Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Mempelajari sejarah pendidikan Islam pada masa Rasulullah dapat memberikan deskripsi bagi kita bagaimana Rasulullah membentuk masyarakat yang sebelumnya berada pada masa kegelapan menuju masyarakat yang memiliki peradaban. Sejarah pendidikan masa lalu bisa menjadi acuan bagi generasi sesudahnya sebagai kajian untuk sekarang dan masa mendatang, khususnya dalam pendidikan Islam. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa sejarah pasti berulang walaupun berbeda ruang dan waktu yang melingkupinya. Tulisan ini berupaya mendeskripsikan pendidikan yang berlangsung pada masa Rasulullah meliputi tujuan, pendidik dan peserta didik, materi, metode, dan lembaga pendidikan.
Sejarah Hidup Muhammad
Pada masa pra Islam atau sebelum diangkatnya Muhammad menjadi Nabi, kondisi bangsa Arab mengalami kebobrokan dan kemerosotan keyakinan dan moral. Berhala menjadi simbol dan orientasi kehidupan masyarakat. Kemusyrikan dan dekadensi akhlak yang dilingkupi kebohongan telah menghancurkan sisi humanis masyarakat Arab. Walaupun demikian, mereka juga dikenal sebagai bangsa yang memiliki kemajuan ekonomi (Jaih Mubarok, 2005 : 24). Makkah pada saat itu merupakan tempat dan jalur perdagangan internasional. Makkah menjadi pusat peradaban baik politik, ekonomi, dan budaya yang penting (M. Abdul Karim, 2012 : 56). Masyarakat Arab saat itu telah memiliki peradaban dan kebudayaan yang maju, seperti, majunya kesenian syair, keterampilan hidup, dan sebagainya. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara peradaban masyarakat telah mengenal pendidikan yang diwariskan secara turun-menurun.
Masyarakat Arab pra Islam memiliki ciri-ciri, menganut paham kesukuan atau kabilah, memiliki tata sosial politik tertutup dengan partisipasi warga yang terbatas, mengenal hierarki sosial yang kuat, dan kedudukan perempuan cenderung direndahkan (Jaih Mubarok, 2005 : 24). Oleh karena itu, kehadiran Rasulullah laksana cahaya di tengah kegelapan. Rasulullah merupakan pembawa cahaya perubahan dan penyempurna kehidupan manusia. Ia tidak hanya diutus bagi manusia atau umat Islam saja melainkan bagi semuanya yakni manusia dan alam. Kehidupan Rasulullah dapat dibagi dalam dua periode yakni periode Makkah dan periode Madinah. Di kedua tempat yang terkenal dalam dunia Islam inilah Rasulullah mendakwahkan Islam. Di tempat ini pula Rasulullah membangun peradaban unggul melalui pendidikan.
Rasulullah lahir di Makkah pada tahun 570 atau 571 M atau bertepatan dengan tahun Gajah, tahun di mana pasukan bergajah (orang Habsyi/Abysina) menyerang kota Makkah. Ayah Muhammad bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan ibunya bernama Aminah (M. Abdul Karim, 2012 : 62). Sejak kecil hingga masa anak-anak Muhammad telah ditinggal wafat oleh ayah dan ibunya.
Pada masa remaja Muhammad dikenal sebagai orang yang berbudi luhur, berkepribadian kuat, dan dikenal sebagai al-amin (dapat dipercaya). Karena setiap amanah yang dipercayakan kepadanya dapat diselesaikan dengan baik. Pada usia 12 tahun ia dan pamannya Abu Thalib, diamanatkan Siti Khadijah, seorang saudagar Makkah, untuk menjalankan dagangannya ke Syam. Begitu pun saat Muhammad berusia 25 tahun, perdagangan yang dibawa Muhammad membawa keuntungan besar bagi Khadijah (M. Abdul Karim, 2012 : 62). Pada usia 40 tahun, Muhammad diangkat oleh Allah menjadi Nabi yang ditandai turunnya wahyu pertama al-Qur’an surat al-’Alaq ayat 1-5 yang dibawa oleh malaikat Jibril.
Untuk mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat yang begitu rendah keyakinan dan moralnya, Rasulullah tidak melakukannya secara instan dan ambisius. Ada tahap dan proses yang dilakukan oleh nabi. Dengan bimbingan dan hidayah Tuhan, nabi mulai melakukan perubahan dengan mengajak dan mendidik kerabat dan rekan-rekannya serta dimulai dari lingkungan kecil. Rasul melakukan hal demikian karena dari lingkungan terdekatlah seseorang bisa diajak dan diperbaiki. Selain itu secara personal Rasulullah telah mengenal dan mengetahui kebiasaan mereka.
Pendidikan yang dilakukan Rasulullah dilakukan secara bertahap. Pertama kali Rasulullah melakukannya secara sembunyi dan perorangan, kemudian setelah umat Islam berkembang dengan bertambahnya jumlah umat dan memiliki pengaruh, maka syiar dan pendidikan dilakukan dengan terang-terangan. Ada dua periode atau masa dimana Rasulullah mendidik umatnya. Pertama, periode Makkah, dimulai sejak Nabi diutus sebagai Rasul hingga hijrah ke Madinah (selama 12 tahun 5 bulan dan 21 hari). Nabi merupakan sosok sentral dalam pendidikan masa ini atau sistem pendidikan bertumpu kepada Nabi. Materi pengajaran yang diberikan berkisar pada ayat-ayat al-Qur’an yang berjumlah 93 surah dan petunjuk-petunjuknya yaitu Hadits dan Sunnah (Suwendi, 2004 : 7). Pada periode ini penyiaran Islam menghadapi tantangan yang berat dari penduduk Makkah yang masih enggan untuk beriman. Menghadapi tantangan yang demikian berat maka Rasulullah dan pengikutnya melakukan hijrah ke Madinah untuk menyelamatkan dan mengembangkan Islam, karena kondisi Madinah yang lebih kondusif daripada Makkah.
Kedua, periode Madinah, dimulai dari 1 H hingga 11 H. Usaha yang pertama dilakukan adalah membangun masjid. Melalui masjid, Nabi memberikan pendidikan dan pengajaran. Ayat-ayat al-Qur’an yang diterima pada periode ini adalah 22 surat atau sepertiga isi al-Qur’an. Pendidikan berkisar pada 4 bidang yaitu pendidikan keagamaan, pendidikan akhlak, pendidikan kesehatan jasmani, dan pengetahuan yang berkaitan dengan masyarakat (Suwendi, 2004 : 10).
Nabi SAW melakukan proses pendidikan Islam selama 23 tahun, dan membuahkan prestasi yang cemerlang, yakni mengeluarkan manusia dari kebodohan menuju kecerdasan (Yusuf Khatir Hasan al-Shuriy, 1990 : 14). Di Makkah dan Madinah nabi melakukan dakwah dan pendidikan. Antara dakwah dan pendidikan yang dilakukan Rasulullah memang tidak ada perbedaan yang signifikan. Di satu sisi Rasulullah berdakwah juga dalam rangka mendidik umatnya, sementara di sisi lain Rasulullah mendidik dan mengajarkan umatnya juga dalam rangka berdakwah.
Tujuan Pendidikan
Dalam mendidik umat, Rasulullah tidak melakukannya dengan ala kadarnya, melainkan memiliki maksud dan tujuan. Tujuan pendidikan yang berlangsung pada periode Makkah adalah membina pribadi Muslim agar menjadi kader-kader yang berjiwa kuat dan tangguh dari segala cobaan untuk dipersiapkan menjadi masyarakat Islam dan muballigh serta pendidik yang baik (Hanun Asrahah, 1999 : 13). Sedangkan tujuan pendidikan pada periode Madinah tidak hanya ditujukan untuk membentuk pribadi Islam, tetapi juga untuk membina aspek-aspek kemanusiaan sebagai hamba Allah untuk mengelola dan menjaga kesejahteraan alam semesta (Hanun Asrahah, 1999 : 15). Tujuan kedua periode tersebut berbeda dan mengalami perkembangan yang signifikan. Tujuan pertama dimaksudkan untuk membentuk dan membina pribadi Muslim yang kuat. Hal tersebut sangat beralasan karena kondisi masyarakat Makkah pada saat itu yang masih diselimuti kesyirikan dan membutuhkan pencerahan. Sedangkan tujuan pada periode Madinah lebih luas dan mengalami perkembangan karena kondisi masyarakat di sana semakin kondusif dan kebutuhan untuk mengembangkan berbagai hal selain ketauhidan juga semakin dibutuhkan, seperti ekonomi, sosial, dan sebagainya.
Sifat-sifat Rasulullah sebagai Pendidik
Rasulullah merupakan seorang pendidik yang menjadi panutan bagi umatnya. Ia merupakan sosok ideal dalam dunia pendidikan Islam. Rasulullah memiliki sifat-sifat mulia yang dapat dijadikan contoh bagi pendidik. Sifat-sifat tersebut adalah kasih sayang, sabar, cerdas, tawadlu (rendah hati), bijaksana, pemaaf dan lapang dada, berkepribadian yang kuat, dan senang beramal (Yusuf Khatir Hasan al-Shuriy, 1990 : 15-17). Bagi Rasulullah peserta didik terutama anak merupakan karunia Allah yang harus dididik dengan beragam ilmu pengetahuan dan keterampilan. Peserta didik memiliki potensi dan fitrah untuk berkembang. Lingkungan keluarga (orangtua) memainkan peranan yang penting dalam perkembangan pendidikan peserta didik. Peserta didik bukanlah sesuatu yang kosong tanpa ada potensi untuk berkembang, tugas pendidik adalah mengarahkan dan membimbing peserta didik sesuai potensi dan fitrahnya masing-masing. Pendidikan Islam dimulai sejak masa anak-anak tepatnya ketika lahir, kemudian masuk ke madrasah (sekolah) untuk lebih memahami tentang Islam, Nabi telah mewajibkan kepada para orangtua untuk mendidik anak-anak.
Kurikulum Pendidikan
Dalam konteks pendidikan masa Rasulullah lebih tepat digunakan istilah materi yang merujuk pada bahan-bahan atau subjek yang diberikan dalam pendidikan, daripada term kurikulum. Materi pendidikan merupakan komponen utama dalam pendidikan. melalui materilah segala hal disampaikan dan diajarkan.
Pada periode Makkah materi pendidikan terfokus pada pendidikan tauhid dan pengajaran al-Qur’an (Samsul Nizar, 2011 : 34-35 dan Zuhairini, ddk, 1995 : 23-31). Mahmud Yunus membagi materi pendidikan periode Makkah menjadi, pendidikan dan keimanan, pendidikan ibadah, dan pendidikan akhlak. Sedangkan materi pendidikan pada fase Madinah berupa pendidikan keimanan, pendidikan ibadah, pendidikan akhlak, pendidikan kesehatan (jasmani), dan pendidikan kemasyarakatan (Samsul Nizar, 2011 : 12-13). Dari sini terlihat bahwa materi pendidikan (kurikulum) dalam pendidikan Islam tidak hanya mengacu pada pendidikan agama semata, namun juga memuat pendidikan umum. Jadi pada masa Rasulullah tidak ada dikotomi ilmu antara ilmu agama dan ilmu umum. Kedua-duanya dibutuhkan oleh masyarakat (peserta didik). Dengan adanya integrasi materi (keilmuan) dalam pendidikan yang terjadi pada masa Rasulullah, maka pendidikan Islam sekarang seharusnya memperhatikan hal tersebut.
Metode Pendidikan
Rasulullah adalah orang yang bijak dalam segala hal. Dia merupakan pendidik yang bisa menggunakan dan memanfaatkan metode-metode pembelajaran dengan baik. Ada beberapa metode yang digunakan oleh rasulullah dalam pendidikan yakni ceramah, bercerita atau kisah, dialog, diskusi atau tanya jawab, teladan atau demonstrasi, pembiasaan, hafalan, dan kiasan (Samsul Nizar, 2011 : 35). Bervariasinya metode yang digunakan rasulullah di atas ebrguna untuk mengindari kejenuhan, menyesuaikan dengan materi, dan keadaan peserta didik. Rasulullah sendiri telah memberikan contoh dalam mendidik dengan metodenya yang edukatif dan humanis.
Lembaga Pendidikan
Pada masa Rasulullah telah ada lembaga atau institusi yang berfungsi sebagai tempat pendidikan dan pengajaran Islam. Institusi-institusi ini adalah lembaga yang ada sebelum Islam maupun institusi yang didirikan pada masa Islam. Lembaga-lembaga tersebut adalah rumah sahabat nabi yaitu Arqam bin Abi al-Arqam, kuttab (tempat untuk memberikan pengajaran membaca dan menulis dasar), dan masjid.

Masjid pada masa Rasulullah tidak hanya berfungsi dan dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah semata, namun juga dimanfaatkan untuk kemaslahatan lain, seperti tempat memberikan pendidikan dan pengajaran, tempat peradilan, tempat tentara berkumpul, dan tempat menerima duta-duta dari luar negeri (Ahmad Syalabi, 1973 : 92). [islamaktual/sm/nuryadin]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top