Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Siang mulai beranjak. Terik matahari juga kian menyengat, seiring jam olahraga di sekolah berakhir. Rasa lelah mulai menghinggap, tubuhpun telah basah oleh keringat. Seorang teman mengajakku pergi ke mushalla, shalat sekaligus melepas penat, katanya. Tanpa pikir panjang, aku menuruti saja ajakannya.
Temanku shalat, aku hanya bisa menunggu dan melihat. Jam siang seperti ini tak biasa kualami ketika bersekolah di sekolah Kristen saat masih di bangku SD dan SMP. Namun, entah apa yang membuatku nyaman melihat temanku melakukan shalat. Jujur saja aku turut merasakan sebuah ketenangannya. Rasa tenang itu membuat aku kembali lagi ke mushalla sekolah di hari-hari berikutnya.
Aku menghabiskan waktu lama di sana sembari menunggu temanku melaksanakan ibadah. Ya, aku hanya bisa melihatnya saja dan meresapi batinku yang luluh oleh ketenangan itu.
Sepenggal pengalaman semasa SMA itulah yang kuingat sampai saat ini. Meski mungkin pengalaman itu yang juga menjadi salah satu faktor pembuka hidayah menjadi seorang muallaf, namun bagiku mas Oki lah (suamiku) yang menjadi motivator utamaku memutuskan memeluk Islam.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika akhirnya aku menikah dengan teman masa kecilku. Aku dan mas Oki mempunyai latar belakang agama yang berbeda. Papaku asli dari Timor Leste. Papa terbilang orang yang keras terhadap anak-anaknya. Awalnya, hubunganku dengan mas Oki tidak direstui karena perbedaan keyakinan.
Hal ini membuatku sempat menyudahi hubungan dengan mas Oki. Menginjak 2012, belum ada juga yang mengalah soal keyakinan. Tapi, di tahun itulah awal mula aku memutuskan menjadi seorang muallaf.
Suatu ketika mas Oki bermimpi aku sedang melaksanakan shalat. Mimpi itulah yang akhirnya membawa langkahku meyakini Islam sebagai agamaku. Meski dengan tubuh gemetar aku menguatkan hati dan bibirku saat berikrar mengucap syahadat di Masjid Al Falah Surabaya. Air mataku tak terbendung lagi, aku menangis di samping mas Oki dan seorang sahabatku yang menjadi saksi keislamanku. Mereka juga tak bisa menahan haru setelah proses ikrarku.
Setelah menjadi mualaf, aku dan mas Oki memutuskan untuk menikah pada Januari 2013. Aku menikah mendahului dua kakakku. Pernikahanku disaksikan oleh kakak dan tanteku. Sedih memang, karena orangtuaku tidak menghadirinya, namun aku tetap merasa bahagia karena telah menikah secara Islam dan alhamdulillah mamaku merestuinya.
Sampai saat ini, sebenarnya aku belum memberitahu orangtua terkait keislamanku. Tetapi mereka sepertinya sudah mengetahuinya, entah dari mana. Namun yang pasti, keadaan sudah semakin membaik, papa dan mamaku tidak bersikap keras lagi. Tiap hari aku bisa pulang ke rumah (yang tak jauh dari rumah mertua) untuk bertemu dengan orangtuaku.
Beruntung aku mempunyai suami dan mertua yang begitu sabar. Berkat mereka aku bisa merengkuh kedamaian dalam Islam. Perlahan aku mempelajari dan mendalami Islam bersama-sama suamiku. Aku dan suami tak lupa menunaikan shalat berjamaah. Setelah memeluk Islam, aku merasa menjadi lebih penyabar.
Sifatku yang emosional perlahan-lahan mulai bisa kuhilangkan, alhamdulillah. Aku juga belajar ikhlas dalam menghadapi suatu permasalahan. Aku lebih bisa menerima keadaan yang tidak sesuai harapan. Begitulah ajaran Islam yang kupelajari. Usaha toko listrik dan tiket pesawat online yang kujalankan bersama suami kini kujalankan dengan telaten.

Bagiku Islam adalah agama yang bisa lebih cepat kupahami. Al Qur’an kini kurasakan sebagai tuntunan hidup yang jelas dan tepat. Semoga keislamanku membawa keberkahan dalam hidupku bersama keluarga yang baru kubina ini. Insya Allah, amien yaa robbal ‘alamiin. [islamaktual/alfalah/tsarli]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top