Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ahmad Syauqi Beik (w. 1932), seorang sastrawan Mesir, pernah menulis sebuah ungkapan kalimat yang sangat terkenal hingga kini, “Innama al-umamu al-akhlaqu ma baqiyat, fa in humu dzahabat akhlaquhum dzahabu”, yang kurang lebih bermakna, “jatuh bangunnya suatu bangsa disebabkan oleh akhlaknya. Jika runtuh akhlaknya, maka hancur pula bangsa itu”. Ungkapan ini sebenarnya merupakan warning (peringatan dini) bagi bangsa Mesir, yang pada saat itu menampakkan gejala dekadensi moral. Saat ini, ungkapan itu masih relevan untuk dinyatakan kembali, karena bangsa Mesir, kini masih menampilkan gejala yang kurang lebih tidak berbeda dengan bangsa Mesir pada saat ungkapan itu dinyatakan, bahkan juga relevan untuk dinyatakan kepada bangsa Indonesia saat ini. Sementara itu, Ibn Khaldun -dalam salah sau karyanya, Muqaddimah- menyatakan, bahwa bangsa “terjajah” cenderung mengikuti budaya “penjajahnya”. Dan, siapa yang kini tengah terjajah dan menjajahnya? Kita pun tengah menyaksikan di depan mata kita sendiri. Kita tidak perlu malu untuk mengatakan bahwa “kita” pun kini tengah terjajah, karena adanya indikator penting, “cenderung mengikuti budaya Barat, yang tengah menjajah diri kita.”
Saat ini, di negeri kita tercinta, hampir semua gaya hidup bersumber dari Barat. Peradaban kita sudah benar-benar berorientasi ke Barat. Dan apapun yang berseberangan dengan Budaya Barat dianggap “tertinggal”. “Kiamat Peradaban” -meminjam istilah Buya Ahmad Syafii Maarif- kini sudah terjadi. Kita tengah dijajah, dan -ironisnya- menikmati. Kita terbelenggu dalam “mindset” Barat, karena kita tengah menikmatinya. Kita sudah terjangkiti gejala inferiority complex, karena tidak pernah merasa percaya diri ketika tampil dengan kepribadian kita sendiri, dan selalu meniru “Barat”. Bahkan, Thaha Husein -seorang intelektual Mesir- dalam bukunya Mustaqbal al-Tsaqafah fi Mishr, yang seharusnya bertanggung jawab untuk mengingatkan bangsa Mesir untuk tidak “terbaratkan”, justru berteriak lantang dengan pernyataannya, “jika kita mau ‘maju’, wajib meniru Barat. Kita harus mengikuti orang-orang Barat. Kita mesti mengikuti jalan pikiran dan peradaban mereka secara menyeluruh, agar ‘kita’ (bangsa Mesir) bisa menjadi tandingan sekaligus partner mereka.” Lalu apakah sesuatu yang diusulkan oleh Thaha Husein itu -seluruhnya- sesuai untuk kepentingan bangsa kita? Kita lihat realitas bangsa Mesir sekarang ini, apakah mereka -dengan meng-”copy paste” budaya Barat (tanpa sikap kritis), telah menjadi partner mereka atau justru semakin terjajah? Lalu, apakah kita tidak mau belajar pada pengalaman mereka?
Di negeri kita tercinta, hampir semua aspek kehidupan -tidak terlalu berbeda dengan Mesir- sudah “terbaratkan” termasuk moralitas masyarakat kita. Budaya Barat sudah menjadi seolah-olah “tuan rumah”. Bahkan, ada seorang ustadz di sebuah acara talk-show di sebuah stasiun televisi swasta -beberapa hari yang lalu- dengan sangat yakin menyatakan, bahwa masyarakat kita sudah terlalu bangga ketika tampil bergaya Barat, dan kurang percaya diri ketika tampil dengan pola budaya sendiri. Mereka, telah mengalami gejala inferiority complex (rasa rendah diri yang timbul akibat konflik dalam diri seseorang. Sebuah konflik yang terjadi antara keinginan untuk diperhatikan dan rasa takut untuk dipermalukan. Sehingga setiap kegiatan yang ingin dilakukan selalu dibatasi oleh kedua hal itu).
Ingatlah kembali sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. al-Baihaqi dari Abu Hurairah, as-Sunan al-Kubra, X/191, no. 21301). Saat ini, “kita” sudah harus segera mengedepankan muru’ah, jika kita tidak mau terjajah dan terpuruk dlm ketidakberdayaan sebagai akibat dari penjajahan yang kita biarkan terjadi pada diri kita sendiri.
Apakah muru’ah, yang saya usulkan sebagai solusi? Meminjam penjelasan Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah at-Tuwaijiri (2006), dalam kitab Mausu’ah Fiqh al-Qulub, muru’ah adalah: “mengerjakan segenap akhlak yang baik dan menjauhi segenap akhlak yang buruk dalam seluruh aspek kehidupan; menerapkan semua hal yang akan menghiasi dan memperindah kepribadian, serta meninggalkan semua yang akan mengotori dan menodainya.”
Jadilah manusia yang dengan bangga “berbudaya baik”, yang dengan percaya diri berkemauan dan berkepribadian untuk berakhlak mulia. Jadikan muru’ah sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan kita. “Kita”, boleh saja mencontoh segala hal yang baik dari “Barat”, tetapi jangan terlena untuk membaratkan diri -tanpa sikap kritis- dengan “akhlak madzmumah” (akhlak tercela). Peradaban Barat memang telah “maju”, tetapi mereka tengah memiliki persoalan penting dalam hal “moralitas”. Kemajuan Barat boleh saja kita jadikan cermin, tetapi jangan sekejap pun lengah untuk “maju” seperti mereka tanpa landasan muru’ah.

Sekali lagi saya ingatkan, marilah kita mulai untuk berkompetisi dengan semangat “fastabiqu al-Khairat”. [islamaktual/sm/muhsinhariyanto]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top