Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Salah satu kebiasaan Khalifah Umar ibn al-Khattab adalah berjalan-jalan ke perkampungan untuk melihat keadaan rakyatnya. Hingga pada suatu malam menjelang fajar, al-Faruq menyandarkan tubuhnya di pojok rumah warganya sejenak menghilangkan keletihan. Tiba-tiba, ia mendengar suara seorang wanita berkata kepada putrinya,”Anakku, campurlah susu itu dengan air sebelum subuh datang.”
Gadis itu menjawabnya,”Wahai ibuku! Tidakkah engkau mengetahui apa yang diserukan Amirul Mukminin Umar ibn al-Khattab?”
Wanita itu berkata,”Apa yang ia serukan, wahai putriku?”
“Dia memerintahkan penyerunya untuk mengingatkan, ‘Jangan (mencampur) susu yang hendak dijual dengan air!’ “ jawab putrinya.
Wanita itu berkata,”Sudahlah, campurlah susu itu dengan air dan aduklah. Sesungguhnya engkau berada di sebuah tempat yang kamu tidak akan dilihat oleh Umar, dan tidak pula penyeru Umar.”
Dengan tangkas gadis itu menyahut, “Wahai ibuku! Jika Umar tidak tahu, maka sungguh, Tuhan Umar mengetahui. Demi Allah! Aku tidak akan mematuhi-Nya di depan umum lalu mendurhakai-Nya di kala sendiri.”
Pagi harinya, Umar yang mendengar percakapan wanita dan putrinya itu berkata kepada putranya, Ashim,”Wahai Ashim, pergilah ke tempat ini, sesungguhnya di sana terdapat seorang gadis. Jika engkau mau dan ia tidak sibuk, nikahilah dia. Semoga Allah menganugerahimu kelembutan dan kejujuran yang diberkahi darinya.”
Ashim pun akhirnya menikahi gadis itu dan memberinya seorang anak perempuan bernama Ummu Ashim. Ummu Ashim ini kemudian dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan. Dari pasangan ini lahirlah seorang anak bernama Umar bin Abdul Aziz, yang kelak menjadi khalifah adil, jujur dan membawa masa keemasan kekhalifahan Bani Umayyah di Damaskus.
Bukan hanya pelajaran pertimbangan agama dalam memilihkan jodoh untuk anaknya, Umar ibn al-Khattab memilih putri wanita penjual susu sebagai istri bagi anaknya, Ashim. Ia tidak memandang keturunan, harta dan kedudukan calon menantunya.
Lebih dari itu, bagaimana merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana yang dirasakan gadis pilihan Umar untuk putranya. Iman gadis itu telah mengantarkan pada satu keyakinan bahwa ia selalu merasa diawasi oleh Tuhannya saat sendiri atau orang lain mengitari.  Rupanya, keimanan mendorong seseorang untuk ‘melihat’ dan merasakan kedekatan dengan Tuhannya. Gadis itu telah mencapai tingkatan ihsan, “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia pasti melihatmu.”
Sang gadis penjual susu itu rupanya menyadari betul keberadaan Tuhannya. Tuhan memang tidak pernah terlihat secara kasat mata di depan manusia. Tetapi, sebagaimana keyakinan seorang yang beriman kepada Allah, bahwa Allah itu ada. Ada-Nya meliputi segala sesuatu. Allah itu Esa, namun Dia ada dimana-mana.
Jika boleh diibaratkan seperti si A yang ada dalam ruangan. Ketika ia ada di pojok, ruangan belakang kita, akankah ia dianggap tidak ada? Atau, misalnya, ia masuk di kolong meja dan kita tidak melihatnya, apakah si A juga dianggap tidak ada? Maka, adanya Allah di alam semesta ini sama dengan adanya si A yang ada dalam ruangan tersebut. Manusia dan seluruh makhluk-Nya tidak akan dapat mengetahui dan menguasai seluruh jagat alam semesta ini, tetapi Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah tidak pernah terlhat secara kasat mata oleh pandangan dan jangkauan pemikiran kita sekalipun. Namun, Dia Maha Mengetahui atas apa yang dilakukan oleh makhluk-Nya, termasuk manusia dan jin di dalamnya.
Membangun kesadaran bahwa Allah itu Maha Dekat tidak bisa muncul dari satu anggapan atau khayalan, melainkan hanya bisa muncul dari keimanan yang mendalam. Ketika seseorang masih merasa dan menganggap dirinya beriman kepada Allah, maka pada saat yang sama ia juga (semestinya) percaya bahwa dirinya dalam pengawasan dan liputan kasih sayang-Nya. Karena iman seseorang itu bisa bertambah dan berkurang, maka kesadaran akan keberadaan Allah pun sering muncul dan tenggelam. Kadang ia ingat dan merasa dekat dengan Tuhannya, kadangkala ia juga lupa bahwa Tuhan ada di dekatnya.

Tidak bisa tidak, semua itu tergantung kepada diri masing-masing orang, apakah ia tetap berada pada jalur yang benar dan di persimpangan jalan iman. “ingatlah bahwa berdzikir itu dapat menenangkan hati,” demikian firman Allah. Wallahu a’lamu. [islamaktual/sm/bahrussurur]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top