Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Muhammad Abduh seorang pembaru Islam yang memiliki pengaruh besar di dunia. Pemikiran Abduh cukup banyak menginspirasi tokoh-tokoh pembaru Islam pada awal abad 20, termasuk KH. Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Abduh lahir dalam situasi ketika dunia Barat sedang gencar-gencarnya melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Islam. Pada masa itu, ada dua golongan ekstrim; mempertahan tradisi Arab-Islam dan mengadakan pembaruan yang merujuk pada Barat, sehingga nyaris melupakan nilai-nilai Timur dan Islam. Hal tersebut telah memotivasi Abduh untuk ikut memberikan respons dan mengadakan perbaikan di pelbagai bidang, terutama pendidikan.
Riwayat Singkat
Nama lengkapnya Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah, lebih popular dipanggil Muhammad Abduh. Ia lahir tahun 1226 H/ 1849 M di Mahallat al-Asr, Buhayrah, dan wafat pada tanggal 8 Jumad al-Awal 1323 H/11 Juli 1905 (M. Quraish Shihab, 1994:11).
Muhammad Abduh dilahirkan dari keluarga petani. Ayahnya bernama Abduh bin Hasan Khairullah, berasal dari Turki yang telah lama tinggal di Mesir. Sedangkan ibunya orang Arab, yang menurut riwayat, silsilahnya sampai pada Umar bin Khattab (Fauzan, 2003:303). Abduh tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki jiwa keagamaan teguh dan taat. Ia mengawali pendidikannya ketika berumur 10 tahun dengan belajar membaca dan menulis bersama orangtuanya. Untuk membaca al-Qur’an, ia belajar kepada guru privat yang sengaja didatangkan untuknya. Pada usia 13 tahun, Abduh dikirim ke sekolah al-Ahmadi di daerah Thanta untuk memperdalam bacaan al-Qur’an. Di tempat ini, ia mampu menghafal al-Qur’an hanya dalam waktu 2 tahun, kemudian mendapat gelar Qari’ dan al-Hafidz.
Abduh merasa tidak puas karena metode pengajaran (menghafal) yang diterapkan oleh gurunya. Ketidakpuasan tersebut membuatnya sempat putus asa dan memutuskan untuk berhenti belajar dan meninggalkan Thanta seraya kembali ke kampungnya. Akan tetapi, karena dorongan kuat dari orangtua, Abduh kemudian bersedia kembali ke sekolah dan menyelesaikan pendidikannya dalam masa empat tahun. Semangat belajar tinggi yang dimiliki Abduh membawanya untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar, pada tahun 1869. Tidak seperti yang diharapkan, di tempat ini ia kembali menuai kekecewaan akibat metode pembelajaran al-Azhar yang juga menekankan hafalan. Kekecewaan tersebut ia lukiskan dalam tulisannya “metode pengajaran yang verbalis itu telah merusak akal dan daya nalarku” (Abdurrahman Assegaf, 2013 : 151).
Akhirnya, pada tahun 1871 Abduh bertemu dengan Jamaluddin al-Afghani, seorang filosof dan pembaru agama yang menyerukan gerakan Pan Islamisme untuk menghadapi kolonialisme Eropa. Dari al-Afghani, ia mendapatkan ilmu pengetahuan seperti falsafah, ilmu kalam, dan ilmu pasti. Darinya (al-Afghani) pula, Abduh memadukan aktivitas jurnalistik, politik, dan spiritualitas mistik. Berkat berbagai pengalaman tersebut akhirnya Abduh berhasil lulus dari al-Azhar pada tahun 1877 dengan gelar ‘alamiyah. Pada tahun yang sama Abduh dianugerahi tingkat ‘alim yang memberinya hak untuk mengajar. Hak untuk mengajar tersebut kemudian dituangkannya di tiga lembaga pendidikan formal, yaitu al-Azhar, Dar al-Ulum, dan Perguruan Bahasa Khedevi.
Pemikiran Pendidikan
Keyakinan yang mendasari ide-ide pembaruan Abduh adalah bahwa Islam memberikan karunia terbesar bagi umatnya berupa kemerdekaan atas kehendak serta kebebasan berpikir dan berpendapat. Dengan keyakinan seperti ini, tentu berbagai kekangan berfikir yang membelenggu dunia Islam harus bisa dilepaskan. Optimalisasi fungsi dan peran akal, menurut Abduh, merupakan alat untuk lepas dari belenggu tersebut. Sikap taqlid tanpa pengetahuan -sekalipun kepada orang yang dianggap terhormat- harus dihalau ke tepian. Ijtihad harus menjadi tradisi di tengah kebekuan berfikir yang kala itu melanda. Abduh dengan semangat pembaruannya berusaha mengadakan penyesuaian ajaran Islam dengan tuntutan jaman di segala bidang, termasuk pendidikan.
Gibb, dalam buku Modern Trends in Islam, menjelaskan bahwa ada empat agenda pembaruan menurut Muhammad Abduh; pertama, Purifikasi. Pemurnian ajaran Islam mendapat perhatian serius dari Muhammad Abduh berkaitan dengan munculnya bid’ah dan khurafat yang masuk dalam kehidupan beragama umat Islam. Kedua, Reformasi. Muhammad Abduh, dalam mereformasi pendidikan tinggi Islam khususnya al-Azhar, menyatakan bahwa kewajiban belajar itu tidak hanya mempelajari buku-buku klasik berbahasa Arab yang berisi dogma ilmu agama untuk membela Islam. Akan tetapi, kewajiban belajar juga terletak pada mempelajarai sains-sains modern, serta sejarah dan agama Eropa, agar diketahui sebab-sebab kemajuan yang telah mereka capai. Ketiga, Pembelaan Islam. Muhammad Abduh, melalui Risalah Tauhid-nya tetap mempertahankan jati diri Islam. Usahanya untuk menghilangkan unsur-unsur asing merupakan bukti bahwa ia tetap yakin dengan kemandirian Islam. Abduh, terlihat tidak pernah menaruh perhatian pada paham-paham atheis atau anti-agama yang marak di Eropa. Keempat, Reformulasi. Agenda ini dilaksanakan Abduh dengan membuka kembali pintu ijtihad. Karena menurutnya, kemunduran umat Islam salah satunya disebabkan kejumudan umat Islam sendiri.
Menyelami pemikiran pendidikan Muhammad Abduh membawa kita untuk melihat terlebih dahulu bagaimana pandangannya mengenai ilmu. Dengan pandangan tersebut, kita kemudian akan melihat pandangannya tentang manusia dan selanjutnya pandangan tersebut akan mengantarkan kita kepada arah modernisasi pendidikan yang diagendakannya. Mengenai ilmu pengetahuan, Abduh dengan lantang menjelaskan perlunya keseimbangan antara ilmu pengetahuan agama dan umum. Keduanya tidaklah pantas dipisahkan sebagai yang berasal dari Allah dan lahir dari akal, melainkan keduanya mempunyai hubungan yang saling memperkokoh keberadaan masing-masing. Semakin dalam pengetahuan manusia mengenai agama, maka haruslah semakin dalam pula pengetahuannya mengenai ilmu alam. Dengan hubungan yang demikian, maka kepribadian-kepribadian terpecah -meminjam istilah Ahmad Syafii Ma’arif- akan sangat mungkin dihindari. Dengan kata lain, keseimbangan ilmu agama dan umum akan memudahkan kita menjadikan manusia yang berintelektual sekaligus bermoral.
Mengenai manusia, masih selaras dengan pandangannya tentang ilmu, Abduh menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk pilihan Tuhan, Khalifah di bumi, yang dalam dirinya ditanamkan rasa tanggung jawab terhadap dirinya dan alam semesta, langit, dan bumi. Manusia, menurut Abduh, cenderung berpotensi pada kebaikan daripada kejahatan. Oleh sebab itu, fungsi penting pendidikan ialah pengembangan potensi kebaikan tersebut.
Dari segi zatnya, Abduh memahami manusia sebagaimana ungkapan wahyu bahwa manusia diciptakan dari setetes air mani, yang kemudian menjadi segumpal daging, hingga akhirnya berwujud manusia. Dalam kaitan ini, maka proses pendidikan harus diarahkan untuk mengembangkan jasmani (menuju kesehatan fisik), rohani (mencetak moral yang islami), dan akal (menuju rasionalisasi ajaran Islam). Dari sisi tujuan diciptakannya manusia, merujuk kepada seruan langit, Abduh menjelaskan bahwa tujuan diciptakannya manusia tidak lain hanya untuk menyembah Allah SWT. Dalam kaitan ini, maka proses pendidikan harus membentuk jiwa yang senantiasa tunduk pada wahyu, dengan tanpa mengesampingkan dimensi intelektual.
Berangkat dari pandangan di atas, maka tujuan pendidikan menurut Abduh, sebagaimana dijelaskan muridnya Rasyid Ridha, adalah “mendidik akal dan jiwa serta mengembangkannya hingga batas-batas yang memungkinkan anak didik mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat” (Abdurrahman Assegaf, 2013 : 184). Dari rumusan tersebut, dapat dipahami bahwa yang ingin dicapai oleh Abduh adalah tujuan yang tidak sekedar mencakup aspek kognitif (akal), tetapi juga mencakup aspek afektif (spiritual) dan bahkan psikomotorik (keterampilan).
Apabila aspek-aspek tersebut dididik dan dikembangkan, dalam arti akal dicerdaskan, jiwa dididik dengan akhlak agama, serta keterampilan diasah, maka umat Islam akan bangkit dan dapat berpacu serta dapat mengimbangi bangsa-bangsa yang telah maju kebudayaannya. Rasionalitas yang tumbuh subur hingga membawa peradaban Barat melambung tinggi, sejatinya tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang mengandung aspek spiritual. Menurut Abduh, keduanya bahkan saling mendukung satu sama lain. Dengan demikian, menghalau rasionalitas dari Islam sama artinya dengan meremehkan Islam itu sendiri, sebab Islam menjunjung tinggi rasio.
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan di atas, maka Abduh membentuk seperangkat kurikulum sebagai berikut; pertama, tingkat sekolah dasar. Berangkat dari asumsi bahwa ajaran Islam merupakan dasar pembentukan jiwa dan pribadi Muslim, maka Abduh menjelaskan bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya dimulai dari usia dini, yakni masa kanak-kanak. Oleh sebab itu, pelajaran agama dijadikan inti semua mata pelajaran.
Kedua, tingkat atas. Pada tingkat ini, Abduh merasa perlu memasukkan materi pelajaran agama, sejarah Islam, dan kebudayaan Islam. DI madrasah-madrasah yang berada dalam naungan al-Azhar, selain pelajaran tauhid, Abduh memasukkan juga pelajaran mantik dan falsafah, yang sebelumnya haram dipelajari di al-Azhar.
Ketiga, tingkat perguruan tinggi. Untuk perguruan tinggi (dalam kaitan ini Universitas al-Azhar) maka kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat itu. Dalam hal ini, Abduh memasukkan mata kuliah ilmu filsafat, ilmu logika, dan ilmu pengetahuan modern. Hal ini dilakukannya agar output al-Azhar dapat menjadi ulama modern, yang sesuai dengan zaman dan kondisi di mana mereka hidup.

Terkait metode pembelajaran, kendati tidak dijelaskannya secara eksplisit, namun dari praktik yang ia lakukan, dapat dilihat bahwa Abduh cenderung kepada metode diskusi. Metode ini dipandang dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif, di samping melatih mereka untuk berbicara, dan percaya diri. Ini berbeda dengan metode hafalan yang menurut Abduh hanya akan merusak akal dan daya nalar. [islamaktual/sm/mukhrizalarif]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top