Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Peringatan Maulid Nabi SAW dengan tema “Memperkokoh Akidah Ahlussunah wal Jamaah dari Ancaman Aliran Sesat Syiah” digelar DKM Masjid Al Kamiliyyah Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Lisan Hal.
Acara yang digelar Ahad (5/4) kemarin mendatangkan sejumlah narasumber dan tokoh diantaranya Habib Tohir Al Kaff, Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun (MUI Pusat), dan Dr Abdul Chair Ramadhan SH.MH (MUI Pusat).
Selain itu hadir juga beberapa hababi dan asatidz. Yang menarik dalam acara ini adalah hadirnya seorang mantan Da’i Syiah yang memberikan testimoni. Dia bernama Ali Sefulloh.
Saat diberi kesempatan berbagi, Ali yang lulusan universitas di Iran ini memberikan testimoni kepada jamaah tentang sepak terjangnya selama menjadi da’i Syiah. Kehadiran Ali menjadi perhatian jamaah. Karena selama ini, kesaksian seorang mantan da’i Syiah masih terhitung langka.
Ali Saefulloh kecil dan besar di Pasuruan Jawa Timur, dan ia tumbuh dalam keluarga besar Syi’ah. SMP dan SMA nya dihabiskan di kota Bangil dengan bersekolah di lembaga pendidikan milik Syi’ah yang terkenal di sana, YAPI.
“Saya kemudian kuliah di Universitas Imam Khomeini selama 4 tahun. Kakek saya pernah belajar di Suriah dan pengikut ajaran Syiah Nushairiyah,” ujarnya seperti dikutip islampos.com.
Selepas studi di Iran, Ali diberikan tugas khusus untuk berdakwah guna merekrut masyarakat awam untuk masuk Syi’ah. Hal itu dajalani Ali dari bertugas di Aceh Tengah pada tahun 2012 hingga ke Papua.
“Sudah banyak umat Islam yang saya syiahkan,” papar dia.
Dalam menjalankan aksinya, kata Ali, kelompok Syiah memiliki tiga tahapan. Pertama, berdakwah ke kalangan umum. Kedua, ke kalangan fanatik, dan ketiga ke pesantren yang loyal dengan Syiah.
“Kami dakwahi mereka dari Aceh hingga Irian. Saya sudah masukkan umat Islam menjadi Syiah sebanyak 300 orang. Naudzubillah.”
Pendekatan kelompok Syiah, sambung Ali, biasanya melalui jalan silaturahim. “Yang paling mudah dimasukkan adalah orang-orang yang akidahnya minim.”
Ditambahkan dia, biasanya pengikut Syiah tidak langsung to the pointmenjelaskan ajaran Syiah kepada masyarakat. Jika ada orang yang memiliki masalah keluarga, perlu tempat curhat, dan jarang ke masjid, “Kami penuhi dulu kebutuhan itu,” terang Ali.
Lantas, setelah seseorang mulai masuk ajaran Syiah, baru Ali akan mendakwahkan ajaran Syiah yang sebenarnya.
“Saya jelaskan Islamnya Syiah. Saya singgung masalah nabi dan ahlul baitnya. Mohon maaf, yang dari NU sangat mudah saya dekati,” ujar dia.
Setelah berhasil merekrut seseorang, maka Ali akan terus mendekati hingga mereka mengikuti ajaran Syiah.
Sementara itu, Ketua MUI Pusat Prof Baharun Muhammad mengatakan berkembangnya ajaran Syiah tak lepas dari kelengahan para alim ulama dan umat Islam dalam memperkokoh akidah Ahlus sunah. Banyak sekali Muslim di Indonesia yang sudah merasa penganut Aswaja, tetapi pendidikan Aswaja yng mereka terima dan terapkan belum benar ujar Guru Besar Sosiologi Agama UIN Sunan Ampel, Surabaya ini.
Prof Baharun juga mencemaskan melihat perkembangan Syi’ah di Indonesia. Dia mengkhawatirkan nantinya Indonesia akan bernasib sama dengan yang terjadi di Yaman.

“Kelompok Syiah di Yaman minoritas tapi bisa menggulingkan Presiden dan membubarkan parlemen,” pungkasnya. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top