Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Di dunia ini dikenal adanya agama samawi (agama langit) dan agama ardhi (agama bumi). Yahudi, Kristen dan Islam sering disebut agama samawi karena ketiga agama tersebut dianggap berasal dari Wahyu Tuhan dan bukan sekedar dari imajinasi manusia. Sementara agama agama yang lain yang berasal dari perenungan manusia semata dikatakan sebagai agama ardhi. Namun demikian, ternyata konsep dasar dari sebagian agama langit tersebut belumlah selesai. Padahal seharusnya sebagai agama yang given oleh Tuhan, pemberiannya tentu sempurna dan tidak menyisakan masalah. Contoh masalah ini ada dalam agama Kristen, konsep ketuhanan yang ada di dalamnya masih diliputi perdebatan yang panjang dan mungkin belum berakhir sampai saat ini. Karenanya Linwood Urban mengatakan bahwa sampai saat ini agama Kristen msih terus memperjelas dasar-dasar filosofinya .
Tulisan singkat dihadapan pembaca ini akan mengulas polemik tentang Trinitas yang ada dalam konsep ketuhanan Kristen, yaitu menyangkut pengertiannya, sejarah ringkasnya, polemik yang terjadi di dalamnya serta pandangan Islam terhadap konsep tersebut.
PENGERTIAN TRINITAS
Athanasian Creed (abad VI) mendefinisikan Trinitas sebagai: "The Father is God, the Son is God, and the Holy Ghost is God. And yet there Gods but one God". (Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan. Namun bukan tiga Tuhan melainkan satu Tuhan.) Sementara itu The Orthodox Christianity kemudian mendefinisikan lagi Trinitas sebagai: "The Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God, and together, not exclusively, the form one God". (Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan, dan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri, membentuk satu Tuhan.) Dengan demikian yang dimaksud dengan konsep Trinitas adalah pengakuan terhadap satu Tuhan yang terdiri dari tiga unsur, Bapa, Anak dan Roh Kudus, bukan konsep politeisme yang mengakui ketiganya sebagai Tuhan. Trinitas juga bukan bermakna mengakui ketiganya sebagai unsur yang sekedar saling berkaitan, yang masing-masing memiliki posisi sendiri, Bapa lebih Agung, Anak dibawahnya dan seterusnya. Sekali lagi Trinitas memaknai ketiga oknum Bapa, Anak dan Roh Kudus sebagai satu-kesatuan ketuhanan yang setara dan abadi.
SEJARAH TRINITAS
Sesungguhnya, Yesus yang dipandang sebagai Tuhan tersebut tidak pernah mengajarkan konsep ini. Semasa hidupnya, beliau tidak pernah mengajarkan bahwa dirinya adalah anak Tuhan. Beliau berasal dari kalangan Bani Israel yang menganut agama Yahudi. Sementara dalam sejarah agama Yahudi, konsep tentang Tuhan adalah Elohim Ahud (bahasa Ibrani) yang artinya adalah Allah itu Esa . Penyelewengan konsep ini bermula dari keterangan Paulus yang banyak membuat cerita-cerita spekulatif mengenai penyalipan Yesus dan hal-hal lain setelahnya, semacam Yesus hidup kembali, Yesus berada di sisi kanan Tuhan, dan lain lainnya . A.N.Wilson mengatakan: "I had to admit that I found it impossible to believe that a first-century Galilean holy man (Jesus) had at any time of this life believed himself to be the Second Person of the Trinity” (Saya harus mengakui bahwa memang tidak mungkin untuk mempercayai bahwa orang suci dari Galelia abad I (Yesus) pernah sekali saja dalam hidupnya merasa dirinya sebagai oknum kedua dari Trinitas) . Konsep ini juga bukan berasal dari konsep agama Yahudi atau konsep di dalam Kitab Perjanjian Lama. Para ilmuwan Kristen saat ini sepakat bahwa ajaran Trinitas tidak ada dalam Alkitab bahasa Ibrani /Perjanjian Lama . Dalam New Catholic Encyclopedia juga dikatakan bahwa "The doctrine of the Holy Trinity is not taught in the Old Testament" (Ajaran Trinitas tidak pernah diajarkan dalam Perjanjian Lama) .
Lalu dari mana dogma ini muncul? Sebuah pendapat mengatakan bahwa dogma ini berasal dari paham Platonis yang diajarkan oleh Plato (?-347 SM), dan dianut para pemimpin Gereja sejak abad II (Tony Lane, 1984). Edward Gibbon dalam bukunya The Decline and fall of the Roman Empire, hal 388, mengatakan: "Plato consider the divine nature under the thee fold modification: of the first cause, the reason, or Logos; and the soul or spirit of the universe?the Platonic system as three Gods, united with each other by a mysterious and ineffable generation; and the Logos was particularly considered under the more accessible character of the Son of an eternal Father and the Creator and Governor of the world". (Plato menganggap keilahian alami terdiri dari atas tiga bagian: Penyebab awal, Firman (Logos), dan Roh alam semesta? Sistem Platonis sebagai tiga Tuhan, bersatu antara satu dengan lainnya melalui kehidupan yang baka dan misterius; dan Firman (Logos) secara khusus dianggap yang paling tepat sebagai Anak Bapa yang baka dan sebagai pencipta dan penguasa alam semesta) .
Ajaran tiga Tuhan dalam satu ini juga tidak hanya dianut oleh masyarakat Yunani dan Romawi, tetapi juga mereka yang mendiami wilayah Asia Barat, Tengah, Afrika Utara dan pengaruhnya menjalar ke beberapa kawasan lainnya di dunia. Watch Tower and Bible Tract Society of Pennsylvania, 1984, menjelaskan: "Throughout the ancient word, as far back as Babylonia the worship of pagan gods grouped in triplets were common. This practice was also prevalent, before, during, and after Christ in Egypt, Greece and Rome. After the death of the Apostles, such pagan beliefs began to invade Christianity". (Dunia di zaman purbakala, sejak masa kerajaan Babilonia, sudah terbiasa menyembah behala, tiga Tuhan dalam satu. Kebiasaan ini juga banyak ditemukan di Mesir, Yunani dan Romawi, baik sebelum, selama maupun sesudah Yesus. Setelah kematian murid-murid Yesus, kepercayaan penyembah berhala ini kemudian merasuk ke dalam agama Kristen) .
Dengan demikian dapat dipahami bahwa konsep Trinitas yang dianut oleh Kristen saat ini adalah pengaruh dari konsep agama yang sebelumnya tumbuh di masyarakat dan lepas dari ajaran wahyu yang menjadi referensi utama bagi sebuah agama wahyu. Berikut adalah perbandingan beberapa konsep ketuhanan dalam beberapa agama yang pernah ada dan sebagian masih ada .

Yesus
Mithra
Osiris
Baachus
Krhisna
Budha
Zoroaster
Agama
Kristen
Persia
Mesir
Yunani
Hindu
Budhisme
Zoroasterianisme
Lahir dari
Perawan Maria
perawan
perawan Neis (Perawan Dunia)
perawan Demeter
perawan Dewaki
wanita Mayadewa
seorang perawan
Tanggal Lahir
25 Desember
25 Desember
27/29 Desember (Plutarchi)
25 Desember
bulan Desember
bulan Desember
25 Desember
Sebutan
Anak Tuhan
Anak Tuhan
Anak Tuhan
Anak Dewa Yupiter
Anak Dewa Wisnu
Anak Mahasasmita
Anak Tuhan
Punya
12 murid
12 murid
-----
-----
banyak murid
-----
-----

Mesiah
Perantara
Penebus Dosa
Penebus Dosa
Anak dewa Wisnu
Penebus Dosa
Pelita Tuhan
Kematian
Disalib u/. menebus dosa
Disalib
Disalib
Disalib
Disalib
bersemayam disurga dan Nirguna Mati menebus dosa
bersemayam di Nirwana Mati menebus dosa

Prima Causa dunia
Anak Tunggal Tuhan
Bayangan Tuhan didunia
Alfa & Omega
Inkarnasi dari dewa Wisnu
10 Alpha & Omega alam semesta
-----
Akhir Dunia
Akan datang lagi kedunia
Akan datang lagi menjelang akhir dunia
Akan datang kedunia lagi
Akan datang kedunia lagi
Akan datang lagi menjelang akhir dunia
Datang lagi kedunia u/. mendirikan kerajaan Dewa
Akan datang kedunia lagi
Ramalan
Meramalkan kedatangan Nabi akhir jaman
Meramalkan kedatangan seorang penyelamat dunia
Meramalkan kedatangan mahkota segala nabi
Meramalkan kedatangan seorang yang mulia
Meramalkan kedatangan Mamah / Muhammad
Meramalkan kedatangan seorang yang paling mulia
Meramalkan kedatangan Mohmend di Bekkah

Di dalam Kristen sendiri, konsep Trinitas ini juga merupakan hal baru. Artinya konsep Trinitas ini diakui bukan sejak awal ketika Yesus masih ada atau seketika setelah Yesus tiada. Bapa Gereja dulu pun tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang Trinitas . Pada tahun 57 M Paulus menulis "Tiada ada Allah lain, melainkan Yang Satu Bagi kita hanya ada satu Allah,
Sang Bapa, dan satu Yesus Kristus." Lalu pada tahun 96 M Clement I (Clemens Romanus, 88-97), seorang uskup Roma, menulis "Kristus diutus oleh Tuhan dan para apostel (rasul) diutus oleh Kristus."Selain kedua tulisan tersebut tercatat juga bahwa pada tahun 120 M terdapat Rukun Iman bagi para apostel (Apostles' Creed) mulai dikenal Gereja. Bunyinya adalah: "Saya percaya akan Allah, Sang Bapa Yang Maha Kuasa. " Itu semua menunjukkan bahwa di abad pertama, konsep Trinitas (pengakuan satu Tuhan dalam tiga oknum) belumlah ada. Yang ada adalah pengakuan adanya Tuhan Bapa dan utusannya yang Dia ciptakan. Embrio kelahiran konsep Trinitas diduga adalah pada tahun 150 M dimana seorang Justin Martyr (yang juga dikenal dengan Justinus si Ahli Filsafah, 100-165 M), kelahiran Syikhem Palestina, dengan ajaran Platonisme mulai menginteraksikan pikiran pikirannya dengan ajaran Nasrani. Beliau adalah guru besar Platonisme yang kemudian masuk Kristen tanpa membuang Platonisme . Berangkat dari sinilah Trinitas mulai berkembang.
Pada tahun 200 M Kata "Trinitas" pertama kali digunakan oleh Tertullianus, seorang penulis tarikh gereja. Hal ini kemudian sangat cepat berkembang sehingga pada tahun 260 M Sabellius, guru Nasrani, telah mengajarkan bahwa Sang Bapa, Sang Putera dan Roh Kudus adalah tiga nama untuk Tuhan yang sama . Meskipun berkembang pesat, tentangan terhadap konsep ini juga banyak. Tercatat pada tahun 310 M Lactantius Firmianus, seorang bapa Gereja, menuliskan "Kristus tidak pernah menamakan dirinya Tuhan", juga pada tahun 320 M Eusebius, seorang ahli tarikh Gereja dan uskup Caesarea, menulis "Kristus mengajar kita untuk menamakan bapanya Tuhan yang benar dan untuk beribadat kepadaNya. " Penentangan yang cukup mendapat perhatian berangkat dari pertanyaan Arius, teman Eusebius, ia seorang pemuka gereja yang tampan dan karismatis dari Aleksandria yang memiliki suara lembut dan menawan dan wajah yg sangat melankolis. Sekitar tahun 320 ia melempar sebuah pertanyaan yang tidak dapat diabaikan oleh uskup Aleksander: “Bagaimana mungkin Yesus Kristus menjadi Tuhan dalam cara yang sama dengan Tuhan Bapa?” Dia tidak menerima ajaran Trinitas dan tetap mempercayai Yesus sebagai yang diciptakan . Pandangan ini ditentang oleh bishop Alexander dan uskup Alexandria, yaitu Athanasius. Ia katakan bahwa memandang Kristus sebagai ciptaan sama dengan menyangkal pandangan bahwa iman terhadap dia membawa keselamatan bagi umat manusia . Polemik ini terus berkepanjangan dan membuat Kaisar Konstantin khawatir menjadi perpecahan serius dalam agama Kristen. Maka diselenggarakanlah sebuah konsili pada tahun 325 M yang kemudian terkenal dengan sebutan Konsili Nicea. Konsili tersebut diselenggarakan untuk memutuskan manakah pendapat yang dapat diterima sebagai konsep keyakinan umat Kristen, pendapat Arius atau Athanasius. Konsili tersebut menjadi sangat bersejarah dengan memutuskan Ketuhanan Yesus .
POLEMIK TRINITAS
Ketuhanan Yesus dalam satu diri dengan Tuhan Bapa telah menjadi keputusan Nicea. Tetapi konsili yang selesai dengan otoritas Kaisar Konstantin dan dengan proses voting tersebut tidak mampu menyelesaikan polemik mengenai konsep Trinitas. Secara resmi memang Yesus diakui sebagai Tuhan sesuai dengan konsep Trinitas, tetapi konsep ini tetap saja kontroversial dan menyisakan banyak masalah yang bersifat filosofis konseptual. Lebih parahnya lagi, polemik teologis ini tidak dapat dilepaskan dari kepentingan politik perebutan pengaruh antara Gereja Roma di Barat dan Konstantinopel di Timur. Sehingga kemenangan Athanasius di Nicea bukan menjadi akhir dari polemik Trinitas, tetapi justru menjadi titik awal polemik yang lebih besar . Meski demikian, konsep ini diterima sebagai dogma yang harus ditaati. Orang kristen menafsirkan ayat-ayat yang ada di dalam perjanjian baru sebagai doktrin agaman Kristen sebuah kebenaran mutlak yang tidak dapat dibantah. Barang siapa yang percaya pada doktrin tersebut maka ia akan mendapat hadian sorga .
Inti Polemik. Inti polemik dalam konsep Trinitas sesungguhnya adalah perbedaan pandangan mengenai hakekat Tuhan di dalam diri Tuhan Bapa sendiri Yesus dan Roh Kudus. Dalam konsili Nicea diputuskan bahwa ada Satu hakekat Tuhan dengan dengan tiga oknum, yaitu Tuhan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Konsep ini, sebagaimana polemik sebelum Nicea tidak selesai dengan keputusan yang politis tersebut. Mereka yang mengakui Yesus bukan Tuhan sebagaimana keputusan Nicea tetap pada pendiriannya dan sebaliknya pemenang Nicea pun meyakini pendapatnya.
Arius yang merupakan anti Trinitas berpandangan pandangan bahwa hanya ada satu Tuhan (tidak mempunyai anak), yang tidak mempunyai asal usul, tanpa keberadaan sebelumnya. Dia membedakan antara Logos yang tetap ada di dalam Tuhan, yang merupakan kekuatan yang kekal dengan Anak atau Logos yang pada akhirnya berinkarnasi. Anak atau Logos terakhir ini diciptakan oleh Bapa yang dalam pandangan Arius berarti bahwa dia diciptakan . Yesus bukan logos dan logos bukan Allah. Yesus bukan Tuhan dalam hakekatnya tetapi diangkat Tuhan ke status Ilahiyah . Dalam hal ini Arius menjelaskan bahwa tidak dapat diterima jika Yesus itu termasuk hakekat Tuhan. Dia adalah makhluk yang diciptakan, karena itu dia bukanlah esensi yang kekal. Dia hanyalah yang terbesar dan pertama di antara ciptaan-ciptaan lainnya dan melalui dialah alam semesta ini diciptakan. Karena itu dia dapat diganti, tetapi dia dipilih Tuhan demi keselamatan umat manusia, dan dia dinamakan anak Tuhan. Dalam pengangkatannya sebagai anak dialah yang disembah oleh manusia .
Sementara itu lawannya dalam polemik ini, Athanasius, mengatakan bahwa Tuhan bapa dan anak sama-sama memiliki sifat atau esensi kekekalan yang sama. Dia menolak untuk meyakini Yesus sebagai "Anak yang diciptakan sebelum yang lain diciptakan" seperti yang dianut Arius. Dia tetap mempertahankan eksistensi kekal dan independen anak. Dalam waktu yang sama dia berpendapat bahwa ketiga hipostases dalam Tuhan jangan dilihat sebagai hal yang sendiri-sendiri, karena jika demikian, bisa bermuara kepada politeisme. Menurut dia, keesaan Tuhan maupun perbedaan-perbedaan dalam keberadaan-Nya paling tepat dinyatakan dengan "keesaan esensi." Ini berarti bahwa anak mempunyai substansi sama dengan substansi Bapa, tetapi juga berarti bahwa keduanya bisa berbeda dalam aspek lain, misalnya dalam personal subsistensinya .
Perbedaan pandangan kedua tokoh ini terus berjalan seiring berjalannya waktu dengan tokoh-tokoh baru pengikut masing-masing. Tampaknya memang belum akan segera berakhir dalam waktu tertentu. Lepas dari kutup konflik dua tokoh tersebut dengan para pendukungnya masing-masing, konsep Trinitas memang menyisakan banyak pertanyaan filosofis. Diantaranya adalah Bagaimana sesungguhnya ketiga unsur dapat menjadi satu hakekat? Apakah pada saat mewujud dalam satu unsur atau oknum oknum yang lain kosong ataukah bagaimana? Pertanyaan lain lagi adalah ketika Yesus yang dipandang sebagai salah satu hakekat Tuhan muncul, apakah dia adalah Tuhan 100% ataukah 50 % dengan 50% lainnya adalah manusia? Pertanyaan ini juga tidak dapat dijawab dengan kata sepakat. Ada pendapat yang mengatakan terjadi kepribadian ganda (split personality) dalam diri Yesus, yaitu setengah pribadi Tuhan dan setengah pribadi manusia (Nestorius, 430). Tetapi pendapat ini ditolak oleh gereja . Pendapat yang dianut mayoritas gereja adalah Yesus adalah Tuhan sepenuhnya sekaligus manusia sepenuhnya. Istilah yang digunakan untuk menjelaskan ini adalah konsep kesatuan pribadi (unity of personal), bukan inetrseksi ataupun gabungan . Tetapi pandangan ini pun bermasalah dengan adanya sejarah Yesus yang minta tolong saat di salib .
Demikianlah, konsep Trinitas ini tidak selesai dalam perdebatan sejarah dan logika manusia. Banyak kesimpulan baru sebagai antitesa dan sintesa terhadap kesimpulan sebelumnya berangkat dari spekulasi rasional yang tidak memiliki pijakan yang kuat, demikian seterusnya sampai saat ini. Hal ini dibenarkan oleh Dr. Philip H. Ashby dalam buku: “The Conflict of Religion” : “The history of Christianity is a record of constant conflict” (Sejarah Kekristenan adalah suatu catatan pertentangan yang terus menerus). Senada dengan ungkapan Philip, Linwood Urban juga mengatakan bahwa kekristenan adalah agama yang secara berkesinambungan sedang memperjelas dasar-dasar filosofinya . Ini artinya banyak konsep dasar dalam Kristen yang belum selesai.
PANDANGAN ISLAM TENTANG TRINITAS
Mengenai Trinitas ini Islam memiliki pandangan yang jelas. Bagi Islam konsep Trinitas adalah keliru. Islam mendasarkan pandangannya pada al Quran yang otentik sebagai wahyu Allah. Allah memberikan konsep ketuhanan dalam Q.S. Al Ihlas [112] ayat 1 s.d. 4:
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (2) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (3) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (4)

Konsep ketuhanan dalam Islam sama sekali tidak ada masalah sebagaimana dalam ajaran Kristen. Sehingga Islam dapat dengan mudah memberikan sikap ketika harus merespon Trinitas Kristen. Menurut Islam, Allah itu Esa, tidak beranak atau diperanakkan dan tidak ada yang menyamainya. Allah tidak berada dalam dimensi manusia sehingga Dia lepas dari ruang dan waktu. Secara historis pun tidak pernah ada perdebatan tentang masalah ini.
Dalam melihat Trinitas Kristen Islam melihat telah terjadi penyimpangan ajaran dari apa yang dibawa oleh Yesus. Bagi Islam Yesus adalah manusia biasa yang diutus Allah sebagai pemberi petunjuk, penuntun hidup menuju jalan yang benar. Adapun berbagai kelebihan dan kehebatannya adalah mu’jizat. Mukjizat adalah kekuatan luar biasa yang hanya diberikan Allah kepada para utusan-Nya sebagai sarana untuk meyakinkan umat akan kebenaran yang dibawanya. Dan itupun terjadi atas kehendak Allah, bukan kehendaknya semata. Islam juga meluruskan pandangan Trinitas tersebut sebagiamana Firman Allah dalam Q.S. al Maidah [5]: 116 s.d. 117:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. (116) Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu (117)
Dalam dua ayat tersebut tampak Allah memberikan informasi dalam bentuk pertanyaan kepada Nabi Isa AS. Pertanyaan tersebut untuk menunjukkan bahwa yang dilakukan pengikut Isa adalah salah. Di dalam ayat ini terdapat pertanyaan Allah didepan kaumnya, sebagai celaan dan peringatan keras kepada mereka atas perbuatan mereka yang mengada-ada dan terdapat pula jawaban Isa terhadap pertanyaan mengenai masalah tersebut yang berhubungan dengan dosa besar yang mereka perbuat setelah itu, yaitu doktrin Trinitas .
KESIMPULAN

Dari uraian singkat tentang polemik Trinitas di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep mendasar dalam Agama Kristen sampai saat ini masih bermasalah. Ini diakibatkan oleh ajaran Kristen sendiri yang tumbuh berkembang tidak berdasar pada wahyu yang baku, melainkan berevolusi oleh sejarah. Ajaran Kristen seperti sebuah tesa yang disangkal oleh anti tesa dan menjadi sintesa, demikian seterusnya berdasarkan pada spekulasi spekulasi rasional semata. Termasuk pada masalah Trinitas, keputusan penuhanan Yesus yang sangat menyejarah tersebut menjadi polemik dalam perjalanan sejarah berikutnya, sehingga tidak terselesaikan sampai saat ini. Bagi Islam, Trinitas Kristen adalah sebuah kesalahan konsep yang sangat mendasar dan berakibat fatal. Namun yang terjadi kemudian usaha yang sangat kuat dari para pemuka kristen untuk mempertahankan konsep tersebut demi mempertahankan eksistensi Kristen di muka bumi. Wallahua’lamu bish showab. [islamaktual/ridwanfurqoni]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top