Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kasus terdamparnya ratusan pengungsi etnis Muslim Rohingya di perairan Aceh menjadi perhatian dari banyak pihak. Bahkan, Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Indonesia Cabang Aceh menegaskan persoalan imigran asal Myanmar belum memperoleh pemecahan hingga saat ini.
Penegasan PAHAM ini didasarkan atas investigasi yang dilakukan di Lhoksukon, Aceh Utara.
“Tampak nyata bahwa yang dialami oleh manusia perahu (boat people) murni masalah kemanusiaan yang kompleks. Imigran-imigran tersebut membutuhkan penanganan yang khusus dari segenap pemerintah negara-negara yang saban tahun menjadi lokasi transit pengungsi lintas negara ini seperti Indonesia” ungkap Basri Effendi, Direktur Eksekutif PAHAM Indonesia Cabang Banda Aceh dikutip hidayatullah.com.
Basri menambahkan, otoritas penguasa Myanmar tidak mengakui etnis ini sebagai bagian dari warga negaranya sejak tahun 1974. Maka sejak saat itulah, Etnik Muslim Rohingya tanpa kewarganegaraan (stateless persons) dan secara sepihak Pemerintah Myanmar telah berlaku diskriminatif.
Sayangnya, masalah kemanusiaan itu pula yang mengundang pihak-pihak tak bertanggungjawab untuk memanfaatkan status etnis minoritas ini. Etnis Muslim Rohingnya diiming-imingi akan memperoleh kesejahteraan lebih baik di negara-negara lain yang sudah mapan dan akhirnya dimanfaatkan oleh agen-agen (cukong) untuk bekerja ilegal di negara-negara lain. Negara seperti Australia ataupun Malaysia dianggap sebagai negara tujuan yang mampu memberi perlindungan dan jaminan kesejahteraan untuk hidup mereka. Kasus ini juga terindikasi keterlibatan jaringan perdagangan manusia (trafficking) internasional, terang Basri.
Sementara itu Aktifis PAHAM lainnya, Muhammad Heikal Daudy menyoroti kondisi para pengungsi tersebut. Saat ini pengungsi yang berjumlah hampir 500 orang tersebut, dalam kondisi cukup memprihatinkan. Diantaranya terdapat anak-anak dan wanita, yang membutuhkan perlakuan ekstra.
“Sementara ini, para pengungsi tersebut sudah dipindahkan ke Kompleks Polres Aceh Utara di Lhoksukon. Untuk di data, sembari menunggu penanganan lebih lanjut oleh Pihak Keimigrasian setempat” ujar Heikal.

Mengingat seringnya kejadian serupa, Heikal mendesak agar pemerintah pusat segera membangun Rudenim di Wilayah Aceh Utara. “Kejadian seperti ini kan bukan pertama kalinya, banyak para pencari suaka atau pengungsi yang kerap terdampar disini. Karenanya pemerintah perlu segera membangun Rudenim disini, ini sudah menjadi kebutuhan”, papar Sekjen PAHAM Cabang Aceh tersebut. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top