Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Introspeksi (muhasabat al-nafs) dapat dipahami sebagai evaluasi internal, yaitu koreksi dan memeriksa kembali terhadap diri sendiri atas tindakan apa yang telah dilakukan dan bekal apa yang dimiliki. Introspeksi menjadi sangat penting karena setiap orang berpeluang dan berpotensi untuk melakukan kesalahan, kekhilafan, dan kekurang sempurnaan dalam berbagai hal. Hakekat introspeksi adalah menilai kembali apakah tindakan, sikap, dan pikiran kita sudah benar, tidak menyalahi ketentuan, atau ada kekurangan dari tujuan yang diharapkan. Lebih dari itu, bagi kaum Mukmin tujuan moral tertinggi dari introspeksi adalah dalam rangka menyesuaikan segenap aktivitas kita dengan prinsip kebenaran menurut parameter al-Qur’an dan Sunnah.
Dalam al-Qur’an Allah mengingatkan agar kita selalu melakukan evaluasi diri, untuk menyongsong hari esok agar lebih baik. Salah satu di antaranya adalah: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri melihat apa yang telah diperbuat untuk hari esok, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr : 18).
Terkait dengan ayat tersebut Imam Ahmad meriwayatkan satu hadits Rasulullah saw. bahwa suatu siang, para sahabat sedang bersama Rasulullah saw. lalu datanglah suatu kaum dalam keadaan yang sangat lemah dan membutuhkan bantuan. Wajah Rasulullah berubah ketika melihat mereka. Rasul masuk, kemudian keluar dan lalu menyuruh Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah. Rasul pun shalat dan berkhutbah. Beliau berkata: “Wahai manusia, bertakwalah kalian semua kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu… (an-Nisa’:1). Dan beliau membaca ayat: “... dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)...” (al-Hasyr : 18). Seketika itu, seorang laki-laki menyedekahkan dinar, dirham, baju, satu sha’ kebaikan, dan satu sha’ kurmanya. Kemudian, para sahabat beruturt-turut memberikan sedekahnya, hingga sedekah berupa makanan dan baju itu menumpuk seperti dua anak bukit.
Berlandaskan riwayat yang amat menarik tersebut, Ibnu Katsir lalu menafsirkan ayat mengandung pengertian: “Perhitungkanlah diri kalian sebelum nanti kalian diperhitungkan (dihisab) oleh Allah SwT di hari kiamat kelak, dan perhatikanlah perbuatan baik (amal shalih) apa yang sudah kalian simpan/tabung untuk akhiratmu kelak dan untuk menghadap Tuhanmu.”
Tidak sedikit Hadits Rasulullah yang menganjurkan supaya kaum Muslim melakukan koreksi diri. Diriwayatkan dari Umar bin Khattab, beliau mengatakan, Nabi saw mengatakan “Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)” (HR. at-Timidzi). Sementara dari Hadits lain disebutkan, diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, “Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” (HR. at-Tirmidzi).
Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-hadits tersebut memberikan isyarat bahwa memeriksa diri sendiri bukan berarti berpikir mundur dan berorientasi ke masa lalu disertai sikap pesimis melihat masa depan. Sebaliknya, muhasabah itu dilakukan justru untuk memperbaiki dan menyongsong masa depan yang lebih baik dan penuh optimisme. Maksudnya, setelah kita melakukan evaluasi diri (muhasabah), maka seketika itu kita tergerak untuk bersegera melakukan kebaikan. Anjuran melakukan introspeksi tersirat di dalamnya harus melakukan proyeksi. Proyeksi bagaimana menciptakan keadaan hari ini dan esok yang lebih baik, lebih bergairah, lebih sempurna dari kemarin. Segenap aspek kehidupan sepanjang itu berkait dengan amal perbuatan layak untuk dikoreksi.
Imam Ghazali menyebutkan, ada tiga ranah yang seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi kaum Muslim. Pertama, introspeksi terhadap kewajiban-kewajiban (al-faraidh) yang telah ditetapkan oleh Allah. Bila ternyata ditemukan adanya kelalaian menunaikan kewajiban maka segeralah melakukan ibadah pengganti menurut ketetapannya. Bila ditemukan unsur-unsur riya’ dalam ibadah, shalat, puasa, zakat dan sejenisnya maka segera diperbaiki dan menghilangkan sikap itu serta memohon ampun Allah, karena riya’ dapat menghapus nilai amal ibadah kita.
Kedua, introspeksi terhadap perbuatan dosa atau kemaksiatan (al-ma’asyi) yang dilakukan. Bila ternyata telah melakukan kemaksiatan maka seseorang harus mengakui kekhilafan, menyesali, dan segera bertobat dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya menyertai kemaksiatan itu dengan perbuatan-perbuatan baik, karena perbuatan yang baik dapat menutup kemaksiatan dan dosa-dosa kecil yang telah diperbuat.

Ketiga, introspeksi terhadap waktu yang telah berlalu, atau usia yang telah dilalui. Setiap orang tentu memiliki kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan dalam mengarungi usia, biasanya datang penyesalan setelah usia dilalui puluhan tahun. Untuk itu, Imam Ghazali menyarankan supaya kita memanfaatkan waktu yang tersisa untuk kemaslahatan, dengan mencatat, mengingat, dan menilai kembali setiap perbuatan kita antara yang baik dan yang buruk. Bila tindakan itu terkait dengan pencarian harta, maka pemeriksaannya adalah sudah benarkah cara kita memperolehnya? Bila tindakan itu terkait dengan memutuskan suatu perkara, maka koreksinya adalah sudah adil dan objektifkah keputusan itu diambil? Begitu seterusnya introspeksi dilakukan dalam hal apapun. Wallahu a’lam bishshawab. [islamaktual/sm/mutohharunjinan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top