Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ali ibn Abi Thalib dikenal sebagai sahabat dan khalifah yang cendekia. Nabi sempat berkata ana madinat al-’ilmi wa ali babuha, aku adalah kota ilmu dan Ali pintunya. Ali-lah orang yang pertama masuk Islam dalam usia sepuluh tahun. Dia, karena kedekatannya dengan Nabi dan kecerdasannya, dikenal sebagai penafsir al-Qur’an yang paling fasih.
Ali Audah melukiskan sosok Ali ibn Abi Thalib. Bahwa sebagai orang yang paling dekat dengan Rasulullah di rumah dan di luar rumah, dan sebagai salah satu penulis wahyu, Ali banyak tahun tentang ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi; dalam hubungan apa ayat-ayat itu diturunkan, ditujukan kepada siapa. Berkat kedekatannya dan kesetiaannya kepada gurunya itu, ia dapat menyerap segala yang diajarkan kepadanya, ditambah lagi karena ia sendiri memang cerdas, berbakat dan seleranya tinggi. Di kalangan para sahabat, Ali ibn Abi Thalib dikenal sebagai cendekiawan zamannya. Tidak jarang para sahabat pun banyak yang bertanya kepada Ali jika menghadapi masalah-masalah hukum yang tak mudah dipecahkan. Penyusunan al-Qur’an pertama kali secara kronologi dinisbahkan kepadanya, juga pengetahuannya yang luas mengenai al-Qur’an dan Hadits memang sangat membantu para khalifah dalam memecahkan berbagai masalah hukum atau fiqih.
Namun Ali ibn Abi Thalib bukan hanya ilmuwan atau begawan berpengetahuan luas. Ia pun sosok yang rendah hati dan mau mengajarkan ilmunya kepada siapa saja. Tak bosan-bosannya, tulis Audah, ia memberi pelajaran agama dan akhlak kepada siapa saja yang ingin belajar, tanpa pilih bulu. Itulah salah satu kesenangannya. Mengajar kata dan perbuatan. Mengajarkan al-Qur’an, tafsir dan hadits. Tafsir yang diajarkannya selalu segar, mendalam dan jelas. Kemudian, mengajak mereka yang diajar untuk shalat berjamaah. Besar sekali hasratnya hendak menciptakan persamaan diantara semua orang. Ia menghayati benar ayat al-Qur’an, inna akramakum ‘inda Allah atqakum (al-Hujurat [49]:13), sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah mereka yang bertakwa. Ia pun berpegang teguh pada sabda Rasulullah, bahwa “tidak ada kelebihan orang Arab dari yang bukan Arab selain dari takwanya”.
Putra Abu Thalib itu selain ilmuwan dan mengamalkan ilmunya, dikenal sebagai sosok pemberani dalam menyiarkan Islam. Di kala Nabi hendak hijrah dalam kepungan kaum Quraisy yang hendak membunuhnya, Ali ibn Abi Thalib tidur menggantikannya dengan mempertaruhkan jiwa raga. Ia masuk Islam penuh kesadaran, tanpa minta persetujuan ayahnya, Abu Thalib. Ketika Nabi diperintahkan Allah SWT untuk berdakwah secara terang-terangan (QS. asy-Syu’ara [26]:214), yang ditentang keluarga besarnya dari Bani Hasyim. Tatkala itulah Ali dengan lantang berkata: “Ana yaa Rasulullah auwnaka, ana hurabu ‘ala man harabta”, (Ya Rasulullah, akulah yang akan membelamu dan aku lawan siapa saja yang melawan Anda). Para kerabat Bani Hasyim dan borjuis Quraisy itu terbelalak dengan keberanian Ali yang masih sangat belia pada saat itu.
Ali ibn Abi Thalib adalah sosok intelektual yang tidak hanya berilmu tinggi. Ia mengamalkan ilmunya sekaligus menjadi mujahid Islam yang gigih, santun, pejuang persamaan, dan pemberani dalam menegakkan risalah Islam. Ali bukan sosok berilmu minus beramal. Bukan hanya bicara dan berdiri di menara gading, apalagi angkuh. Ia menghayati betul apa yang diperingatkan Allah dalam al-Qur’an: “Amat besar kemurkaan disisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. ash-Shaff [61]:3).

Menjadi Muslim berilmu wajib terlibat dalam peran-peran perjuangan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Itulah sosok ulil albab yang memadukan iman, ilmu, dan amal. Menyelaraskan kekuatan intelektual, spiritual, moral dan peran sosial sehingga kehadirannya membawa pencerahan serta menjadi rahmat bagi semesta alam. Para cendekia itu benar-benar menjadi sang pencerah bagi diri dan lingkungannya. Bukan menjadi ilmuwan menara gading yang hanya bicara minus tindakan, sehingga menjadi orang yang merugi sebagaimana hadits Nabi: “Celakalah orang-orang yang tidak berilmu, dan celaka pulalah orang-orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya” (HR. Abu Na’im). [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top