Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Nautika atau ilmu kelautan telah dikenal para pelaut Muslim jauh sebelum penjelajah Eropa mengelilingi dunia. Para navigator Muslim terbukti memiliki kontribusi yang luar biasa dalam pengembangan pelayaran.
Para pelaut Barat seperti Cristopher Colombus dan Vasco Da Gama pun merasa berutang budi pada pemikiran dan jasa-jasa pelaut Islam yang menakjubkan. Berikut beberapa nama pelaut Islam yang sangat diakui kapasitasnya.
  • IBNU MAJID
Pelaut Muslim ini mendapat julukan ‘Sang Singa Laut’. Ibnu Majid lahir dari keluarga pelaut. Ayah dan kakekanya terkenal sebagai muallim (Master of Navigator) dan ahli tentang Laut Merah.
Pelaut ulung yang hidup pada pertengahan abad ke-9 H/15 M ini oleh orang-orang Portugis dijuluki al-Malande atau al-Marante yang berarti “Raja Laut”.
Menurut catatan Vasco Da Gama, kisah pelaut Arab ini memiliki pengaruh yang luar biasa sehingga dirinya bisa melakukan pelayaran dari Tanjung Harapan di Afrika sampai ke India.
Di Institut Studi Ketimuran, Leningrad, terdapat manuskrip berbahasa Arab berupa tiga bait puisi yang ditulis oleh Ibnu Majid. Puisi itu berisi penjelasan tentang cara melakukan pelayaran di berbagai kawasan yang berbeda seperti melintasi Laut Merah, dan Samudera Hindia. Manuskrip tersebut merupakan petunjuk yang sangat penting untuk melakukan pelayaran. Orang-orang Portugis tidak akan bisa melintasi Samudera Hindia tanpa bantuan Ibnu Majid karena ombak dan anginnya yang kencang.
Ibnu Majid memberikan penjelasan dan informasi berharga tentang laut. Penjelasan itu terkait petunjuk-petunjuk pelayaran, seperti pengetahuan tentang jarak tempuh antara satu tempat dengan tempat lainnya, tiupan angin, kondisi medan, serta kemudahan yang mungkin dapat diperoleh.
Selain itu Ibnu Majid dikenal pula sebagai seorang berpengetahuan luas di bidang pemetaan, astronomi dan geografi.Karya-karyanya dalam bidang tersebut diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Karya inilah yang dikutip oleh para sarjana baik yang berasal dari kalangan Arab sendiri ataupun dunia Islam umumnya, serta sarjana-sarjana Barat.
  • IBNU BATTUTA
Ibnu Battuta, lahir pada tahun 1304 M di Tangier, sebuah kota di dekat Selat Gibraltar, Maroko. Sejak kecil ia tertarik pada petualangan pelayaran. Ia dikenal sebagai penjelajah ulung. Pernah menempuh jarak sejauh 72 ribu mil melalui lautan dan daratan. Jarak ini jauh lebih panjang dari yang dilakukan Marcopolo dan penjelajah manapun sebelum datangnya teknologi mesin uap.
Ibnu Battuta memulai perjalanannya pada usia 21 tahun dengan tujuan menunaikan ibadah haji. Ia bersama jamaah Tangiers lainnya menempuh keringnya hawa Laut Mediterania di tengah teriknya daratan berpasir Afrika Utara. Semuanya dilakukan hanya dengan berjalan kaki, menyusuri Pantai Utara Afrika melewati Aljazair, Tunisia, Tripoli, Alexandria, Kairo, Jerussalem, lalu singgah di Damaskus, Madinah dan Makkah.
Tahun 1326 M, ia melanjutkan perjalanan ke wilayah Iran dan Irak sekarang. Setahun berikutnya kembali ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua, dan tinggal selama setahun di kota suci tersebut.
Tahun 1328 M, Battuta melanjutkan perjalanan ketiganya ke Pantai Timur Afrika hingga ke kota Kilwa, sekarang Tanzania. Penjelajahannya berlanjut menuju Somalia, pantai-pantai Afrika Timur, termasuk Zeila dan Mambasa. Kembali ke Aden, kemudian ke Oman, Hormuz di Persia dan Pulau Dahrain.
Battuta melakukan perjalanan ke wiayah Asia Tengah melalui Anatolia ke Turki Asia dan singgah di Konstantinopel sebelum berlayar menyeberangi Laut Hitam ke wilayah Asia Tengah.
Dari wilayah Sungai Volga, pada 1334 M, Ibnu Battuta menerobos wilayah Afghanistan melalui Kabul hingga ke Delhi, India.
Tahun 1342 M, sultan di Delhi mengutus Ibnu Battuta melakukan perjalanan ke Cina sebagai Duta Besar. Pada tahun 1346 M, ia memulai perjalanan pulang dari Beijing, selama empat tahun perjalanan darat dan pelayaran laut, ia kembali ke kota kelahirannya, Tangiers di Maroko.
Battuta pergi berkelana pada umur 21 tahun dan kembali pada umur 44 tahun, sebuah perjalanan selama hampir 24 tahun yang mengesankan. Pada tahun 1354 M, Ibnu Battuta kembali ke tanah kelahirannya dan menetap di kota Fez dan berteman baik dengan sultan. Sang sultan kagum dengan perjalanan Battuta serta memintanya menuliskannya ke dalam sebuah buku, yang dikenal berjudul Rihla atau My Travel. Buku ini dijadikan pegangan oleh para pelaut sebelum berlayar ke sebuah tempat.
  • PIRI REIS
Piri Reis adalah seorang laksamana yang gagah berani. Dia lahir pada tahun 1465 M di Gallipoli, Turki, yang merupakan wilayah pantai. Ayahnya bernama Haci Mehmet, sedangkan pamannya merupakan seorang laksamana terkenal kala itu, Kemal Reis.
Seperti anak-anak pada umumnya yang dipengaruhi lingkungan dimana ia hidup, sejak dini ia bergelut dengan pantai dan terbiasa untuk berlayar. Tak heran ketika umurnya baru 12 tahun, ia telah bergabung bersama pamannya, Kemal Reis. Meski masih belia, rupanya Piri sarat ilmu pengetahuan. Masa itu menjadi awal karir baginya untuk mengarungi lautan bersama Kemal Reis. Selama 14 tahun sang paman memberikan bimbingannya.
Bergabungnya Kemal Reis di angkatan laut kesultanan Turki, membuat Piri akhirnya bergabung pula. Ia tetap berada di bawah komando sang paman. Selain mumpuni mengarungi hamparan air yang luas, ia mampu pula menuangkan rekaman perjalanannya ke dalam sebuah karya monumental yang menjadi panduan penting dalam dunia geografi dan ilmu pelayaran.
Pada 1513 M, ia mampu menghasilkan sebuah peta dunia. Ia memetakan Laut Atlantik serta pantai-pantai di Eropa. Karyanya diberi tajuk I-Bahriye yang merupakan karya monumental bagi dunia kelautan.
Pada 1516-1517 M, Piri mendapat perintah memimpin pasukan Ottoman melawan Mesir. Dalam kesempatan ini, ia berlayar ke Kairo melalui Nil dan kemudian menggambarkan sebuah peta dan memberikan informasi yang detail tentang wilayah tersebut.
Pertempuran dahsyat ia alami juga bersama pamannya ketika melawan pasukan dari Venesia pada 1520 M. Saat itu pasukan Ottoman mampu memukul mundur pasukan musuh. Hal ini merupakan kemenangan yang besar bagi Ottoman. Kegembiraan yang ia rasakan beberapa saat kemudian berubah menjadi duka. Sang paman, Kemal Reis, gugur. Untuk menggantikan posisi Kemal Reis, pihak pemerintah kemudian menunjuk Piri Reis menjadi Laksamana Kesultanan Ottoman.
Meski telah menjadi laksamana yang begitu padat kegiatannya, dia tetap sempatkan untuk menuliskan rekaman perjalanannya. Pada 1528 M sampai 1529 M, Piri Reis melengkapi peta pertamanya yang tercantum dalam I-Bahriye.

Kali ini, ia berhasil memetakan wilayah Barat Daya Atlantik, sebuah wilayah yang disebut dunia baru yang terletak dari Venezuela hingga bagian selatan, Greenland. [islamaktual/hidayatullah/wahyumurtiningsih]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

1 comments:

Visit Us


Top