Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Nabi Muhammad sungguh cinta negeri. Tatkala harus meninggalkan Makkah menuju Yastrib, cucu tercinta Abdul Muthalib itu bersedih hati. Dalam pancaran sinar rembulan yang teduh, dipandangnya kota Makkah dengan penuh rasa rindu, seraya berpamitan: “Demi Allah, engkau adalah negeri yang sangat kucintai, jika pendudukmu tidak mengusirku, aku tak akan keluar meninggalkanmu.”
Di Yastrib, Nabi akhir zaman itu membangun peradaban Islam yang utama. Daerah bernuansa pedesaan itu, dalam tempo 13 tahun berubah wajah menjadi al-Madinah al-Munawwarah. Kota peradaban yang cerah dan mencerahkan. Lalu, setelah itu, Nabi bersama kaum Muslimin kembali lagi ke kota Makkah, dengan membawa panji Fathul Makkah.
Makkah, setelah menjadi negeri Islam, menjadi berwatak al-Mukarramah. Kota sarat mozaik kemuliaan. Di negeri ini segala hal aman. Segala nista diharamkan. Kejahiliyahan ditanggalkan. Kemuliaan ditegakkan. Perempuan dan laki-laki dimuliakan tanpa diskriminasi. Kota dimana Ka’bah dan Masjid Al-Haram ini berada, menjadi kiblat seluruh Muslim di dunia.
Jejak Nabi akhir zaman itu menggoreskan tinta emas peradaban, karena risalahnya menegakkan akhlak mulia dan menyebarkan rahmat bagi semesta. Para penerus dan umatnya di belakang hari, mengikutinya sebagai uswah hasanah paling utama. Namun masih banyak juga yang tak mengikuti keteladanannya.
Dalam mengurus negeri, Nabi akhir zaman mengutamakan amanah dan menista khianat. Nabi bersabda, yang artinya: “Ada empat hal, barang siapa yang terdapat padanya empat perkara itu, maka orang itu termasuk munafik yang komplit, manakala terdapat satu di antaranya berarti memiliki sifat kemunafikan; yakni bila dipercaya dia khianat, jika berkata dusta, manakala berjanji tak ditepati, dan apabila dia bertengkar dia tinggalkan yang benar.” (lihat Fath al-Mabady/65).
Apa yang terjadi di Negeri Indonesia yang tercinta? Sungguh banyak paradoks dengan apa yang diteladankan Nabi. Cinta negeri sebatas jargon dan retorika, karena kekayaannya dikorupsi dan dijarah habis. Atas nama rakyat dan negara, tidak jarang menjual-belikan Tanah Air ke pihak asing maupun pengusaha hitam di negeri sendiri. Sungguh tak ada rasa iba dan setia pada negeri yang didiami dan memberikannya banyak kemakmuran.
Nilai-nilai keutamaan sekadar jadi hiasan bibir. Agama dan Pancasila hanya sebatas retorika indah, tak membuahkan perilaku cerah budi. Ketika ingin merebut simpati rakyat, segala kebaikan diperagakan. Usai terpilih, mudah lupa dan ingkar janji. Manakala tak terpilih menumpahkan amarah, hingga barang yang sudah diberikan kepada warga pun diambil kembali tanpa rasa malu.
Kerakusan meluas menjadi perangai kolektif. Sikap hidup hedonis dan memuja materi menjadi budaya baru. Berpangkat jabatan publik hanya untuk tangga kuasa meraup kekayaan negeri. Itulah jenis perilaku yang melampaui batas sebagaimana digambarkan Tuhan dalam Kitab Suci, yang artinya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. al-Isra’ : 16). [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top