Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Malu yang dalam bahasa Arabnya disebut al Haya’ adalah “perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu yang dapat menimbulkan cela atau aib, baik berupa perkataan maupun perbuatan”. Ibn Maskawaih memberikan ta’rif malu dengan “sikap menahan diri karena takut melakukan perbuatan yang buruk, yang karena itu ia berusaha menjauhi, agar tidak mendapatkan cela atau kehinaan”.
Dengan adanya perasaan malu, membuat seseorang merasa tidak nyaman dan enggan melakukan perbuatan rendah dan tercela. Sebaliknya merasa lega dan nyaman apabila dapat melakukan kebajikan. Seseorang yang memiliki perasaan malu, kalau ia melakukan perbuatan yang tidak patut, rendah dan tercela, ia akan terlihat gugup atau mukanya merah. Sebaliknya orang yang tidak punya rasa malu, meskipun yang dilakukannya itu sebuah kejahatan dan dosa besar, ia akan terlihat tenang tanpa ada rasa gugup sedikitpun.
Dengan pengertian seperti itu, maka perasaan malu menjadi faktor pengendali dan pengaman, disamping sekaligus menjadi faktor pendorong dan penggerak. Sebagai faktor pengendali, perasaan malu mengendalikan dan mencegah seseorang dari melakukan perbuatan keji dan munkar, disamping mencegah seseorang dari perbuatan yang tidak patut dan tidak wajar. Sebagai faktor pendorong dan penggerak, perasaan malu mendorong dan menggerakkan orang untuk melakukan perbuatan-perbuatan ma’ruf dan amal shalih.
Dengan demikian keberadaan perasaan malu pada diri seseorang, tidak saja penting dan bermanfaat bagi kehidupan orang tersebut secara individual, tetapi juga bagi kehidupan manusia secara keseluruhan. Sebab dengan adanya perasaan malu pada diri seseorang, tidak saja dapat mendorong lahirnya sikap dan perilaku yang mendatangkan kemaslahatan bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga dapat mencegah hadirnya sikap dan perilaku yang mendatangkan bencana dan malapetaka bagi orang banyak.
Kalau kita cermati kehidupan serta kondisi umat dan bangsa kita sekarang ini, kita melihat berbagai permasalahan dan krisis masih membayangi kehidupan bangsa kita. Disamping krisis ekonomi yang belum sepenuhnya dapat diatasi, bangsa kita juga menghadapi permasalahan sosial yang cukup berat. Berbagai permasalahan sosial yang masih membelit kehidupan kita sekarang ini, seperti kemiskinan, pengangguran, rendahnya mutu SDM, rendahnya derajat kesehatan, kebodohan, keterbelakangan, dan sebagainya. Disamping itu, masyarakat kita sekarang ini juga mengalami kemerosotan akhlak yang luar biasa, yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan bangsa, baik dalam bentuk tindak kriminal seperti pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, penyalahgunaan wewenang, korupsi, meningkatnya peredaran narkoba, meluasnya pornografi dan pornoaksi, berbagai tindak penyimpangan dan pelanggaran norma hukum, maupun tindak kekerasan, yang mengakibatkan timbulnya rasa takut dan cemas, serta kegelisahan dan keresahan di kalangan masyarakat.
Kalau kita cermati secara mendalam, salah satu penyebab utama terjadinya krisis multi-dimensi, yang mengakibatkan umat dan bangsa kita lemah seperti sekarang ini, disamping faktor yang lain, adalah karena hilangnya perasaan malu dari diri sementara kita. Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat, kita melihat orang sudah tidak merasa malu lagi melakukan tindak maksiat, penyimpangan dan penyelewengan. Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc. MA., dalam bukunya “Kuliah Akhlaq” menyatakan: “Betapa kita merasa heran apabila melihat seorang Muslim melanggar nilai dan ajaran agamanya tanpa rasa rikuh sedikitpun. Seorang pedagang tidak malu-malu menawarkan kepada pembeli untuk membuatkan kwitansi fiktif. Seorang oknum petugas tidak malu-malu meminta uang pelicin kepada anggota masyarakat yang sedang membutuhkan jasanya. Seorang mahasiswa tidak malu-malu mencontek saat ujian. Seorang pemuda tidak malu-malu berdua-duaan dengan gadis yang bukan mahramnya. Seorang suami tidak malu-malu membohongi istrinya. Seorang istri tidak malu-malu melawan suaminya. Seorang bapak tidak malu-malu mengabaikan pendidikan anak-anaknya. Seorang anak tidak malu-malu mendurhakai orangtuanya. Bahkan sesuatu yang rasanya mustahil terjadi menurut ukuran minimal iman sudah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Lihatlah misalnya berapa banyak kasus pagar makan tanaman. Seorang ayah kandung tidak malu-malu menzinai anaknya sendiri. Bahkan seorang suami tidak malu-malu memaksa istrinya untuk mencarikan seorang gadis untuk diperkosa dihadapan istrinya sendiri hanya untuk memuaskan nafsu balas dendamnya. Benar, bila budaya malu tidak lagi hidup di tengah-tengah masyarakat, maka manusia kehilangan kemanusiaannya, berubah menjadi binatang, bahkan lebih jelek dari binatang”.
Satu hal yang perlu kita sadari adalah, bahwa lenyapnya perasaan malu dari diri kita adalah merupakan awal dari kehancuran dan kebinasaan. Apabila orang tidak punya rasa malu, maka dia akan lepas kendali. Bebas melakukan apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Rasulullah Muhammad SAW bersabda yang artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya diantara yang didapat oleh manusia dari kata-kata kenabian yang pertama ialah ‘apabila engkau tidak lagi mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu’.” (HR. Bukhari).

Akhirnya, kalau kita menginginkan agar segala macam krisis, permasalahan dan kesulitan yang menerpa kehidupan kita itu menyingkir, kita harus menanamkan dan mengembangkan nilai dan budaya malu dalam diri kita, disamping nilai-nilai utama lainnya, seperti: keikhlasan, kejujuran, keadilan, amanah, sabar, penyantun, hidup sederhana, pemaaf, pandai mensyukuri nikmat dan sebagainya. [islamaktual/sm/rosyadsholeh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top