Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Setiap akhir tahun yang juga awal tahun baru, umat Islam terbawa hura-hura suasana tahun baru. Mestinya melakukan apa? Idealnya setiap Muslim memiliki kesadaran pentingnya ber-muhasabah pada akhir tahun. Lebih ideal lagi jika tidak hanya di akhir tahu ber-muhasabah, melainkan selama hayat masih dikandung badan. Namun tidak ada salahnya jika menjelang tutup tahun ini kita kembali melakukan refleksi dari atau ber-muhasabah. Makna generik muhasabah adalah bertanya pada diri sendiri dalam rangka introspeksi, evaluasi, dan audit diri sendiri.
Tujuan muhasabah adalah untuk menumbuhkan kesadaran moral terhadap pentingnya mengetahui jati diri, dinamika perjalanan hidup, dan kekurangan diri, sehingga berkomitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas integritas pribadi. Muhasabah itu penting agar kita tidak hidup merugi dan bangkrut, padahal kita sudah diberikan umur relatif panjang.
Muhasabah merupakan momentum penyucian diri (tazkiyatun nafsi), memperbarui i’tikad dan komitmen mental-spiritual dengan Allah SWT dan sesama. Melalui muhasabah yang mendalam, kita menyadari bahwa hidup di dunia ini tidak lama (al-hayat al-dunya = kehidupan yang sangat dekat, sementara atau rendah). Setiap saat umur kita berkurang, berkurang dan terus berkurang, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, dan tahun demi tahun. Kita semua sedang menempuh perjalanan menuju kematian.
Kontrak umur -dalam bahasa Arab, ‘umur berarti kemakmuran- adalah amanah dan salah satu anugerah yang di akhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT: “Untuk apa umur yang diberikan itu dipergunakan?” Apakah usia yang dianugerahkan itu digunakan untuk melakukan ketaatan kepada Allah ataukah untuk kemaksiatan?
Oleh karena itu, muhasabah harus dimodali dengan empat hal. Pertama, ketulusan dan kejujuran hati untuk mau berintrospeksi dan berkomitmen selalu bertaubat dan beristighfar kepada Allah SWT. Kedua, kejernihan akal pikiran untuk mau melakukan perubahan menuju perbaikan kualitas hidup, dengan prinsip bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih berkualitas dari hari ini. Ketiga, ketangguhan mental-spiritual untuk merencanakan masa depan yang lebih baik, dengan meningkatkan aneka amal kebaikan dan keshalihan. Keempat, menjadikan takwa sebagai modal dalam menatap dan memperbaiki masa depan dengan tidak melupakan Allah SWT.
Coba perhatikan firman Allah SWT berikut ini : “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. al-Hasyr [59]: 18-19).
Jadi, momentum muhasabah ini harus dimaknai sebagai sebuah refleksi mental-spiritual menuju pendakian dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Marilah kita merenung sejenak, dengan mengkalkulasi secara sederhana. Rata-rata kita menghabiskan waktu kurang lebih 8 jam/hari untuk tidur. 8 jam itu sama dengan ⅓ dari 24 jam/hari. Jika misalnya kita dikaruniai usia hingga 60 tahun, berarti kita tidur salam 20 tahun. Jika usia kita nanti sampai 75 tahun, berarti 25 tahun kita gunakan untuk tidur.
Lalu ⅔ usia bangun kita itu untuk apa? Berapa lama kita sudah belajar, bekerja, berkarya, berdedikasi, beribadah kepada Allah, memberi nilai tambah (manfaat) bagi diri sendiri dan orang lain? Ungkapan Umar ibn al-Khattab r.a tampaknya masih relevan kita renungkan kembali: “Hitunglah (amalan) dirimu, sebelum engkau dihitung (oleh Allah); dan timbanglah amal perbuatan atau kinerjamu sebelum benar-benar ditimbang di akhirat kelak!”
Memenej waktu juga sangat penting, sehingga perjalanan hidup kita ke depan menjadi lebih bermakna. Nabi SAW bersabda: “Jagalah dan manfaatkanlah (waktu antara) yang lima sebelum datang yang lima: waktu mudamu sebelum pikunmu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. al-Hakim).

Proses muhasabah juga harus dibarengi dengan pembuatan rencana atau program yang jelas dan visioner (melihat jauh ke depan). Dan harus berusaha mewujudkan dengan sungguh-sungguh. [islamaktual/sm/muhbibabdulwahab]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top