Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Secara umum kepemimpinan  berarti proses memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Kepemimpinan dalam perspektif Islam dikenal dengan istilah khilafah, imamah, dan wilayatul amri. Juga ada istilah ri’ayah dan imarah. Kata khalifah mengandung makna ganda. Di satu pihak khalifah diartikan sebagai kepala negara dalam pemerintahan dan kerajaan Islam di masa lalu. Di lain pihak khalifah diartikan sebagai “wakil Tuhan” di muka bumi. Adapun kata ulil amri adalah penerus kepemimpinan Rasulullah SAW setelah meninggal dunia. Sebagai Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad tidak bisa digantikan, tapi sebagai kepala negara, pemimpin, ulil amri, tugas beliau dapat digantikan (Yunahar Ilyas, 2007). Kepemimpinan di dalam Islam pada hakikatnya adalah berkhidmat atau menjadi pelayan umat.
Manusia pada hakikatnya adalah pemimpin. Dalam QS. al-Baqarah ayat 30, Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan khalifah (pemimpin) di bumi....”
Ayat di atas menegaskan bahwa pada hakikatnya manusia -baik laki-laki maupun perempuan- adalah pemimpin di muka bumi. Kepemimpinan di muka bumi meliputi banyak cakupan wilayah, mulai dari memimpin diri sendiri, orang lain, hatta memimpin lingkungan sekitar. Tujuan kepemimpinan yang diembankan oleh Allah kepada manusia tidak lain adalah untuk memakmurkan bumi. Sehingga di samping manusia diberi kemampuan menjadi pemimpin orang lain, manusia juga diberi kemampuan memimpin diri sendiri. Kemampuan memimpin diri sendiri menjadi modal yang paling utama untuk memimpin orang lain.
Berbicara mengenai kepemimpinan, tidak lepas dari pembahasan mengenai kepemimpinan perempuan. Sampai saat ini sebagian umat Islam masih memperbincangkan masalah kepemimpinan perempuan. Menilik sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari berikut:
“Dari Abdullah: Rasulullah bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban. Maka imam merupakan pemimpin dan dia akan dimintai pertanggungjawaban, dan seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban, dan seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban, dan seorang hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban. Ingatlah, maka tiap kalian adalah pemimpin dan tiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. al-Bukhari).
Hadits di atas memberikan gambaran wilayah kepemimpinan, bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya, sedangkan perempuan adalah pemimpin rumahnya. Hampir sama, namun tetap berbeda. Jika seorang suami memimpin seluruh individu keluarganya yang meliputi istri dan anak-anaknya, maka seorang istri tidak memimpin suaminya. Seorang istri memimpin anak-anaknya dan mengatur rumah dan segala isinya agar kehidupan berkeluarga berjalan harmonis. Meskipun demikian, bukan berarti seorang istri tidak bisa menggantikan suaminya dalam memimpin keluarga. Dalam kondisi tertentu yang tidak memungkinkan suami untuk memimpin, maka istri bisa menggantikan posisi suami dalam memimpin keluarganya.
Demikian juga dalam kepemimpinan publik. Meskipun pada umumnya kepemimpinan dalam publik dipegang oleh laki-laki, tidak menutup kemungkinan jika perempuan juga bisa memegang kepemimpinan tersebut. Hanya saja, pemahaman sebagian umat Islam selama ini terhadap Hadits Rasulullah SAW berikut yang sering menjadi alasan tidak bolehnya perempuan menjadi pemimpin sebuah negara: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan” (HR. al-Bukhari).
Menurut sebagian umat Islam, laki-laki memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan perempuan yang menjadikan laki-laki -pada umumnya- lebih baik/lebih pantas untuk memegang kekuasaan yang besar. Penulis berpendapat bahwa Hadits di atas tidak bisa digeneralisir bahwa setiap kaum yang dipimpin oleh perempuan akan menemui kehancuran. Untuk memaknai Hadits di atas, kita seharusnya melihat pada sebab muncul (asbabul wurud) atau konteks sejarah (al-siyaq al-tarikhiy) nya terlebih dahulu. Hadits tersebut muncul karena pada saat itu kerajaan Persia (yang menjadi negara tetangga bagi Umat Islam di Madinah) dipimpin oleh seorang perempuan -putri dari raja Kisra- yang menggantikan tahta ayahnya, padahal ia tidak berkompeten dalam hal leadership. Singkat cerita terdengarlah kabar mengenai kemunduran negara tersebut kepada Rasulullah. Putri ini menjadi ratu sedangkan ia tidak memiliki kapabilitas yang memadai untuk memimpin kerajaan Persia yang merupakan sebuah imperium besar. Dengan melihat sebab kemunculannya tersebut, kita dapat mengetahui bahwa sifat Hadits ini bukan umum, tetapi khusus. Apalagi jika kita membaca narasi al-Qur’an tentang kepemimpinan Ratu Balqis (hidup pada zaman Nabi Sulaiman) yang ditulis secara apresiatif karena memimpin negaranya dengan musyawarah.
27_32.png
“Berkata dia (Balqis): Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu memberikan pendapat” (QS. an-Naml [27] : 32).
Di zaman sekarang juga sudah banyak wanita yang menjadi pemimpin baik (profesional) duduk di kursi legislatif maupun menjadi presiden.
Sebenarnya, laki-laki dan perempuan di mata Allah adalah sama. Mereka memiliki peran dan tugas yang sangat penting dalam penegakan amar makruf nahi munkar maupun sebagai penebar kebaikan di muka bumi. Allah SWT berfirman dalam QS. an-Nahl [16] ayat 97:
16_97.png
“Barangsiapa yang melakukan kebaikan baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan memberi kehidupan yang baik kepadanya dan sungguh Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada yang mereka kerjakan.
Dalam QS. at-Taubah ayat 71 Allah berfirman:
“Dan orang-orang Mukmin laki-laki maupun perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kebaikan dan melarang kemunkaran, mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan disayangi oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Bijaksana.”
Dari dua ayat di atas jelaslah bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melakukan amar makruf nahi munkar dan melakukan amal kebaikan. Amar makruf nahi munkar meliputi cakupan wilayah yang sangat luas, termaksud yang dimaksud dengan wilayah publik. Dengan demikian, perempuan jelas memiliki peran dalam dunia publik. Hanya saja, ada beberapa perbedaan yang ada pada perempuan dan laki-laki baik dari segi fisik maupun psikologis. Dari segi fisik, umumnya perempuan lebih lemah daripada laki-laki. Sedangkan dalam segi psikis, perempuan berwatak lebih halus, sedangkan laki-laki kasar. Laki-laki biasanya lebih tegas daripada perempuan.
Tidak ada larangan secara pasti (sharih) bagi perempuan untuk berkiprah di dunia publik. Namun ada batas-batas yang harus diperhatikan. Diantaranya ialah perempuan mempunyai tugas mulia dalam keluarga yang harus menjadi prioritasnya. Perempuan adalah ibu dari anak-anak dan menjadi tempat mengenyam pendidikan pertama bagi anak-anak. Al-umm madrasah ula (ibu adalah madrasah pertama) bagi seorang anak. Disamping itu, perempuan sebagai seorang istri mempunyai tugas mendampingi suami. Keridlaan suami kepada istri untuk berkiprah di publik menjadi hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh istri terlebih dahulu. Hal ini karena suami adalah orang yang paling berhak dimintai pendapat dalam keluarga. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya aku (berhak) menyuruh seseorang untuk bersujud kepada orang lain, sungguh aku akan memerintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban, lafadz dari at-Tirmidzi).

Hadits di atas menunjukkan betapa suami memiliki peran yang besar atas istrinya yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, jika dalam mengambil keputusan untuk berkiprah di publik perempuan tidak mempertimbangkan saran ataupun nasihat dari suami, dikhawatirkan niat baik untuk ber-amar makruf nahi munkar dan berbuat baik kepada sesama justru menjadi penyebab terabaikannya hak-hak suami maupun keluarganya. Dengan demikian, maka komunikasi menjadi sangat penting dalam keluarga. Satu hal yang perlu ditekankan dalam pembahasan ini ialah bahwa keberadaan perempuan untuk berkiprah di publik bukan berarti mengharuskan mereka untuk menuntut kesetaraan gender, suatu konsep yang sampai sekarang belum jelas benar maknanya dan sangat bias. Spirit yang harus ditanamkan dalam diri masing-masing muslimah adalah bahwa terlibat dalam kepemimpinan di ruang publik sesungguhnya hanya untuk memperjuangkan agama Islam semata, li i’lai kalimatillah. Wallahu a’lam. [islamaktual/sm/ainnurwindasari]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top