Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” [QS. al-Nisa, 4: 59]
Jika dikembalikan ke masa Rasulullah SAW, saat perintah itu pertama kali diturunkan maka siapakah yang dituju dengan Uli-l Amri itu; “Umara’” (kepala negara/pemerintah atau Ulama ?
Bukankah kedua wilayah itu ada pada diri Rasulullah SAW seorang diri ? Lalu siapakah Uli-l Amri yang dimaksud pada saat itu ? Ibnu Qayyim dalam Za`dul Ma`ad, menjelaskan sebagai berikut:
1. Wazir
Dalam menjalankan tugasnya sehari-hari di Madinah, Rasulullah SAW mengangkat Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khathab sebagai wazir
Abu Said al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا لَهُ وَزِيرَانِ مِنْ أَهْلِ السَّمَاءِ وَوَزِيرَانِ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ فَأَمَّا وَزِيرَايَ مِنْ أَهْلِ السَّمَاءِ فَجِبْرِيلُ وَمِيكَائِيلُ وَأَمَّا وَزِيرَايَ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ فَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
Abu Sa'id Al khudri dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang Nabi melainkan ia memiliki dua orang wazir (orang kepercayaan) dari penduduk langit dan penduduk bumi, sedangkan dua wazirku dari penduduk langit adalah Jibril dan Mika`il, sedangkan dua wazirku dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan Umar." [HR. Turmudzi]
2. Kepala Daerah (Amir – Umara’ /Wali - Wulaah)
a. `Atab bin Asid bin Umayyah Abi al-`Ash Amil di Mekah (taksiran zakat), setelah Futuh Makah
b. Badzan bin Sasan di Yaman, kemudian diganti oleh anaknya, Syahr bin Badzan , kemudian terakhir dijabat Said bin al-Ash
c. Al-Muhajir bin Abi Umayyah al-Makhzumi di Kindah dan al-Shadif, sepeninggal Rasulullah ditugaskan Abu Bakar menjadi komandan pasukan untuk memerangi orang-orang murtad
d. Ziyyad bin Umayyah al-Anshari di Hadhramaut
e. Abu Musa al-Asy`ari di Zabid, Aden dan al-Sahil
f. Muadz bin Jabal di al-Janad
g. Abu Sufyan Shakhr bin Harb di Najran
h. Yazid di Tayma`
j. Amr bin al-Ash di Omman
k. Khalid bin Said bin al-`Ash di Shan`a
l. Abu Dujanah di Madinah
Mereka masing-masing sudah memiliki tugas dan kewenangannya dan mendapat gaji, semisal Attab mendapat gaji, sebesar 40 Uqiyah perak dalam satu tahun
3. Qadhi / Hakim
a. Ali bin Abi Thalib, Hakim di Yaman;
b. Muadz bin Jabal sebagai hakim di al-Janad; dan
c. Rashid bin Abdullah sebagai qadli madzalim (TUN)
4. Pejabat-Pejabat Administrasi
Dalam urusan pentadbiran negara (al-jihaz al-idari mashalih al-daulah), Rasulullah mengangkat:
a. Ali bin Abi Thalib sebagai penulis perjanjian;
b. Harits bin Auf sebagai pemegang stempel Negara;
c. Huzaifah bin al-Yaman sebagai pencatat hasil pertanian daerah Hijaz;
d. Zubair bin al-Awwam sebagai pencatat sedekah;
e. Mughirah bin Shu’bah sebagai pencatat keuangan dan transaksi negara; dan
f. Syarkabil bin Hasanah sebagai penulis surat diplomatik ke berbagai negara.
5. Lembaga Permusyawaratan
Untuk memusyawarahkan hal-hal tertentu, Rasulullah membentuk satu lembaga permusyawaratan, yang beranggotakan 14 orang, terdiri dari tujuh orang perwakilan Muhajirin dan tujuh orang perwakilan Anshar, di antaranya adalah Hamzah, Abu Bakar, Ja’far, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Salman, Ammar, Huzaifah, Abu Dzarr, dan Bilal.
6. Panglima Perang
Untuk posisi panglima perang dipegang sendiri oleh Rasulullah, namun untuk perang-perang sarriyah (tidak diikuti Nabi), beliau melantik orang-orang tertentu sebagai panglima perang, misalnya Hamzah bin Abdul Muththalib, Muhammad bin Ubaidah bin al-Harits, dan Saad bin Abi Waqqash menghadapi tentara Quraisy. Lalu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah menghadapi tentara Romawi.
Mereka itulah para pemegang urusan yang disebut “Ulil Amri” pada masa Rasulullah, saat perintah “أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم “ turun. Mereka itulah “kepanjangan tangan” Rasulullah SAW, “penyambung lidah” beliau, maka apa yang menjadi kebijakan mereka pada hakikatnya adalah kebijakan Rasulullah SAW, taat kepada mereka sama dengan taat kepada Rasulullah demikian pula sebaliknya membangkang kepada mereka sama dengan membangkang kepada Rasulullah SAW.
Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي
"Barangsiapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, barangsiapa yang membangkang kepadaku maka dia telah membangkang kepada Allah. Barangsiapa mentaati `Amirku sungguh dia telah mentaatiku, barangsiapa membangkang kepada amirku maka dia telah membangkang kepadaku" [HR. Ahmad, Bukhari, Muslim dan al-Nasai].
Abu Najih, Al ‘Irbadh bin Sariyah ra., berkata: “Rasulullah SAW menasehati kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menimbulkan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah SAW bersabda:
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ, وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ

Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)” [HR. Abu Daud dan At Tirmidzi]. [islamaktual/dadangsyaripudin]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top