Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Menurut Mu’tazilah, bahwa urutan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah akal, lalu nas. Apakah ini artinya nash dapat diakal-akali?
Nash tidak dapat dipahami tanpa akal. Akal itu rasional., Akal-akalan itu sesuatu yang tidak masuk akal, tapi dipaksa ngakal. Jadinya diakal-akali.
Pertanyaan, darimana kita tahu bahwa hukum Tuhan itu sah? Lantas apa fungsi wahyu? Apakah fungsi wahyu hanya sebagai konfirmasi atas temuan akal?
Hukum Tuhan itu sah, tahunya dari akal. Akal mengadakan penelitian bahwa yang mutawatir itu berita benar, terpercaya dan sah. Al-Quran mutawatir, berarti al-Qur’an benar, terpercaya dan sah. Jika keberadaan al-Qur’an sebagai berita yang benar dan sah, berarti iya layak dijadikan sandaran hukum
Jika ia demikian, secara otomatis berita dan informasi yang ada di dalamnya harus dapat dipercaya. Jika demikian, segala perintah dan larangannya pasti benar. Jika demikian, harus dilaksanakan
Jadi, wahyu harus dilaksanakan. Bagaimana bisa memahami wahyu?
Di sini kembali kepada akal.
Contoh: Dari mana tau shalat itu wajib? Dari fiil amr. Orang lughah setelah mengadakan penelitian induktif mengatakan bahwa dalam bahasa Arab, fiil amr untuk perintah.dan biasanya perintah itu harus dilaksanakan. Kecuali ada indikator (qarinah). Lafal aqimishalah itu fiil amr untuk melaksanakan shalat. Berarti shalat itu harus dilaksanakan. Apalagi tidak ada indikator yang menyatakan ia tidak wajib. Maka shalat jadi wajib.
Demikian yang dimaksudkan akal dulu, baru wahyu. Jadi bukan wahyu hanya sebagai konfirmasi atas temuan akal. Tapi dengan akal, wahyu dinyatakan benar dan sah, maka ia layak diterapkan.
Dengan akal wahyu dinyatakan benar dan sah. Kalau tidak ada akal, apa wahyu tidak bisa dikatakan benar?? Kebenaran wahyu itu ada pada dirinya, atau ada pada luar dirinya?
Kebenaran wahyu itu ada pada dirinya. Andai tidak ada akal, wahyu tetap benar. Namun wahyu turun untuk orang yang berakal, sehingga, orang yang berakal tadi, harus membuktikan dulu, bahwa yang ia terima adalah wahyu yang sebenarnya, bukan ‘wahyu abal-abal’. Karena banyak juga yang mengaku nabi, dan mengaku dapat wahyu. Namun bagaimana kita dapat membuktikan validitas wahyu tersebut? Lagi-lagi dengan akal, validitas wahyu dapat dibuktikan. Benar, nash adalah ayat dan akal juga ayat. Keduanya tidak saling bertentangan. Sebagaimana nash itu adalah ayat, bukankah akal juga ayat? Sebagaimana al-Quran itu ayatullah, bukankah akal juga ayatullah?
Kalau logikanya dibalik bagaimana? Dengan wahyu, validitas kebenaran akal dapat dibuktikan. Atau dengan wahyu, kebenaran akal dapat dibenarkan. Ini sebenarnya dialog antara Mu’tazilah dan Asyariyah.
Bagaimana dengan keyakinan Khadijah di awal Islam tentang kebenaran al-Qur’an sedangkan di saat itu belum mutawatir? Bukankah keyakinan khatijah tidak ada kaitannya kepada mutawatir karena dia dengar langsu dari Nabi? Tapi kaitannya kepada kepercayaannya kepada kenabian kanjeng nabi? Bukankah yang kaitanya dengann tawatur itu, dari tabi’in dan setelahnya?
Jawabnya adalah jika wahyu sudah dinyatakan sah dan benar, maka logika terbalik besa diterapkan. Namun bagaimana jika validitas wahyunya belum dibuktikan? Apakah wahyu dapat menjadi acuan? Jangan-jangan wahyu yang diterima itu abal?.
Untuk kasus Khadijah, waktu itu al-Qur’an memang belum mutawatir. Namun ia mempunyai bukti lain untuk mengetahui validitas wahyu, yaitu kepercayaan penuh terhadap suaminya yang terkenal dengan kejujuran. Orang Quraisy juga banyak yang berislam dengan menggunakan parameter lain, yaitu keindahan sastra al-Qur’an. Tentu semua menggunakan akal.
Jadi, mutawatir itu hanya salah satu cara untuk menentukan validitas al-Qur’an, dan bukan satu-satunya cara. Orang Barat saat ini banyak yang masuk Islam, juga bukan karena pengetahuan mereka tentang al-Qur’an yang mutawatir, tapi lebih kepada substansi ajaran yang ada dalam al quran. Lagi-lagi, untuk mengecek validitas wahyu, mereka punya cara lain.
Kalau akal dijadikan dasar validitas wahyu, lalu apa dasar validitas kebenaran akal? Jangan-jangan akal akalan? Akal dan akal-akalan berbeda, sudah kita terangkan di atas.
Kalau akal untuk membuktikan kebenaran wahyu, lalu apa yang bisa membuktikan kebenaran akal?
Jawabannya, yang bisa membuktikan kebenaran akal dengan akal sendiri. Makanya dalam al-Qur’an, manusia disuruh untuk menggunakan akalnya. Karena akal tidak akan bertentangan dengan wahyu, sebagaimana pendapat ibnu Taimiyah dan ibnu Rusd.
Contoh: 1+1=2. Bagaimana membuktikan bahwa 1+1=2?. Menggunakan akal lagi, yaitu 2-1=1
Kalau akal bisa membuktikan kebenarannya sendiri, lalu apa fungsi wahyu?
1. Wahyu memperkuat fungsi akal.
2. Wahyu memberikan informasi terkait etika dengan tuhan, manusia, alam dll.
Poin ke-2, baru dapat dilaksanakan jika validitas wahyu sudah dinyatakan sah oleh akal.
Bagaimana wahyu menguatkan akal, sementara validitasnya membutuhkan akal? Atau mungkin lebih jelasnya, jika validitas wahyu ditentukan oleh akal, sementara akal validitasnya ditentukan oleh dirinya sendiri, Itu artinya akal lebih tinggi dan lebih kuat dari wahyu. Lalu, wahyu yang lemah menguatkan akal yang kuat ???
Jadi pertanyaannya akal itu untuk memahami wahyu atau melegitimasi kebenaran wahyu. Pada jawaban Khodijah, fungsi akal tidak berkaitan dengan pembenaran wahyu itu, tapi wasilah dalan memahami kebenaran wahyu?.
Jika pernyataan dibalik, validitas akal ditentukan oleh wahyu, timbul pertanyaan:
  1. Dari mana kita tahu bahwa wahyu yang kita terima adalah wahyu yang benar dan bukan abal-abal?
  2. Bagaimana dengan orang yang belum menerima wahyu? Apakah akal mereka lemah? Apakah mereka kehilangan akal? Apakah akal mereka tidak dianggap? Atau apakah mereka duduk-duduk manis saja tanpa berbuat apapun di dunia ini sambil menunggu kedatangan wahyu?
Bagaimana wahyu menguatkan akal sementara akal menguatkan dirinya sendiri? Bukankah wahyu lebih lemah dari akal?
  1. Wahyu menguatkan akal, bukan berarti wahyu lebih lemah dari akal. Menguatkan artinya menyatakan bahwa apa yang disampaikan akal ternyata benar. Seperti jika mas amin makan, lalu saya datang dan bilang bahwa mas amin sedang makan. Ini bukan berarti saya lebih lemah dari mas amin bukan? Itu karena saya datangnya belakangan dan mendapati amin makan. Artinya, akal datang duluan, baru wahyu datang dan mengatakan demikian sehingga dikatakan wahyu menguatkan akal.
  2. Akal dapat menguatkan dirinya sendiri, karena setiap manusia terlahir langsung dibekali dengan akal, sehingga manusia dapat berfikir dengan akalnya. Untuk berfikir, ia tidak usah menunggu hingga wahyu datang. Ia tetap dapat menata kehidupannya dengan akal yang ia miliki. (Bahkan banyak negara yang dapat menghasilkan produk hukum sebelum datang wahyu, tentu dengan akal yang mereka miliki)
  3. Karena posisi akal tersebut, maka akal menjadi manatuttaklif, tempat manusia mendapatkan beban syariah. Jika hilang akalnya, maka beban syariah yang disematkan kepadanya juga gugur.
Akal berfungsi untuk melegitimasi validitas wahyu, selanjutnya setelah ia yakin bahwa wahyu tersebut valid, maka akal digunakan untuk memahami wahyu.
Bagaimana dengan tindakan yang dilakukan oleh Abu Bakar ra. Dengan meminta dua orang saksi, begitu juga dengan kesaksian tentang hak seorang nenek dalam warisan?
Akal berfungsi untuk melegitimasi validitas wahyu?
Kesaksian, merupakan bagian dari ijtihad akal untuk menentukan kebenaran sesuatu. Jika smua saksi mengatakan ‘ya’, maka akal kita akan mengatakan bahwa suatu perkara itu memang ‘iya’. Jika sebagian saksi mengatakan ‘ya’ dan yang lain mengatakan ‘tidak’, maka kebenaran suatu perkara perlu dianalisa lagi oleh akal. Barangkali dengan barang bukti lain dan lain-lain. Mendatangkan saksi juga merupakan ijtihad akal agar sesuatu tidak dapat dimanipulasi, seperti saksi dalam utang piutang dan lainnya. Ringkasnya, saksi merupakan salah satu ijtihad akal untuk memperoleh kebenaran.
Kalau ada yang mengatakan bahwa untuk melegitimasi validitas wahyu akal perlu maklumat pendahuluan, dan itu didapatkan dengan cara sam’iyyaat?
Ini akan berakibat pada daur. Perputaran persoalan yang tiada henti. [islamaktual/almuflihun.com/wahyudiabdurahim]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top