Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Al-Qur’an telah mengajarkan kepada kita dalam mengarungi hidup ini. Secara ringkas, al-Qur’an secara tersirat mengajari kita tentang 3 (tiga) kondisi yang musti dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-harinya, yaitu apa yang disebut “kenyataan hidup”, “proses hidup”, dan “ketentuan hidup”.
Dalam hal “kenyataan hidup”, manusia seperti kita semuanya ini, dihadapkan dengan apa yang disebut “balaa”. Kata “balaa” ini kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “ujian mental”. Mengapa ini dianggap penting diajarkan dalam al-Qur’an? Bahwa dalam kenyataannya, masalah “mental” ini penting sekali dalam menghadapi seluruh perjalanan hidup. Dalam hidup ini pada kenyataannya dipenuhi dengan “masalah” dan justru di balik “masalah” itulah terdapat keberhasilan dan kesuksesan (asy-Syarh [94]:5-6).
Dalam al-Qur’an, “balaa” ini diilustrasikan dalam berbagai bentuk. Pertama, terbatasnya rasa ketenangan hati karena keadaan, misalnya merasa terancam/takut dan mungkin adanya kemungkinan kelaparan (al-Baqarah [2]:155). Kedua, berkurangnya harta, jiwa, dan buah-buahan/bahan makanan (al-Baqarah [2]:155). Ketiga, keterlunta-luntaan hidup seperti yang dialami umat Bani Israil di Mesir yang kemudian dibebaskan oleh Nabi Musa a.s (al-Baqarah [2]:49; al-A’raf [7]:141; Ibrahim [14]:6; ad-Dukhan [44]:33). Keempat, ujian keimanan seperti yang dialami Nabi Ibrahim a.s, agar menyembelih anaknya sendiri, Ismail (ash-Shafat [37]:106-107). Kelima, ujian kenikmatan misalnya kalau seseorang dalam menghadapi kemenangan dalam peperangan, termasuk kesuksesan pekerjaan apa saja dalam hidup sehari-hari yang normal (al-Anfal [8]:17). Keenam, ujian kesungguh-sungguhan dalam peperangan (jihad), termasuk ke sungguh-sungguhan dalam bekerja (Muhammad [47]:31). Ketujuh, ujian kegigihan dalam mencapai fokus tujuan dan menolak godaan-godaannya (Muhammad [47]:31). Yang jelas, dalam kata “balaa” tersebut al-Qur’an mengajari kita agar kita menjadi manusia yang memiliki ketahanan tinggi ketika menghadapi ketidak-beruntungan, seperti tergambar dalam butir pertama, kedua, ketiga di atas, atau ketika menghadapi pilihan yang sulit, seperti tergambar dalam butir ketiga di atas, atau ketika menghadapi keberuntungan yang berupa kesuksesan seperti tergambar dalam butir keempat, dan ketika menghadapi keharusan berwatak bersungguh-sungguh dan gigih seperti tergambar dalam butir kelima dan keenam di atas. Ketahanan mental seperti yang secara nyata diperlukan dalam menghadapi “kenyataan hidup”.
Dalam hal “proses hidup”, kita diajari al-Qur’an berupa “fitnah”. Dalam proses hidup ini tidak selalu berjalan di sebuah garis lurus, melainkan lebih banyak di jalan yang bergaris gelombang, bahkan tidak jarang bergaris ruwet. Apa sebab demikian? Sebab, pada hakikatnya proses hidup ini adalah “usaha”. Inilah kata kunci dalam proses hidup. Tentu saja apa yang disebut “usaha” itu tidak senantiasa mulus, bahkan kenyataan menunjukkan lebih banyak kerikil dan batunya. Karena itu kata “fitnah” ini kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “cobaan usaha”. Mengapa demikian?
Dalam al-Qur’an digambarkan dunia “usaha” tersebut yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari setiap orang, yaitu maslaah harta dan anak (al-Anfal [8]:28). Ketika seseorang telah melakukan pernikahan, maka di depannya akan dihadapkan 2 (dua) hal, yaitu urusan harta benda (amwaal) dan urusan anak keturunan (aulaad). Ketika baru menikah mungkin belum banyak memiliki harta benda, namun dalam proses hidup berikutnya mungkin ditakdirkan menjadi keluarga yang kaya raya. Suami-istri tersebut mungkin di uji dengan harta benda yang banyak ini. Atau sebaliknya, dalam proses hidup berikutnya mungkin mengalami seret atau sulit ekonomi, suami-istri diuji oleh kondisi itu.

Terakhir, dalam hal “ketentuan hidup”, kita diajari al-Qur’an berupa “mushiibah”. Kata “mushiibah” ini terjemahan bahasa Indonesianya adalah “ujian kodrat”. Apa yang menjadi kodrat manusia? Kodratnya adalah sakit (termasuk yang disebabkan kecelakaan atau bencana), tua, mati, dan kelahiran (normal atau tidak normal). Sering terhadap keempat hal ini, orang lupa memperhatikan atau dianggap kurang penting. Justru keempat hal itu merupakan “ketentuan” yang tidak bisa dihindari, apalagi ditolak. Karena itu, al-Qur’an mengajari perlunya kesadaran “kepasrahan” yang bermuatan positif dalam jiwa, dengan kata-kata inna-li-’i-laahi wa inna ilaihi rooji’uun (=sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali) (al-Baqarah [2]:156). Makin mendalam kesadaran “kepasrahan” ini maka akan membuahkan makin jelasnya rasa bahagia dalam mengarungi hidup ini. Sebaliknya, makin tipis kesadaran “kepasrahan” ini, apalagi kalau ada keinginan mengabaikan atau melupakannya, maka makin terasa menderita dalam mengarungi hidup yang fana di dunia ini. Mushiibah yang konsepnya diajarkan dalam al-Qur’an mendidik kita agar perlu memupuk ketahanan berpasrah diri kepada Allah SWT, Pencipta Alam Semesta. Mari kita renungkan. Wallahu a’lam bishshawaab. [islamaktual/sm/m.damami]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top