Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Aneh, jika ada Muslim yang bangga berperangai kasar. Berkata, bersikap, dan bertindak keras yang cenderung buruk-laku. Berkata kotor, vulgar, dan suka menyakiti perasaan orang lain. Gemar memotong pembicaraan orang hingga bikin masalah. Tidak jarang dijumpai orang bila hadir di suatu tempat, forum, majelis, atau bergaul dengan sesama dia suka sekali bikin gaduh suasana.
Aneh lagi, manakala sikap kasar seseorang disertai dengan keangkuhan merasa paling benar sendiri. Dia paksakan kehendak. Orang lain supaya mendengar dan mengikuti kemauan dirinya. Gemar membikin suasana menjadi ribut dan konflik. Berperangai garang dan menjadi trouble maker alias pembuat masalah. Lebih buruk lagi manakala sikap dan pendapat yang dianggapnya benar itu ternyata salah dan keliru.
Andai perangai kasar itu dilakukan oleh mereka yang mengerti agama, maka merupakan pertanda sangat buruk. Menjadi ironi atau hal yang ganjil sekali. Betapa ilmu agama tidak mengubah watak dan perangai seseorang. Orang akan kehilangan kepercayaan. Tumbuh anggapan, ilmu agama ternyata tidak menjadikan seseorang halus budi. Lalu dia akan kehilangan uswah hasanah bagi jamaahnya.
Kita teringat peristiwa di zaman Rasulullah. Seorang Badui dengan sikap kasar meminta Nabi memberikan sesuatu untuk dirinya. Nabi kemudian memberinya sambil berkata, “Adakah aku sudah berbuat baik kepadamu?” Orang itu dengan pongah menjawab, “Tidak karena engkau ya Muhammad tidak memberiku barang yang terbaik.” Para sahabat geram dan nyaris ada yang mau memukul orang udik itu, namun Nabi melarangnya.
Nabi kemudian masuk ke rumah dan memberi orang Badui itu barang yang lebih baik lagi. Dia girang dan berkata kepada Nabi, “Semoga Allah memberi yang lebih baik lagi bagi engkau dan keluarga engkau”. Nabi membalas, ucapkanlah kalimat yang baik itu di hadapan para sahabatku, karena tadi mereka telah engkau buat marah. Dia melakukannya dan para sahabat memaafkannya.
Penggalan kisah di masa Rasulullah itu menunjukkan betapa Nabi berjiwa hilm (lembut) dan mengajarkan kepada siapa pun untuk berbuat yang sama. Kisah itu menunjukkan perangai orang Badui yang kasar dan harus diajarkan sikap lembut dan halus budi. Itulah praktik dari risalah Nabi akhir zaman, yang diteladankan dalam dunia nyata. Bahwa Nabi tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, wa ma buitstu illa li-utamimma makarim al-akhlaq.
Perkataan, sikap, dan tindakan serba kasar menunjukkan tingkat keadaban orang. Menggambarkan derajat akhlaknya, apakah berada di maqom akhlak mulia (al-akhlak al-karimah) atau sebaliknya akhlak tercela (al-akhlak al-madhmumah). Semakin tinggi kualitas keadabannya kian luhur perangainya. Kian rendah keadabannya makin buruk tingkah lakunya. Perangainya sangat tidak menyenangkan orang banyak.
Nabi bertanya kepada para sahabat, “Siapakah orang yang kalian anggap kuat?”. Mereka menjawab, “Dialah yang mampu menjatuhkan orang lain.” “Bukan,” jawab Nabi, “orang yang kuat adalah mereka yang mampu menahan dirinya dari marah”. Marah dan perangai suka marahlah yang sering menjadi pemicu laten orang gemar bertindak kasar. Berbuat semaunya sendiri dengan sikap serba buruk.
Allah mengajarkan para hamba Muslim untuk bersikap lemah lembut dan menjauhi perangai kasar. Lebih-lebih untuk para penyampai misi agama. Firman Allah, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran [3] : 159).

Jangan merasa sulit mengubah perangai kasar dengan anggapan sudah bawaan sejak lahir atau karena kebiasaan di lingkungannya. Sikap kasar itu bisa diubah dengan belajar memperhalus jiwa. Jika seperti itu, maka untuk apa ajaran akhlak dalam Islam diberlakukan bagi setiap Muslim? Jadi, kenapa harus mengawetkan dan bangga dengan perangai kasar! [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top