Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Hakikat kebaikan dan kebenaran dalam Islam tidak semata-mata dilihat dari bentuk dan tujuan perbuatan menurut ukuran penilaian manusia. Retorika yang indah, tingkah laku yang baik, menolong dan membantu orang lain, memberi manfaat kepada sesama, dan akhlak mulia lainnya memang sangat ditekankan dan menjadi kewajiban Muslim. Tetapi itu semua belum cukup menjamin kemuliaan seseorang baik di hadapan sesama makhluk, apalagi di hadapan Allah.
Segenap perbuatan seorang hamba yang dapat mengantarkannya menjadi pribadi otentik dan bermartabat aoabila telah memenuhi kriteria asasi. Pertama, perbuatan harus didasari niat ikhlas karena mengharap ridla Allah semata. Hadits dari Umar bin Khattab, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya, perbuatan-perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang akan bergantung dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari). Niat dalam hati akan menentukan hasil yang akan diperoleh baik di dunia atau di akhirat. Tanpa sebuah niat, apa yang Anda lakukan dan amal perbuatan bisa jadi tidak bernilai, tiada memberi faedah (manfaat), hanya membuahkan kesia-siaan.
Kedua, dasar kebaikan dan kebenaran suatu perbuatan adalah dilaksanakan sesuai dengan ketetapan syar’i, tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan prinsip-prinsip kebaikan lainnya. Dua hal tersebut harus menyatu dalam setiap kata dan perbuatan kaum Muslim, dan menentukan apakah perbuatan itu baik atau tidak dan benar atau salah.
Sebagian orang dalam menganyam keshalihan sosial di masyarakat dan berbangsa menganut falsafah “dalam hidup ini yang penting baik kepada sesama, tidak menyakiti orang lain”. Tentu saja falsafah ini mengandung kemuliaan dan baik pula menjadi pedoman dalam tata hidup bersama. Hanya saja, penganut falsafah ini seringkali rapuh dalam kepribadian dasarnya.
Sementara dalam perspektif keimanan kaum Muslim falsafah demikian tidak boleh berhenti sebatas itu, seluruh rangkaian perbuatan yang dianggap baik harus berasal dan bermuara pada keikhlasan kepada Allah. Sebagaimana dikisahkan dalam Hadits Qudsi, oleh Abu Hurairah, bahwa ada tiga kelompok manusia yang akan berdialog dengan Allah di hari akhirat kemudian ketiganya digiring ke neraka.
Pertama, orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya, serta membaca dan membacakannya, tetapi niatnya agar orang-orang menyebutnya sebagai qari’ (yang pandai). Kedua, orang yang berperang (atau berjihad) ke medan perang dengan bersemangat, tetapi niat utamanya agar orang menyebutnya sebagai pemberani dan kesatria. Ketiga, orang yang bersedekah dan berderma kepada orang lain, tetapi dilandasi niat agar orang-orang di sekitar menyebutnya sebagai dermawan dan pemurah.
Dalam riwayat Hadits itu disebutkan bahwa di dunia masing-masing telah mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkan, yaitu sebutan sebagai qari’, pemberani, dan dremawan. Terhadap Hadits ini, Ibnu Taimiyah mengatakan, ketiga kelompok itu adalah orang-orang yang ingin amalnya dilihat (riya’) dan didengar (sum’ah), membanggakan diri, dan jauh dari orang-orang yang benar, bukan kebaikan yang diperoleh, tetapi kehidupan yang buruk sebagai imbalannya.
Lebih dari itu, terkait dengan hakikat perbuatan kaum Mukmin, al-Qur’an membuat satu pemisalan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah)...” (QS. al-Baqarah [2]:264).

Selama masih ada kesempatan, setiap orang wajib berusaha untuk meluruskan niat amal perbuatannya sehari-hari yang belum bersandar pada niat yang benar, agar tidak termasuk orang-orang yang merugi. Dalam waktu yang sama, diharuskan pula menyesuaikan segenap perilakunya dengan prinsip-prinsip etik sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. Dari sinilah awal seseorang akan mudah menyatukan dan mengaitkan antara kata dan laku, ucapan dan perbuatan, motivasi dan tujuan, sehingga tampil sebagai sosok yang utuh dan berkarakter. [islamaktual/sm/mutohharunjinan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top