Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


KRITIK ATAS PANDANGAN IBNU TAIMIYAH

Dalam kitab-kitab fiqih, selain menggunakan ayat al-Qur’an surat an-Nahl ayat 123, dan sejumlah Hadits yang telah dikaji secara kritis pada dua edisi sebelumnya, ada pula sejumlah ulama yang beralasan bahwa khitan perempuan diperlukan untuk mengendalikan syahwat seksual (libido)nya. Sebagai contoh akan dikutip pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (XXI/214) berikut ini.
Tujuan dari khitan perempuan adalah mengendalikan syahwatnya. Perempuan jika dibiarkan tetap berkulup (tidak dipotong klitorisnya) maka ia menjadi maniak dan tinggi syahwatnya. Itulah mengapa terjadi penyimpangan di kalangan perempuan Mongol dan Barat, yang tidak ditemukan di kalangan perempuan kaum Muslimin”.
Pernyataan Ibnu Taimiyah di atas adalah pandangan yang cukup populer dalam kitab-kitab fiqih lainnya. Kalangan masyarakat umum juga banyak yang melakukan khitan perempuan karena berdasarkan keyakinan di atas. Setidaknya ada tiga alasan mengapa pendapat ini harus ditolak.
Alasan pertama; hasrat seksual adalah sesuatu yang bersifat naluriah, bahkan bagian dari rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, baik kepada laki-laki maupun perempuan. Keduanya memiliki hak untuk memperoleh rahmat Allah tersebut. Nabi pernah memberi nasihat kepada Abdullah ibn Amru ibn Ash karena mendengar bahwa ia hanya mengisi malam harinya dengan shalat tahajud dan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang suami. Nabi bersabda: (Wahai Abdullah ibn Amru), sesungguhnya istrimu memiliki hak atas dirimu [HR. Bukhari dan Muslim].
Salah satu bagian dari hak yang disebutkan dalam Hadits ini adalah hak untuk merasakan kenikmatan dalam hubungan intim (right to enjoy sex, haq al-istimta’). Khitan perempuan, apalagi sampai pada taraf mutilasi genital (memotong atau melukai klitoris) akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kesempatan perempuan mendapatkan haknya dari laki-laki.
Alasan kedua; perbuatan menyimpang, seperti perzinahan, tidak bisa dinisbahkan hanya kepada perempuan yang tidak berkhitan. Sebab, kalau mau diakui secara jujur perzinahan sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja yang telah hilang iman dari dalam dirinya, tidak mengenal laki-laki atau perempuan, melakukan sunat ataupun tidak. Pandangan yang menisbahkan perzinahan kepada perempuan yang tidak berkhitan jelas adalah pandangan yang dikriminatif dan tidak bijak.
Alasan ketiga; sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat kita memberikan sangsi kepada orang yang tidak bersalah dengan dalih mengantisipasi terjadinya dosa perzinahan. Ini sama dengan memotong tangan seseorang karena takut di kemudian hari orang tersebut akan mencuri (Ibrahim dan Maryam, Delinking Female Genital Mutilation/Cutting from Islam, 2008 : 21). Jelas ini adalah suatu bentuk kedlaliman. Dalam agama Islam seseorang tidak boleh diberi sangsi sebelum dia benar-benar terbukti melakukan kesalahan.
Setelah melihat keseluruhan dalil-dalil yang digunakan oleh penyokong khitan perempuan, menjadi jelaslah bahwa tidak ada dasar syar’i yang sesuai dan shahih untuk khitan perempuan. Sehingga menjadi jelas pulalah bahwa agama Islam tidak terkait sama sekali dengan praktik ini. Dengan kata lain, khitan perempuan dengan pelbagai bentuknya dan istilahnya; baik khitan firauniy ataupun khifad, sebenarnya tidak lain hanya tradisi (urf) yang berkembang di tengah masyarakat saja. Namun, pertanyaan selanjutnya, jika khitan perempuan tidak memiliki dasar syar’i, sehingga tidak dapat menjadi perbuatan yang wajib maupun sunah dalam agama Islam seperti diklaim oleh madzhab-madzhab fiqih, bagaimana kemudian hukum melakukan khitan perempuan?
Melarang Khitan Perempuan dengan Prinsip Saddu al-Dzari’ah
Dalam ushul fiqh konsep saddu dzari’ah diartikan sebagai “menutup jalan yang dapat menyebabkan terjadinya perbuatan yang jelas diharamkan”. Pada asalnya jalan atau perbuatan tersebut tidaklah dilarang. Namun ketika ada dugaan kuat (ghalabah al-zhan) jika tidak dilarang, kemungkinan perbuatan lain yang jelas keharamannya akan terjadi, maka perbuatan tersebut dapat ditutup atau dilarang. Misalnya, menjual pisau dapur hukumnya boleh, tetapi ketika ia dijual kepada orang yang berencana melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat bahkan berisiko bagi orang lain, maka hukumnya menjadi tidak boleh.
Melihat konteks khitan perempuan, tampaknya sudah cukup meyakinkan bahwa tradisi ini masuk ke dalam kategori perbuatan yang dilarang. Alasannya, pertama, tidak ada bukti medis tentang manfat khitan bagi perempuan. Sementara Nabi SAW pernah mengingatkan agar kita tidak melakukan perbuatan yang tidak membawa manfaat. Nabi SAW bersabda: Dari Abu Hurairah ia berkata. Rasulullah SAW bersabda : di antara tanda baiknya Islam seseorang, adalah apa yang tidak bermanfaat baginya [HR. Muslim].
Kedua, karena khitan perempuan dapat menjadi mukadimah (pintu masuk) terjadinya mudlarat yang lebih besar, yaitu terjadinya mutilasi genital (pemotongan klitoris) atau khitan Fir’aun atau dalam istilah teknis yang digunakan oleh WHO “female genital mutilation” atau “female genital cutting”.
Menurut WHO, ada empat tipe tindakan yang dilakukan umumnya dalam khitan perempuan, yaitu: tipe I, memotong seluruh bagian klitoris perempuan, tipe II, memotong sebagian klitoris, tipe III, menjahit atau menyempitkan mulut vagina (infibulasi) dan tipe IV, menindik, menggores jaringan sekitar lubang vagina, atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina agar terjadi pendarahan. Khitan perempuan dengan empat tipe tindakan tersebut adalah praktik yang sangat seius dampaknya dan sangat berbahaya. Di antara dampak buruk yang dapat ditimbulkan antara lain dapat menyebabkan pendarahan, infeksi, tetanus dan luka membusuk. Untuk dampak jangka panjang, dapat menyebabkan nyeri berkelanjutan, kesulitan menstruasi, infeksi saluran kemih kronis, kemandulan, disfungsi seksual, kesulitan saat hamil dan bersalin, meningkatkan resiko tertular HIV dan bahaya-bahaya lainnya (Eliminating Female Genital Mutilation, 2008 : 11).
Secara empirik, empat tipe tindakan dalam khitan perempuan di atas masih sering terjadi di tengah masyarakat. Hal itu disebabkan karena adanya persepsi yang menyamakan praktik khitan laki-laki dan perempuan. Di tingkat global, mutilasi genital masih menjadi tradisi yang mengakar di beberapa negara, khususnya di wilayah Afrika Sub-Sahara (Afrika hitam) dan beberapa negara di Afrika Utara, seperti Mesir. Di Indonesia, ada yang menyebut bahwa dari yang melakukan praktik khitan perempuan, 75% masih melakukan pemotongan klitoris. Oleh karena itu, melarang khitan perempuan dengan prinsip sad al-dzariah, jelas akan menyelamatkan kaum perempuan dari praktek yang dapat membahayakan dan memberikan mudlarat kepada mereka.
Alasan penerapan prinsip sadd al-dzariah dalam melarang khitan perempuan juga disebabkan karena pemahaman tentang tata cara khitanperempuan itu sendiri yang masih simpang siur. Di kalangan yang membolehkannya, sampai saat ini tidak ada kesepakatan tentang bagaimana khitan tersebut dilakukan. PERMENKES No. 1636 tahun 2010 misalnya mengatur bahwa khitan perempuan hanyalah dengan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris, tanpa melukai klitoris (pasal 1 ayat 1) dan tanpa mengkauterisasi klitoris (pasal 5 ayat 2). Sementara MUI dalam fatwanya No. 9A tahun 2008 menyebut bahwa tindakan khitan perempuan adalah memotong kulit yang menutupi klitoris. Begitu pula dengan kitab-kitab fiqih klasik yang umumnya menyebutkan bahwa khitan perempuan adalah dengan memotong klitori (qath’u jaldah allati fi a’la al-farj). Btasan-batasan yang diterapkan oleh PERMENKES dan MUI tampak tidak sejalan.

Dengan menggunakan prinsipsadd al-dzariah (menghindari kemungkinan terjadi kemudlaratan) yaitu agar tidak terjadi praktik yang mendlalimi kaum perempuan, maka khitan perempuan sesungguhnya sudah dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang dilarang dalam agama Islam. Wallahu a’lam. [islamaktual/sm/m.rofiqmuzakkir]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top