Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pada edisi sebelumnya, telah dipaparkan kelemahan beristidlal (menggunakan dalil) dari al-Qur’an untuk khitan perempuan. Setelah itu juga sudah dipaparkan bahwa Hadits Ummu Atiyah yang disebut sebagai tukang sunat spesialis kaum perempuan di zaman Nabi adalah Hadits yang dlaif. Pada bagian ini akan diuraikan tiga Hadits lainnya yang juga banyak dijadikan sandaran untuk praktik khitan perempuan, yaitu Hadits dari ayahnya Usamah, Hadits dari Abu Hurairah, dan Hadits dari Aisyah.
Hadits dari ayahnya Usamah, “Dari Abu al-Malih ibn Usamah dari ayahnya bahwasanya Nabi SAW bersabda: khitan itu sunnah bagi laki-laki dan kehormatan bagi perempuan.
Hadits di atas diriwayatkan oleh empat orang mukharrij, yaitu Imam Ahmad dalam kitab Musnad (no. 21262), al-Baihaqi dalam al-Sunan (no. 18022), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf dan al-tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (no. 8968). beberapa jalur meriwayatkan Hadits di atas secara mauquf (sanadnya hanya berhenti pada sahabat, tidak sampai pada Rasulullah), yaitu hanya sampai kepada Ibnu Abbas.
Setelah dilakukan penelitian, dalam mata rantai perawi Hadits di atas, terdapat seorang perawi yang dlaif, yaitu Hajjaj ibn Arthah. Ia adalah perawi mudallis (suka menyembunyikan kecacatan Hadits) yang menggunakan redaksi “an” dalam meriwayatkan Hadits ini. Dalam kaidah ilmu Hadits, jika seorang perawi mudallis melaporkan Hadits hanya dengan simbol “an” (dari) bukan “haddatsana” atau “akhbarana” (telah menceritakan kepada kami), maka Haditsnya adalah Hadits yang dlaif. Selain itu, Hajjaj juga dinilai lemah ahafalannya (naqshun qalilun fil hifzhi) dan suka meriwayatkan Hadits secara mursal (putus). Misalnya, Hajjaj mengaku menerima Hadits dari Yahya ibn Abi Katsir padahal ia tidak pernah bertemu dengan perawi tersebut (al-Dzahabiy, Siyar A’lam al-Nubala: VII/68).
Hadits dari Abu Hurairah: “Dari Abu Hurairah RA, aku mendengar Nabi SAW sedang bersabda: Fitrah itu ada lima, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku dan mencabuti bulu ketiak” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits di atas adalah Hadits yang diriwayatkan oleh banyak mukharrij Hadits, termasuk oleh Bukhari dan Muslim. Sehingga Hadits tersebut tidak diragukan lagi adalah Hadits yang berkualitas shahih.
Oleh kalangan yang mendukung khitan perempuan, Hadits Abu Hurairah di atas dijadikan sebagai salah satu dalil pendukung, karena terdapat pernyataan Nabi yang menyebutkan bahwa khitan adalah salah satu dari lima fitrah manusia. Hemat penulis, ada sejumlah kesulitan ketika menggunakan Hadits tersebut sebagai dalail untuk khitan perempuan.
Pertama, di dalam Hadits di atas disebutkan juga mencukur kumis. Bagaimana ini dilakukan oleh perempuan yang tidak memiliki kumis? Jelas tidak mungkin. Oleh karena itu, yang dapat dipahami dari sabda Nabi di atas adalah lima perbuatan yang disebut sebagai fitrah tersebut tidaklah berlaku secara equal (sama) antara laki-laki dan perempuan. Perbuatan yang mencakup baik oleh laki-laki dan perempuan hanya ada tiga yaitu: mencukur bulu kemaluan, memotong kuku dan mencabuti bulu ketiak. Sedangkan dua sisanya hanya berlaku khusus bagi laki-laki, yaitu mencukur kumis dan melakukan khitan.
Kedua, perawi Hadits di atas adalah seorang sahabat laki-laki, yaitu Abu Hurairah. Jika memang betul bahwa Nabi memerintahkan kaum perempuan untuk berkhitan, niscaya perintah tersebut akan disampaikan langsung oleh Nabi kepada sahabiyyah (sahabat perempuan), karena merekalah yang terkait langsung dengan khitab (perintah) Nabi. Jika tidak ada laporan sahabiyyah tentang perintah untuk berkhitan kepada mereka (sunnah qauliyyah), semestinya ada laporan yang menjelaskan langsung bahwa Nabi pernah mengkhitan anak atau cucu perempuannya (sunnah fi’liyyah). Namun kenyataannya dua jenis sunnah ini tidak ada. Inin menunjukkan bahwa Nabi tidak pernah memerintahkan perempuan untuk berkhitan dan Nabi sendiri tidak pernah mempraktekkan khitan kepada kerabat perempuannya.
Hadits dari Aisyah, “Dari Aisyah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda. Apabila (seorang suami) telah duduk di antara empat percabangan (istri)nya dan khitan (suami) telah menyentuh khitan (istri), maka telah wajiblah mandi besar.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 145), Ibnu Khuzaimah (no. 227), Abu Awanah (no. 646), Ibnu Hibban (no. 452) dan al-Baihaqi (no. 797).
Hadits yang senada dengan Hadits di atas adalah Hadits riwayat al-Syafii (no. 716), Ibnu Majah (no. 651), Ibnu Abi Syaibah (no. 956), Ahmad (no. 25656), al-Tabrani, al-Baihaqi (no. 796) berikut ini:
Dari Aisyah, istri Nabi SAW ia berkata, “Apabila dua khitan telah bertemu, maka telah wajiblah mandi besar. Aku melakukannya (hubungan badan) dengan Rasulullah, kemudian kami melakukan mandi besar.
Para penyokong khitan perempuan menganggap bahwa Hadits di atas adalah dalil yang paling kuat tentang khitan perempuan. Pemahaman tentang khitan perempuan diambil dari redaksi “khitan” di dalam Hadits yang digunakan untuk menunjukkan alat kelamin perempuan maupun laki-laki. Penggunaan kata “khitan” tersebut dianggap mengindikasikan bahwa selain laki-laki, perempuan juga diharuskan untuk berkhitan.
Terkait dengan Hadits di atas, sesungguhnya ada dua kemungkinan pemaknaan. Kemungkinan pertama, dalam Hadits di atas Nabi sesungguhnya berbicara dengan majaz (metafora), sesuatu yang sangat umum digunakan, baik oleh Nabi sendiri maupun oleh al-Qur’an. Dalam Hadits Aisyah di atas, kata “duduk di empat percabangan”, “menyentuh” dan “bertemu” sebenarnya adalah dua majaz yang digunakan untuk menyebut hubungan intim. Oleh karena itu kata “khitan” dalam Hadits tersebut juga harus dipahami dalam konteks majaz yang digunakan Nabi, bukan dalam arti sebenarnya. Makna yang dikehendaki dari kata khitan dalam Hadits adalah “dzakar” (alat kelamin laki-laki) dan “farj” (alat kelamin perempuan).
Kemungkinan kedua, dalam aturan bahasa Arab, menggunakan satu istilah untuk dua hal yang berbeda adalah sesuatu yang umum terjadi. Kata khitan, walaupun dalam praktik hanya dilakukan oleh laki-laki, namun dalam peristilahan juga digunakan untuk perempuan. Sama seperti penggunaan istilah “abawani” yang sekalipun secara harfiyah maknanya dua ayah, namun digunakan untuk menunjukkan ayah dan ibu (al-abb wa al-umm). “Bahrani” secara harfiyah maknanya dua lautan, namun digunakan untuk menunjukkan lautan (bahr) dan sungai (nahr). “Qamarani” secara harfiyah berarti dua bulan, namun dipakai untuk menunjukkan matahari (syams) dan bulan (qamar).

Pada akhirnya, setelah mengemukakan dua kemungkinan pemaknaan di atas menjadi jelaslah bahwa Nabi tidak pernah sama sekali memerintahkan kaum perempuan untuk melakukan khitan. [islamaktual/sm/m.rofiqmuzakkir]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top