Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dalam dunia pendidikan sudah sangat dikenal istilah ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), psikomotor (tampilan tindakan), dan ‘to live together’ (kesadaran hidup bersama). Istilah-istilah tersebut selalu membayangi siapa saja yang berbicara tentang dunia pendidikan, entah selaku penyelenggara pendidikan, guru/pendidik, pakar pendidikan, apalagi pemikir pendidikan.
Kalau kita berbicara tentang iman yang berbasis ‘tauhid’, juga tidak lepas dari keempat ranah diatas. Jika keempat-empatnya berhasil dicapai secara seimbang, maka bolehlah dikatakan sebagai sebuah keberhasilan “membumikan tauhid”. Dikatakan demikian karena tidak jarang dalam proses penghayatan tauhid tersebut proporsi keempat ranah tersebut terasa pincang. Misalnya pengetahuan tentang keimanan dalam Islam (yakni untuk ranah kognitifnya) tampak begitu luas lantaran begitu intensifnya membaca dan menelaah kitab-kitab tentang akidah Islamiyah atau karena begitu getolnya mengikuti ceramah-ceramah agama yang berisi uraian tentang akidah, entah lewat pengajian atau media televisi, namun afeksi, psikomotor, dan ‘to live together’ yang ditampakkannya masih jauh dari harapan dan kenyataan. Kenyataan seperti ini dapat ditelusuri bukti-bukti konkretnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau begitu, dimana letak kesalahannya? Disinilah perlunya “membumikan tauhid”.
Menurut al Qur’an, ketika manusia menghadapi Dzat yang disebut “Tuhan”, ditakdirkan dalam perasaan manusia apa yang disebut rasa “takut”, khifah (QS. al-A’raf [7]:205). Namun di balik rasa takut tersebut justru menggebu-gebu rasa “harap”, “rindu”, thama’ (QS. as-Sajadah [33]:16). Rasa khifah dan thama’ ini akan senantiasa ada, bersemayam dalam jiwa yang paling dalam, dan senantiasa muncul ke permukaan. Karena itu wajar jika manusia senantiasa cenderung “mencari” Tuhan dan rindu kepada-Nya.
Rudolf Otto (1869-1937), seorang filosof dan teolog Jerman yang dikenal sebagai salah seorang pemikir keagamaan yang paling berpengaruh di Barat pada permulaan abad ke 20 ini, mengatakan bahwa Dzat yang disebut “Tuhan” bagi manusia senantiasa berposisi sebagai Dzat yang ‘mysterium tremendum et faseinesum’ (bersifat misteri tak terpecahkan tetapi sekaligus membuat orang menjadi tergetar/takut dan terpesona/rindu). Barangkali pendapatnya ini mirip dengan konsep Islam, khifah dan thama’ di atas. Bahwa konsep khifah dan thama’ serta ‘mysterium tremendum et faseinesum’ inilah yang senantiasa dipertahankan seluruh agama, tanpa terkecuali dalam agama Islam. Tuhan tidak pernah mampu dipahami manusia secara utuh (lengkap); mesti tetap “misteri” walaupun sedikit-sedikit ada bagian-bagian yang dikuakkan sendiri oleh Tuhan yang sebatas kemampuan daya kepahaman manusia. Dalam agama Islam misalnya dikuakkan sedikit tentang “nama Tuhan” (yaitu Allah SWT), sifat-sifat-Nya (antara lain dalam asmaa’u-’l-husnaa) dan perbuatan-perbuatan-Nya (misalnya dengan adanya bukti keterciptaan alam semesta ini). Sungguh pun begitu, Allah SWT tetap misteri juga.

Mengapa Tuhan selalu dibuat misteri? Jawabannya adalah agar manusia tetap takut dan sekaligus tetap rindu kepada-Nya. Takut tidak berani untuk tidak taat kepada-Nya, rindu karena senantiasa ingin karunia pahala dari-Nya. Sikap seperti ini penting bagi pengemban iman selaku manusia. Pertama, penting untuk menjaga kekokohan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, Allah SWT. Disinilah lalu timbul istilah “tauhid uluhiyah”, “tauhid rububiyah”, dan “tauhid ruhumiyah”. Tauhid uluhiyah menyangkut peng-Esa-an terhadap a-b-c Dzat-Nya yang dalam al Qur’an ditegaskan tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia (QS. al-Ikhlas [112]:4). Inilah puncaknya tauhid. Sedangkan tauhid rububiyah, menyangkut peng-Esa-an terhadap segala kuasa perbuatan-Nya atas ciptaan dan alam semesta ini seluruhnya (QS. al-Fatihah [1]:2). Kemudian, tauhid ruhumiyah menyangkut sifatnya yang sifatnya melindungi terhadap seluruh ciptaan dan makhluk-Nya. Sering-sering tauhid yang berkaitan dengan hubungan vertikal ini begitu dominannya dalam bagian terbesar umat Islam. Sebenarnya masih ada satu lagi implementasi tauhid itu, yaitu tauhid yang kedua. Tauhid kedua adalah “tauhid khalifah fi-l-’ardl”, yaitu tauhid yang bersangkutan dengan amanah yang diberikan Allah SWT kepada manusia selaku “wakil Allah SWT di planet bumi”. Apa saja yang dilakukan dan diperbuat manusia seharusnya atas dasar tauhid kedua ini. Dengan dasar ini, tidak akan terjadi ketamakan/kelobaan, kesewenang-wenangan, pemuasan egoisme, ketidakadilan, ketidak seimbangan, penindasan dan sebagainya. Dari tauhid model kedua inilah seharusnya dimunculkan misalnya “tauhid sosial” sebagaimana pernah dilontarkan oleh Prof. Dr. Amien Rais, “tauhid ilmu” sebagaimana digagas oleh Prof. Dr. Kuntowijoyo, “tauhid peradaban” sebagaimana digagas oleh Prof. Dr. Nurcholis Madjid. “tauhid kemanusiaan” yang mulai dirintis oleh Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif, dan “tauhid ke-alamsemestaan” (dari konsep “rahmatan li-’l ‘alamin) yang masih dalam proses formulasi. Jika keseluruhan jenis tauhid di atas, baik tauhid model pertama maupun model kedua, dapat diwujudkan dalam arti yang sebenar-benarnya, sekonkret-konkretnya, maka apa yang disebut “membumikan tauhid” benar-benar mencapai bentuknya, bukan sekedar pada tingkat wacana atau cita-cita belaka. Barangkali usaha ke arah itu sudah tidak pada tempatnya ditunda-tunda lagi. Bukankah demikian? Wallahu a’lam bishshawaab. [islamaktual/sm/m.damami]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top