Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Drs. H. Abd. Salam, SH, MH.
(Hakim Pengadilan Agama Bondowoso-Jawa Timur)


Poligami merupakan salah satu tema penting ajaran Islam. Allah meletakkannya pada surat an-Nisa’ ayat (3) dalam al-Qur’an. Tema sentral surat an-Nisa’ adalah tentang perlindungan hak-hak wanita dan anak-anak yatim yang saat itu sangat tersubordinasikan. Keseluruhan surat-surat dalam surat an-Nisa’ diturunkan dalam tempo tiga bulan di tahun 4 hijriyah setelah terjadi Perang Uhud.
Dalam perang itu, banyak kaum Muslimin yang gugur sebagai syuhada’. Madinah sebagai negara yang baru berdiri dan sedang berkonfrontasi dengan Makkah (kafir) mengalami ‘booming’ janda yang beranak yatim.
Untuk mengatasi kegoncangan sosial negara yang baru berdiri itu, maka turunlah perintah poligami agar para janda beranak yatim itu ada pelindungnya. Kalau tidak mereka akan kembali kepada keluarganya di Makkah dan dikhawatirkan akan menjadi murtad. Inilah suasana yang melingkupi turunnya perintah poligami.
Perintah poligami dalam al-Qur’an sesungguhnya tidak bisa terlepas dari permasalahan anak-anak yatim (wa in khiftum an laa tuqshitu fi al-yatama). Sejak periode awal (Makkah) Allah telah memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk menyantuni mereka. Orang yang abai dianggap sebagai pendusta-pendusta agama (QS. al-Ma’un). Misi utama Islam adalah mengangkat kedudukan masyarakat kelas dua yaitu wanita, anak-anak yatim, fakir miskin dan para budak menuju terwujudnya kondisi keadilan sosial yang elegan.
Dari itu sesungguhnya poligami tidak hanya sekedar boleh, akan tetapi justru sangat dianjurkan, namun disertai dengan langkah-langkah perbaikan dengan syarat-syarat. Yaitu, pertama, istri kedua, ketiga dan keempat harus janda yang memiliki anak yatim. Kedua, bermotivasi menyantuni anak-anak yatim yang ada pada janda. Ketiga, berkemampuan dan berbuat adil dalam segala sisi kehidupan rumah tangga.
Perintah poligami menjadi gugur ketika tidak ada tiga syarat tersebut. Hal ini didasarkan pada struktur kaidah bahasa atas ayat
4_3.png
Artinya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. an-Nisa’ : 3)
Konsep poligami sama sekali bukan alasan biologis (syahwat). Alasan istri mandul, sakit, tidak dapat memberikan keturunan atau karena istri ada jeda haidl sering dijadikan justifikasi seorang (laki-laki) untuk poligami adalah alasan yang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Kalaupun pada alasan tersebut ada kemaslahatan tetapi bersifat sementara yang bukan permanen.
Problem Pemahaman Tekstual
Kini, masyarakat memahami poligami merupakan “hak penuh” laki-laki. Bahkan poligami dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang. Semakin aktif berpoligami dianggap semakin utama posisi keagamaannya. Semakin bersabar seorang istri menerima pe-madu-an, dinilai semakin baik kualitas iman-Islamnya. Hal tersebut terjadi karena pemahaman yang kurang tepat.
Imam Syafi’i, yang dikenal sebagai pioner metodologi hukum Islam, telah menanamkan fondasi epistemologis yang teramat kokoh di hati umat Islam ketika beliau menyatakan: “idza shahhal al-Hadits fahuwa madzhabiy (apabila ada sebuah Hadits shahih, maka itulah madzhabku)”. Kaidah tersebut secara paradigmatik telah memengaruhi dunia intelektual di bidang hukum di mana umat Islam hanya berkutat dalam ‘tradisi-tradisi tekstual’. Kebenaran hukum hanya bisa ditentukan sejauh mana kesesuaiannya dengan bunyi literal (teks) al-Qur’an maupun Hadits. Nash al-Qur’an dan Hadits senantiasa dipegang teguh secara tekstual, tanpa memperhatikan latar belakang sejarah (sosio-historis) yang meliputinya saat tasyri’ itu ditetapkan dan asbabun nuzul ayat serta asbabul wurud Haditsnya.
Paradigma tekstualis Syafi’i tersebut hingga kini menjadi worldview umat Islam. Dalam tataran metodologis paradigma tersebut kemudian melahirkan kaidah “Makna sebuah nash difahami dari keumumam lafal, bukan dari kekhususan sebab yang melatarinya”. Ini menyebabkan kebenaran sebuah ajaran agama hanya digali dari legislasi spesifik (khususus sabab) atau formulasi literal (ma’na hafiry) al-Qur’an, bukan di matriks dari seberapa jauh ia melahirkan kemaslahatan (tahqiq al-maslahah) bagi manusia yang merupakan cita-cita moral-etik al-Qur’an.
Poligami Nabi
Poligami yang dinisbatkan kepada amalan sunnah, jelas sangat distorsif. Alasannya, Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga. Sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi saw bersama Khadijah binti Khuwalid ra berlangsung selama 28 tahun, dua tahun sepeninggal Khadijah, baru Nabi menikah lagi dan berpoligami, itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau.
Jika kita arif memahaminya, mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-& masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan utamanya janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak yang mereka suka. Maka yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami.
Sikap Pribadi (Jibiliyah) Rasulullah Terhadap Poligami
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Miswar bin Makhramah, diceritakan bahwa Rasulullah mendengar kabar ada seseorang yang ingin menikahkan anak perempuannya dengan Ali bin Abi Thalib yang saat itu sudah menikah dengan Fatimah binti Rasulullah. Nabi melarang rencana itu diteruskan.
“Al-Miswar bin Makhramah meriwayatkan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, sedangkan beliau di atas mimbar: Sesungguhnya Bani Hisyam bin al-Mughirah meminta izin agar aku menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun, aku tidak mengizinkan, aku tidak mengizinkan, aku tidak mengizinkan (Nabi mengucap aku tidak mengizinkan itu tiga kali), kecuali jika Ali bin Abi Thalib menceraikan anak perempuanku lalu menikahi anak perempuan mereka. Sesungguhnya anak perempuanku (Fatimah) adalah bagian dariku, sehingga apa saja yang membuatnya cemas/gelisah niscaya akan mencemaskan/menggelisahkanku. Dan apa saja yang menyakitinya niscaya akan menyakitiku.”
Dalam Kitab at-Thabaqat al-Kabir, Ibnu Saad (168-230 H/764-845 M) mencatat suatu riwayat kalau Amrah binti Abdurrahman pernah mengklarifikasi kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak mengawini wanita-wanita Anshar yang notabene mereka adalah wanita-wanita cantik. Nabi menjawab: Wahai Amrah..! mereka adalah perempuan yang memiliki rasa cemburu yang besar dan mereka tidak akan bersabar dimadu. Aku telah punya beberapa istri dan aku tidak suka menyakiti perempuan berkenaan dengan hal itu.”
Dalam sebuah riwayat dinyatakan: “Barangsiapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus.” (Jami’ al-Ushul, juz XII, 168, nomor Hadits 9049).
Dalam berbagai kesempatan, Nabi saw menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri. Tentu saja, semua riwayat itu masih perlu dikaji derajat kekuatannya. Namun setidaknya riwayat-riwayat tersebut memberikan gambaran bagaimana sikap Rasulullah terhadap poligami.

Poligami hanya dilakukan dalam keadaan super emergensi (darurat) dalam permasalahan sosial bukan hanya dengan pertimbangan nafsu biologis. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami yang hendak dilakukan Ali bin Abi Thalib ra tersebut. [islamaktual/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top