Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Islam adalah agama Allah. Diwahyukan oleh Allah kepada para Rasul-Nya. Sejak dari Nabi Adam a.s sampai yang terakhir Nabi Muhammad saw Kemudian disampaikan dan diajarkan oleh mereka kepada manusia. Jadi, mereka semua tanpa terkecuali menerima, membawa, dan menyiarkan Islam. Agama ini sebagai hidayah dan rahmat-Nya kepada umat manusia. Selain itu menjamin kesejahteraan hidup material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi.
Para Rasul utusan Allah itu berbeda zaman dan luas wilayah keterutusan masing-masing. Mereka, sebelum Nabi Muhammad saw, selain hanya untuk masa tertentu, juga keterutusan mereka terbatas. Hanya bersifat lokal, nasional, dan paling tinggi sampai tingkat regional. Yang dimaksudkan disini diutus hanya kepada suku, bangsa dan manusia yang tinggal di kawasan tertentu. Tidak demikian halnya dengan Nabi Muhammad saw yang beliau diutus sebagai Nabi terakhir dan Rasul penutup (QS. al-Ahzab [33]:40). Sesudah beliau, Allah tidak lagi mengutus nabi dan rasul. Beliau diutus kepada segenap umat manusia (QS. al-A’raf [7]:158 dan QS. Saba’ [34]:28). Ajaran-ajarannya berlaku sampai akhir zaman.
Syariat yang dibawa tiap Nabi bisa berbeda antara satu sama lain. Namun, hakikat agama yang mereka bawa tetap hanya satu, yakni Islam. Sebab Islam inti pokok utamanya adalah penyerahan diri sepenuhnya secara tulus kepada Allah. Memang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Bahkan Allah sendiri menyatakan kesaksian-Nya bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kesaksian itupun diberikan oleh malaikat dan orang-orang yang berilmu (QS. Ali Imron [3]:18). Siapa yang beragama Islam dinamakan muslim. Kalau banyak disebut muslimun atau muslimin. Mereka adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Penyerahan diri secara bulat kepada yang satu, itulah Tauhid dan itulah Islam. Nah, siapa yang beragama Islam tidak dibenarkan syirik. Dilarang menyekutukan Allah.
Islam ibarat rantai yang mata rantainya sambung bersambung tiada terputus. Jadi, Islam itu satu rantaian agama Allah yang dibawa para Nabi. Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw sebagai mata rantai terakhir merupakan agama paripurna, berlaku sepanjang masa, dan diridhai Allah (QS. al-Maidah [5]:3). Dengan demikian, syariatnya menjadi penutup syariat-syariat sebelumnya. Syariat yang diturunkan itu untuk didengar, dibaca, dipahami dan ditaati oleh kaum Muslimin. Bukan sekedar didengar lalu dilalaikan atau tidak diperhatikan. Apalagi kalau sampai ditinggalkan. Tentulah tidak sama sekali.
Islam telah menetapkan sistem nilai yang mengatur semua aspek kehidupan manusia. Didalamnya ada kejelasan tentang jalan kebaikan yang harus ditempuh. Selain itu, ada pula jalan keburukan yang tentu agar dijauhi. Didalamnya ada kepastian mana yang menjadi perintah yang mesti dijalani. Dan mana pula larangan yang harus dihindari. Menaati perintah diyakini membawa kebaikan, keuntungan, kedamaian, dan keselamatan. Mematuhi larangan tentu tidak menjerumuskan, merugikan, dan menyengsarakan. Bahkan menjauhkan dari marabahaya. Dalam menaati perintah dan mematuhi larangan mestilah dengan kesadaran dan keikhlasan.
Kaum Muslimin harus meningkatkan keislaman atau kepenyerahan total kepada Allah. Keimanannya pun perlu terus dihidupsuburkan dari waktu ke waktu. Keislaman dan keimanan yang menguat berpengaruh pada semangat menjadi menguat pula. Sebaliknya, keislaman dan keimanan yang melemah berakibat menurunkan atau melemahkan semangat. Dalam rangka penguatan dan peneguhan itu, kaum Muslimin perlu makin mengenal diri sendiri secara dalam. Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Allah. Mengenal Allah dengan menyaksikan menyaksikan bekas ciptaan-Nya. Buah baiknya menimbulkan penyerahan diri, ketundukan, ketaatan, dan mengikuti peraturannya. Selanjutnya beroleh kecintaan lebih dan mendapatkan pertolongan-Nya.
Indonesia masyarakatnya majemuk dalam suku, ras, dan agama. Persaingan ketat dalam penyiaran agama di masyarakat, harus diakui terus berlangsung. Tarik menarik yang kuat berebut pengaruh dalam dakwah, baik terang-terangan maupun terselubung, juga terus berjalan. Tarik menarik dan persaingan itu tentu sah-sah saja. Asal dilakukan secara sportif, sehat, jujur dan adil. Tidak main kayu dan menghalalkan segala cara. Aturan permainan di negara kita yang berdasarkan Pancasila dalam dakwah atau penyiaran agama juga harus diindahkan, ditaati, dan ditegakkan oleh semua pihak.

Kaum Muslimin dalam berdakwah harus, merapatkan barisan dan menertibkan shaf (QS. ash-Shaff [61]:4). Saling menolong (QS. at-Taubah [9]:71 dan QS. al-Maidah [5]:2). Selain itu, memiliki ketegaran berani menyatakan dan kesetiaan untuk membela Islam. “Wa isyhad bi annaa muslimuun” (QS. Ali Imran [3]:52). Dalam surat yang sama pada ayat lain, “isyhaduu bi annaa muslimuun” (QS. Ali Imran [3]:64). Saksikanlah bahwa kami Muslimun. [islamaktual/sm/muchlasabror]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top