Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Khitan perempuan, dalam bahasa Arab disebut “khifad”, oleh tradisi fikih diartikan sebagai “qath’u adna juzin min al-jaldah allati fi a’la al-farj fauq madkhal al-dzakar (memotong sedikit kulit klitoris yang ada di bagian atas dari vagina di atas tempat masuknya zakar)” [lihat al-Qamus al-Fiqhiy:I/112]. Fatwa MUI no. 9A tahun 2008 yang mendukung praktik khitan perempuan menjelaskan dua batasan dalam pelaksanaannya, yaitu: pertama, khitan perempuan cukup dengan hanya menghilangkan selaput (jaldah/colum/prapaeputium) yang menutupi klitoris. Kedua, khitan perempuan tidak boleh dilakukan secara berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi) yang mengakibatkan dlarar (bahaya dan merugikan).
Khitan perempuan dengan praktik seperti ini oleh madzhab Hanafi (al-Balkhi, al-fatawa al-Hindiyyah, XXXXIV:11), madzhab Maliki (Muhammad Alisy, Minahul Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, V/250) dan madzhab Hanbali (Ibnu Qudamah, al-Mughni:I/141) dianggap sebagai perbuatan sunnah dan merupakan kemuliaan (makrumah) bagi perempuan. Sedangkan dalam madzhab Syafii khitan dianggap sebagai perbuatan yang diwajibkan kepada perempuan seperti halnya kepada laki-laki. Dalam kitab al-Majmu’ Imam al-Nawawi (I/300) menyatakan: al-khitan wajibun ‘ala al-rijal wa al-nisa ‘indana, wa bihi qala katsirun min al-salaf (khitan adalah perbuatan yang diwajibkan menurut madzhab kita, madzhab Syafii, baik bagi laki-laki maupun perempuan).
Pertanyaan kita adalah apakah ada dukungan dari al-Qur’an dan Hadits Nabi terhadap praktik khitan perempuan? Berikut ini akan dikaji ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi yang umumnya digunakan madzhab-madzhab fiqih sebagai dasar syar’i khitan perempuan.
Diskusi Kritis Terhadap Dalil Al-Qur’an
Madzhab Syafi’i (lihat al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, XVII/185) dan Madzhab Hanbali (al-Bahutiy, Kasyf al-Qina’, I/222) menggunakan surat an-Nahl ayat 123 sebagai dalil yang menjadi dasar khitan perempuan. Menurut madzhab Syafii dan Hanbali, ayat tersebut memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi Ibrahim dalam beragama, termasuk dalam hal melaksanakan khitan. Menurut dua madzhab ini, perintah untuk berkhitan tersebut diturunkan baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan.
Dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 123 Allah SWT berfirman:
16_123.png
Kemudian telah kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad) agar engkau mengikuti agamanya Ibrahim yang lurus, dan ia tidak termasuk orang-orang yang musyrik
Tepatkah menggunakan ayat di atas sebagai dalil untuk menunjukkan wajib atau sunnahnya khitan perempuan? Bila kita lihat dengan kacamata teori penunjukan lafal nas terhadap hukum (dilalah al-alfazh ‘ala al-hukm), ayat di atas sesungguhnya tidak sedang menjelaskan tentang khitan, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Baik pada tingkatan makna primer (ibarah al-nas), makna sekunder (isyarah al-nas), maupun makna tersier (iqtidhau al-nas) tidak ada bagian ayat yang bersinggungan dengan khitan. Sehingga menariknya untuk menjadi dalil yang mendukung khitan perempuan tidak lebih dari sebuah bentuk pemaksaan (takalluf). Yusuf Qaradhawi menyatakan dalam bukunya Khitan al-Inats, bahwa makna perintah untuk mengikuti agama Ibrahim dalam ayat tersebut lebih dalam dan luas daripada sekedar praktik khitan. Maksud dari mengikuti Ibrahim dalam ayat tersebut sesungguhnya adalah mengikuti metode Nabi Ibrahim dalam menegakkan panji-panji tauhid, menjauhi taghut (berhala) dan dalam mendakwahkan Islam dengan bijaksana dan argumentatif.
Diskusi Terhadap Dalil Hadits
Hadits Ummu Atiyah adalah Hadits yang paling banyak dijadikan sandaran dalam permasalahan khitan perempuan. Ada tiga jenis riwayat tentang khitan perempuan yang terkait dengan sahabiyyah (sahabat perempuan) bernama Ummu Atiyah.
Pertama, Hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Atiyah sendiri yang ditakhrij oleh Abu Dawud (no. 5273) dan al-Baihaqi (no. 18015). Hadits tersebut adalah:
“Dari Ummu Atiyah bahwasanya seorang perempuan akan berkhitan di Madinah. Maka Nabi SAW berkata:Janganlah berlebihan, karena lebih nikmat (ketika berhubungan seksual) dan lebih dicintai oleh suami.” (HR, Abu Dawud dan al-Baihaqi)
Sejak periode Abu Dawud (w. 275 H), tokoh yang menjadi mukharrij pertama untuk Hadits di atas, Hadits tersebut sebenarnya sudah dihukumi sebagai Hadits yang dlaif. Menurut Abu Dawud, kedlaifannya terletak pada sosok perawi yang bernama Muhammad ibn Hasan, yang majhul (tidak diketahui identitasnya). Abu Dawud menyatakan: “hadzal Hadits dlai’fun” (ini adalah Hadits yang dlaif). Namun, menurut al-Hafidz Abdul Ghani, Muhammad ibn Hasan adalah perawi yang diketahui identitasnya. Ia sebenarnya adalah Muhammad ibn Said yang tewas disalib karena perbuatan zindiqnya (Abadi, Aunul Ma’bud:XIV/146). Ia diceritakan oleh Ahmad telah membuat 4.000 Hadits palsu dan ia adalah seorang yang lemah dan ditinggalkan Haditsnya [ahad al-dluafa wa al-matrukin] (Ibnu Hajar, Taqrib al-Tahdzib, II/79).
Kedua, Hadits tentang Ummu Atiyah yang ditakhrij oleh Hakim (no. 6297), Baihaqi (no. 18016) dan Tabrani (no. 8062). Haditsnya adalah sebagai berikut:
Dari Dlahhak ibn Qais, ia berkata. Di kota Madinah ada perempuan yang dipanggil Ummu Atiyah. Ia biasa menyunat perempuan. Rasulullah SAW berpesan kepadanya: wahai Ummu Atiyah, sunatlah, tetapi jangan berlebihan. Karena itu lebih membuat wajah cerah dan lebih menyenangkan bagi suami (HR. Hakim, Baihaqi dan Tabrani)
Sanad Hadits pada jalur Hakim ini memiliki kedlaifan. Ada satu orang perawi yang dilemahkan oleh ulama kritikus Hadits, yaitu Ala ibn Hilal al-Raqiyy. Ia dinilai oleh Ibnu Abi Hatim (al-Jarh wa al-Ta’dil, VI/361) dan Ibnu Hajar (Tahdzib al-Tahdzib, VIII/172) sebagai perawi yang munkar karena ia suka membolak-balikkan sanad dan mengubah-ubah nama perawi Hadits.
Sedangkan pada sanad dan jalur al-Tabrani dan dari jalur al-Baihaqi, juga ada seorang perawi yang tidak diketahui namanya, yang dalam sanad disebut laki-laki dari Kufah (rajulun minal Kufah). Dalam ilmu Hadits, seorang perawi yang tidak dikenal identitasnya adalah perawi yang dlaif dan tidak bisa diterima Haditsnya.
Ketiga, Hadits  yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi Anas ibn Malik dan ditakhrij oleh al-Tabrani dalam al-Mu’jam al-Shaghir (no. 122).
“Dari Anas ibn Malik bahwasanya Nabi SAW berkata kepada Ummu Atiyah, spesialis sunat perempuan di Madinah. Jika engkau menyunat perempuan, maka sisakanlah sedikit dan jangan dipotong semuanya. Karena itu lebih membuat ceria wajah perempuan dan lebih disenangi suami.” (HR. Tabrani)
Hadits ini juga Hadits yang lemah dan tidak dapat dijadikan sebagai dalil. Kelemahannya bukan karena faktor kapasitas keilmuan perawi (dhabt al-rawi), namun karena aspek kredibilitas moral (‘adalah al-rawi). Imam Bukhari dalam kitabnya al-Tarikh al-Kabir (III/433) dan Ibnu Hibban dalam kitabnya al-Majruhin (I/308) menilai perawi yang bernama Zaidah ibn Abi al-Raqqad adalah perawi yang munkar.

Akhirnya, secara akumulatif dapat disimpulkan bahwa tiga Hadits yang menceritakan tentang Ummu Atiyah yang berprofesi sebagai tukang sunat kaum perempuan di Madinah adalah Hadits yang dlaif. Sekalipun terdapat tiga jalur, namun masing-masing jalur memiliki kedlaifan sanad dari aspek kredibilitas moral perawi (‘adalah al-ruwwat)nya. Sehingga tiga jalur tersebut tidak dapat saling menguatkan satu sama lain dan tidak bisa naik derajatnya menjadi hasan. [islamaktual/sm/m.rofiqmuzakkir]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top