Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Isu mutakhir memperkenalkan banyak idiom tentang identitas Islam atau Muslim Indonesia. Sebutlah tentang Islam kultural, Islam Nusantara, Islam yang mengindonesia, keislaman dan keindonesiaan, dan diksi-diksi lainnya yang menunjukkan kehadiran Islam secara kultural di negeri tercinta ini. Sebelum ini yang paling populer ialah “Islam Jawa” atau The Religuon of Java karya Clifford Geertz yang menampilkan sosok pemeluk Islam yang dengan keislamannya tetap menjadi Jawa dan dalam kejawaannya menjadi Muslim. Dari persentuhan Keislaman dan Kejawaan itu, Geertz membagi varian ke dalam Muslim Santri dan Abangan, di samping Priyayi. Sebuah kategorisasi yang hingga kini menjadi rujukan para pengkaji Islam sekaligus tak luput dari kritik.
Memang, tidak mudah menemukan potret yang pasti dan absolut mengenai identitas Islam Nusantara atau Indonesia, sebagaimana hal serupa berlaku untuk berbagai deskripsi sosial mengenai sebuah identitas keagamaan ketika bersentuhan dengan kebudayaan suatu masyarakat. Baik agama maupun kebudayaan ketika hadir di dalam diri para pemeluknya tidaklah berdiri sendiri, linier, dan sekali jadi. Semuanya memerlukan proses saling akomodasi, internalisasi, institusionalisasi, negosiasi, bahkan sampai batas tertentu saling konfrontasi. Dari proses persentuhan yang rumit itulah terbentuk identitas keagamaan yang tidak lepas dari kebudayaan dan begitu pula sebaliknya, yang berlangsung terus menerus entah sampai kapan ujung ceritanya.
Kehadiran Islam dan aktualisasinya dalam kehidupan umat di negeri ini memang memiliki sejarahnya sendiri. Semuanya tidak sekali jadi bagaikan membalik telapak tangan. Islam masuk ke Indonesia berhadapan dengan kebudayaan masyarakat Indonesia yang bertumpu pada stratum masyarakat petani yang banyak dipengaruhi oleh kepercayaan animisme (Dobbin, 2008:185). Harry J. Benda mencatat, Islam masuk ke Nusantara ketika agama Hindu telah mengakar kuat dalam masyarakat setempat, jadi telah berlangsung terutama di pulau Jawa proses “Hinduisasi” atau lebih tepat “Indianisasi” yang tembus secara mendalam dan meninggalkan bekas lama sekali (Benda, 1974:36).
Sementara Islamisasi di kepulauan Nusantara merupakan bentuk penyebaran Islam melalui proses sosio-kultural dan sosial-ekonomi yang dilakukan para penyebar dan saudagar Muslim di kepulauan Nusantara (Kartodirjo, 1993:7). Antropologo Koentjaraningrat bahkan secara rinci menjelaskan, di daerah-daerah yang belum terpengaruh oleh kebudayaan Hindu, agama Islam mempunyai pengaruh yang mendalam dalam kehidupan penduduk di daerah yang bersangkutan. Demikianlah keadaannya, misalnya di Aceh, di Banten, di Pantai Utara Jawa, dan di Sulawesi Selatan. Adapun lain-lain daerah di Sumatera, seperti Sumatera Timur, Sumatera Barat, dan Pantai Kalimantan, mengalami proses pengaruh yang sama. Sebaliknya, di daerah-daerah di mana pengaruh kebudayaan Hindu itu kuat dan telah mengembangkan suatu corak tersendiri seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur, agama Islam diubah menjadi suatu agama yang kita kenal dengan nama “agama Jawa” (Koentjaraningrat, 1976:25-26).

Dinamika integrasi dan mungkin disintegrasi Islam di Indonesia yang bermacam corak itu selain tidak akan pernah berhenti, pada saat yang sama terbuka pada perubahan-perubahan yang boleh jadi bersambungan dengan sebelumnya atau mungkin keterputusan dan kebaruan. Apa yang disebut Islam tradisi atau Islam Nusantara pun selain tidak pernah tunggal, juga tak dapat disakralkan menjadi sesuatu yang mutlak dan abadi. Islam di bumi mana pun hadir, dia tidak akan pernah sekali jadi, tunggal, dan terpaku pada satu identitas diri. Setiap pengawetan proses dan penunggalan identitas keislaman ke dalam satu warna, selain menutup ruang dinamika maka sama dengan pengabsolutan sesuatu yang sejatinya majemuk dan terus mengalir sesuai dengan sunatullah perubahan. [islamaktual/almanar/haedarnashir]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top