Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Suatu kali Nabi ditanya oleh para sahabat. Kenapa engkau maafkan dan bahkan mendo’akan kebaikan bagi orang-orang yang melukai di kala Perang Uhud? Padahal kala itu engkau terluka hingga gigi pecah. Nabi menjawab, aku diutus bukan untuk melaknati orang, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat dan risalah dakwah.
Nabi sungguh pemaaf. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah itu pemaaf dan suka memaafkan”. Di lain hadits Nabi bersabda, “Barangsiapa memberi maaf ketika dia mampu membalas, maka Allah akan mengampuni dia di saat kesukaran”. Beliaupun bersabda, “Bahwa orang yang memberi maaf pada orang yang mendzaliminya karena mengharap ridla Allah, maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya di hari akhirat.
Berbeda dengan sebagian umatnya. Untuk menjadi pemaaf itu sungguh tidak mudah. Jika salah satu sulit meminta maaf, ketika benar lebih sulit lagi untuk memberi maaf. Lebih terbiasa memelihara dendam, kesumat, dan mengawetkan amarah dalam hubungan dengan sesama. Segala hal hanya diukur dari rasio dan rasa, yang sesungguhnya tidak memberikan nilai positif bagi diri sendiri. Sebab dendam dan amarah atas kesalahan orang lain itu jika terus dipelihara hanya menyiksa diri sendiri.
Orang yang sulit meminta maaf padahal salah akan menyiksa batinnya sendiri. Selama hidupnya akan dikejar rasa bersalah sekaligus menjadikan hatinya tidak tentram. Memang tidak mudah meminta maaf, karena merasa diri akan jatuh. Lebih-lebih manakala harus meminta maaf kepada orang yang dipandang rendah atau lebih bawah. Gengsi dan perasaan akan hilang kehormatan diri menyelinap dalam batin, sehingga timbul rasa angkuh untuk meminta maaf. Apalagi jika dalam relasi yang terjadi, pihak yang mau dimintakan maaf itu ada unsur salahnya, sehingga makin enggan meminta maaf.
Lebih sulit lagi orang memberi maaf. Pada umumnya orang memberi maaf itu posisinya di atas. Dia benar dihadapan orang lain yang salah. Berbagai dalih dan perasaan apapun sering memperkuat sikap angkuh untuk memberi maaf pada orang yang bersalah terhadap dirinya. Rasa sakit, terluka, terugikan, dan segala hal yang ada dalam rasa dikapitalisi sehingga tidak mau memaafkan orang lain. Energi batin yang positif pun rela dilepas demi menjaga perasaan diri yang serba sakit. Diri akhirnya sebenarnya tersiksa. Padahal jika berani dan ikhlas melepaskan sangkar besi rasa yang bergolak untuk menjadi pemaaf maka selain akan membebaskan belenggu ruhani menuju pada kelapangan, Allah pun akan memberikan berkah.
Permaafan (al-’afwu) menurut al-Hufy ialah memberi maaf atau ampunan terhadap kesalahan orang lain tanpa rasa benci atau sakit hati, serta tidak ada keinginan untuk membalas padahal dirinya mampu membalasnya. Perbuatan memberi maaf ialah tindakan orang yang benar berhadapan dengan orang yang salah, karenanya menjadi lebih mulia. Meminta maaf merupakan perbuatan terpuji karena mengakui diri salah dan ingin bebas dari dosa. Namun memberi maaf jauh lebih terpuji karena dalam posisi yang benar dirinya berlapang hati untuk memberi maaf kepada orang yang berbuat salah kepada dirinya, sehingga derajatnya lebih tinggi.
Pemaaf merupakan sifat utama dalam menjalin hubungan dengan sesama. Hidup dengan orang lain tidak akan bebas dari masalah yang tidak menyenangkan. Akan selalu ada sikap orang lain yang menyakiti, melukai dan berbagai tindakan yang tidak menyenangkan. Ketika kita berbuat baik sekalipun, tidak jarang ada orang lain bersifat negatif atau tidak baik terhadap kita, lebih-lebih manakala berbuat keburukan terhadap sesama. Manusia tempatnya salah dan khilaf, yang perbuatan salah dan khilaf itu sering berdampak pada orang lain.

Dalam kehidupan yang tidak lepas dari masalah itulah maka setiap Muslim diajarkan untuk memberi maaf, selain meminta maaf. Menjadi pemaaf merupakan tindakan mulia, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3]:133-134).  [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top