Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Di negeri ini kehidupan makin aneh. Kala musim ujian nasional tiba, sekelompok siswa di sejumlah tempat pergi ke kuburan yang dikeramatkan. Mereka memang berdoa, tetapi tidak bisa dihindari adanya unsur klenik. Kenapa harus pergi ke kuburan, bukan giat belajar sambil berdoa kepada Allah di tempat masing-masing. Lebih-lebih memandang yang di kuburan itu sebagai orang suci.
Musim pemilihan umum tiba, giliran para elit politik yang berbondong-bondong ke kuburan. Sama, katanya berdoa. Tapi perangainya tetap klenik, yang menyentuh praktik berbau kemusyrikan. kenapa malah tidak pergi ke masjid, shalat dengan khusyu’ yang dituntunkan Rasulullah, dan bermunajat kepada Allah Yang Maha Rahman dan Rahim. Bukan menjadikan kuburan dan orang yang sudah meninggal sebagai washilah, jalan perantara untuk berdoa.
Paling parah, banyak elit politik diberitakan pergi ke dukun atau paranormal untuk memenangkan pencalonannya. Mereka memberi upeti atau sesaji. Kemudian melakukan ritual tertentu, bahkan ada yang memberi label riyadhah (olah spiritual) ala kaum tarekat. Seorang caleg perempuan di suatu daerah di Jawa Timur berendam di sungai untuk memperoleh keberuntungan, katanya riyadhah. Alasan klasiknya sama, berdoa kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Tapi lagi-lagi melibatkan unsur kuburan, orang meninggal, dan dukun. Muhammadiyah menyebutnya penyakit TBC yakni tahayul, bid’ah dan churafat.
Baiklah, ada aliran atau golongan Islam tertentu yang menganut pandangan paham washilah dalam berdoa dibolehkan. Tetapi jika mau jujur ditakar dengan paham kemurnian akidah kecenderungan akhirnya bermuara pada praktik syirik, bid’ah dan tahayul atau khurafat. Mereka meyakininya sekadar jalan (washilah) menuju Tuhan. Tapi, apapun jika praktik-praktik keagamaan seperti itu terus dihidup-suburkan dan kemudian dibawa ke ranah publik yang memerlukan kejernihan iman, keluasan ilmu, dan lurusnya amal maka praktik-praktik tersebut tetap bermasalah secara akidah.
Urusan sekolah dan politik pun dibawa dan dibalut menjadi berbau klenik, lantas mau dibawa ke mana bangsa dan negara ini? Kalau dari hulunya sudah tidak lurus maka terbuka peluang untuk perbuatan-perbuatan yang bengkok di hilir seperti korupsi, gratifikasi, dan tindakan-tindakan menyimpang lainnya.
Menurut Hasybi Asy-Shiddieqy mengutip Kitab Ma La Budda Minhu terdapat duapuluh perkara yang dapat merusak iman atau tauhid seorang Muslim. Keduapuluh sifat buruk tersebut ialah bermantera bukan dengan ayat al-Qur’an dan menggunakan jimat; memuja pepohonan, batu dan sebagainya atau memohon berkat darinya; membuat sesajian atau mempersembahkan kurban kepada yang selain Allah; bernadzar kepada yang selain Allah; memohon perlindungan kepada yang selain Allah.
Perbuatan yang dapat merusak iman dan tauhid lainnya ialah meminta tolong kepada yang selain Allah; meminta syafaat kepada yang selain Allah; memuja orang-orang shalih yang disebut wali; shalat di sisi kuburan; bersihir dan menenung; melihat nasib atau membuat membuang sial; memastikan turunnya hujan melalui ramalan bintang; mencintai dan takut kepada yang selain Allah seperti layaknya mencintai dan takut kepada Allah; melakukan suatu perbuatan karena riya’ dan dunia; menaati ulama atau umara yang berakibat durhaka kepada Allah; menghalalkan apa yang diharamkan atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah.

Kemudian sifat buruk lainnya ialah menyekutukan Allah; bersumpah dengan yang selain Allah; menyamakan kehendak Allah dengan kehendak makhluk; menyesali dan memaki waktu; menggelari diri dengan sesuatu yang buruk; mengolok-olok sesuatu yang padanya ada sebutan Allah; dan meminta syafaat kepada makhluk dengan menjadikan Allah sebagai perantara. Perbuatan seorang Muslim yang seperti itu disebutkan Allah dalam al-Qur’an sebagai “Wa min al-nas man ya’budu Allah ‘ala harfin”, artinya manusia yang menyembah Allah hanya di bagian tepinya belaka (QS. al-Hajj : 11). [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top