Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Petunjuk-petunjuk Allah itu nyata jika manusia mau mencarinya.
Berkat hidayah yang aku terima,
tak ada lain yang aku harap selain ridha dari-Nya

Selama 20 tahun, aku dan istri menjalankan rumah tangga dengan perbedaan agama. Sementara anakku mengikuti keyakinan istriku memeluk Islam. Masih melekat dalam benak, ketika anakku berangkat ngaji atau membaca shalawat di masjid, orang-orang bergunjing karena tahu bahwa bapaknya non-muslim.
Banyak juga tantangan yang aku hadapi saat menjalani kehidupan pernikahan dengan perbedaan agama. Mulai dari teguran bahwa dalam berkeluarga jika berbeda agama itu tidak benar, bahkan istriku pernah hampir putus asa karena aku tidak mau masuk Islam.
Tahun 2011, tepat di bulan Ramadhan, aku memperoleh keyakinan kuat untuk masuk Islam. Kejadian itu ketika anakku pulang shalat Tarawih. Tiba-tiba saja aku didatangi dua utusan gereja. Mereka memberi peringatan padaku untuk kembali taat pada agamaku sebelumnya. Selama 7 tahun setelah meninggalnya ibu, aku memang selalu menghindar dan tidak pernah lagi ke gereja.
Jujur saja, hatiku selalu bimbang kala masih memeluk agamaku sebelumnya. Kebimbangan yang selalu menyelimuti hati ketika aku pergi ke tempat ibadah, membuatku berterus terang mengatakan bahwa aku ini seperti gembala yang tersesat.
Dengan lantangnya utusan gereja tersebut menjelaskan, mereka mencoba membujukku dengan berbicara ini-itu supaya aku tetap mempertahankan agama yang sejak kecil aku anut. Meskipun pada wakti itu aku belum mengetahui secara mendetail tentang Islam. Entah kenapa setelah mereka selesai berbicara, aku langsung mengatakan dengan tegas kepada utusan gereja tersebut, bahwa hari itu juga aku akan masuk Islam.
Petunjuk-petunjuk untuk memeluk agama Islam sebenarnya sudah banyak diberikan Allah. Namun, tinggal bagaimana kita memahaminya saja. Seruan adzan dan perintah puasa itu menurutku sudah termasuk sebuah hidayah. Jika manusia mau berfikir, mengapa ada adzan? Mengapa ada puasa? Jika manusia itu bisa mengambil makna, keduanya merupakan panggilan dan kewajiban. Sebelum memeluk Islam, mungkin bisa dibilang aku masih buta hati dan tidak tahu apa-apa.
Sebagai seorang yang kini menjadi muslim, aku hanya berharap ridho Allah. Harapan apapun jika Allah tidak meridhai, sama saja kita tidak bisa mendapatkannya. Aku hanya ingin Allah meridhaiku untuk mati dalam keadaan khusnul khotimah sehingga bisa masuk surga.
Maka dari itu, aku membutuhkan ilmu dan kajian-kajian untuk aku terapkan dalam kehidupan. Alhamdulillah, dengan rutin mengaji di Masjid Al-Falah Surabaya, banyak ilmu yang telah aku dapatkan. Ilmu tersebut akan kujadikan modal dan bekal sebelum mencapai akhirat nanti. Aku tidak ingin menjadi kaya karena harta benda di dunia, tapi ingin kaya akan ilmu untuk bekal di akhirat.
Tak kalah penting, aku ingin menunjukkan dengan tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, bahwa Islam itu adalah agama yang rahmatan lil alamin, bukan seperti yang ada diisukan di media massa, yang membuat orang-orang punya stigma tidak baik pada Islam. Aku ingin menjadi manusia yang memiliki sopan santun dan berakhlak, sesuai tuntunan agamaku, Islam.
Aku ingin membuktikan bahwa Islam adalah agama penuntun jalan kebenaran dengan berperilaku yang Islami dimanapun aku berada. Tak terkecuali di tempat kerja. Meski sampai kini aku masih bekerja di sebuah klub malam, aku tidak mabuk-mabukan, shalat pada waktunya, dan berbuat baik kepada orang lain. Pernah pula bosku mengungkapkan pertanyaan terkait keputusanku masuk Islam dan melihat perubahan perilakuku yang drastis.

Dengan singkat kujawab pertanyaan itu, bahwa keyakinan seseorang tidak ada yang bisa memaksakan, karena hal itu merupakan urusan individu dengan Tuhannya. “Jangan menilai keyakinan yang dianut seseorang, tapi lihatlah perilaku dan hubungan baiknya dengan orang lain,” ungkapku menjawab pertanyaan pemilik klub malam di mana aku bekerja. [islamaktual/alfalah/nanang]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top