Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kristenisasi di Sulawesi Selatan sudah lama dirintis. Usaha ini mulai dilakukan sejak pertengahan abad XVI, sebelum bersatunya kerajaan-kerajaan di jazirah Sulawesi Selatan. Pembawa Kristen paling awal adalah bangsa Portugis, bangsa ini dikenal sebagai bangsa penjelajah dan penakluk. Portugis pula bangsa pertama Eropa yang menginjakkan kakinya di nusantara. Portugis yng mempunyai hasrat untuk menemukan dan menguasai sumber rempah-rempah yang kala itu sangat dibutuhkan di Eropa. Disamping tujuan tersebut Portugis pula mempunyai tujuan lain, yakni kekuasaan dan penyebaran agama Kristen. Portugis menggunakan semboyan 3G, yakni Gold (kekayaan), Glory (kekuasaan) dan Gospel (penyebaran agama Kristen).
Menurut sumber-sumbernya, Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang berhasil menjangkau Sulawesi Selatan. Bangsa Portugis itu adalah Antonio de Payva. Ia datang pada tahun 1542. De Payva kemudian disusul oleh Rui Vaz Pareira dua tahun kemudian. Ruy adalahsaudagar Portugis yang berprofesi juga sebagai misionaris atau penyebar agama Kristen.
Usaha kristenisasi yang dilakukan oleh misionaris Rui Vaz Pareira ini membuahkan keberhasilan. Terbukti empat raja di Sulawesi Selatan berhasil dikristenkan. Keempat raja ini masing-masing Arung Alitta, Dattu Suppa, Arung Bacukiki dan Karaeng Siang.
Sumber Makassar pun membenarkan hal ini. Dalam lontarak yang terdapat pada koleksi UNHAS disebutkan bahwa: “Pendeta itu berhasil memasukkan Kristen Dattu Suppa yang bernama Makeraiye dan didirikan sebuah gereja di Kampung Maena. Ia juga berhasil memasukkan Kristen Raja Bacukiki, daerah yang terletak di pinggir laut, dan Raja Siang di Pangkajene”.
Kristenisasi juga kemudian sampai di kerajaan Tallo, dimana dikatakan dalam sumber Portugis, bahwa Raja Tallo I Mappatakang Kantana Daeng Padulung Tumenanga ri Kayaoang (1545-1577) berhasil dibaptis oleh Pastor Viegas pada tahun 1545. Meskipun misionaris-misionaris Portugis gencar melakukan kristenisasi dan hampir berhasil mengkristenkan Sulawesi Selatan. Sebab mereka telah berhasil membaptis beberapa penguasa diantaranya, Arung Alitta, Datu Suppa, Arung Bacukiki, Karaeng Siang dan Karaeng Tallo.
Beberapa faktor yang menyebabkan gagalnya kristenisasi pada waktu itu adalah ramainya orang-orang Arab yang datang untuk berdagang di Sulawesi Selatan serta tumbuhnya Kerajaan Gowa sebagai kerajaan besar yang menebarkan hegemoni kekuasaannya terhadap kerajaan-kerajaan tetangganya di jazirah Sulawesi Selatan. Apalagi pada tahun 1605 Islam dijadikan sebagai agama resmi Kerajaan Gowa.
Faktor terpenting lainnya yang menyebabkan terhentinya kristenisasi oleh bangsa Portugis, yakni kedatangan bangsa Belanda sebagai penguasa baru di Sulawesi Selatan. hegemoni Belanda ini ditandai dengan ditaklukkannya Kerajaan Gowa lewat Perang Makassar yang amat dahsyat yang berakhir dengan Perjanjian Bongaya tanggal 18 November 1669. Perjanjian ini sebagai titik awal berkuasanya bangsa Belanda di Sulawesi Selatan.
Dengan berkuasanya Belanda ini, praktis Portugis menjadi tersingkir dari panggung Sulawesi Selatan, sebab antara Belanda dan Portugis adalah musuh dalam segi politik, serta agama yang dianut oleh mereka, pada waktu itu masih tajam pertentangannya, yakni antara agama Kristen Protestan dan Kristen Katholik.
Pada mulanya Belanda bersikap netral terhadap agama dan lebih mengutamakan tujuan-tujuan sekulernya. Namun setelah terjadi perubahan kebijakan di negeri Belanda, yakni kebijakan Liberal (1855-1900), maka Belanda pun kemudian melaksanakan kristenisasi dengan mengirimkan Zending-zendingnya.
Jauh sebelumnya di Sulawesi Selatan kristenisasi sudah dilaksanakan, ini dibuktikan dengan adanya komunitas Kristen di Bonthain yang sudah mempunyai gereja. Gereja ini rencananya akan dijadikan sebagai pusat kristenisasi di daerah Bonthain, Bulukumba dan sekitarnya. Bahkan zending Belanda yang bernama Doonselaar pada tahun 1858, melakukan usaha kristenisasi dengan menterjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Makassar. Namun Injil versi bahasa Makassar ini kemudian dilarang beredar oleh pemerintah, sebab ditakutkan akan memicu kebencian rakyat yang sudah berabad-abad menganut Islam dan bahkan Islam bagi rakyat Sulawesi Selatan, sudah mendarah daging dalam lubuk sanubari mereka. Satu-satunya harapan bagi para zending Belanda dalam mencari “domba-domba yang tersesat” adalah mencari komunitas atau suku yang belum terkontaminasi oleh pengaruh Islam. Komunitas tersebut adalah Suku Toraja.
Suku Toraja terbagi atas empat kelompok besar, yakni Palu Toraja, Koro Toraja, Poso Toraja dan Sa’dan Toraja.
Dan Mattulada mengatakan bahwa : “orang Toraja, ialah penduduk Sulawesi Tengah, untuk sebagian juga mendiami Propinsi Sulawesi Selatan, ialah wilayah Kabupaten Tana Toraja dan Mamasa. Mereka itu biasanya disebut orang Toraja Sa’dan …”
Suku Toraja yang bermukim di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menurut para ahli disebut Toraja Sa’dan. Mereka bermukim di pegunungan dan lembah-lembah sungai Sa’an di daerah Tana Toraja dan Mamasa. Usaha para zending Belanda mulai nyata hasilnya sekitar tahun 1990-an. Sebuah lembaga pengkabaran Injil dalam bahasa Belanda bernama Gereformeerde Zending Bond (GZB) yang berpusat di negara Belanda adalah salah satu sponsor kristenisasi kepada suku Toraja. Tahun 1901-1923 adalah awal kristenisasi disana.
Disinilah pusat agama Kristen mulai dari sebelum kemerdekaan Indonesia sampai saat ini. Bahkan ada indikasi kuat bahwa di daerah ini dijadikan sebagai pusat kristenisasi ke segala penjuru Sulawesi Selatan. Sebab Tana Toraja dan Mamasa didukung oleh keadaan geografis yang terisolasi dari pengaruh Islam.
Seperti yang dikatakan oleh N. Adriani: “Daerah Tana Toraja adalah daerah yang paling baik sebagai pusat daerah Pangkalan Injil karena jauh dari pengaruh Islam, ini disebabkan karena letak Tana Toraja di atas gunung, sedangkan kekuasaan Islam menduduki daerah pantai.”
Adapun saluran kristenisasi di Sulawesi Selatan dari dulu sampai saat ini seperti yang dikatakan oleh Sarira: “Orang Kristen harus masuk ke dalam tiap bagian, ke dalam politik, pelayanan politik dan nasional, seni dan kebudayaan, guna bekerja sama secara nyata dengan orang-orang bukan Kristen dan menjadi saksi Kristen dalam segala hal.”
Menurut Van den End, orang-orang Indonesia masuk ke agama Kristen disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya faktor politik, stratifikasi sosial dan perkawinan. Jadi dapat disimpulkan bahwa saluran kristenisasi yakni faktor ekonomi, politik, pelayanan kesehatan serta sarana pendidikan/sekolah-sekolah.
Para zending dengan giat dan sistematis melakukan kristenisasi sampai saat ini. Daerah Tana Toraja dan Mamasa yang sebelumnya telah berhasil dikristenkan, kemudian menjadi pusat pengkabaran Injil ke seluruh jazirah Sulawesi Selatan.
Penyebaran misi kristenisasi di Tana Toraja terbilang cukup halus. Pemberian sumbangan-sumbangan sembako, penyediaan sarana dan prasarana umum serta penyebaran orang Kristen untuk menjadi zending di daerah ini. Sementara gerakan dakwah Islam masih sangat minim disana.
Hal ini juga diakui oleh ustadz Thamrin, menurutnya selain memberikan bantuan sosial, pada 2 tahun yang lalu mereka juga menyebarkan selebaran-selebaran Kristen ke murid-murid di sekolah negeri, salah satunya SD Negeri 4 Rante Pao.
Untuk para petani, pihak mereka juga telah menyiapkan motivator-motivator pembangunan yang direkrut pleh Gereja Toraja dengan mendapatkan kucuran dana dari Jerman. Tugas para motivator ini selain untuk membantu para petani, mereka juga membawa misi penginjilan. Menurut Pak Dahlan K. Bangnga Padang, Lurah Lemo, Kec. Mengkendek, Kab. Tana Toraja, pada tahun 2002 pola motivator pembangunan ini telah dirubah, yang awalnya melalui gereja, kini sudah menggandeng pemerintah dijadikan sebagai mitra.
Jumlah masyarakat muslim yang mencapai + 13% (sebelum pemekaran menjadi Kab. Tana Toraja dan Toraja Utara), sangat membutuhkan sentuhan dakwah para da’i dan da’iyah. Apalagi perkembangan Islam di Tana Toraja, semakin berkembang secara kuantitatif, namun secara kualitatif sangat memprihatinkan, karena jumlah sarana dan prasarana penunjang seperti madrasah-madrasah masih minim dan jaraknya sulit dijangkau, sehingga tidak jarang anak-anak muslim terpaksa harus disekolahkan di sekolah Kristen terdekat dan tersebar dimana-mana. Di Rante Pao sendiri (Kab. Toraja Utara), menurut Thamrin memiliki jumlah muslim sekitar 70%, namun tidak ada satupun Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang berdiri disana. Begitu pula di Kec. Mengkendek bagian utara, Kab. Tana Toraja yang terdapat 254 kepala keluarga dengan jumlah masjid 9 buah, namun di daerah ini tidak memiliki satupun sekolah Islam dan Negeri sementara jarak SMP Negeri dari desa lain dengan desa tersebut 7 - 11 kilometer.

Warga muslim Tana Toraja sampai saat ini sangat mengharapkan adanya pembangunan sarana-prasarana yang menunjang bagi umat Islam di tempat mereka, seperti madrasah dan sekolah-sekolah Islam agar umat Islam tidak lagi menjadi umat yang termarjinalkan. Harapan ini juga disampaikan oleh Dahlan, selaku salah satu lurah dan pemangku adat di Tana Toraja, ia melihat pembinaan umat rata-rata masih belum maksimal, karena kurangnya muballigh dan sarana penunjang dakwah disana. Untuk itu, beliau menghimbau kepada pemerintah maupun seluruh masyarakat Islam yang ada di tanah air ini, untuk berkunjung dan melihat kondisi riil umat di Tana Toraja. [islamaktual/tabligh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

1 comments:

  1. org islam ditoraja hanya pendatang khusunya imigran dr pulau jawa

    ReplyDelete

Visit Us


Top