Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Doktor Sejarah dari Universitas Indonesia (UI) Tiar Anwar Bachtiar, dalam sebuah acara Kajian Sirah “Islam Nusantara Dalam Pembahasan Sejarah Islam” di Masjid Ukhuwah Islamiyyah UI, Sabtu (27/6) lalu menilai bahwa pendapat Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatulah – Jakarta, terkait Islam Nusantara, dengan kacamata akademik, sebagai pandangan yang tendensius.
“Pandangan Azyumardi Azra penuh tendensi politik dan pendiskreditkan kepada kelompok tertentu, dalam hal ini tertuduhnya ‘Wahabi’,” kata Tiar dikutip islampos.com.
Azyumardi Azra pada sebuah kesempatan menyebut bahwa yang dimaksud Islam Nusantara secara umum adalah “Islam distingtif” sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, dan vernakylarisasi Islam universal dengan realitas social, budaya, dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy’ari, fikih Syafi’i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya dengan warisan Islam (Islam legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam Global”.
Menurut Tiar, definisi ini terkesan lebih “dingin” dan akademik. Selain karena yang menulisnya adalah seorang akademisi popular di Indonesia, juga karena sepanjang tulisannya ia mencoba membangun argumennya tentang konsep Islam Nusantara ini dengan mengaitkannya pada kajian-kajian mengenai sejarah dan kebudayaan Islam di Asia Tenggara.
Azra bahkan membatasi Nusantara dengan “Asia Tenggara”, bukan hanya Indonesia. Karyanya“Jaringan Ulama Nusantara abad ke XIV” juga menjadi semacam garansi lain terhadap definisinya tentang Islam Nusantara, sehingga merasa sangat optimis Islam Nusantara menjadi harapan lahirnya peradaban Islam global. Azyumardi menyatakan ini sambil menolak paham Islam yang ia sebut sebagai “Islam Arab” yang dipengaruhi oleh teologi Wahabi, Fiqih Hambali, dan menolak tasawuf.
Tiar melanjutkan, mendefinisikan “Islam Nusantara” hanya menunjuk pada kecenderungan mazhab dari sebagian kaum muslim di Indonesia, justru hanya akan menimbulkan diskriminasi dan sikap tendensius baru yang malah memicu disintegrasi, bukan harmoni.
Menurutnya, mungkin saja kategori yang dibuat Azra sifatnya semata-mata akademik untuk menunjukkan corak pemikiran dan kultural Islam yang lebih dulu datang ke kawasan ini. Akan tetapi penamaan Nusantara sangat politik , apalagi kemudian kawasan ini telah bermetamorfosis menjadi negara-negara (Indonesia, Malaysia, Brunei dan lainnya), sehingga menjadi politis.
Istilah Islam Nusantara menjadi sangat mudah dipolitisir dalam kasus Said Agil Siradj dan Jokowi. “Saya sangat yakin istilah Islam Nusantara versi mereka bermuatan sangat politis, disatu sisi bertujuan untuk mengangkat kelompok Islam tertentu, disisi lain menjatuhkan kelompok Islam lain. Jadi sebaiknya, Azra merivisi saja istilah yang dipergunakannya itu. Ia bisa gunakan istilah lain yang lebih popular seperti ‘tradisionalis’ sehingga tidak bertendensi politik terlalu kental,” terang Tiar.
Tiar menyayangkan, apabila kategori akademis berdasarkan riset panjang dari ratusan ilmuwan, kemudian hanya dimanfaatkan sesaat oleh para pemain politik. Dalam hal ini politisi hendak memperkeruh suasana.
“Seolah-olah yang baik dan bagus itu hanya model pemikiran Islam yang dianut oleh dia dan kelompoknya, sementara kelompok lain dianggap berislam dengan model pemikiran yang buruk dan cenderung membahayakan. Tapi saya tidak yakin, Azra pun tidak berpikir politis dengan katagori akademis yang dilontarkannya,” tandas Tiar.
Lebih lanjut Tiar menegaskan, para ulama Indonesia bukanlah pemrakarsa pendekatan-pendekatan keberagamaan. Semuanya “impor”, bukan produk lokal. Oleh sebab itu, mengaitkan watak Muslim Indonesia yang toleran dan tidak senang pada kekerasan – klaim ini perlu diuji kembali di lapangan – semata-mata hanya dianut mazhab atau kelompok Islam tertentu menjadi tidak relevan.

“Lihatlah bagaimana Azra lebih memuji ekspresi Islam model Indonesia dibandingkan Brunei dan Malaysia yang dikooptasi oleh negara, padahal menurutnya kedua negara ini sama-sama Islam Nusantara seperti dalam definisinya,” kata Tiar. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top