Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Suatu waktu Abdurrahman ibn Samurah meminta jabatan kepada Nabi. Nabi dengan lembut justru memberinya nasihat, “Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jadi pemimpin suatu urusan, sebab sesungguhnya jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong Allah dengan limpahan taufik dan kebenaran, tetapi manakala kepemimpinan itu diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu.” (HR. Bukhari).
Hal serupa terjadi pada sahabat Nabi yang hidupnya zuhud, Abu Dzar al-Ghifari. Nabi pun memberi nasihat, “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim).
Tentu manusiawi manakala ada orang yang menginginkan jabatan yang dipandangnya tinggi. Terutama dalam dunia politik. Namun ambisi demikian tidaklah tepat dalam organisasi dakwah, yang tidak untuk diperebutkan. Meski niatnya baik, namun yang sering terjadi jabatan sekadar menjadi batu loncatan untuk kedudukan yang lebih tinggi atau sekadar kepopuleran diri. Sementara beban dan tanggung jawabnya dilepas karena berat.
Lebih khusus dalam perjuangan dakwah. Untuk apa mengejar, mengusahakan, mempersiapkan, merencanakan, dan melakukan langkah-langkah meraih jabatan layaknya di organisasi politik. Lapangan dakwah itu sangat berat yang memerlukan pengkhidmatan yang tulus, kebersamaan, kesabaran, kesungguhan, dan nilai-nilai ruhaniah sebagaimana layaknya jiwa para mujahid dakwah. Sekali membiasakan ambisi, mengejar, dan usaha-usaha memperebutkan jabatan maka rusaklah jiwa, pikiran, keutuhan dan suasana berdakwah. Organisasi dakwah menjadi sama dengan partai politik dan para pelaku serta pimpinannya mirip menjadi para aktivis politik dan politisi.
Seorang ulama bernama Ibnu ‘Utsaimin menyatakan, “Seseorang yang meminta jabatan sering bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, menguasai mereka, memerintah dan melarangnya. Tentunya tujuan yang demikian ini jelek adanya. Maka sebagai balasannya, ia tidak akan mendapatkan bagiannya di akhirat. Oleh karena itu, seseorang dilarang untuk meminta jabatan”. Ketika niatnya sudah salah, maka ke hulunya pun salah. Akibat dari ambisi mengejar jabatan itu akan merusak banyak hal dalam perjuangan dakwah, ibarat nila setitik yang merusak susu sebelanga.
Lagipula, maukah para pengejar jabatan itu bersusah-susah mengurus urusan umat dan dakwah yang sulit-sulit? Padahal tugas-tugas dakwah itu dari yang kecil-kecil hingga yang besar sungguh berat. Karenanya para pendahulu yang arif memberi patokan sikap, “Jangan mengejar jabatan, tapi jika diminta tunaikan dengan amanah”. Sikap tengahan seperti itu baik, dengan landasan jiwa tetap dibangun di atas keikhlasan tanpa ambisi mengejar dan mengusahakan jabatan.
Nabi bahkan melukiskan bahaya orang ambisius mengejar jabatan laksana serigala. Sabda Nabi, “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada daya rusak seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. at-Tirmidzi).

Semoga kita para aktivis, penggerak, dan pemimpin gerakan dakwah dijaga kebersihan hati, pikiran dan sikap dari segala wujud ambisi mengejar jabatan yang akhirnya menjadi beban berat diri dan umat serta membelokkan arah tujuan dakwah. Wallahu ‘alam. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top