Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pancasila tidak ada habis-habisnya untuk diperbincangkan. Sedikit mengangkat sejarah hidup kakak. Kakak saya pernah tercatat sebagai mahasiswa S1 PMPKn (Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan) UPI. IP-nya selalu besar. Bahkan IPK-nya secara keseluruhan di atas 3,5. Ia lulus dengan predikat Cumlaude. Lain dari itu, ia pernah menjadi aktivis UKDM (Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa) bahkan menjadi tutor di Program Tutorial UPI.
Posisi Sekretaris Jenderal DPM/MPM UPI pernah disandangnya ketika Ormawa di kampus yang terletak di utara Bandung Raya ini menyelenggarakan Pemira (Pemilihan Raya, one high student one vote) untuk pertama kalinya, pasca Reformasi. Bersamaan dengan itu, ia mengelola sebuah masjid kecil di daerah Geger Kalong Hilir.
Namun siapa sangka, di balik prestasi akademik dan aktifitas organisasi yang sama baiknya itu, rupanya ia pernah merasa canggung dan minder dengan jurusannya sendiri. Ia anggap jurusannya melenceng dari titah Tuhan: Menonjolkan Pancasila, dan bukannya Islam. Tak pelak, ia pun pernah mengadu ke ayah: “Bagaimana jika saya pindah jurusan saja, pindah ke jurusan Pendidikan Geografi?
Singkat cerita, kakak saya ini pun sukses merampungkan pendidikan S1-nya, namun masih dari jurusan yang sama: PMPKn. Saya tidak paham bagaimana jalan ceritanya sehingga ia bertahan di suatu jurusan yang pernah juga dikritiknya itu. Dugaan saya, kemungkinan besar ayah berhasil meyakinkannya untuk tetap bertahan di jurusan tersebut.
Tidak jauh berbeda dengan kakak saya, pada masa-masa awal perkuliahan, saya pun diterjang kegalauan menyangkut Pancasila. Waktu itu, saya anggap dengan berlandaskan Pancasila, maka bangsa ini (termasuk saya di dalamnya) telah melenceng dari pentintah Tuhan. Padahal mestinya, tentu saja dalam pandangan saya waktu itu, bangsa ini benafaskan Islam.
Pada masa-masa awal kuliah S1, saya juga ikut kakak saya tadi: Tinggal dan mengelola masjid kecil di daerah Geger Kalong Hilir. Beberapa tugas yang pernah saya emban diantaranya membersihkan masjid, adzan, dan menyukseskan pelaksanaan shalat berjama'ah jum'at. Pada kurun ini, saya mulai terpengaruh untuk membeli buku.
Bukan saja mulai membeli dan membacanya, melainkan juga saya merasa telah terpengaruh oleh isinya. Buku-buku yang saya beli waktu itu didominasi buku-buku tipis berisi paparan ajaran dan sejarah Islam, termasuk buku berisi gugatan plus yang menjelek-jelekkan Pancasila (satu diantaranya buku Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila). Isi buku yang terakhir inilah yang saya jadikan pijakan berdebat.
Saya benar-benar terpengaruh oleh buku tersebut. Sehingga dalam suatu diskusi mata kuliah Pancasila yang saat itu diampu Bapak Bunyamin Maftuh (kini Kaprodi IPS Sekolah Pascasarjana UPI), saya lontarkan gugatan dan tembakan pernyataan-pernyataan bernada mencemooh dan menjelek-jelekkan Pancasila. Mungkin karena itu atau hal lainnya, Pak Maftuh pun menghadiahi saya dengan nilai C.
Belakangan, peristiwa yang dialami kakak dan saya tadi, acap terasa menggelikan, setidak-tidaknya buat saya. Sehingga sekarang saya acap menduga-duga, jangan-jangan tindakan saya kini, yang dianggap serius oleh saya, malah terlihat lucu pada akhirnya, kelak. Padahal mah, ah nanaonan atuh meuni kitu-kitu pisan.
Adalah Novi Zulkarnaen, waktu itu tengah mengemban amanat sebagai Ketua Umum HMI Koordinator Komisariat UPI, yang meyakinkan saya untuk berdamai dan menerima Pancasila. Ia bilang, "Memangnya isi sila-sila Pancasila itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam?" Saya termenung. Kagak ada yang bertentangan tuh, kayaknya. Dari sila ke-1 sampai ke-5 Pancasila itu, islami.

Sejak saat itu, perasaan saya terhadap hal itu, “adem”. Saya bukan saja dapat berdamai dengan Pancasila, tetapi juga sepertinya mulai berlaku layaknya juru dakwah, meski persoalan menjadikan Pancasila sebagai working ideology, masih teka-teki. Dan atas peran saya sebagai juru dakwah Pancasila tadi, maka saya sampaikan terima kasih kepada para elit yang diuntungkan oleh negeri ini. [islamaktual/mi’rajdodikurniawan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top