Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Hari depan anak yang cerah dan membahagiakan merupakan harapan setiap orangtua dan harapan kita semua. Orangtua memanjatkan do’a kepada Allah agar anak-anaknya beriman, shalih, taat beribadah, verdas, selamat dari godaan dan tumbuh kembang dengan fisik dan jiwa yang sehat. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Furqan [25]:74). Harapan ini akan terwujud apabila ada upaya yang sungguh-sungguh dan disiapkan lingkungan yang mendukung.
Tantangan dan hambatan dalam mendidik dn mewujudkan masa depan anak-anak yang baik selalu hadir pada setiap zaman. Perhatikan saja dunia anak-anak saat ini, terutama yang tinggal di perkotaan. Mereka tidak memiliki fasilitas untuk tumbuh dan bergaul dalam suasana yang edukatif. Di rumah setiap hari disuguhi acara televisi yang lebih banyak tidak mendidik. Panggung hiburan televisi dan acara-acara sinetron cenderung memperlemah etos belajar dan kerja keras sebagai seorang ilmuwan bagi anak-anak kita. Ruang untuk pengembangan bakat anak-anak sangat sempit, sehingga hidup tidak warna-warni dan menyenangkan.
Oleh karena itu, untuk mengantar anak menjadi anak yang shalih dan berkepribadian kuat tidak cukup dengan do’a saja. Anak harus diasuh, dididik, dibimbing secara berkelanjutan dalam suasana penuh cinta dan kasih sayang. Agaknya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa syarat pertama dan utama dalam mendidik anak adalah pengertian dan kesadaran orangtua terhadap wujud kepribadian sang anak. Segenap gerak-gerik, perkataan, perilaku, sikap orang diperlihatkan kepada anak semuanya mengandung pendidikan.
Dalam suatu riwayat disebutkan, suatu ketika Ummu al-Fadhl menggendong seorang bayi, Nabi Muhammad SAW kemudian mengambil dan menimang bayi itu. Tiba-tiba si bayi pipis dan membasahi pakaian Nabi SAW. Segera saja Ummu al-Fadhl merenggut bayinya secara kasar dari gendongan Nabi. Lalu Nabi bersabda “Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa si anak akibat renggutanmu yang kasar itu?”
Begitulah Rasulullah mengajarkan, bahwa dalam mendidik anak sedapat mungkin menghindari kekerasan secara verbal (kata-kata/lisan) maupun fisik. Maksudnya, tidak melakukan dengan kata-kata kasar, keras atau teriak-teriak. Tetapi menggunakan kata-kata yang bagus dan lemah-lembut. Kekerasan secara fisik seperti sering memukul sehingga membekas pada anak juga agar tidak dilakukan.
Saat menapaki usia remaja. Rasulullah SAW mengingatkan agar orang lebih waspada dengan mendidik anak lebih tegas lagi. “Perintahkanlah anak-anakmu sekalian shalat pada waktu mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat, padahal mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisah-pisahkan tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Dawud).
Sampai pada usia sepuluh tahun boleh dipukul apabila anak masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk menjadi anak yang taat. Tetapi yang lebih mendasar untuk diperhatikan adalah orangtua harus mengajari dan memberi contoh terlebih dahulu dan orangtua harus terus membimbing anak secara terus-menerus sejak usia dini hingga usia remaja. Bahkan perlu ada pengulangan-pengulangan sehingga anak benar-benar terbiasa dengan aktivitas itu.

Perlakuan yang penuh cinta dari orangtua pada anak akan membekas dan membentuk kepribadian berkarakter mereka di masa dewasa. Barangkali inilah makna yang terkandung dalam anjuran Nabi SAW : “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak berbakti kepadanya. Bagaimana caranya? Nabi menjawab : Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebani dengan beban yang berat, tidak memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” (HR. Ahmad). [islamaktual/sm/m.jinan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top