Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kehadiran Islamisme dalam dunia politik mutakhir di kancah nasional maupun global merupakan fakta sosiologis yang tak terbantah. Islamisme merupakan salah satu genre integralisme politik di dunia Islam, yang meletakkan agama dan politik sebagai entitas yang menyatu secara monolitik. Di tangan kaum Islamis yang militan bahkan terjadi absolutisasi dan sakralisasi penyatuan agama dan politik sehingga lahir adagium klasik “din wa daulah” yang semula suatu ujaran berubah menjadi ajaran. Dalam telaahan Olivier Roy, Islamisme kontemporer di sejumlah negara Islam justru melahirkan neo-fundamentalisme yang lebih kaku dan keras, sebagai kecenderungan kegagalan politik Islam.
Islamisme transnasional merujuk pada Pan-Islamisme Jamaluddin al-Afghani, yang kini direproduksi menjadi format politik kekhalifahan internasional (al-khilafat al-islamiyah al-alamiyah) yang seolah wajib bagi seluruh dunia Islam. Bagi kaum Islamis, penunggalan dan pengabsolutan sistem kekhalifahan global itu disertai penegasian seluruh sistem politik yang kini absah di setiap negara Islam atau negara Muslim. Lalu lahirlah bias pandangan ekstrem yang melahirkan oposisi biner antara sistem Islami versus sistem khufar atau sistem thagut, yang ketika memperoleh titik picu situasional melahirkan sikap revolusioner dan radikal. Padahal dalam ajaran dan sejarah politik Islam sesungguhnya tidak terdapat format tunggal dan baku tentang sistem politik Islam. Sistem politik Islam itu sepenuhnya ranah dan format ijtihad.
Islamisme ideologis juga memiliki sandaran pada gagasan Islamiyyah Hasan al-Banna, pendiri dan tokoh sentral Ikhwanul Muslimin. Ideologi Islamiyah mengalami radikalisasi di tangan Sayyid Quthb, yang memperoleh lahan subur dalam tekanan politik rezim Gamal Abdu Nasser yang menghadirkan pertempuran politik sengit antara Islamisme militan-radikal versus nasionalisme-sekuler. Ideologis Islamisme militan-radikal itu kemudian menjalar ke banyak negeri Islam dan dunia internasional saat ini yang melahirkan gerakan transnasional Islam berhaluan keras di kawasan global. Kelahiran Taliban, al-Qaeda, al-Jamaah al-Islamiyah, kelompok-kelompok Jihadi, dan kini yang paling fenomenal ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) merupakan bentuk reproduksi dari ideologi Ikhwani yang bermetamorfosis dalam banyak varian itu.
Sejauh wacana akademik dan ijtihad politik, Islamisme sebagai salah satu genre politik Islam tentu sah adanya. Namun ketika Islamisme membentuk paradigma, ideologi, dan format politik tunggal yang diabsolutkan dan disakralisasikan dengan menegasikan dan menistakan pilihan ijtihad lain dalam dunia politik Islam, maka lahirlah masalah. Sikap monolitik seperti itu selain bertentangan dengan prinsip ijtihad dan spirit syura dalam Islam, tentu juga akan berhadapan dengan realitas politik yang majemuk di dunia Muslim sendiri. Bayangkan apa yang terjadi manakala sikap politik absolut dan monolitik itu menjadi kewajiban politik yang militan maka di setiap negara Islam atau negeri Muslim yang majemuk dan memilih sistem politik lain maka tidak terhindarkan lahir konflik keras dan revolusioner yang boleh jadi berujung perang saudara di tubuh umat Islam. Pakistan, Afghanistan, dan kini di Timur Tengah, memberi contoh dari konflik keras dan tidak jarang berdarah-darah dalam pertarungan ideologi politik Islam yang monolitik itu. Di Indonesia, negeri Muslim terbesar, reproduksi Islamisme yang tunggal dan absolut juga dapat bermasalah bagi masa depan politik umat dan bangsa yang tentu merugikan dunia Islam sendiri.

Maka, menjadi wajib hukumnya dunia Islam merekonstruksi fiqh siyasah agar tetap menjadi ranah ijtihad dan tidak monolitik. Tariq Ramadan menawarkan “beyond Islamism”, suatu genre Islamisme yang lebih kultural sehingga mampu beradaptasi dan menampilkan diri dalam wajah yang majemuk sehingga lahir Muslim Eropa, Muslim Amerika, dan sebagainya. Seraya meninggalkan copy-paste Muslim Arab atau Timur Tengah yang monolitik. Di Indonesia, rekonstruksi fiqh siyasah bahkan menjadi sebuah keniscayaan karena negeri dan bangsa ini majemuk dan memiliki wajah Islam yang moderat. [islamaktual/almanar/haedarnashir]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top