Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kata guru ngaji saya, sewaktu saya masih belajar di Madrasah Mu’allimin Yogyakarta: “Segala sesuatu yang menyangkut persoalan yang belum terjadi, dalam pengertian ditengarai akan terjadi pada ‘masa yang akan datang’, meskipun sekedar ‘sekejap’, semua orang tidak bisa memastikan akan benar-benar terjadi, kecuali bila sesuatu itu dikehendaki Allah untuk benar-benar terjadi”.
Nah, sekarang perhatikan makna firman Allah dalam QS. al-Kahfi [18]:23-24 : “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut)  “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupadan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada (hal) ini”.
Menurut salah satu riwayat, berkaitan dengan sabab an-nuzul ayat di atas, ada beberapa orang Quraisy yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang ruh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqamain. Berawal dari pertanyaan itu beliau pun menjawab: “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Dan beliau sama sekali tidak mengucapkan kalimat insya Allah (jika Allah menghendaki). Ternyata sampai esok harinya wahyu (yang diharapkan datang untuk menjawab pertanyaan itu) terlambat datang untuk menceritakan (menjawab) hal-hal (perihal pertanyaan) tersebut, dan Nabi SAW pun (karena belum turunnya wahyu dari Allah SWT) tidak mampu menjawabnya. Berkaitan dengan hal itu, maka turunlah QS. al-Kahfi [18] : 23-24, sebagai pelajaran kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini Allah mengingatkan Nabi SAW (yang telah) lupa menyebut kalimat insya Allah ketika berjanji, dan beliau pun menyadari kekhilafannya.
Untuk menjawab pertanyaan mengenai makna (esensial) kalimat insya Allah, para ulama menjelaskan, bahwa sesuatu yang menyangkut masa yang akan datang, minimal mencakup lima unsur: (1) pelaku (subyek); (2) yang diperlakukan (obyek); (3) waktu dan tempat kejadian; (4) Sebab-musabab; (5) kekuatan dan kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakannya.
Oleh karena itu, misalnya ketika seseorang berkata: “Besok saya akan pergi ke tempat Mr. X untuk membicarakan masalah X”, sebenarnya orang tersebut tidak memiliki jaminan apapun bahwa ia akan tetap bisa hidup sampai besok dan berkemampuan untuk datang ke tempat Mr. X untuk membicarakan masalah yang dijanjikannya. Begitu pula Mr. X yang akan ditemui olehnya, juga tidak memiliki jaminan yang sama untuk bisa bertemu dengannya di tempat dan waktu yang dijanjikan. Kalau pun “ia” pada waktu yang sudah ditentukan “bisa pergi”, mungkin waktunya tidak setepat yang dijanjikan, atau tempatnya pun bisa berubah; atau mungkin saja pada waktu dan tempat yang telah dijanjikan, mereka berdua itu tidak berkemampuan untuk melaksanakan niatnya, atau bahkan juga bisa berubah niat untuk melaksanakannya pada saat dan tempat yang berbeda.
Kesimpulan pentingnya: “siapapun sama sekali tidak memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan ’kelima unsur’ tersebut di atas secara mandiri, tanpa bergantung pada siapapun. Semua itu akan terpulang dan dikembalikan kepada pengaturnya; Allah-lah yang Maha Kuasa untuk mengatur semua persoalan, termasuk sesuatu yang kita inginkan. Manusia -sekuat apapun- harus menuruti kehendak-Nya. Sehingga ucapan insya Allah yang diucapkan oleh setiap orang, bermakna : “Jika Allah menghendaki atau mengizinkan, semua rencana orang itu pasti terlaksana. Sebaliknya, bila Allah tidak menghendaki atau mengizinkan, pasti rencana orang itupun akan (selalu) gagal.”
Selanjutnya, apa yang seharusnya kita sikapi ketika kita sudah benar-benar mantap mengucapkan kalimat insya  Allah? Kita - setelah mengucapkannya - harus berupaya optimal untuk melaksanakan apa yang kita niatkan dengan seluruh kemampuan kita, dengan dua sikap yang tak mungkin kita abaikan: “Sabar dan Tawakal”. Sabar, dalam pengertian: “bersikap pro-aktif untuk meraih sesuatu yang kita niatkan, (kita) kehendaki, (kita) inginkan, (kita) harapkan, (kita) cita-citakan tanpa ‘kenal’ putus asa”. Diiringi dengan sikap ‘tawakal’, dalam pengertian: “menyandarkan diri dalam semua usaha kita hanya kepada Allah SWT semata”.
Sebagai seorang muslim, ketika sudah mengucapkan kalimat insya Allah, harus berhikmah untuk beramal shalih seoptimal mungkin (yang berpotensi mengisi kekosongan hati kita), disertai dengan keinginan kuat untuk meninggalkan perbuatan ‘dosa’ (maksiat) sekecil apapun (yang berpotensi mengotori hati kita), dan dengan (mantap) mengucapkan kalimat yang menunjukkan kekuatan niat kita: “insya Allah”, agar kita bisa membangun sikap ikhlas dalam beramal shalih dan (sekaligus) membangun budaya “kerja keras dan cerdas” dengan pondasi iman dan takwa kita sebagai eorang Muslim.

Sekarang, dengan pengakuan keislaman kita, “bukan saatnya kita ‘bermimpi’”. Buktikan bahwa kita bisa ‘beraksi’. Bersama Allah, insya Allah, kita “bisa!” [islamaktual/sm/muhsinhariyanto]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top