Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Aktivitas kesarjanaan di seputar al-Qur’an khususnya tafsir yang telah berlangsung sejak diturunkannya al-Qur’an telah menghasilkan beragam corak dan metode. Hal ini tidaklah mengherankan karena sebuah produk tafsir senantiasa akan dipengaruhi oleh beragam horizon yang melingkupi sang penafsir, baik latar kesarjanaan, latar sosio-kultur hingga ideologi yang dianut oleh sang penafsir. Abdullah al-Darraz dalam bukunya An-Naba’ Al-Azhim mengibaratkan al-Qur’an sebagai laksana mutiara yang setiap sudutnya memancarkan cahaya. Setiap orang yang memandangnya melihat “kilauan cahaya” alias penafsiran yang berbeda.
Salah satu karya tafsir abad XI M yang cukup populer dan menarik untuk dicermati adalah al-Kasysyaf karya Zamakhsyari, seorang penganut Mu’tazilah dalam bidang Ilmu Kalam dan Mahdzab Hanafi dalam bidang Fiqih.
Biografi Singkat Zamakhsyari
Namalengkapnya adalah Abu al-Qasim Mahmud bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Khawarizmi. Ia dilahirkan pada 27 Rajab 467 H bertepatan dengan tahun 1074 M di Zamakhsyari (al-Dzahabi 1976). Nama Zamakhsyari yang melekat hingga kini dinisbatkan kepada nama desa tempat ia dilahirkan, yaitu Zamakhsyar, suatu desa di daerah Khawarizmi (Mani’Abdul Halim,2006). Dilihat dari masa tersebut, ia lahir pada masa pemerintahan Sultan Jalal al-Din Abi al-Fath Maliksyah dengan wazirnya Nidzam al-Mulk.Wazir ini terkenal sebagai orang yang aktif dalam pengembangan dan kegiatan keilmuan. Dia mempunyai “kelompok diskusi” yang terkenal maju dan selalu penuh dihadiri oleh para ilmuan dari berbagai kalangan.
Sejak usia remaja, Zamakhsyari sudah pergi merantau, meninggalkan desanya pergi menuntut ilmu pengetahuan ke Bukhara,yang pada masa itu menjadi pusat kegiatan keilmuan dan terkenal dengan para sastrawan. Selain ke Bukhara, Zamakhsyari juga menghabiskan waktunya beberapa tahun untuk belajar dan menulis Al-Qur’an di Makkah.
Zamakhsyari adalah seorang yang menggunakan bahasa Persi sebagai bahasa Ibu. Walau demikian, ia sangat meyakini atas kemuliaan bahasa Arab dan keunggulan fiologinya. Menurut berbagai catatan historis, Zamakhsyari telah menulis sekitar lima puluh kitab; tiga puluh diantaranya adalah yang terkenal dan masih eksis hingga sekarang. Karya terbesarnya, dan karenanya ia menjadi masyhur, adalah karya tafsirnya, al-Kassysyaf ’an Haqa’iq Ghawamid al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil, sebuah karya yang diselesaikan dalam kurun waktu 3 tahun ketika tinggal di Makkah.
Dari hasil kajian terhadap karya-karya Zamakhsyari, para pengkaji dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tersendiri, baik tentang kepribadiannya maupun tentang kedalaman ilmu dan keistimewaan karya itu sendiri. Al-Sam’ani misalnya, berkata: “Zamakhsyari adalah orang yang dapat dijadikan contoh karena kedalaman ilmu pengetahuannya mengenai sastra dan tata bahasa Arab.” Pujian ini sangat berkaitan dengan kedalaman ilmu beliau dalam bidang bahasa dan sastra. Pernyataan itu wajar ditujukan kepadanya, karena memang para ulama mengakui kapabilitas tokoh ini dalam ilmu bahasa. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu al-Anbari, dengan menyatakan bahwa Zamakhsyari adalah pakar ilmu nahwu. Kemudian Ibn Khalikan memuji kedalaman ilmu yang dimiliki oleh Zamakhsyari seraya mengatakan bahwa ia adalah ulama besar pada masanya. Ia menjadi tempat bertabya dan menjadi rujukan, sehingga ia selalu didatangi oleh para ulama untuk menimba ilmu pengetahuan. Begitulah pujian yang menempatkan Zamakhsyari sebagai nara sumber pada masanya, bahkan pada masa sesudahnya. Karena keluasan dan kedalaman intelektualitasnya tersebut, tidaklah mengherankan jika kemudian ia diberi gelar Imam Al-Dunya yang ekuivalen dengan gelar Doctor Universles Eropa (Ignaz Goldziher, 2006).
Sebagai seorang penulis yang terkenal produktif, Zamakhsyari meninggalkan beberapa karya monumental dalam beberapa bidang ilmu. Dalam karya-karyanya itu ia menuangkan pemikiran, ide dan pandangannya dalam berbagai bidang ilmu yang dikuasainya, antara lain: al-Kasysyaf, Diwan al-Adab, Rabi’ al-Abrar, Asas al-Balaghah, A’jab al-’Ajab fi Syarh Lamiyat al’Arab, al-Anmudzaj fi al-Nahwi, al-Nashaih al-Shighar, al-Fa’iq fi Gharib al-Hadits, Maqamat Zamakhsyari, Nawabi’ al-Kalam fi al-Lughah, dll.
Zamakhsyari wafat pada tahun 538 H di Jurjan, Khawarizm, setelah kepulangannya dari Makkah.
Tafsir al-Kasysyaf: Corak, Metode dan Sumber Penafsiran
Tafsir al-Kasysyaf, sebagaimana diungkapkan oleh Zamakhsyari dalam mukaddimah tafsirnya, bermula dari permintaan suatu kelompok yang disebutnya sebagai al-Fiah al-Najiyah al-Adliyyah (kelompok yang selamat dan adil) di mana disinyalir kelompok ini merupakan kelompok Mu’tazilah yang menginginkan adanya sebuah kitab tafsir yang mengungkap hakikat makna Al-Qur’an termasuk segi penakwilannya. Kitab ini sendiri berjumlah empat jilid yang disusun selama tiga tahun, mulai dari tahun 526 H sampai dengan tahun 528 H,di Makkah al-Mukarramah, ketika ia berada disana untuk melakukan ibadah haji kedua kalinya. Dalam hal ini, ia mengatakan bahwa lama penyusunan kitabnya sama dengan lama masa pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq (Zamakhsyari,1995).
Penafsiran yang ditempuh oleh Zamakhsyari dalam karyanya tersebut sangat menarik, karena uraiannya singkat tapi jelas, sehingga tidak membosankan bagi pembacanya. Dilihat dari sisi metodologis, Tafsir al-Kasysyaf disusun dengan tartib mushafi yakni berdasarkan urutan surat dan ayat dalam mushaf Usmani. Penulisan tafsir ini menggunakan metode tahlili (kronologis).Zamakhsyari menguraikan penafsirannya dengan cara meneliti semua aspeknya dan menyingkap seluruh maksudnya dengan mengikuti susunan mushaf, ayat per-ayat, dan surat per-surat (Abdul Hayy al-Farmawi, 2002). Diihat dari corak penafsiran, tafsir al-Kasysyaf dapat diklasifikasikan sebgai tafsir bi al-Ra’yi (tafsir rasional) karena banyak menggunakan nalar atau ijtihad sebagai instrumen penafsiran, sementara dali naqli (Al-Qur’an dan Hadits) hanyalah bersifat justifikasi dan penguatan.
Dalam menguraikan penafsirannya, Zamakhsyari yang dikenal sebagai ahli tata bahasa dan sastra Arab, banyak bermain-main dengan tata bahasa dan sastra sehingga nuansa tersebut sangat kental dalam tafsirnya. Di samping itu, karena ia adalah seorang penganut Mu’tazilah dalam lapangan teologis, maka penafsiran-penafsirannya sangat kental dalam melakukan pembelaan dan justifikasi terhadap paham Mu’tazilah (Muhammad Husain al-Dzahabi, 1976). Hal ini pulalah yang sepertinya mendorong Ignaz Goldziher (2006) mengklasifikasikan tafsir al-Kasysyaf sebagai tafsir bernuansa teologis.
Dilihat dari sumber, dalam menulis karyanya tersebut, Zamakhsyari banyak menukil dari berbagai kitab tafsir di antaranya Tafsir Mujahid, Tafsir al-Rumani, tafsir dari kelompok jabariyyah dan Khawarij. Sementara dalam hal Hadits ia banyak menukil dari Shahih Muslim di samping sumber-sumber lainnya. Di samping itu, karena tafsir al-Kasysyaf sangat kental dengan nuansa kebahasaan dan sastra, Zamakhsyari juga banyak menggunakan sumber dari kitab-kitab bahasa dan sastra Arab antara lain Kitab al-Nahwi karya Sibawaihi, al-Kamil karya al-Mubarrad dan yang lainnya.
Komentar para Ulama Terhadap Tafsir al-Kasysyaf
Jika dilihat dari komentar dan penilaian yang ada, pada umumnya para ulama dan tokoh memiliki penilaian yang positif sekaligus negatif. Di kalangan para sarjana al-Qur’an, al-Kasysyaf sangat dikenal karena keindahan balaghah serta kepiawaian pengarangnya dalam menyingkap kemukjizatan al-Qur’an. Bahkan kitab tafsir ini dianggap sebagai kitab tafsir pertama yang menyingkap kemukjizatan al-Qur’an secara sempurna. Ibnu Khaldun misalnya, ketika membahas pentingnya lughah, i’rab dan balaghah dalam memahami al-Qur’an, menyatakan bahwa di antara tafsir yang paling baik dan mampu mengungkapkan makna al-Qur’an dengan pendekatan bahasa dan balaghah adalah tafsir al-Kasysyaf. Hanya saja Ibnu Khaldun menyayangkan Zamakhsyari yang menggunakan keahliannya tersebut untuk membela madzhab Mu’tazilah. Demikian pula komentar Taj al-Subki, seorang ahli Ushul Fiqh bermadzhab Asyari. Ia menyatakan, “Ketahuilah, bahwasanya Al-Kasysyaf adalah kitab yang agung, pengarangnya adalah seorang ahli sastra, hanya saja ia (Zamakhsyari) adalah orang yang memiliki akhlak yang buruk terhadap Ahlusunnah wal jamaah” (Muhammad Husain al-Dzahabi, 1976).
Berikutnya, Mustafa al-Sawi al-Juwaini juga menyatakan pendapatnya bahwa Zamakhsyari adalah seorang ulama Mu’tazilah yang sangat fanatik dalam membela paham kelompoknya, sehingga penafsirannya sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Mu’tazilah. Oleh karena itu, menurut al-Juwaini, tafsirnya seakan-akan merupakan pembelaan terhadap Mu’tazilah (Muhammad Husain al-Dzahabi, 1976). Dari kalangan orientalis, Ignaz Goldziher, juga tidak ketinggalan memberikan penilaiannya dengan menyatakn bahwa tafsir al-Kasysyaf adalah tafsir yang sangat bagus, hanya saja pembelaannya terhadap Mu’tazilah dinilai sangat berlebihan (Ignaz Goldziher, 2006).
Pembelaan dan justifikasi al-Kasysyaf yang kental terhadap Mu’tazilah agaknya wajar, karena penulisan tafsir ini sendiri dilatarbelakangi oleh permintaan kelompok Mu’tazilah, sehingga terkesan dibuat untuk ‘menyenangkan’ kelompok tertentu sekaligus menyerang kelompok lain. Namun demikian, terlepas dari beragam kontroversi terhadap al-Kasysyaf, terutama karena pembelaannya yang kental terhadap paham Mu’tazilah, kitab tafsir ini merupakan sebuah karya yang sangat monumental terutama dari sisi linguistik. [islamaktual/sm/alyaulia]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top