun tidak ada ular yang memakan tanah.
  • Kaum Hawa (feminin), dikutuk dengan berketurunan, menjadi susah oayah waktu hamil, merasakan sakit ketika melahirkan, birahi kepada suaminya, dan dikuasai oleh suaminya (Kejadian 3:16). Bagi wanita, melahirkan itu sudah fitrahnya sesua dengan kondisi biologisnya, bukan karena dosa Adam.
  • Kaum Adam (maskulin), dikutuk Tuhan sehingga mati kembali menjadi debu, mencari nafkah dengan susah payah dan berkeringat (Kejadian 3:17, 19). Kaum laki-laki (suami) berkewajiban memberi nafkah dan tidak ada hubungannya dengan dosa Adam.
  • Bumi, menjadi terkutuk karena menjadi tempat manusia mencari rezeki (Kejadian 3:17).
Dosa Warisan Salah Alamat
Dosa Warisan disandarkan (dinisbatkan/dialamatkan) kepada Adam ini adalah salah besar. Sebab, orang yang pertama kali memakan buah terlarang adalah Hawa, atas rayuan ular. Adam memakan karena godaan Hawa. Jadi, Dosa Warisan itu lebih tepat bila dialamatkan kepada Ular atau Hawa, bukan Adam. Akan tetapi, keduanya telah bertaubat dan diampuni oleh Allah SwT.
Yesus Tidak Rela Mati Disalib untuk Menebus Dosa
Meskipun umat Kristiani meyakini bahwa Yesus disalib untuk menebus dosa seluruh umat manusia, akan tetapi, tidak begitu gambaran yang disajikan dalam Bibel. Berikut ulasannya:
  1. Yesus berteriak histeris, takut, dan sedih
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” artinya : Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? (Matius 27:46). (Matius 26:38; bdk: Markus 14:34).
Dalam ayat tersebut, Yesus menyalahkan Tuhan sehingga berteriak-teriak histeris, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Arti teriakan ini adalah: Tuhanku, Tuhanku, mengapa aku yang tidak berdosa ini kau tinggalkan di atas kayu salib?
  1. Yesus berdo’a minta diselamatkan agar tidak disalib
Maka ia maju sedikit, lalu sujud dan berdo’a, kata-Nya: “Ya bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).
“Sekarang jiwaku terharu dan apakah yang akan kukatakan? Bapa, selamatkanlah aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah aku datang ke dalam saat ini” (Yohanes 12:27).
Tidak Semua Orang Memiliki Dosa Waris
Dalam Bibel juga ditemukan hal yang aneh dalam doktrin Dosa Waris, yaitu Dosa Waris tidak berlaku untuk dua orang berikut:
  • Anak-anak kecil tidak memiliki Dosa Waris
Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangannya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-muridnya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak kecil itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 19:14).
  • Yohanes adalah orang suci tiada dosa
Sebab Yohanes akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya (Lukas 1:15) (Matius 11:11) (Matius 23:35).
Paulus tidak Diperlukan Lagi
Jika keselamatan dijamin oleh penyaliban Yesus, lalu apa gunanya Paulus datang membawa Injil yang berbeda dengan Injil yang dibawa oleh Nabi Isa a.s?
Ayat berikut ini membuktikan bahwa Paulus mengajarkan Injil miliknya sendiri, bukan Injil Allah yang dibawa nabi Isa a.s.
Kata Paulus, Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. (II Timotius 2:8).
Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu Injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia (Galatia 1:8).
Yesus Disalib karena Kedengkian Yahudi, bukan Menebus Dosa
Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki (Matius 27:18, Markus 15:10).
***
Setelah mengetahui kerancuan dan kebobrokan iman Kristiani tentang Dosa Waris dan Penebusan Dosa, mari kita lihat konsep Islam yang sederhana, singkat, tidak membingungkan, dan rasional.
Islam menolak dogma tentang Dosa Waris dan Penebusan Dosa. Dosa adalah perbuatan manusia yang melanggar hukum Allah dengan sengaja. Pertanggungjawabannya dipikul di atas pundak masing-masing pelakunya. Orang lain tidak ikut campur terhadap dosa orang lain.
Islam menolak dogma Dosa Waris dan Penebusan Dosa, hal ini dituangkan dalam banyak ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi, di antaranya:
2_123.png
“Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikitpun. Dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya. Dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.” (QS. al-Baqarah [2]:123).
6_164.png
“Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” (QS. al-An’am [6]:164).
Lihat juga QS. al-Baqarah [2]:286; QS. al-Isra’ [17]:15; QS. Lukman [31]:33; QS. an-Najm [53]:38; QS. at-Thur [52]:21.
Haditst shahih riwayat Bukhari:

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci, maka karena orang tuanyalah dia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [islamaktual/tabligh/abudeedat]

KAPAN NUZULUL QUR'AN ITU TERJADI?


Al-Quran tidak turun dengan sendirinya (nuzul), melain ada yang menurunkannya. Mula pertama Allah langsung yang menurunkannya secara keseluruhan sekaligus (inzal), dari Lawh al-Mahfudh ke Bayt al-`Izaah (langit dunia) di bulan Ramadhan pada malam kemuliaan (laylatul qadar) yang penuh berkah.
Firman Allah :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” [al-Baqarah [2]: 185]
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” [al-Qadr [97]: 1]
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ
Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi.” [al-Dukhan [44]: 3]
Dari langit dunia, kemudian dilanjutkan oleh Malaikat Jibril secara berulangkali (tanzil), dalam kisaran 3 - 5 ayat selama kurun waktu 22 tahun, 2 bulan 22 hari.
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ
dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril)” [QS. al-Syu`ara [26]: 139]
وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً
Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” [QS. al Isra [17[: 106]
Menurut Jumhur Ulama, ayat/surat yang pertama kali diturunkan Jibril kepada Muhammad SAW, adalah surat al-`Alaq: 1-5, [HR. Bukhari + Muslim] yang juga sekaligus menandakan pengangkatannya sebagai Nabi. Nah, kapan itu terjadi ?
Dalam hal ini, ditemukan beberapa isyarat baik dalam al-Quran, al-Hadits maupun periwayatan lainnya.
Al-Quran surat al-Anfal ayat 41:
إِنْ كُنْتُمْ ءَامَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ
... jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.” [QS. al-Anfal [8]:41]
Ayat di atas menunjukkan bahwa Al-Quran untuk pertama kali diturunkan kepada Nabi pada hari yang sama dengan peristiwa perang Badar.
Menurut Menurut al-Hasan ibn Ali ibn ABi Thalib, perang Badar terjadi pada malam 17 Ramadhan (al-Thabari) tepatnya, hari Jum`at, tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 H. [Musnad Abu `Awanah] atau bertepatan dengan 17 Maret 624 M.
Al-Waqidi meriwayatkan dari Abu Ja’far Al-Baqir yang mengatakan bahwa “wahyu pertama kali turun pada Rasul SAW pada hari senin 17 Ramadhan dan dikatakan juga 24 Ramadhan.” [Ibnu Katsir (W. 774 H) dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah (III/11)]
Dalam hadits dari Abu Sa`id (Sa`ad bin Malik bin Sinan), disebutkan juga bahwa Perang Badar bersamaan dengan kemenangan Romawi atas Persia.
لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ ظَهَرَتْ الرُّومُ عَلَى فَارِسَ فَأَعْجَبَ ذَلِكَ الْمُؤْمِنِينَ فَنَزَلَتْ { الم غُلِبَتْ الرُّومُ إِلَى قَوْلِهِ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ } قَالَ فَفَرِحَ الْمُؤْمِنُونَ بِظُهُورِ الرُّومِ عَلَى فَارِسَ
"Saat terjadi perang Badar, pasukan Romawi menang atas Persia, hal itu mengejutkan kaum mukminin hingga turunlah ayat: "ALIF LAAM MIIM, GHULIBATIR RUUM sampai ayat YAFRAHUL MUKMINUUNA." QS Ar-Ruum: 1-4. Abu Sa'id berkata; "Bergembiralah orang orang mukmin dengan kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia." [HR. al-Turmudzi]
Dari Abu Qatadah al-Anshari:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ
Bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, maka beliau pun menjawab: "Di hari itulah saya dilahirkan, dan pada hari itu pula, wahyu diturunkan atasku." [HR. Ahmad, Muslim, Ibnu Khuzaymah, Ibn Hiban, al-Nasa’i dan al-Bayhaqi]
Dari Watsilah bin Al Asqa'
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَتْ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Suhuf (lembaran) Ibrahim alaihissalam diturunkan pada awal malam Ramadlan. Taurat diturunkan pada hari keenam dari Ramadlan. Injil pada tiga belas bulan Ramadlan. Al Furqan pada hari ke dua puluh empat (ke-24) bulan Ramadlan." [HR. Ahmad, al-Thabari, Al-Thabrani, dan Ibn Abi Hatim]
Dalam pada itu, Shofiyur-Rohman Al-Mubarokfuri dalam kitabnya, al-Rahiiq al-Mahtum menyebutkan, bahwa wahyu pertama itu turun pada hari Senin, 21 Ramadhan.
وبعد النظر والتأمل في القرائن والدلائل يمكن لنا أن نحدد ذلك اليوم بأنه كان يوم الاثنين لإحدى وعشرين مضت من شهر رمضان ليلًا، وقد وافق 10 أغسطس سنة 610 م، وكان عمره صلى الله عليه وسلم إذ ذاك بالضبط أربعين سنة قمرية، وستة أشهر، و12 يومًا، وذلك نحو 39 سنة شمسية وثلاثة أشهر وعشرين يومًا .
“setelah melakukan penelitian yang cukup dalam, mungkin dapat disimpulkan bahwa hari itu ialah hari senin tanggal 21 bulan Ramadhan malam. Yang bertepatan tanggal 10 Agustus 660 M, dan ketika itu umur Rasul SAW tepat 40 Tahun 6 bulan 12 hari hitungan bulan, tepat 39 tahun 3 bulan 12 hari hitungan matahari.” [islamaktual/dadangsyaripudin]

Visit Us


Top