Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

11 ORANG YANG MENDAPATKAN DOA DARI MALAIKAT


1. Orang yang menunggu tiba waktu shalat
Menunggu tiba waktu shalat di mesjid dalam keadaan suci, selain dinilai sama dengan menunaikan shalat itu sendiri, juga didoakan oleh para malaikat agar mendapatkan ampunan dan kasih sayang Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ مَا لَمْ يُحْدِثْ
"Seorang hamba akan selalu dihitung shalat selama ia di masjid menunggu shalat dan tidak berhadats." [HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dengan matan dari al-Bukhari]
Rasulullah SAW bersabda:
الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتْ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ
"Para Malaikat berdo'a untuk salah seorang dari kalian selama dia masih pada posisi shalatnya dan belum berhadats, 'Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia'. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat. Dimana tidak ada yang menghalangi dia untuk kembali kepada keluarganya kecuali shalat itu." [HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah]
Rasulullah SAW bersabda:
صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلَاةِ مَا كَانَتْ الصَّلَاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ
"Shalat seseorang dengan berjama'ah melebihi dua puluh sembilan derajat dari shalat seseorang yang dikerjakan di rumahnya dan di pasarnya, demikian itu karena bila salah seorang diantara mereka berwudhu' dengan menyempurnakan wudlu'nya, lalu mendatangi masjid, dan tidak ada yang mendorongnya kecuali untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah satu langkah, kecuali akan ditinggikan derajatnya dan dihapus kesalahannya, hingga ia masuk masjid, jika ia telah masuk masjid, maka ia dihitung dalam shalat selama ia tertahan oleh shalat, dan malaikat terus mendoakan salah seorang diantara kalian selama ia dalam majlisnya yang ia pergunakan untuk shalat, malaikat akan berdoa; "Ya Allah, rahmatilah dia, Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah maafkanlah dia, " selama ia tidak melakukan gangguan dan belum berhadats." [HR. Muslim dari Abu Hurairah]
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ وَأَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ
"Para malaikat akan mendoakan salah seorang diantara kalian selama ia dalam majlisnya, mereka memohon; "Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah, rahmatilah dia, " selama ia belum berhadats, dan salah seorang diantara kalian dihitung dalam shalatnya selama ia tertahan oleh shalat." [HR. Muslim dari Abu Hurairah]
2. Orang-orang yang berada di barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ وَالْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوْتِهِ وَيُصَدِّقُهُ مَنْ سَمِعَهُ مِنْ رَطْبٍ وَيَابِسٍ وَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ صَلَّى مَعَهُ
"Allah dan para malaikat mendoakan (orang-orang) yang berada di shaf terdepan. Seorang muadzin akan diampuni sepanjang suaranya dan dibenarkan oleh yang mendengarnya dari semua yang basah dan kering, dan dia mendapat pahala seperti pahala orang yang ikut shalat bersamanya." [HR al-Nasa’i dan Abu Dawud dari al-Bara ibn Azib]
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ أَوْ الصُّفُوفِ الْأُوَلِ
"Sesungguhnya Allah 'azza wajalla dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang berada di shaf awal, atau shaf-shaf awal." [HR. Ahmad dari al-Nu`man ibn Basyir]
3. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan celah kosong dalam shaf)
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat bagi orang-orang yang menyambung barisan shalat, maka barangsiapa menutup celah dalam barisan tersebut Allah akan mengangkat derajatnya.” [HR Ahmad dan Ibnu Majah dari Aisyah]
4. Mengucapkan “aamiin” secara bersamaan ketika shalat
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا قَالَ الْإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Jika Imam membaca GHAIRIL MAGHDLUUBI 'ALAIHIM WALADL DLAALLIIN, maka ucapkanlah 'AMIIN'. Karena siapa yang ucapan 'AMIIN' nya bersamaan dengan 'AMIIN' nya Malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." [HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah]
إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِينَ وَقَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Jika salah seorang dari kalian 'Amiin' dan para Malaikat yang ada di langit juga membaca 'Amiin', lalu bacaan salah satunya bersamaan dengan bacaan yang lain, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." [HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah]
5. Duduk di Masjid setelah Shalat Shubuh
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ جَلَسَ فِي مُصَلَّاهُ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ وَصَلَاتُهُمْ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَمَنْ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ وَصَلَاتُهُمْ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ
"Barangsiapa shalat fajar kemudian dia duduk pada tempat shalatnya, niscaya Malaikat akan mendoakannya. Doa mereka padanya adalah: “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, sayangilah dia”. Barangsiapa menunggu shalat niscaya malaikat akan mendoakannya. Doa mereka padanya adalah: “ Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, sayangilah dia" [HR. Ahmad dari Ali ibn Abi Thalib]
6. Mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya
Rasulullah SAW bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan 'Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” [HR Muslim dari Uwaymir ibn Malik]
dalam redaksi lain:
مَنْ دَعَا لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
"Barangsiapa yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) yang berjauhan, melainkan malaikat akan berkata; 'Amiin dan bagimu kebaikan yang sama.
7. Berinfaq dijalan Allah
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
"Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; "Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)". [HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah]
8. Orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain
Rasulullah SAW bersabda:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
"Keutamaan seorang alim dari seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, " kemudian beliau melanjutkan sabdanya: "Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib shahih. Perawi berkata; "Aku mendengar Abu 'Ammar Al Husain bin Huraits Al Khuza'I berkata; Aku mendengar Al Fudlail bin Iyadl berkata; "Seorang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkan ilmunya akan dipanggil besar oleh para Malaikat yang ada di langit." [HR al-Turmudzi dari Abu Umamah al-Bahili]
Rasulullah SAW bersabda:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ { إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ } إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ وَالنُّونَ فِي الْبَحْرِ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ الْخَيْرَ
Keutamaan seorang yang berilmu dari seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas orang-orang yang paling rendah diantara kalian, kemudian beliau membaca ayat ini: "INNAMA YAKHSYALLAHA MIN 'IBADIHIL 'ULAMA`" (Hanyasanya yang takut kepada Allah dari hamba-hambaNya adalah para ulama) -Qs. Faathir: 8-, sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, serta ikan di lautan (selalu) bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia' ". [HR. al-Darimi dari Makhul]
9. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci
Rasulullah SAW bersabda:
طَهِّّرُوْا هَذِهِ اْلأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللهُ، فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَبِيْتُ طَاهِرًا إِلاَّ بَاتَ مَعَهُ فِيْ شِعَارِهِ مَلَكٌ، لاَ يَنْقَلِبُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا
"Sucikanlah badan-badan kalian, semoga Allah mensucikan kalian, karena tidak ada seorang hamba pun yang tidur malam dalam keadaan suci melainkan satu Malaikat akan bersamanya di dalam syi’ar, tidak satu saat pun dia membalikkan badannya melainkan satu Malaikat akan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini, karena ia tidur malam dalam keadaan suci.” [HR. al-Thabrani dari Ibnu `Abbas]
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلاَنٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka Malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dan tidaklah ia bangun melainkan Malaikat berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan karena ia tidur dalam keadaan suci.” [HR. Ibnu Hiban dari Ibnu Umar]
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيْتُ عَلَى ذِكْرٍ طَاهِرًا فَيَتَعَارُّ مِنَ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنَ الدُّنْياَ وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِياَّهُ
Tidaklah seorang muslim bermalam dalam keadaan berdzikir kepada Allah dan dalam keadaan suci, lalu ia bangun pada suatu malam dan berdo’a memohon kebaikan dunia atau akhirat kepada Allah melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Mu`adz bin Jabal]
10. Orang yang sedang makan sahur
Rasulullah SAW bersabda:
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
"Makan sahur itu berkah, maka janganlah kalian tinggalkan meskipun salah seorang dari kalian hanya minum seteguk air, karena sesungguhnya Allah 'azza wajalla dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur." [HR. Ahmad dari Abu Sa'id Al Khudri]
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ عَادَ أَخَاهُ إِلَّا ابْتَعَثَ اللَّهُ لَهُ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ مِنْ أَيِّ سَاعَاتِ النَّهَارِ كَانَ حَتَّى يُمْسِيَ وَمِنْ أَيِّ سَاعَاتِ اللَّيْلِ كَانَ حَتَّى يُصْبِحَ
"Tidaklah seorang muslim mengunjungi saudaranya kecuali Allah akan mengutus kepadanya tujuh puluh ribu Malaikat yang memohonkan kesejahteraan untuknya pada setiap waktu di siang hari sampai datang waktu sore, dan pada setiap waktu malam sampai datang waktu subuh." [HR. Ahmad dari Ali ibn Abi Thalib]

Demikianlah 11 orang yang mendapatkan do’a dari malaikat. Semoga kita dapat mengamalkannya, Insya Allah. [islamaktual/dadangsyaripudin]

Sepanjang 2015 Perancis Usir Puluhan Ulama


Fobia terhadap umat Islam masih saja terjadi di negara Eropa. Kali ini diskriminasi tersebut muncul di Perancis. Seorang pejabat tinggi keamanan Prancis memberikan pernyataan bahwa pemerintah telah mengusir 12 imam dan penceramah yang dituduh radikal sejak awal tahun ini. Artinya, sudah  40 imam dan penceramah yang diusir dari Prancis sejak tahun 2012.
Bernard Cazeneuve, Menteri Dalam Negeri Perancis kepada radio Europe 1 dikutip islampos.com menyatakan bahwa negaranya (Perancis) tidak akan mentolerir para pengkhotbah yang isi ceramahnya dianggap membangkitkan kebencian.
Pernyataan Cazeneuve ini diungkapkannya tiga hari setelah Yassin Salhi dituduh memenggal kepala bosnya dan kemudian meledakkan sebuah pabrik gas milik AS yang ada di Prancis.

Yassin Salhi sendiri telah ditandai pada tahun 2006 atas tuduhan memiliki hubungan dengan kelompok Muslim radikal, tapi pengawasan terhadapnya diangkat pada tahun 2008. [islamaktual]

Muhammadiyah : LGBT Itu Penyakit Yang Harus Diobati


Bendahara PP Muhammadiyah, Dr. Anwar Abbas, M.Ag menegaskan bahwa LGBT (Lesbian-Gay-Biseksual- Transeksual) bukan hak asasi, melainkan penyakit. Penyakit ini bisa disembuhkan dengan tekad dan kemauan dari orang yang bersangkutan. Hal ini ditegaskan Anwar menanggapi disahkannya Undang-Undang Perkawinan Sejenis oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat beberapa waktu lalu.
“Ini penyimpangan terhadap ajaran agama atau hukum alam. Negara harus ikut membantu mengarahkan agar orientasi seksual mereka kembali ke sunnatullah,” papar Anwar Abbas dikutip republika.co.id, Ahad (28/6) kemarin.
Lebih lanjut Anwar menyatakan, manusia bisa saja menentang hukum alam. Misalnya, manusia akan merasa lapar setelah sekian jam tidak makan. Manusia bisa memilih untuk tidak makan, tapi konsekuensinya akan sakit. Demikian pula dengan hukum alam, sambung Anwar.
Agar tidak sakit, manusia harus tahu hukum alam. Laki-laki hanya bisa membangun keluarga dengan perempuan, tidak bisa dengan sesama laki-laki. Jika penyimpangan terhadap hukum alam itu dibiarkan, akan muncul siksa Tuhan.
Pengamat dunia Islam ini juga menambahkan, masyarakat yang tidak melakukan pun dapat terkena dampak penyimpangan tersebut. Entah dalam bentuk penyakit menular, kerusakan tatanan sosial, dan sebagainya. Pelajaran itu telah disampaikan Alquran dalam kisah Luth.
Menurutnya, kalau ada orang yang berperilaku seperti itu, negara harus turun mendampingi mereka. LGBT bisa disembuhkan asal ada tekad dan usaha dari yang bersangkutan. Anwar pun menyebutkan beberapa sosok yang berhasil sembuh dari penyimpangan ini.

“Gay itu penyakit. Karena itu jangan ditolerir, tapi harus diobati. Bukannya melegalkan keinginan mereka, tapi kita berupaya mengarahkan orientasi seksual mereka,” kata Anwar Abbas. [islamaktal]

Produk Ekspor Indonesia Wajib Bersertifikat Halal


Sertifikasi halal pada sebuah produk ekspor Indonesia sangat signifikan dalam memberi nilai tambah. Hal ini dilontarkan Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel saat ditanya wartawan Senin (29/6) kemarin di Gedung Dewan Pers jakarta Pusat. Gobel mengatakan sertifikat halal sangat signifikan untuk memberi nilai tambah terhadap produk ekspor asal Indonesia khususnya, yang akan dipasarkan ke negara-negara Timur Tengah.
Oleh karena itu, Kemendag dalam waktu dekat akan menyertakan sertifikasi halal ke dalam proses Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib. Pemeriksaan halal pun, Mendag menjelaskan, akan meliputi semua proses pembuatan produk ekspor. Mulai dari tahapan pembuatan hingga pengemasan.
"Pastinya, tahapan-tahapan untuk ke halal itu tentu kita harus menerapkan SNI Wajib kepada produk-produk dan kepada industrinya," ucap Menteri Rachmat Gobel, dikutip republika.co.id seusai menjadi pembicara dalam acara Diskusi Pangan tersebut.
Menurut Mendag, negara telah memberlakukan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Dimana didalamnya ada banyak produk pangan tradisional khas Indonesia yang juga perlu disertifikasi halal. Misalnya, sebut dia, tahu, tempe, atau bakso, yang cukup dikenal publik luar negeri.

"Bukan hanya makanan, tapi si pembuatnya harus kita sertifikasi (halal). Produsen harus bertanggung jawab atas produk yang dihasilkan sampai dikonsumsi oleh konsumen," pungkasnya. [islamaktual]

Menyikapi Kesalahan Orang Lain


Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dhalim. (QS. asy-Syura [42]:40).
Ayat di atas sebenarnya mengisyaratkan 3 model penyelesaian kesalahan yang dialami oleh seseorang sekaligus menunjukkan derajat keutamaan yang satu atas yang lain.
Penyelesaian model pertama terdapat dalam frasa wajaza’u sayyi’atin sayyi’atun mitsluha, dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, mengisyaratkan model penyelesaian secara hukum. Penyelesaian jenis ini diperbolehkan namun kurang dianjurkan, terbukti Allah tidak menjanjikan pahala atas penyelesaian model ini. Selain itu penyelesaian model hukum masih menyisakan beberapa masalah seperti melibatkan banyak pihak, ada paksaan, ada sanksi, dan sering sulit memuaskan banyak pihak. Itulah sebabnya betapa banyak putusan pengadilan yang diajukan banding, kasasi, PK, dan seterusnya karena pihak yang satu merasa belum mendapat keadilan. Bahkan menjelang eksekusi sekalipun, nuansa perlawanan masih terasa, misalnya dengan menghalang-halangi jalannya eksekusi.
Penyelesaian model kedua dapat dipahami dari frasa kedua menyatakan, faman ‘afa (barangsiapa yang mau memaafkan), ini mengisyaratkan penyelesaian dengan mengedepankan akhlak. Ini sangat dianjurkan Allah terbukti dengan janji akan diberi pahala di sisi Allah bagi yang mau melakukannya. Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad saw menyatakan, “tidaklah seseorang mau memaafkan kesalahan orang melainkan Allah akan menambah kemuliaannya.” (HR. Muslim).
Penyelesaian model ini lebih mengedepankan akhlak yang ditandai dengan sikap rela mengalah, mau berkorban, tidak mengumbar dendam dan sakit hati, membuang sikap egois dan mau menang sendiri, dan sebagainya. Penyelesaian dengan model ini jelas lebih baik akibatnya karena meninggalkan bekas yang damai, lembut, elegan serta (lebih bisa diterima berbagai pihak). Dalam sidang-sidang di pengadilan, khususnya dalam kasus perdata, anjuran dan tekanan untuk berdamai dan bermusyawarah untuk mencari kesepakatan sangat ditekankan dan bahkan diharuskan untuk dilakukan.
Penyelesaian model ketiga dapat dipahami dari frasa berbunyi, wa ashlaha (bahkan berbuat baik), mengajak pihak yang dirugikan untuk setingkat naik kelas lagi dengan tidak berhenti pada level memaafkan saja, namun lebih dari itu melakukan aneka kebaikan kepada orang yang telah berbuat salah kepadanya. Pendekatan model ketiga ini kiranya bisa disebut dengan pendekatan cinta, di mana ia di samping tidak menuntut balas (menuntut secara hukum) mau mengalah dan memaafkan juga malah memberikan kebaikan dan kemanfaatan kepada orang yang merugikannya. Penyelesaian model ketiga ini jika diterapkan, dijamin akan mengakhiri konflik dengan lebih manis dan baik akibatnya. Orang yang berbuat salah akan merasa terharu dan tersentuh dengan kemuliaan dan keluhuran orang yang dirugikannya. Sehingga sangat mungkin akan berhasil menarik orang tersebut untuk melakukan kebaikan yang sama pada orang lain. Allah sendiri menjanjikan, sama seperti yang mau memaafkan, dengan pahala yang besar di sisi-Nya.
Namun demikian, ketiga model penyelesaian konflik di atas tidak selalu melulu harus berurutan dari membalas atau menuntut, memaafkan, atau justru malah mengislahi, karena sebenarnya kata kuncinya adalah islah (perbaikan kesalahan) itu sendiri, yakni mana saja yang diharapkan bisa memperbaiki kemaslahatan pelaku itulah yang paling pas ditempuh.
Misalnya, ada orang yang mencemarkan nama baik seseorang. Ada kemungkinan ia diperkarakan secara hukum, dimaafkan, atau dimaafkan plus dibaiki (diapiki, bahasa jawa). Pihak yang dirugikan bisa dengan bijak menempuh salah satu dari ketiga sikap tersebut dengan mempertimbangkan langkah apa yang paling tepat untuk memperbaiki pribadi pihak yang memulai kesalahan itu. Namun secara umum, dengan dimaafkan dan bahkan diapiki tadi akibatnya lebih baik bagi dia dan juga si korban. Di samping dapat pahala dari Allah SwT juga tidak berlarut-larut dalam ketegangan karena berurusan dengan hukum yang menguras pikiran, tenaga, dan tidak sedikit harta.

Ayat di atas ditutup dengan ungkapan innahu la yuhibbudh dhalimin. Allah tidak menyukai orang yang dhalim. Orang dhalim disini seperti dijelaskan Ibnu Abbas, yakni orang yang mendahului berbuat kesalahan. Sedang mufassir lain memahami sebagai sikap melampaui batas dalam membalas kesalahan orang yang telah mendhaliminya. Kedua sikap itu sama-sama dibenci Allah SwT. [islamaktual/sm/alitrigiyatno]

Imam al-Nasa'i: Kritikus Hadits yang Berwibawa


Abu Abdi al-Rahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Bahr bin Sinan al-Nasa’i. Demikian nama lengkapnya. Imam al-Nasa’i lahir pada 225 H. Ia adalah ahli Hadits terkenal yang berasal dari kota Nasa’, termasuk dalam wilayah Khurasan. Nasa’i adalah nama yang dinisbatkan kepada kota kelahirannya. Selain ahli Hadits, ia juga ahli fikih bermazhab Syafi’i. Ahli ibadah dan berpegang teguh pada Sunnah dan memiliki wibawa besar. Di kota Nasa’, ia tumbuh dan belajar ilmu agama, dari menghafal al-Qur’an dan disiplin ilmu lainnya. Imam al-Nasa’i adalah murid ulama Hadits terkemuka, Abu Daud Sulaiman bin al-Sijistani, atau dikenal dengan nama Abu Dawud.
Memasuki usia remaja, timbul keinginan al-Nasa’i untuk keluar dari kampung halamannya, untuk belajar dan mencari Hadits. Ia mengembara ke berbagai daerah dari Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan beberapa jazirah Arab. Ia menuntut ilmu dari ulama-ulama yang ia kunjungi. Dari kesungguhannya, ia pun menjadi salah satu ahli dan menguasai ilmu Hadits. Setelah memeroleh pengalaman dalam menuntut ilmu dan mencari Hadits, al-Nasa’i pun menetap di Mesir. Disana, ia mengajarkan ilmu Hadits kepada masyarakat. Di Mesir inilah ia tinggal hingga menjelang wafat. Setahun sebelum wafat, ia pindah ke Damaskus. Ia wafat pada bulan Shafar tahun 303 H (915 M) di Ramlah, Palestina.
Sebelumnya, di kota Damaskus, Imam al-Nasa’i menulis Kitab al-Khasais Ali bin Abi Thalib (Keistimewaan Ali bin Abi Thalib). Kitab ini berisi penjelasan dari Hadits-Hadits yang menjabarkan keistimewaan dan keutamaan Ali bin Abi Thalib. Pada saat itu, penduduk Damaskus banyak menjelek-jelekkan Ali bin Abi Thalib dan lebih mengagungkan Mu’awiyah. Oleh karena kitab ini, al-Nasa’i dituduh lebih berpihak kepada golongan Ali. Ia pun disiksa oleh golongan Bani Umayah. Kepayahan dan luka-luka akibat aniaya tersebut, Imam al-Nasa’i dibawa di kota Ramlah, Palestina. Menurut beberapa versi lainnya, ia dibawa ke Mekkah, meninggal di sana dalam usia 85 tahun, dan dikuburkan di antara Safa dan Marwa.
Imam al-Nasa’i diakui oleh banyak generasi ulama setelahnya, misalnya Imam Dar al-Qutni, sebagai ulama terdepan dalam ilmu Hadits di masanya. Ketika tinggal di Mesir, Imam al-Nasa’i adalah ulama paling pintar dan paling mengetahui keilmuan Hadits. Menurut al-Zahabi, ia bagaikan terkumpul lautan ilmu, disertai pemahaman dan kepintaran, mempunyai hafalan yang banyak tentang Hadits, dan ulama paling mampu dalam mengoreksi cacat-cacat rawi. Dari kedalaman ilmunya inilah, tak heran bila ia menghasilkan banyak karya bermutu. Antara lain misalnya, al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra (kitab ringkasan dari al-Sunan al-Kubra), Musnad Malik, Manasik al-Hajj, Kitab al-Jumu’ah, Ighrab Syu’bah Ali Sufyan Ali Syu’bah, al-Khasais Ali bin Abi Thalib Allah Wajhah, dan Amal al-Yaum wal Lailah.
Kritikus Hadits
Imam al-Nasa’i diakui banyak ulama serajat keilmuannya seperti Bukhari dan para tokoh besar ulama Hadits lainnya. Keahliannya meliputi ilmu Jarh wa ta’dil, ilmu Hadits yang berguna untuk menilai kualitas perawi, ditinjau dari segi keadilan dan kecacatan. Imam al-Nasa’i dikenal sebagai kritikus Hadits yang tiada bandingannya. Banyak ulama menggantungkan penilaian Hadits pada Imam al-Nasa’i. Ketika menilai sebuah Hadits, ia sangat ketat memberikan syarat diterimanya seorang perawi.
Selain ilmu jarh wa ta’dil, ia juga mempunyai keahlian dalam ilmu ‘ilal Hadits. Seperti ilmu jarh wa ta’dil, ‘ilal Hadits adalah ilmu Hadits yang digunakan mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang dapat merusak kualitas Hadits. Seperti, misalnya, Hadits tampaknya marfu’ (bersambung sampai Nabi), tetapi ternyata, setelah diteliti, hanya sampai pada derajat mauquf (riwayat sampai Sahabat). Imam al-Nasa’i mempunyai keahlian dalam bidang ini.
Sunan al-Nasa’i
Dari kitab masyhur Imam al-Nasa’i adalah buah karangannya yang berjudul as-Sunan al-Kubra. Kitab Hadits yang disusu sesuai dengan kitab fikih. Mulai thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Setelah menyelesaikan as-Sunan al-Kubra, ia menghadiahkannya kepada Amir (pemimpin) Ramlah, sebagai tanda penghormatan. Amir tersebut menanyakan tentang kualitas Hadits dalam kitab ini. Imam al-Nasa’i mengatakan bahwa dalam kitab Hadits ini ada Hadits yang mengandung derajat shahih, hasan, maupun dha’if. Kemudian Amir meminta kepada Imam al-Nasa’i untuk memisahkan derajat Hadits yang maqbul (sesuai dengan syarat keshahihan Hadits) dengan Hadits yang mardud (tidak sesuai dengan derajat keshahihan Hadits). Lantas, ia pun meringkas dan menyeleksi lagi menjadi as-Sunan as-Sughra yang ia beri judul al-Mujtaba min al-Sunani. Oleh masyarakat luas dikenal dengan Sunan al-Nasa’i. Imam al-Nasa’i sangat ketat dalam menyeleksi kitab Hadits ini. Sedikit sekali Hadits-Hadits dhaif dalam kitab ini.
Namun demikian, ada ulama sangat kritis melihat as-Sunan as-Sughra. Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa masih ada banyak Hadits dhaif, bahkan maudhu’ (palsu). Akan tetapi, pernyataan Ibnu al-Jauzi ini dibantah Jalaluddin a;-Suyuti. Menurutnya, memang masih ada kualitas dhaif, tetapi tidak terdapat Hadits maudhu’, karena Imam al-Nasa’i sangat selektif dalam menilai sebuah Hadits. Jalaluddin al-Suyuti kemudian menulis kitab Syarah (penjelasan) terhadap as-Sunan as-Sughra: Syarah Sunan al-Nasa’i.

Menurut para ulama derajat Sunan al-Nasa’i ini secara kualitas masih di bawah Shahih Bukhari dan Muslim, masih terdapat beberapa Hadits dha’if dalam kitab ini. Walaupun masih di bawah standar kualitas Shahihain (Bukhari dan Muslim), para ulama menggolongkan kitab Sunan al-Nasa’i dalam enam kitab Hadits Pokok (Kutub al-Sittah) selain Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majjah. [islamaktual/sm/fauziishlah]

Legalisasi Perkawinan Sejenis Wujud Pemberontakan Yudisial


Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Kamis (25/6) lalu telah memutuskan bahwa perkawinan homoseksual legal dilakukan di seluruh wilayah Amerika. Sehingga, perkawinan homoseksual diakui tidak hanya di 37 negara bagian yang telah melegalkannya, tetapi juga di negara bagian lain yang belum mengakuinya. Legalisasi perkawinan sesama jenis mendapatkan persetujuan Mahkamah Agung AS dengan 5 suara mendukung dan 4 menolak.
Namun, menurut hakim agung yang menolak atau desenting opinion, keputusan itu merupakan pemberontakan yudisial.
Hakim Antonin Scalia dan Hakim Kepala John Roberts termasuk yang menolak legalisasi perkawinan homoseksual. Mereka menilai keputusan itu berarti memaksakan kehendak segelintir elit di MA atas 320 juta rakyat Amerika dari ujung pantai barat ke ujung pantai timur.
“Mereka ingin mengatakan bahwa siapa saja warganegara yang tidak setuju dengan itu (legalisasi perkawinan homoseksual, red), yang mengikuti ketentuan lama, sampai 15 tahun lalu, pendapat yang disepakati segenap generasi dan masyarakat, berarti menentang konstitusi,” kata Scalia dalam disenting opinion-nya dikutip hidayatullah.com.
Scalia menyebut keputusan itu sebagai “pemberontakan yudisial” dan “ancaman terhadap demokrasi”, di mana kelompok mayoritas mengarang (mengada-adakan) sebuah hak untuk menikah yang seluruh pakar hukum Amerika sebelum mereka telah mengkajinya.
Dengan memperluas interpretasi atas Amandemen Ke-14 (yang menjamin persamaan dalam perlindungan hukum) dengan cara memasukkan hak universal perkawinan sesama jenis kedalamnya, MA berarti telah memberikan dirinya sendiri kekuasaan tidak terbatas, kata Scalia.
Sementara itu John Roberts, meskipun menolak tegas, tidak terlalu keras menyatakan penolakannya. Menurutnya, banyak orang yang akan bersuka cita dengan keputusan ini, namun dia tidak iri sama sekali dengan perayaan mereka itu.

Dalam kesimpulannya, Roberts mengatakan bahwa adalah peran lembaga legislatif untuk membuat kebijakan sosial, bukan para hakim. [islamaktual]

Visit Us


Top