Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ukhuwah (persaudaraan) sesama Muslim merupakan salah satu pilar penting untuk membangun masyarakat berkeadaban. Di antara faktor penunjang lahirnya persaudaraan, khususnya sesama Muslim adalah adanya persamaan-persamaan. Semakin banyak persamaan akan semakin kokoh pula persaudaraan. Persamaan rasa dan cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki, dan pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan apa yang dirasakan saudaranya.
Kehidupan manusia sejak mulanya juga dilengkapi dengan serangkaian perbedaan, kekhasan, dan keunikan dalam berbudaya. Dalam ranah interpretasi keagamaan di masyarakat Muslim juga telah muncul fakta kuat adanya perbedaan. Karena itu betapapun bedanya sangat jauh upaya mencari titik-titik kesamaan harus dilakukan untuk merajut persaudaraan, untuk mewujudkan ukhuwah yang Islami.
Oleh karena itu, merajut ukhuwah yang Islami harus berbasis pada dua kesadaran, yaitu kesadaran adanya perbedaan dan kesadaran untuk saling menemukan persamaan-persamaan. Pertama, perlu disadari bahwa hakekat diperlukannya ukhuwah adalah adanya perbedaan, meskipun pada akhirnya ukhuwah menghendaki hidup dalam perlakuan yang sama. Al-Qur’an menggarisbawahi bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku secara kodrati dalam kehidupan ini (QS. al-Maidah [5]:48).
Seandainya Allah menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan memilih, karena hanya dengan demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat. “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu akan memaksa semua manusia agar menjadi orang-orang yang beriman?” (QS. Yunus [10]:99).
Kedua, setelah menyadari dengan benar bahwa keragaman itu bagian dari skenario Allah maka kita perlu menyadari pentingnya menemukan titik-titik persamaan. Misalnya kesadaran tentang persamaan kemanusiaan, bahwa pada hakekatnya manusia adalah makhluk mulia diciptakan untuk saling mengenal. Kesadaran tentang kesamaan tujuan, bahwa kelompok atau golongan dalam Islam pada dasarnya memiliki kesamaan untuk membumikan pesan-pesan Ilahi dalam kehidupan di dunia saat ini dan nanti.
Kesadaran terhadap perbedaan dan keragaman berbanding lurus dengan absennya sikap mental yang dapat merusak persaudaraan. Dalam hal ini al-Qur’an menyebutkan dengan sangat tandas sejumlah sikap batin dan perilaku yang harus dijauhi. Antara lain al-Qur’an melarang sikap  memperolok-olok atau merendahkan orang lain, mencela atau merasa rendah diri, dan memberikan justifikasi dengan gelar-gelar yang buruk. Persaudaraan bisa saja pudar oleh sikap prasangka buruk yang dijadikan sebagai kesimpulan akhir, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjingkan kejelekan orang lain, yang diibaratkan seperti memakan bangkai daging saudara sendiri (QS. al-Hujurat [49] : 11-12).
Sementara kesadaran terhadap persamaan-persamaan akan mendorong kita memiliki sikap saling memerhatikan dan peduli pihak lain yang berbeda-beda. Karena sejatinya kata ukhuwah yang terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian terhadap semua pihak secara bersama.
Karena itu, Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa ukhuwah memiliki makna empati, lebih dari sekadar simpati. “Perumpamaan seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga menggambarkan ukhuwah: “Seorang Muslim bersaudara dengan Muslim lainnya. Dia tidak menganiaya, tidak pula menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi pula kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan seorang Muslim suatu kesulitan, Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan pula dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di hari kemudian. Barang siapa yang menutup aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di hari kemudian.” (HR. Bukhari dan Muslim). [islamaktual/sm/m.jinan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top