Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ramadhan di pelupuk mata. Kita semua pasti gembira. Aneka ekspresi suka cita meruah. Wajar, karena Ramadhan memang menjanjikan segudang keutamaan yang tidak terdapat dalam sebelas bulan lainnya.
Ibadah puasa sebulan penuh adalah ciri khas bulan mulia ini. Saking identiknya, hingga orang biasa menyebut bulan Ramadhan dengan istilah Bulan Puasa. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, semua antusias menunaikan ibadah puasa. Padahal, secara kasat mata, puasa jelas ibadah yang tidak bisa dibilang ringan. Beberapa teman non-Muslim pernah menyatakan keheranan mereka kepada saya tentang ketangguhan umat Islam yang sanggup tidak makan dan tidak minum sehari penuh selama satu bulan setiap tahun.
Itu baru secara kasat mata alias puasa lahir. Sementara bagi umat Islam yang sungguh-sungguh menghayati keislamannya sepenuh iman, tentu puasa bukan sekedar menjauhi makan, menjauhi minum, dan menjauhi hubungan seksual dengan pasangan. Prasyarat formal dan nilai simbolis puasa memang begitu. Namun, esensi ibadah puasa, sebagaimana dikehendaki oleh Allah, jelas tidak cukup ditempuh hanya dengan menghindari ketiga hal itu.
Ada nilai-nilai utama yang harus dipenuhi dalam ibadah puasa. Tanpa itu, barangkali kualitas puasa kita hanya beroleh lapar dan haus.
Karena itu, sejak awal, perintah puasa memang ditujukan kepada orang beriman. Allah tahu bahwa hanya orang beriman saja yang mampu melaksanakan ibadah yang berat itu. Sebatas mengaku telah berislam dengan meyakini Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasulullah, dipastikan akan gagal menjalankan kewajiban puasa. Hanya orang beriman, yaitu melahirkan keislamannya dalam ucap dan sikap, itulah yang mampu menerima dan melaksanakan perintah puasa.
Puasa mengajarkan kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita suka. Dan, sesuatu yang kita suka itu harusnya bukan sebatas urusan perut dan nafsu seksual. Kalau hanya meninggalkan makan dan minum, anak kecil juga bisa. Apalagi sekadar tidak melakukan hubungan seksual. Jika ditarik ke dalam kehidupan nyata, maka kita harus mampu mencegah diri dari segala sesuatu yang tidak diridhai Allah, kendati itu sangat kita suka, bahkan membangkitkan gairah nafsu kita.
Kita ingin kaya, maka keinginan itu harus kita enyahkan, kalau memang jalan menuju kaya adalah dengan cara korupsi. Kita senang jabatan, maka kesenangan itu harus kita lenyapkan, kalau jalan menuju pangkat adalah dengan cara menyuap. Begitu seterusnya.
Sebaliknya, puasa juga bisa dimaknai untuk mampu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita suka. Lapar, siapa suka. Tapi karena itu mau Allah, maka kita manut. Demikian pula dalam praktik kehidupan. Kita enggan mengurangi harta, tetapi karena Allah mau kita berzakat dan bersedekah, kita pun oke. Kita malas bangun malam, tetapi karena Allah memerintahkan shalat Tahajud, kita akhirnya bergegas. Contoh lainnya bisa dikembangkan.
Pada dasarnya, banyak orang mampu tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan seksual, tapi sedikit sekali di antara kita yang disebut benar-benar berpuasa. Dengan makna lain, banyak sekali umat Islam yang lapar dan dahaga selama Ramadhan, tetapi amat sedikit di kalangan mereka yang benar-benar berpuasa.

Karena hasil dari ibadah puasa adalah tercapainya derajat takwa, sudah pasti jalannya tidak mudah. Maka, seharusnya kita semua terus belajar dari pengalaman. Ramadhan demi Ramadhan yang kita lalui, marilah kita jadikan sebagai introspeksi. Semoga nilai ibadah puasa kita dari tahun ke tahun semakin baik, dan bukan sebaliknya. [islamaktual/sm/m.husnaini]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top