Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kontroversi kembali dilakukan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror POLRI dalam penagnkapan terduga teroris. Kali ini Ustadz Bahri, seorang tokoh pondok pesantren di Makassar ditangkap dengan cara yang dinilai kasar oleh Densus 88 pada Jumat (24/4) lalu.
Dari keterangan saksi, Ustadz Bahri yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Al Qur’an, ditabrak motornya saat sedang berkendara dengan putranya yang berusia 3 tahun.
Setelah terjatuh, Bahri lalu disergap 12 anggota Densus. Ustadz Basri kemudian ditelikung tangannya menggunakan injakan sepatu lars usai ditabrak. Kemudian diborgol dan diseret ke mobil aparat.
Menurut pengamat terorisme, Musthofa Nahrawardaya, cara-cara penyergapan yang dilakukan Densus 88 kepada terduga pelaku terorisme, bukan saja memperluas rasa kebencian umat Islam, tetapi juga berpotensi melahirkan teroris-teroris baru.
“Bagaimana pun, seorang pengasuh Pondok Pesantren memiliki pengaruh di lingkungannya. Sehingga, cara brutal polisi dalam memperlakukan mereka, bisa berbuah pahit: balas dendam!” ujar Musthofa seperti dikutip islampos.com.
Rasa sakit umat Islam menurut Mustofa belum sembuh atas perlakuan brutal BNPT dan Kemkominfo yang memblokir Media Islam tanpa kompromi dan tanpa aturan.
“Kini giliran Densus melakukan tindakan keji. Memperlakukan ulama yang belum jelas duduk persoalannya bagaikan hewan. Hanya berdasar dugaan, lalu menindak ulama tanpa pertimbangan,” ujarnya.
Wacana pemberantasan terorisme yang selama ini digencarkan oleh BNPT dan Densus akan sia-sia, jika cara penangkapan seperti ini tidak bisa dikurangi papar Mustofa.

“Bukannya teroris berkurang, tapi justru akan menambah jumlah. Ustadz Basri yang diduga punya bendera ‘mirip’ bendera ISIS, kini hilang,” ujar anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah ini. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top