Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Memasuki era reformasi sekarang ini, salah satu fenomena yang terjadi adalah munculnya organisasi masyarakat termasuk masyarakat Islam yang sedemikian marak. Mereka tampil dengan kekhasan masing-masing sesuai dengan paham keagamaannya, mulai dari yang secara sosiologis dikatakan sebagai liberal, moderat dan radikal maupun puritan dan kultural. Bidang garapan dakwahnya pun beragam, dari dakwah, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, ZIS, dan sebagainya. Kesemarakan tersebut sah-sah saja mengingat Islam menjamin keragaman dan tidak menganut kepemimpinan sentral.
Fenomena tersebut tentu merupakan hal yang positif bagi umat Islam dalam rangka peningkatan kualitas umat. Sebab umat ini tidak dapat dibangun oleh satu atau dua kelompok atau golongan. Dengan kesemarakan yang ada, umat Islam memiliki banyak pilihan ketika hendak menyalurkan kecenderungan keberagamaannya. Di samping itu, terjadi kompetisi yang semakin ketat di antara ormas Islam yang ada untuk tampil sebagai yang terbaik dan mungkin juga berpengaruh di mata umat. Hal terpenting dalam konteks ini adalah semua kompetisi tidak keluar dari koridor fastabiq al-khairat, sebagaimana tersurat dalam QS. al-Baqarah [2] : 148, “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Demikian juga dengan ayat tentang ta’awun. Kedua ayat ini menjadi landasan teologis akan keragaman arah kiblat atau kecenderungan umat manusia dan kerja sama di antara kita.
Hanya saja semangat kerja ormas yang ada masih bersifat internal. Mereka cenderung sibuk dengan dirinya sendiri daripada membangun kerja sama dengan yang lain. Mungkin akan lebih efektif dan upaya membangun kualitas umat akan lebih cepat tercapai jika ada kerja sama struktural, yakni kerja sama yang sistematis dan terstruktur antara dua atau lebih ormas. Kerja sama yang ada masih bersifat natural, kerja sama yang berlangsung secara alami. Antara Muhammadiyah dan NU secara alami telah ada kerja sama yang sangat baik. Mayoritas anak didik dan mahasiswa di sekolah dan kampus Muhammadiyah adalah warga NU. Sekolah dan kampus Muhammadiyah hanya mengandalkan warganya sendiri dipastikan akan kolaps. Begitu juga dengan rumah sakit dan lembaga layanan publik yang lain milik Muhammadiyah tidak ada satu pun yang hanya murni untuk Muhammadiyah, kecuali pada hal-hal yang bersifat khusus seperti Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM).
Kerja sama natural Muhammadiyah dengan yang lain seperti NU tidak hanya pada ranah amaliyah sosial, tetapi juga pada amaliyah ritual keagamaan. Warga Muhammadiyah tidak ada hambatan apa pun untuk shalat berjamaah dengan warga NU dan juga sebaliknya. Demikian juga dalam pernikahan, tidak sedikit ibu-ibu Aisyiyah besanan dengan Muslimat NU. Dalam jamaah shalat keduanya tidak mempersoalkan siapa imamnya, karena sadar bahwa perbedaan yang ada tidak harus saling eksklusif. Dalam pandangan keduanya telah terbangun kesadaran relativitas internal umat Islam. Kepada agama lain pastilah kita melakukan truth claim, menyatakan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridlai Allah, tetapi tidak demikian jika dengan sesama Muslim. Sebab tidak ada satupun di antara kita yang pemahaman agamanya dijamin mutlak benar oleh Allah. Semua paham keagamaan berada pada level wallahu a’lam bi ash-shawab (Allah yang lebih bahkan paling mengetahui).
Memutlakkan paham atau penafsirannya sendiri dengan menganggap orang lain sebagai salah, sesat bahkan kafir dengan ditandai tidak mau -misalnya- makmum dan nikah dengan kelompok lain sesama Muslim sebagai keputusan keagamaan (fiqih) tentu merupakan arogansi keagamaan. Kebenaran penafsiran agama adalah kebenaran keyakinan, bukan kebenaran eksperimental empiris sehingga tidak bisa membuktikan. Hal terpenting dalam paham agama adalah memiliki dalil baik al-Qur’an dan atau Sunnah.
Jika paham agama yang kita ijtihadkan kemudian dipahami dan amalkan secara ikhlas ternyata salah di hadapan Allah tidak perlu khawatir, karena Nabi Muhammad SAW tetap menjamin pahalanya sebagaimana sabdanya yang menyatakan bahwa hasil ijtihad jika benar pahala dua jika salah pahala satu. Dari pernyataan Nabi SAW ini bisa dipahami dalam paham agama boleh salah tetapi tidak boleh bohong. Artinya, dalam beragama kejujuran menjadi harga mati dan mutlak bagi setiap Muslim.

Jika pola pikir dan kesadaran akan relativitas internal umat Islam dapat dibangun, maka sikap eksklusif dan merasa benar sendiri tidak terjadi pada ormasnya. Bertolak dari membangun pola pikir inilah ukhuwah amaliyah antar-ormas Islam akan dapat dilakukan tidak hanya pada amaliyah sosial, tetapi juga ritual. Kesadaran ini pula hubungan antar-ormas tidak bersifat rivalitas tetapi ta’awun atau partnership. Dengan cara ini konflik antar-ormas Islam pun dapat dihindari dan ukhuwah yang ada tidak hanya wacana, tetapi realisasi pada level amaliyah. Lebih dari itu, ukhuwah yang ada tidak hanya berjalan secara natural seperti yang telah berlangsung selama ini, tetapi juga struktural sehingga antar-ormas yang ada tidak hanya sama-sama kerja, tetapi juga kerjasama. Semoga. [islamaktual/sm/tafsir]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top